Pelarian Raden Baribin ke Pajajaran Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

April 25, 2022 ·

Makam Raden Putra (Raden Baribin) di puncak Gunung Grenggeng, Karanganyar, Kebumen. Orang-orang di kemudian hari menyebut Raden Baribin dengan gelar Syekh Baribin.

Setelah mengisahkan tentang siapa sosok Raden Putra atau Raden Baribin, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang pelariannya.

Bahwa setelah diusir dari Majapahit oleh kakaknya, Raja Majapahit Prabu Ardiwijaya, Raden Baribin pun keluar dari kerajaan, meninggalkan keluarganya.

Perjalanan itu melewati tempat-tempat yang kelak menjadi tempat bagi anak-anak Raden Putra bermukim.

Tempat pertama yang disinggahi adalah desa Kaleng. Kemudian desa Ngayah. Lalu desa Kejawar. Selanjutnya Pasirluhur. Terakhir adalah Pajajaran.

Dikisahkan, Raden Baribin akhirnya menetap di Pajajaran. Bahkan diangkat menjadi bangsawan, serta dinikahkan dengan adik raja, Ratna Pamekas. Dalam “Serat Babad Banyumas” sang putri hanya disebut sebagai cicit Sang Naradipa.

Dari pernikahan itu kemudian melahirkan empat anak. Kemudian hari, anak dan cucunya yang akan menjadi leluhur dinasti Banyumas.

Selengkapnya, silahkan baca tulis terjemahan saya atas naskah “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” di bawah ini.

Sengaja tidak saya sertakan naskah asli dalam bahasa Jawanya. Agar pembaca lebih bisa menikmati Babad Banyumas sebagai buku bacaan.

Selamat membaca.

Perjalanan Pelarian Raden Baribin

Petilasan Jaka Saputra, di desa Kejawar, kecamatan Banyumas. Kemungkinan di tempat inilah Raden Putra bertemu dengan Ki Buyut Kejawar dalam perjalanannya ke Pajajaran. Atau mungkin petilasan ini adalah bekas rumah Ki Buyut Kejawar, karena berada tak jauh dari makam Kyai Mranggi, anak Ki Buyut Kejawar.

Hati Raden Baribin bagai diiris-iris, mendengar ratapan tangis dari para istri dan selirnya. Juga para abdi setianya

Kesedihan yang sangat luar biasa meliputi batinnya. Laksana dunia di depan mata tak terlihat lagi adanya.

Akhirnya sadarlah hatinya, bahwa ia sesungguhnya hanyalah makhluk biasa yang harus tunduk takdir Yang Kuasa.

Maka tak lagi ragu hati Raden Baribin. Sudah mantap jiwa dan raga hendak meninggalkan istana. Menurut kehendak hatinya

Tak diceritakan perjalanan Raden Baribin yang sedang terlunta-lunta. Berjalan ke selatan, ke barat, sampai di pesirir. Lewat pedalaman di jalur tengah.

Sampailah di pinggiran desa Kaleng. Beristirahat di bawah rindang pepohonan.

Dikisahkan Ki Ageng Kaleng ketika itu tengah lewat melintas. Ki Ageng Kaleng kaget saat melihat kedatangan orang yang tak dikenal. Warna wajahnya bagai bersinar, membuatnya yaakin bahwa sosok itu seorang bangsawan.

Kyai Ageng Kaleng menyapa ramah. Lelaki itu kemudian ditanya, siapakah namanya, dari mana asalnya.

Raden Baribin pelan menjawabnya, “Wahai, Kyai, saya sebenarnya jauh asal muasal negara saya. Saya putra seorang raja. Raden Baribin nama saya.”

Ki Ageng Kaleng terkejut seketika. Kemudian merangkul Raden Baribin. Menangis tersedu-sedulah dia

“Ya Tuhan, tidak mengira tidak bermimpi, Paduka yang sekarang datang seorang diri tanpa pengiring. Seperti sedang dirundung malang. Wahai Paduka, hamba mohon berkenanlah ke rumah hamba, di desa Kaleng ini tempatnya. Mari ikut saya.”

Sang raden menurut ikut ke rumahnya. Batinnya menjadi tenang. Ki Ageng Kaleng mengiring jalannya. Tak lama sampailah di rumahnya.

Ki Ageng Kaleng menjamunya. Sampai tujuh hari lamanya. Sampai kemudian Raden Putra berkata hendak melanjutkan perjalanan ke Pajajaran.

Diantarkanlah oleh Ki Ageng Kaleng. Tidak diceritakan dalam perjalanannya. Sampailah mereka di desa Ngayah. Menginap di rumah Ki Ageng Ngayah

Ki Ageng Kaleng pamit pulang, kembali ke rumahnya. Tidak diceritakan perjalanannya.

Raden Baribin kemudian terlibat percakapan, “Ki Ageng Ngayah, besok saya akan berangkat pagi-pagi menuju ke Pajajaran.”

Raden Baribin diminta istirahat dulu tapi tidak mau. Dan, pagi buta Raden Baribin sudah berangkat.

Ki Ageng Ngayah mengantarkan. Sampailah mereka di desa Kejawar. Di sana mereka menginap semalam. Pagi-pagi buta kembali berangkat

Ki Buyut Kejawar mengantarkan. Tak diceritakan dalam perjalanan. Pasirluhur yang menjadi tujuan. Ki Buyut pun pulang ke Kejawar

Dikisahkan Raden Baribin waktu itu berada di kerajaan Pasirluhur. Lima bulan lamanya menetap. Setelah itu melanjutkan perjalanan lagi

Tidak diceritakan perjalanannya. Singkat kata singkat cerita, sudah sampai di Pejajaran. Kemudian berdiam di sana. Lamanya tidak diceritakan.

Di sana Raden Baribin kemudian menikah. Mendapat istri seorang cicit sang raja, mendiang sang Sri Naradipa.

Kategori:Mertadiredjan
SEUWISE

Kesaktian Raden Katuhu dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang siapa sosok Raden Baribin, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang anak-anaknya. Bahwa dari pernikahannya dengan adik raja Pajajaran Prabu Silih Wangi yang bernama Ratna Pamekas, Raden Baribin mempunyai empat orang anak. Anak yang pertama bernama Raden Katuhu.…
WACA
SEDURUNGE

Pengusiran Raden Putra Dari Majapahit Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Kerajaan Majapahit dan Kadipaten Wirasaba, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang sosok Raden Putra. Raden Putra adalah adik Raja Majapahit, Prabu Ardiwijaya. Dalam naskah “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” Raden Putra disebut dengan nama Raden Baribin. Pengisahan Raden Putra…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Daftar Pustaka

Sewaktu masih di Solo saya asyik membaca Babad Tanah Jawi. Karena penulisan novel pentalogi Penangsang pijakannya adalah Babad Tanah Jawi. Hanya saja saya balikkan penceritaannya dengan data yang saya dapatkan dari keluarga Penangsang, ditambah penafsiran saya atas bacaan naskah-naskah lama.…
WACA
LIYANE

Pertemuan Dua Sungai dalam Plesiran Babad Banyumas

“Kacariyos Ki Dipati Mrapat boten kersa dedalem ing Wirasaba. Kersanipun bade dedalem ing pasiten telatah dusun Kejawar. Wonten ing pinggiripun kidul lepen Serayu, kaprenah saeler kilenipun dusun Kejawar. Kaleres wetanipun celak kaliyan tempuripun lepen Pasingganan lan lepen Serayu.” “Dikisahkan Adipati…
WACA
LIYANE

Wirjaatmadjan Banyumas Chronicle

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Sejarah Banyumas

Setelah terbit dua buku Babad Banyumas, yakni “Babad Banyumas Mertadiredjan” dan “Babad Banyumas Wirjaatmadjan”, kemudian Penerbit terpikir untuk menggabungkannya. Namun, bukan digabung dalam satu buku lengkap dengan Bahasa Jawanya. Melainkan hanya terjemah dalam Bahasa Indonesianya saja. Mengapa demikian? Karena tidak…
WACA

KOMENTAR

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.