Selarong Sebelum Banyumas

February 2, 2022 ·

Buku “Geschiedenis van Java, met en inleidend woord van Hoesein Djajadiningrat” karya Fruin-Mees, yang ditulis pada tahun 1887 yang sudah diterjemahkan menjadi “Sejarah Tanah Djawa” oleh penerbit Balai Pustaka, tahun 1922.

Banyumas adalah nama baru. Nama lamanya adalah Selarong.

Menurut “Babad Banyumas Mertadiredjan”, nama “Banyumas” dipakai oleh Raden Jaka Kaiman untuk kota yang dibangunnya. Ketika pusat pemerintahan Kadipaten Wirasaba yang dipindah ke tempat baru.

“Sampun agatra nagari, pasang rakiting wangunan, kori miwah pasebane, alun-alune jembar, lelurung lelarikan, sampat sampeting praja gung, sinung ran nagri Banyumas.”

“Setelah berdiri bangunan berikut seluruh bangunannya, mulai dari pintu gerbang hingga balairung, sebuah alun-alun yang sangat luas, jalan-jalan yang dibangun teratur berjajar. Setelah segala kebutuhan bangunan pemerintahan selesai dibangun, kemudian kota itu diberi nama Banyumas.”

Menurut cerita rakyat, sebelum bernama Banyumas tempat itu bernama Selarong. Karena dulunya pernah ada sebuah pemerintahan bernama Kadipaten Selarong. Dengan adipatinya bernama Gala Gumbala, dan patihnya bernama Dasa Bahu.

Situs Sumur Mas di belakang Kecamatan Banyumas sekarang, adalah jejak dari keberadaan Kadipaten Selarong. Dan, penggantian nama dari Selarong ke Banyumas adalah dari peristiwa munculnya sumur berair jernih itu.

Nama Selarong sebagai nama lama Banyumas ternyata bukan hanya sebuah cerita rakyat saja. Karena dalam buku “Geschiedenis van Java, met en inleidend woord van Hoesein Djajadiningrat” atau “Sejarah Jawa, dengan kata pengantar Hoesein Djajadiningrat” karya Fruin-Mees, yang ditulis pada tahun 1887, menulis tentang nama Selarong itu.

Dalam buku yang diterbitkan tahun 1920 oleh Penerbit Weltevreden Commissie voor de Volkslectuur ditulis “Banyumas” atau “Selarong” ketika menyebut 10 kadipaten merdeka yang menjadi wilayah Kesultanan Pajang.

“Di bawah kedaulatan Pajang, selain ibu kota Pajang yang diurus sendiri oleh Hadiwijaya, ada sepuluh kadipaten merdeka, yakni wilayah yang dikuasai para pangeran. Wilayah tersebut adalah Surabaya, Tuban, Pati, Demak, Pemalang, Madiun, Kediri, Selarong (kelak bernama Banjoemas), Krapyak, dan Mataram.”

Nah, untuk lebih jelasnya bisa dibaca sendiri kutipan dari buku tua tersebut. Untuk memudahkan pembacaan, naskah berbahasa Belanda sudah diterjemahkan oleh sahabat saya, peminat sejarah Banyumas, Tyo Satriany.

Inilah kutipannya.

Kekuasaan Pajang di Jawa

Kesultanan Pajang menjadi kekuatan utama di Jawa ketika Sedayu, Gresik, Surabaya, dan Pasuruan, yang awalnya berada di bawah kekuasaan Pangeran Langgar, kemudian tunduk pada Pajang.

Sultan Pajang Hadiwijaya lalu mengangkat Adipati Surabaya sebagai pemimpinnya, menduduki kekuasaan tertinggi di Jawa Timur.

Namun, Pajang sempat menderita kekalahan ketika Santaguna, penganut Siwa dari Blambangan, dengan bantuan Bali dan Sumbawa, menguasai Panarukan pada tahun 1575.

Di bawah kekuasaan Pajang, selain ibu kota Pajang yang diurus sendiri oleh Hadiwijaya, ada 10 kadipaten merdeka, yakni wilayah yang dikuasai para pangeran.

Wilayah tersebut adalah Surabaya, Tuban, Pati, Demak, Pemalang, Madiun, Kediri, Selarong (kelak bernama Banjoemas), Krapyak, dan Mataram.

Wilayah yang terakhir berada di bawah kekuasaan Ki Ageng Pamanahan, penasehat Sultan Hadiwijaya.

Awalnya, Ki Ageng Pemanahan yang bernama asli Bagus Srubut, menjadi komandan pengawal kerajaan. Namun kemudian kemudian berhak atas wilayah Mataram karena pembunuhan liciknya terhadap Haryo Penangsang.

Akan tetapi, Sultan Hadiwijaya tampaknya tidak begitu senang memberi wilayah itu pada seseorang seperti Bagus Srubut dengan posisi yang begitu tinggi. Sehingga ia harus meminta campur tangan Sunan Kalijaga sebelum wilayah yang dijanjikan itu diserahkan kepadanya.

Namun akhirnya wilayah itu tetap diberikan. Dan Bagus Srubut menetap di Mataram. Tinggal di Kotagede atau Pasargede (sekarang berada di wilayah Jogjakarta) dan menyandang sebagai petinggi dengan nama Ki Ageng Pemanahan.

Anaknya yang bernama Sutawijaya (juga disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar) diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya.

Ki Ageng Pemanahan meninggal pada tahun 1575 dan dimakamkan di Kotagede.

Sebagai penggantinya, Sultan Pajang Hadiwijaya mengangkat Sutawijaya yang kemudian diberi nama Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.

Pangeran muda ini merancang sebuah rencana besar. Dia ingin merebut kekuasaan di Jawa. Niatnya itu sempat ditahan oleh paman dan patihnya Ki Juru Mertani (atau Adipati Mandaraka), yang juga saudara ipar ayahnya, yang selama ini menjadi pembimbingnya, hingga sangat ia hormati.

Senopati memulai perlawanannya terhadap Kesultanan Pajang dengan tidak datang menghadap pada perayaan Grebeg Mulud.

Setelah itu, Senopati memperkuat Kotagede dengan membangun benteng batu-bata dan penggalian parit di sekeliling kota.

Senopati kemudian semakin berani melawan Pajang dengan lebih terang-terangan.
Ketika seorang ipar laki-lakinya, Tumenggung Mayang, ditangkap karena perbuatan putranya Raden Pabelan yang tidak dapat diterima, dipermalukan oleh Sultan Hadiwijaya dengan dibuang ke Semarang.

Tidak lama setelah mendengar hal ini, Senopati memanggil mantri Kedu dan Bagelen untuk membebaskan Tumenggung Mayang dan membunuh banyak mantri Pajang.

Sultan Pajang marah, dan berniat menyerang Mataram. Namun Sultan Hadiwijaya mengalami kekalahan. Saat mundur dari Mataram ia jatuh dari gajah menderita sakit berkepanjangan.

Senapati mengikuti di belakangnya dan berkemah di sebelah barat keraton, dengan kesan akan menolong.

Namun ternyata atas perintahnya, seorang utusan yang bernama Juru Taman kemudian membunuh Sultan Hadiwijaya dengan racun.

Sultan Hadiwijaya dimakamkan di desa Butuh. Tahun meninggalnya adalah 1582.

Kategori:Dopokan
SEUWISE

Selarong, Nama Lama Banyumas

Banyumas adalah nama baru. Nama lamanya adalah Selarong. Menurut cerita rakyat, sebelum bernama Banyumas tempat itu bernama Selarong. Karena dulunya pernah ada sebuah pemerintahan bernama Kadipaten Selarong. Adipatinya bernama Gala Gumbala dan patihnya bernama Dasa Bahu. Nama Selarong sebagai nama…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan Banyumasan

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Pohon Tembaga dalam Plesiran Babad Banyumas

Petunjuk utama adalah pohon Tembaga. Petunjuk tentang tempat di mana Adipati Mrapat harus mendirikan ibu kota Kabupaten Banyumas. “Yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba, sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah…
WACA
LIYANE

Kaiman, Sang Pendiri Banyumas

Raden Jaka Kaiman adalah pendiri Kabupaten Banyumas. Namun, tidak banyak yang mengetahui kisah perjuangannya. Perjalanan hidup dari seorang bangsawan kemudian menjadi anak yatim piatu. Hidup menumpang sebagai penggembala kerbau. Diasuh tukang pembuat warangka keris sampai menjadi pelayan di kadipaten. Kemudian…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Kedua

Setelah memiliki Babad Banyumas pertama saya kemudian menemukan yang kedua. Suatu hari saya melihat buku Babad Banyumas dijual di lapak online Facebook. Saya pun langsung berbinar ingin membelinya. Namun sial adalah kurang beruntung, atau keberuntungan yang tidak beruntung, karena ternyata…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Mertadiredjan

“Babad Banyumas Mertadiredjan” adalah salah satu naskah Babad Banyumas yang selama ini dikenal masyarakat. Naskah milik Adipati Mertadiredja I, Wedana Bupati Kanoman Banyumas, yang ditulis kisaran tahun 1816-1824.Naskah itu kemudian menjadi milik cucunya, Adipati Mertadiredja III, yang menjadi Bupati Banumas…
WACA

KOMENTAR

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.