Pesan Raden Baribin dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

August 7, 2022 ·

Lukisan Raden Baribin yang berada di makamnya, Bukit Grenggeng, Karanganyar, Kebumen.

Setelah mengisahkan tentang Rade Katuhu yang kemudian menjadi Adipati Wirasaba dengn gelar Marga Utama. Cerita berlanjut dengan ketiga adiknya, Banyak Sasra, Banyak Kumara, dan Rara Ngaisah.

Ketiga adiknya tersebut ternyata juga ingin mengembara, mengikuti langkah yang sudah ditempuh kakak mereka, Raden Katuhu.

Dikisahkan ayah mereka, Raden Baribin, berpesan pada anak-anaknya. Dan, pesan itu pun benar-benar dituruti oleh ketiga anaknya.

Pesan apa itu?

Selengkapnya, silahkan baca tulis terjemahan saya atas naskah “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” di bawah ini.

Sengaja tidak saya sertakan naskah asli dalam bahasa Jawanya. Agar pembaca lebih bisa menikmati Babad Banyumas sebagai buku bacaan.

Selamat membaca.

Tiga Tempat Untuk Berdiam Ketiga anaknya

Makam Raden Baribin di Bukit Grenggeng, Karanganyar, Kebumen.

Tidak dikisahkan lagi yang terjadi di kadipaten Wirasaba.

Berganti yang diceritakan adalah di Kerajaan Pajajaran. Adalah Raden Baribin yang telah sempurna bertapa. Anaknya tinggal tiga, namun ingin menyusul kakak mereka  yakni Raden Katuhu.

Sang ayah berucap bijaksana, “Anak-anakku semua, kalau bisa sebelum saya mati nantinya, setelah saya kelak tiada, kamu, anakku, Banyak Sasra, bermukimlah di Pasir Luhur. Sedangkan Banyak Kumara bermukimlah di Kaleng. Sedangkan adikmu, yang perempuan kelak bermukimlah di desa Kejawar. Kalian laksanakan pesan ini.”

Ketiga anaknya pun bersujud. Kemudian direlakan pergi.

Beriringan sepanjang jalan. Hingga pada suatu hari sampailah di Pasir Luhur sebagai tujuan pertama. Di situ mereka berhenti. Raden Banyak Sasra menikah dan berkeluarga di situ.

Sang adik, Banyak Kumara, melanjutkan perjalanan ke arah timur, menuju desa Kaleng untuk bermukim. Sementara adiknya yang perempuan masih ikut dengan sang kakak, Banyak Sasra, berdiam di Pasir Luhur.

Sekarang ganti yang dikisahkan, tentang seorang tukang pembuat warangka keris di desa Kejawar.

Laki-laki itu mempunyai satu anak laki-laki. Pada suatu malam bermimpi melihat bintang jatuh menuju arah Pasir Luhur.

Pagi harinya Ki Jaka Kejawar bersiap menjajakan dagangannya. Dengan dipikul ia berangkat

Dikisahkan, di Pasir Luhur, Banyak Sasra saat ia sedang menyiangi tanamannya. Ki Jaka Kejawar datang saat itu bermaksud menawarkan dagangannya.

Banyak Sasra kemudian bertanya, “Kamu rumahnya di mana?”

Ki Jaka menjawab sopan, “Rumah saya di desa Kejawar.”

Banyak Sastra ingat pesan yang disampaikan sang ayah waktu masih di Pajajaran.

Ki Jaka Kejawar diajak ke rumahnya. Setelah keduanya duduk, Banyak Sastra dan Ki Jaka, Banyak Sasra mulai bertanya.

“Kamu membawa dagangan apa, yang bertumpuk di pikulanmu?”

Ki Jaka pelan menjawab, “Saya berjualan warangka keris.”

“Kamu rumahnya di mana, kok membawa dagangan bungkus keris?’

Ki Jaka kembali menjawab, “Rumah saya di Banyumas, desanya namanya Kejawar.

Jauhnya jarak bila ditempuh dari sini lima hari perjalanan.”

Banyak Sasra menyambung lagi, “Apakah kamu mau menetap di sini? Di sini banyak tumbuh pohon besar. Banyak batang kayu yang bagus sebagai bahan membuat warangka.”

Ki Jaka Kejawar pelan menjawab, “Terserah baiknya menurut Anda.”

Singkat cerita terjadilah kesepakatan. Pemuda itu dinikahkan dengan Rara Ngaisah.

Suatu ketika, Ki Jaka pulang kembali ke desa Kejawar. Ayahnya gembira menyambutnya.

Demikianlah yang diceritakan sampai kemudian Banyak Sasra meninggal.

Baca sebelumnya: Adipati Warga Utama Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Kategori:Babadan
SEUWISE

Kisah Raden Bagus Mangun dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang ketiga anak Raden Baribin, kisah Babad Banyumas berlanjut dengan cucunya. Yaitu Raden Jaka Kaiman, putra Raden Banyak Sasra. Dikisahkan setelah menetap di Pasir Luhur, Raden Banyak Sasra menikah dengan putri Adipati Pasir Luhur yang bernama Dewi Sriyati.…
WACA
SEDURUNGE

Adipati Warga Utama Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Rade Katuhu yang kemudian menjadi Adipati Wirasaba dengn gelar Marga Utama. Cerita berlanjut dengan meninggalnya Adipati Marga Utama, dan yang menjadi pemimpin Wirasaba adalah anaknya yang bernama Raden Suwarga. Gelarnya adalah Warga Utama. Dikisahkan Adipati Warga Utama…
WACA
LIYANE

Sang Petualang

  Serial Bacaan Babad Banyumas untuk Siswa SD Kelas 1 - 3.      
WACA
LIYANE

Panggung Ketoprak Babad Banyumas

Saya menulis novel panjang Penangsang bermula dari kenangan masa kecil. Ketika kelas 4 SD setiap malam melihat pentas ketoprak tobong di desa saya. Dari panggung ketoprak itulah saya mengenal sosok Penangsang, berikut kisah yang membelitnya, terutama perseteruannya dengan Joko Tingkir.…
WACA
LIYANE

NasSirun PurwOkartun Menerjemahkan Babad Pasirluhur Sebagai Kado Untuk Purwokerto

Banyak orang yang bertanya, “Namanya Kabupaten Banyumas tetapi mengapa pusat pemerintahannya di Purwokerto?” Sepertinya masih banyak orang Banyumas yang belum tahu bahwa dulu ada dua kabupaten, Banyumas dan Purwokerto, yang kemudian bergabung menjadi satu. Babad Banyumas Wirjaatmadjan sudah memberitahu tentang…
WACA
LIYANE

Asal Mula Kyai Macan Guguh dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang asal mula keris pusaka Banyumas, Kanjeng Kyai Gajahendra, Babad Banyumas kemudian menceritakan tentang asal mula pusaka Kanjeng Kyai Macanguguh. Keris pusaka dinamakan Gajahendra karena bermula dari peristiwa terbunuhnya garuda Endra oleh Patih Gajahmada. Lantas penamaan pusaka Macan…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.
kaiman Avatar

Mas Kaiman

Asisten Babad Banyumas
Halo sedulur! Saya Mas Kaiman. Mau tanya seputar Babad Banyumas?
Mas Kaiman sedang mengetik...
Saya Mas Kaiman! 👋
[mwai_chatbot id="chatbot-4clk8o"]