Berdirinya Kabupaten Banyumas dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

October 2, 2022 ·

Buku Serial Bacaan Babad Banyumas karya NasSirun PurwOkartun yang mengisahkan tentang berdirinya Kabupaten Banyumas.

Setelah mengisahkan tentang kematian tragis Adipati Wirasaba Warga Utama, Babad Banyumas Mertadiredjan kemudian mengisahkan tentang berdirinya Kabupaten Banyumas. 

Bahwa setelah Adipati Warga Utama meninggal, Sultan Pajang merasa menyesal. Hingga akhirnya meminta maaf dengan cara mengundang anak-anak sang adipati datang ke Pajang. 

Namum, dari ketiga anak laki-lakinya, tidak ada yang berani memenuhi undangan, karena khawatir akan ikut disalahkan, dan akan dijatuhi hukuman mati.

Akhirnya, Raden Jaka Kaiman, sebagai menantu yang menyanggupinya. Sebagai suami dari anak pertama Adipati Warga Utama, siap mewakili keluarga datang ke Pajang.

Bagaimanakah kisah perjalanannya? Apa hasil dari kedatangannya ke Pajang? Lalu, apa hubungan kedatangan ke Pajang dengan berdirinya Kabupaten Banyumas?

Sebuah kisah yang seru yang membuat Babad Banyumas semakin menarik dinikmati sebagai sebuah kisah sejarah. 

Selengkapnya, silahkan baca tulis terjemahan saya atas naskah “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” di bawah ini. 

Sengaja tidak saya sertakan naskah asli dalam bahasa Jawanya. Agar pembaca lebih bisa menikmati Babad Banyumas sebagai buku bacaan.

Selamat membaca.

Berdirinya Kabupaten Banyumas

Ilustrasi buku Serial Bacaan Babad Banyumas karya NasSirun PurwOkartun yang menggambarkan Raden Jaka Kaiman tengah membagi empat wilayah Wirasaba. Dari pembagian itu kemudian Raden Jaka Kaiman pindah ke Kejawar yang menjadi awal mula Kabupaten Banyumas.

Dikisahkan yang saling berdebat, yakni para prajurit utusan Pajang, sudah kembali pulang. Sudah menyampaikan kabar pada sang sultan. Bahwa semua terjadi karena kesalahpahaman mereka.

“Kyai Adipati Wirasaba sudah meninggal. Hamba tidak sampai hati melihatnya.”

Begitu ucapan prajurit yang datang belakangan.

Prajurit yang datang duluan melanjutkan, “Lebih-lebih kesedihan yang saya rasakan. Karena sata telah membunuh orang yang tidak bersalah…”

Sang Sultan pelan dalam ucapan, “Sekarang, kalian kumpulkan semua anak-anak sang adipati. Saya perintahkan menghadap. Bertemu langsung dengan saya.”

Ketiga prajurit menyembah dan pamitan. Keluar dari dalam kerajaan.

Dalam perjalanan tidak dikisahkan. Sampailah mereka di Kadipaten Wirasaba. Para prajurit kemudian masuk ke dalam.

Pada saat itu semua masih ribut. Baik istri maupun anak-anaknya. Hingga tidak bisa menemui tamu.

Pada waktu itu yang menemui merek adalah adik sang adipati, yaitu anak dari istri selir, namanya Pangeran Serangpati. Para prajurit dipersilahkan untuk duduk di pendapa.

Para prajurit bertanya padanya, “Saudara itu apa kedudukannya di Wirasaba? Apanya Kyai Adipati?”

Kyai Serangpati menjawab, “Saya adik dari Kyai Adipati yang sudah meninggal. 

Namun saya tidak mempunyai kedudukan. Nama saya Serangpati. Hanya disebut sebagai sesepuh di Kadipaten Wirasaba ini.”

Para prajuiri kemudian berkata, “Begini, Kyai, ada panggilan dari sang sultan. Seluruhnya mohon dikumpulkan. Para putra adipati kalau sudah berkumpul semua akan dipanggil menghadap sang sultan ke Kesultanan Pajang. Nah, sekarang Kyai Serangpati, Anda kumpulkan semua para putra adipati. Besar kecil tua muda. Kami ingin mengetahui semuanya.”

Dengan segera Kyai Serangpati mengundang para putra semua. Laki dan perempuan untuk berkumpul. Juga yang tua dan yang muda. Hingga bertemulah para prajurit dengan ketiga anak sang adipati.

Berkatalah Kyai Serangpati, “Inilah mereka semua. Anak-anak Adipati Wirasaba.”

Prajurit kemudian berkata pada mereka, “Katakan pada mereka bahwa sang sultan memanggil berangkat bersama kami. Begitulah perintahnya.”

Dengan segera Kyai Serangpati menyampaikannya pada para semua putra adipati, “Anak-anakku, kalian semua dipanggil sultan. Bagaimana jawaban kalian? Apakah kalian akan berangkat ke Kesultanan Pajang menghadap pada sang sultan?”

Ngabehi Warga Wijaya menjawab kepada sang paman, Kyai Serangpati, “Saya menyatakan tidak mau memenuhi panggilan sang sultan. Terserah saja pada kakak saya. Sebab dia adalah putra tertua. Walaupun perempuan tapi sudah mempunyai suami. Tidak akan mengalam kesulitan. Tinggal menawarkan saja pada ipar saya itu.”

Kyai Serangpati pun beralih bertanya pada Bagus Mangun, “Sekarang tiggal saya tawarkan padamu. Ini kedua adik iparmu semua sudah menolak  menghadap, yaitu Warga Wijaya, juga adikmu, Ki Ageng Senon. Mereka tidak mau menghadap pada sang sultan. Hanya padamu sekarang keputusannya. Bagaimana jawabanmu, anakku?Apa kamu sanggup memenuhi panggilan sang sultan itu?”

Yang ditawari, menantu Kyai Adipati Wirasaba berkata, “Kalau kedua adik saya rela, tidak ada yang mau berangkat, ijinkan saya yang akan menyanggupi memenuhi panggilan sang sultan. Lebih baik saya ikut mati bersama mertua saja. Hanya saja saya ada pesan yang ingin disampaikan kalau saya nanti selamat dalam perjalanan, tidak ada halangan satu pun juga, bahkan mendapat pemberian kasih sang sultan,misal jika saya diberi kedudukan menjadi adipati Wirasaba, kedua adik saya jangan ada yang menyesal. Jangan sedih lahir batin. Dan permintaan saya lagi, kalau menjadi takdir Yang Kuasa, bila ada keputusan dari sang sultan, sampai kepada keturunan saya nanti, dan juga keturunan adik saya semua, jangan ada yang mengganggu, hingga kedudukan bisa lestari berkuasa di Kadipaten Wirasaba.”

Kemudian bersiaplah Bagus Mangun, pemuda dari Kejawar itu berangkat bersama prajurit. Banyak keluarganya yang ikut mengiringkan ke Pajang. Terutama keluarga dari desa Kejawar.

Tidak dikisahkan perjalanannya. Sampailah mereka di Kesultanan Pajang. Kemudian bertemulah dengan sang sultan. Sang sultan senang hatinya melihat pemuda dari Kejawar. Hingga diberi kedudukan untuk berkuasa atas Kadipaten Wirasaba.

Bagus Mangun diberi gelar yang sama dengan ayah mertuanya yang meninggal, yakni Warga Utama juga.

Kemudian tersebarlah kabar, bahwa pemuda dari Kejawar sudah diangkat kedudukannya menggantikan mertuanya, menjadi seorang adipati bergelar Warga Utama.

Permintaan sang sultan, setelah sekitar tiga bulan lamanya berada di Pajang, setelah mendapat ijin sultan untuk kembali pulang ke Wirasaba.

Tidak dikisahkan dalam perjalanannya, sampailah mereka di Wirasaba.

Semua rakyat tunduk padanya. Berikut para saudaranya. Semua menyatakan kesetiaan. Siap mengabdi dengan kasih sayang. Segenap keluarga besarnya.

Berikut desa di kanan dan kirinya, baik daerah mancapat maupun mancalimanya, semua bersepakat tunduk padanya. Seluruh keluarga besarnya. Kepada adipati yang baru.

Kehendak sang adipati, wilayah kadipaten Wirasaba kemudian dibagi empat.  Seluruh wilayah dipecah-pecah. Dibagikan kepada saudara-saudaranya. Sebagian diberikan pada Senon. Sebagian kepada Wirasaba. Sebagian untuk Toyareka. Sebagian lagi untuk Pasir. Masing-masing mendapat seperempat.

Semuanya sudah diberi kekuasaan dari kakak mereka sang adipati. Berikut juga tanda kebesarannya. Bersyukurlah saudaranya semua. Seluruh keluarga besar. Sungguh tulus nyata kebesaran hati sang adipati kepada para saudaranya.

Karena itulah, hingga terkenallah sang adipati dengan gelar Adipati Mrapat. Karena telah membagi empat wilayahnya, dibagikan kepada empat saudaranya.

Antara sekitar setengah tahun kemudian, pada suatu malam sang adipati, bersamaan dengan malam purnama, antara tidur dan terjaga, terdengar sebuah suara. Jelas sekali perintahnya.

“Dengarkan wahai sang adipati. Kalau engkau ingin sejahtera dan terus berwibawa menguasai Wirasaba, kamu pindahkan pusat pemerintahan dari wilayah Wirasaba. Kamu bertempatlah di sebelah barat, di tanah wilayah Kejawar. Tepatnya di sebelah barat laut. Bukalah tempat di situ itu, di dekat tumbuhnya pohon tembaga.”

Suara kembali terdengar.

“Di situ dirikanlah pusat kekuasaan. Maka akan panjang derajatmu. Hingga keturunanmu kelak berkuasa di wilayah Wirasaba.”

Terkejutlah sang adipati.

Terbangun dan masih terngiang. Suara yang baru saja didengarnya. Seperti tidak sedang bermimpi. Benar-benar seperti tengah sadar. 

Maka segera dipanggillah seluruh keluarga besarnya. Berikut juga saudara. Hingga semua berkumpul di hadapan sang adipati

Berkatalah sang adipati, “Wahai seluruh keluargaku semua. Kalian sengaja saya datangkan semua. Beserta para saudara. Kalian semua saya beritahu bahwa saya punya keinginan untuk memindah pusat pemerintahan. Di Wirasaba sudah berakhir. 

Yang akan saya buka adalah daerah sebelah barat laut Kejawar. Di situlah saya akan membangun pusat pemerintahan. Sedangkan Wirasaba ini jadilah tempat kedudukan adik saya, Warga Wijaya.”

Semua saudara kemudian berunding bersama para keluarga besarnya. Semua bersepakat satu suara. Semua setuju dan mendukung. Seluruh prajurit diperintahkan bersiap untuk berpindah.

Semua barang bawaan disiapkan. Barang milik sang adipati.

Pagi sekali mulai berangkat. Perjalanan menggunakan perahu. Mengikuti arus sungai. Menyusur sungai Serayu. Sampailah mereka di wilayah Kejawar. Di daerah pusaran air Sungai Serayu mereka mendaratkan perahu.

Seluruh pengiring sang adipati, berikut para keluarga besar, semua telah mendarat. Lalu membangun pesanggrahan.

Riuh sekali suara para prajurit .

Setelah pesanggrahan jadi Kyai Adipati dipersilahkan untuk masuk ke dalam pondokan. Tempat tumbuhnya pohon tembaga semua sudah dirapikan tanahnya. Seluruh lurah dan bawahannya yang melaksanakan pekerjaan.

Waktu itu yang membantu adalah Kyai Mranggi dari Kejawar. Megirimkan makanan setiap harinya. Untuk memenuhi kebutuhan makan prajurit yang sedang bekerja

Setelah berdiri bangunan, berikut seluruh bangunannya, pintu gerbang hingga tempat menghadap, alun-alun yang sangat luas, hingga jalan-jalan yang teratur berjajar. 

Setelah semua kebutuhan pemerintahan selesai dibangun, kemudian diberi nama Banyumas.

Banyak orang pindah ke Banyumas. Orang Pajang hingga Bagelen. Juga orang dari pesisir banyak yang datang. Pandai emas, tukang logam dan empu merasa nyaman dan tenteram jiwanya. Wilayahnya menjadi makmur. Murah pakaian murah makanan.

Dikisahkan Adipati Mrapat sudah banyak memiliki anak. Enam jumlahnya, yang empat laki-laki sedangkan yang dua perempuan. Putra sulungnya dikisahkan lahir dari istri selir, namanya Mertasuta. Oleh sang ayah ditempatkan di Koripan. 

Anak yang kedua Pangeran Ngabehi Janah. Kemudian adiknya lagi bernama Merta Wedana, bertempat tinggal di Piasa. Adiknya lagi, laki-laki, namanya Merta Menggala, bertempat di Danajara. Oleh sang ayah diberi kedudukandi Selamerta

Anak perempuannya yang bernama Nyai Sutapraya diberi tanah di Pandak, Pekikiran, dan Somagede. Adik perempuannya, bernama Nyai Wirakusuma bertempat tinggal di Papringan dan Mandirancan.

Kategori:Mertadiredjan
SEUWISE

Kematian Tragis Adipati Wirasaba dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang pernikahan Raden Bagus Mangun, Babad Banyumas kemudian menceritakan tentang mertuanya, Adipati Warga Utama.  Dikisahkan pada waktu itu, Sultan Pajang Joko Tingkir meminta pada adipati bawahannya untuk mengirimkan gadis-gadisnya. Dan, Adipati Wirasaba mengirimkan putri bungsunya. Namun, hal itu…
WACA
LIYANE

Ada Apa Dengan Babad Banyumas?

Babad Banyumas adalah babad yang kaya naskahnya. Konon, sampai tahun 2010, sudah ditemukan 101 naskah dengan 65 versi. Jumlah 101 teks naskah itu meliputi 43 teks naskah, 38 teks ketikan, dan 20 teks cetakan. Sementara 65 versinya terdiri dari 56…
WACA
LIYANE

Kesultanan Demak dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang asal mula pusaka Macan Guguh, Babad Banyumas kemudian menceritakan tentang Kesultanan Demak. Tentu kaitannya dengan Kadipaten Wirasaba. Kadipaten Wirasaba yang sebelumnya menjadi bawahan Majapahit, kemudian beralih menjadi bawahan Kesultanan Demak. Apa yang terjadi dengan Wirasaba menjadi bawahan…
WACA
LIYANE

Lambaian Tangan Yang Menyebabkan Kematian

Kisah tragis Sabtu Pahing di Bale Malang menjadi cerita awal mula ketertarikan saya pada Babad Banyumas. Cerita berdarah itulah yang menjadi sebab berdirinya Banyumas. Dari panggung ketoprak saya pertama mengetahuinya. Dikisahkan Sultan Pajang, Joko Tingkir, meminta pada adipati bawahannya mengirimkan…
WACA
LIYANE

Yang Menarik dari Babad Banyumas Wirjaatmadjan

Seperti melanjutkan “Babad Banyumas Mertadiredjan”, buku “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” lebih banyak mengisahkan sejarah Banyumas pada jaman penjajahan Kolonial Belanda dan Inggris. Selain menceritakan Kabupaten Banyumas juga menuturkan peristiwa yang terjadi di seluruh Karesidenan Banyumas, yakni Kabupaten Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Banjarnegara,…
WACA
LIYANE

Adipati Mertadiredja I Pemilik Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan

Ada banyak naskah Babad Banyumas, namun saya hanya menerjemahkan dua naskah saja. Babad Banyumas Mertadiredjan dan Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Menurut saya, untuk masyarakat awam membaca dua babad itu sudah cukup mewakili. Kedua babad tersebut seolah saling melengkapi. Babad Banyumas Mertadiredjan…
WACA
  1. Adakah cerita khusus kyai Mranggi dan asal usulnya. ?

  2. Tulung pak crita riwayat kyai mranggi karo syekh baribin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.