Selarong, Nama Lama Banyumas

February 7, 2022 ·

Prasasti makam Panembahan Senopati, raja kerajaan Mataram di Astana Kota Gede, Jogjakarta. Tertulis bahwa Senopati menjadi Raja Mataram pada tahun 1509 Jawa (1579 Masehi) dan wafat pada tahun 1532 Jawa (1601 Masehi).

Banyumas adalah nama baru. Nama lamanya adalah Selarong.

Menurut cerita rakyat, sebelum bernama Banyumas tempat itu bernama Selarong. Karena dulunya pernah ada sebuah pemerintahan bernama Kadipaten Selarong. Adipatinya bernama Gala Gumbala dan patihnya bernama Dasa Bahu.

Nama Selarong sebagai nama lama Banyumas ternyata bukan hanya terkenang sebuah cerita rakyat saja. Karena dalam buku “Geschiedenis van Java, met en inleidend woord van Hoesein Djajadiningrat” atau “Sejarah Jawa, dengan kata pengantar Hoesein Djajadiningrat” karya Fruin-Mees, yang ditulis pada tahun 1887, juga menulis tentang nama Selarong itu.

Dalam buku yang diterbitkan tahun 1920 oleh Penerbit Weltevreden Commissie voor de Volkslectuur ditulis “Banyumas” atau “Selarong” ketika menyebut daerah yang menjadi wilayah Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati.

“Di sekelilingnya terdapat wilayah yang ditaklukkan dalam perjalanan pemerintahan Senapati, yang terdiri dari Madiun, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Besuki, Blambangan, Madura, Surabaya, Jipang, Semarang, Pemalang, Banjumas (dulu bernama Selarong), Pasir, dan Galuh.”

Nah, untuk lebih jelasnya bisa dibaca sendiri kutipan dari buku tua tersebut. Untuk memudahkan pembacaan, naskah berbahasa Belanda sudah diterjemahkan oleh sahabat saya, peminat sejarah Banyumas, Tyo Satriany.

Inilah kutipannya.

Kekuasaan Mataram di Jawa

Pada akhir masa pemerintahannya, Senopati yang wafat pada 1601, telah memperluas kekuasaan Mataram atas Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dan telah menggunakan pengaruhnya di sebagian Jawa Barat, di mana Galuh sudah menjadi miliknya sepenuhnya.

Wilayahnya yang utama terdiri atas Krapjak, Mataram, Pajang, Kedu, dan Surakarta.

Di sekelilingnya terdapat wilayah yang ditaklukkan dalam perjalanan pemerintahan Senapati, yang terdiri dari Madiun, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Besuki, Blambangan, Madura, Surabaya, Jipang, Semarang, Pemalang, Banjumas (dulu bernama Selarong), Pasir, dan Galuh.

Di sini memerintah sekitar 25 penjaga hutan yang hampir mandiri, yang mengharuskan diri mereka tunduk pada supremasi Mataram, dan melakukan upaya berulang kali, dan akan melakukan, untuk mendapatkan kebebasan penuh, yang, kecuali pangeran jauh Blambangan, bukan milik salah satu dari mereka berhasil.

Namun kekuatan mereka cukup besar. Gelar yang selalu diberikan Belanda kepada mereka pada akhir abad ke-16 dan pada awal abad ke-17 membuktikan bahwa mereka membuat orang asing terkesan sebagai pangeran.

Ketika Tuban dikunjungi oleh Wakil Laksamana Van Heemskerck pada tahun 1599, tidak ada sedikitpun jejak dari otoritas Mataram. Sang pangeran, pria yang sangat ramah dan gendut, Mangkoeboemi (dipanggil oleh gubernur Belanda) hidup dalam kondisi yang baik.

Ia memiliki istana yang indah, menunggang gajah, memiliki 50 hingga 60 istri dan juga dilayani oleh beberapa pengiring, abdi yang memberinya air, dan mempersiapkan pengunyah sirih.

Dia sangat mencintai anjing dan burung, seperti burung beo dan burung tekukur yang cantik.

Untuk Pangeran Maurice dia memberi Belanda sebuah keris yang indah dengan gagang emas dan sarungnya serta dua tombak yang indah.

Kategori:Dopokan
SEUWISE

Selarong Sebelum Banyumas

Banyumas adalah nama baru. Nama lamanya adalah Selarong. Menurut “Babad Banyumas Mertadiredjan”, nama “Banyumas” dipakai oleh Raden Jaka Kaiman untuk kota yang dibangunnya. Ketika pusat pemerintahan Kadipaten Wirasaba yang dipindah ke tempat baru. “Sampun agatra nagari, pasang rakiting wangunan, kori…
WACA
LIYANE

Ada Apa Dengan Babad Banyumas

Awalnya, buku ini ditulis dan dirancang sebagai paket lanjutan bagi para pembaca Babad Banyumas. Agar yang sudah membaca babadnya mendapat wawasan baru dari kisah yang sudah dibacanya. Namun, setelah jadi, ternyata bisa juga dibaca oleh mereka yang belum membaca Babad…
WACA
LIYANE

Wirasaba, Awal Mula Banyumas

Awal mula Kabupaten Banyumas berasal dari sebuah kadipaten bernama Wirasaba. Pendiri Wirasaba adalah Raden Paguwan yang kemudian bergelar Adipati Wira Hudaya. Anak cucunya bergantian menjadi Adipati Wirasaba. Buku cerita ini mengisahkan semua hal itu. Termasuk dua tokoh yang menjadi leluhur…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Pertama

Waktu itu saya mau menggelar acara pelatihan guru ngaji. Sebuah acara rutin dari Bale Cahaya, lembaga pembelajaran quran yang saya dirikan bersama Bale Pustaka. Biar tidak repot mikir menyiapkan makan, kami cari rumah makan sebagai tempat pelatihan. Akhirnya ditentukanlah tempatnya.…
WACA
LIYANE

Terjemah Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan

Buku “Babad Banyumas Mertadiredjan” adalah terjemahan dari naskah “Serat Babad Banyumas” lengkap dengan naskah aslinya yang berupa tembang Macapat. Sedangkan buku “Terjemah Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan” ini hanya memuat terjemahan Bahasa Indonesianya saja. Tanpa naskah aslinya yang dalam Bahasa Jawa.…
WACA
LIYANE

Ada Apa Di Dalam Babad Banyumas?

Sebagaimana layaknya babad, dalam Babad Banyumas tentu ada kisah, ada cerita, ada peristiwa. Babad adalah buku sejarah tradisional. Namun, dari cerita di dalam babad-lah kisah sejarah menjadi menyebar di tengah masyarakat. Tersebar luas menjadi cerita tutur rakyat. Membumi menjadi kisah…
WACA

KOMENTAR

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.