Penangsang Bukan Pemberontak!

October 27, 2026 ·

Terima kasih, untuk Gusti Pangeran Haryo Poeger Suryo Bandono, budayawan-sejarawan Keraton Kasusunan Surakartahadiningrat, yang telah banyak memberikan ‘semangat’ dan masukannya. matur nuwun, Gusti!

“Penangsang bukanlah pemberontak.”

Begitu dengan mantap Gusti Puger menjawab pertanyaanku.

Aku sengaja datang menemuinya, karena novel yang kutuliskan adalah tentang leluhur keraton Solo. Sebab keraton Solo adalah penerus dari kerajaan Mataram, yang didirikan Panembahan Senopati. Sementara Panembahan Senopati sendiri adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang diangkat anak oleh Joko Tingkir. Sedangkan Joko Tingkir adalah raja Pajang, setelah merebut takhta Demak dari tangan Penangsang.

“Jadi sebagai pewaris takhta Demak yang syah, Penangsang hanya menuntut hak.”

Dengan jawaban Gusti Puger tersebut, aku seolah menemukan pembenaran atas dugaanku. Bahwa Penangsang ketika berperang melawan Joko Tingkir, bukanlah memberontak pada Demak. Namun ia hanya menuntut hak atas takhta peninggalan kakeknya. Sebab sebagai cucu Raden Patah, ia merasa lebih layak menggantikan Sunan Prawoto, daripada Joko Tingkir yang hanya seorang cucu menantu.

Dalam silsilah Kesultanan, Joko Tingkir menjadi keluarga Demak, karena ia menikahi Ratu Ayu Cempokoningrum. Yakni anak ke empat Sultan Trenggono dari ibu yang merupakan putri Sunan Kalijogo. Dengan itulah, ia menjadi cucu menantu Raden Patah.

Novel yang sedang kutulis berkisah tentang sosok Penangsang. Tepatnya melihat kekisruhan tenggelamnya kekhalifahan Islam Demak dari sudut pandang Penangsang. Sebab selama ini yang telah beredar berabad-abad lamanya dalam bermacam babad, adalah kisah dari kaca mata Joko Tingkir sebagai sang pemenang. Sedangkan aku menulis kisah sandyakalaning Demak Bintoro itu dari pandangan tokoh yang kalah.

Jadi novelku ini seperti membalik cerita yang selama ini telah beredar.

Karena kisah ini aku tulis dari sudut Penangsang, maka Penangsang lah yang menjadi tokoh utamnya. Penangsang menjadi tokoh protagonisnya. Maka mau tidak mau, sosok Joko Tingkir yang membunuh Penangsang menjadi tokoh antagonisnya. Untuk sebab itulah, maka aku merasa perlu meminta pendapat dari pihak keraton.

Karena bagaimana pun, aku kawatir, kalau nanti ada salah paham dalam membaca novelku. Seolah-olah aku menulis Penangsang karena ingin menjelek-jelekkan sosok Joko Tingkir, yang selama ini kita kenal sebagai raja yang arif bijaksana. Paling tidak, begitu yang tergambar dalam bermacam pagelaran kethoprak.

Dan untuk pendapat dari keraton, aku pun meminta pendapat dari Gusti Puger. Beliau sebagai pengageng sentana keraton yang membawahi bidang budaya, sepertinya tepat untuk tujuan penulisan ini. Apalagi beliau selalu bisa ditemui di kantornya.

Kebetulan aku telah lumayan dekat dengan beliau. Karena selama proses penulisan bukuku yang berjudul ‘Slow In Solo: Alon-Alon Waton Keraton’, aku sudah sering minta masukannya. Buku trilogi novel-grafis tentang sejarah Solo itu telah membuatku sering datang ke kantor Gusti Puger, yang berada di barat Sitinggil keraton Solo.

Di bawah rindangnya pohon kepel batu, aku banyak meminta masukan kesejarahan dari adik Raja Solo tersebut. Karena Gusti Puger adalah putra almarhum SISKS Paku Buwono XII. Yang juga adik dari Gusti Behi, raja Solo sekarang yang bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SKIS) Paku Buwono XIII.

Dengan semangat itulah, kemantapanku untuk menuliskan sisi gelapnya Joko Tingkir semakin matang. Keraguan yang membayang, sedikit menghilang. Apalagi sebelumnya, aku juga menemui juru kunci Pajang, yang merupakan bekas keraton Joko Tingkir.

Menurutnya, apa yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi adalah pasemon. Sesuatu yang sengaja disamarkan karena itu menyangkut kejelekan Joko Tingkir. Menurutnya, dalam membaca kisah Joko Tingkir, kita janganlah menelan mentah-mentah secara harfiah.

Seperti tentang kisah Joko Tingkir yang meremukkan kepala Dadung Awuk. Jangan dimaknai bahwa Joko Tingkir benar-benar membunuh pemuda Kedupingit itu dengan lintingan daun sirih. Juga dengan pembunuhan Kebo Ndanu, yang mengobrak-abik pesanggrahan Prawoto, yang dibunuh dengan rajah tanah merah. Bahkan juga kisah yang terkenal, tentang Joko Tingkir menaklukan 40 ekor buaya di Kedung Srengenge.

Menurutnya, semua adalah pasemon belaka. Kisah itu ditulis begitu hanyalah upaya untuk menutupi kebejatan moral dari Joko Tingkir, yang sesungguhnya mata keranjang.

Maka dengan berbekal dua pendapat itu, dari orang yang ‘dekat’ dengan Joko Tingkir, makin memantapkanku untuk menuliskan kisah seputar Penangsang.

Kisah yang bermula dengan terbunuhnya Sultan Trenggono, yang kemudian dilanjutkan dengan wafatnya Sunan Prawoto. Kisah yang berawal dari kekosongan takhta Demak, karenta kematian rajanya yang berulang dalam selang waktu 4 tahun.

Sebab bermula dari meninggalnya Prawoto, Joko Tingkir yang telah lama mengincar takhta Demak mulai bermain siasat. Anak Prawoto yang bernama Pangiri dinikahkan dengan anak perempuan Joko Tingkir. Maka untuk naik takhta, ia merasa telah mempunyai dua alasan kuat.

Pertama, karena ia telah 4 tahun menjadi pendamping Prawoto, yang menjadi pelaksana pemerintahan Kesultanan. Yang kedua, anak Prawoto masih kecil-kecil, hingga tak layak menjadi Sultan. Joko Tingkir sebagai mertua punya hak menggantikan takhta sang menantu, yakni Pangiri yang merupakan anak sulung Prawoto.

Dan siasat itu berhasil, karena Sunan Kalijogo pun menyetujui usul tersebut. Dan sejak itu Kesultanan Demak pun berada dalam genggaman tangan Joko Tingkir.

Sementara dengan keputusan tersebut, Sunan Kudus semakin merasa Kesultanan Demak berada dalam ancaman.

Karena begitu Joko Tingkir naik takhta, Waliyyul Amri benar-benar dibubarkan. Dewan Wali yang didirikan Sunan Giri, sebagai pengontrol Sultan yang merupakan ulil amri menjadi tiada lagi. Dewan ulama yang selama setengah abad menjadi penasehat pemerintahan, agar jalannya tidak melenceng dari aturan agama, mendadak dihapuskan dengan naiknya Joko Tingkir.

Sebagai gantinya, Joko Tingkir yang telah menjadi Sultan Demak bergelar Sultan Hadiwijaya, kemudian mengangkat para penasehat kerajaan, yang merupakan sahabat lamanya. Tiga orang yang sejak muda telah akrab dengan Joko Tingkir, ketika masih menjadi murid Ki Ageng Selo. Tiga orang yang kemudian sama-sama menjadi tamtama di Demak, yang dikenal sebagai Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Penjawi.

Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan adalah cucu Ki Ageng Selo, yang sempat kecewa pada Demak karena pernah ditolak Raden Patah menjadi pasukan pengawal kerajaan. Sementara Ki Penjawi adalah anak Ki Ageng Ngrawa, yang diangkat anak oleh Ki Ageng Ngenis, ayah Ki Ageng Pemanahan.

Sedangkan Joko Tingkir adalah anak Ki Ageng Pengging, yang diasuh oleh janda Ki Ageng Tingkir. Yang setelah remaja menjadi murid Ki Ageng Selo.

Bertemunya cucu-cucu Ki Ageng Selo dan anak Ki Ageng Pengging benar-benar membuat Sunan Kudus melihat Demak akan semakin suram. Kerja para ulama untuk mengislamkan Tanah Jawa sejak jaman Maulana Malik Ibrahim akan ternodai dengan dikukuhkannya ajaran Syekh Siti Jenar sebagai landasan pemerintahan.

Penangsang pun diperintah untuk menyelamatkan takhta Demak.

Namun dalam perebutan takhta itu, Penangsang mengalami kekalahan.

Joko Tingkir dengan penuh kelicikan mampu membunuh Penangsang dari belakang.

Sejak itu Demak runtuh sebagai sebuah kekhalifahan di Tanah Jawa. Pusat pemerintahan pun dipindah dari pesisir utara ke pedalaman selatan. Sebuah pemikiran Mas Karebet untuk menghidupkan kembali keraton Pengging, istana peninggalan kakeknya, Prabu Handayaningrat, telah terlaksana. Dan ajaran Syekh Siti Jenar, ajaran peninggalan guru ayahnya, Ki Ageng Pengging pun berkembang dengan luasnya, karena telah dijadikan sebagai ajaran negara.

Joko Tingkir yang naik takhta menjadi Sultan Demak, meminta Pangeran Karanggayam untuk menuliskan kisahnya. Kisah yang menjadi cikal bakal tersusunnya Babad Tanah Jawi. Kitab yang sampai sekarang dianggap orang sebagai buku sejarah Tanah Jawa, sejak Nabi Adam hingga era Kartasura.

Babad Tanah Jawi lah yang telah berhasil memutihkan semua hitamnya Joko Tingkir

Dan sebagai pihak yang kalah, Penangsang pun dihitamkan dari sejarah.

Dari rangkaian panjang itu, maka kutemukan jawaban untuk pertanyaanku yang pertama. Bahwa aku meragukan Penangsang, yang merupakan jagonya Sunan Kudus, demikian jelek perangainya.

Maka bukan tidak mungkin, jeleknya Penangsang adalah hasil dari politik kampanye hitamnya Joko Tingkir belaka. Untuk menutupi kejelekannya sendiri.

Karena bagaimana pun, babad adalah sebuah pujasastra. Sebuah karya yang dimaksudkan sebagai bentuk legitimasi dari para penguasa. Ketika Joko Tingkir yang menang, maka Penangsang lah yang dijelekkan.

Maka sepertinya tak salah komentar Prof. Dr. Hasanu Simon pada cover novelku.

Penulis buku best seller ‘Misteri Syekh Siti Jenar’ itu memberikan endorsement,  “Seperti hendak membalik kisah Babad Tanah Jawi. Haryo Penangsang dalam novel ini adalah sosok pemberani. Pembela kebenaran dan keadilan. Serta penganut ajaran Islam yang bersih. Sekaligus penentang sinkretisme di tanah Jawa yang gigih.”

Jadi sekali lagi, menirukan ucapan Gusti Puger, “Penangsang bukanlah pemberontak!”

Kategori:Profil
SEUWISE

Menafsir Ulang Joko Tingkir Sang Pemenang

Aku menulis novel Penangsang, bermula dari rasa penasaran. Kok bisa, keraton Solo yang konon kelanjutan dari Kesultanan Demak, kekhalifahan Islam di Tanah Jawa, hanya menyisakan sinkretisme-nya saja. Demikian pula dengan keraton lainnya, yakni Kesultanan Jogja, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran.…
WACA
SEDURUNGE

Lelaki Buaya Darat; Dari Sinetron Sampai Pasemon

“Kok beda dengan yang di sinetron?” Adikku yang penggemar sinteron ‘Joko Tingkir’ berkomentar setelah membaca novel Penangsang. Aku tersenyum saja. Karena memang demikianlah yang kuceritakan dalam novelku. Di dalamnya tidak ada cerita tentang pertempuran Joko Tingkir melawan kawanan buaya. Hingga…
WACA
LIYANE

Sungguh Aku Bangga, Meski Hanya ‘Alumnus TK Pertiwi’ Saja!

Entah kenapa, aku begitu bangga dengan status alumnus TK Pertiwi. Mungkin awalnya adalah karena keminderanku sendiri. Aku sangat minder ketika harus berbicara di depan banyak orang, apalagi di depan mahasiswa. Karena kemiskinanku, menyebabkan tak pernah bisa kuliah. Dan karena itu…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan

Selain “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” dalam bentuk tembang (puisi), ada juga naskah “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Keduanya seolah saling melengkapi. Bila babad yang pertama berkisah tentang awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas, yang kedua lebih banyak…
WACA
LIYANE

Ketika Pulau Muria Masih Terpisah dari Pulau Jawa

“Bonus peta Jawa abad lima belas. Ketika pulau Muria masih terpisah dari pulau Jawa.” Pada sudut kanan atas novel Penangsang, dalam sebuah desain pojokan buku yang seperti tengah membuka, terbaca kalimat tersebut. Karena memang itulah bonus dari novelku. Yakni sebuah…
WACA
LIYANE

Mengarang Itu Gampang, Tapi Mengerang Lebih Gampang!

Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Dan pagi ini aku terkenang kembali ‘mantra’ sakti itu. Karena dari ucapannya aku meyakini, bahwa sesungguhnya dengan mengarang kita telah melakukan yang baik dan berarti. Bahwa mengarang adalah pekerjaan yang mulia. Jauh lebih mulia…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.