Mengenang Guru Saya, Sejarawan Besar Banyumas

May 19, 2026 ·

NasSirun PurwOkartun bersama sejarawan Banyumas, kolektor naskah Babad Banyumas, Dokter Soedarmadji

Dokter Raden Soedarmadji.

Begitu semestinya ditulisnya. Tapi selalu minta ditulis namanya saja, tanpa gelar di depannya.

Lahir di Pati, 9 Mei 1935. Putra pasangan Raden Kasman Soerawidjaja, Kepala Inspeksi Sekolah Rakyat Karesidenan Banyumas, dan Raden Nganten Salimah.

Raden Kasman Soerawidjaja adalah cucu Raden Soerawidjaja, keturunan Bupati Banyumas, Tumenggung Yudanegara II (1708-1743).

Sang ayah menulis ‘Babad Banyumas’, hingga secara tidak langsung mengenalkan bacaan tersebut pada sang anak.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, tahun 1964.

Langsung masuk Wajib Militer AURI sampai tahun 1971. Kemudian berdinas di Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Iswahyudi Madiun.

Menikah pada tanggal 8 Agustus 1969 dengan Tri Warsini Merdekawati. Dikaruniai 4 orang anak (1 laki-laki dan 3 perempuan) dan 7 orang cucu.

Tahun 1971 mengundurkan diri dari AURI, kemudian masuk menjadi Pegawai Negeri di PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api).

Ditempatkan di Purwokerto, menjadi dokter di PJKA sampai usia pensiun.

Dokter Soedarmadji sedang berdiskusi bersama NasSirun PurwOkartun

Pada tahun 12 Nopember 1972, dr. R. Soedarmadji ditunjuk oleh Prof. Margono Djojohadikoesoemo dan Mr. Pitoyo Mangkoesoebroto untuk menjadi Ketua Harian Badan Pemikir dan Pelaksana Sementara Perbaikan Makam Dawuhan.

Atas permintaan Bupati Banyumas waktu itu, Kol. Purn. Pudjadi Djaring Bandayuda, pada tanggal 24 Januari 1977, kepanitiaan pemugaran makam berubah menjadi yayasan.

Maka berdirilah Yayasan Pesarean Dawuhan Banyumas. Dan, beliau tetap dengan kedudukannya sebagai Ketua Harian.

Tujuan pembentukan yayasan adalah untuk memelihara dan melestarikan Pesarean Dawuhan.

Pada waktu itu, salah satu makam Bupati Banyumas, Raden Tumenggung Yudanegara V yang justru sangat anti penjajah, atapnya dalam keadaan hancur.

Kisaran tahun 1980 mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk menyusun trah Bupati Banyumas.

Oleh Mr. Pitoyo Mangkoesoebroto diminta supaya menghubungi Bupati Purworejo, dengan harapan masih menyimpan silsilah atau naskah-naskah Babad Banyumas. Namun ternyata tidak diketemukan.

Akhirnya beliau ke Jogjakarta, ke Musium Sono Budoyo.

Ditemukanlah naskah babad pertama dengan judul “Sadjarah Tjakrawedana”.

Babad yang ditulis tangan huruf latin oleh R.M.M. Mangkoewinata, seorang pensiunan Penilik Djawatan Kesehatan Sumatra Selatan.

Tebalnya 2.000 halaman, terbagi dalam 7 jilid buku.

Sejak itulah beliau dengan tekun mengumpulkan semua babad, silsilah dan catatan keluarga bangsawan, sampai arsip Kolonial yang berkaitan dengan Banyumas.

Ketelatenan dan ketelitiannya dalam mengkaji semua sumber membuatnya menjadi seorang ahli silsilah dan sejarah Banyumas. Menjadi rujukan bagi banyak orang yang berminat terhadap silsilah dan sejarah.

Datanya yang lengkap membuatnya mendirikan Lembaga Studi Banyumas, sebuah pusat pengkajian sejarah dan silsilah Banyumas.

Karya tulisnya, “Hari Jadi Kabupaten Cilacap: Alternatif dari Alternatif” (1991) ditetapkan sebgai hari jadi Kabupaten Cilacap.

Beliau tempat saya belajar sejarah Banyumas. Sejak tahun 2014 silam. Genap 12 tahun saya menjadi muridnya.

Seorang guru yang luar biasa.

Selain belajar sejarah, saya belajar pada ketekunannya, sekaligus keikhlasan dan keteladanan sebagai sosok besar yang sangat rendah hati.

NasSirun PurwOkartun mengantar kepergian sang guru, dokter Soedarmadji

Pagi ini, Selasa, 19 Mei 2026, pukul 02.25, guru saya berpulang.

Saya sangat kehilangan.

#books #babadbanyumas

Kategori:dr.Soedarmadji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.
kaiman Avatar

Mas Kaiman

Asisten Babad Banyumas
Halo sedulur! Saya Mas Kaiman. Mau tanya seputar Babad Banyumas?
Mas Kaiman sedang mengetik...
Saya Mas Kaiman! 👋
[mwai_chatbot id="chatbot-4clk8o"]