Pohon Tembaga dalam Plesiran Babad Banyumas

April 14, 2022 ·

Pohon Tembaga yang menjadi penunjuk letak Kota Banyumas pertama yang dibangun Raden Jaka Kaiman. Sekarang berada di Makam Tembagan, Desa Kalisube, Kecamatan Banyumas.

Petunjuk utama adalah pohon Tembaga. Petunjuk tentang tempat di mana Adipati Mrapat harus mendirikan ibu kota Kabupaten Banyumas.

“Yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba, sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah lor kulonira, sira tetruka neng ngriku, unggyaning wreksa Tembaga.”

“Kalau kamu ingin sejahtera dan lestari berwibawa memimpin Kadipaten Wirasaba, kamu pindahkan pusat pemerintahan dari Wirasaba ke tempat sebelah barat di wilayah desa Kejawar, tepatnya pada arah barat laut. Bukalah tempat baru di situ, di dekat tumbuhnya pohon Tembaga.”

Begitulah petunjuk yang diterima Adipati Mrapat setelah menjabat menjadi Adipati Wirasaba. Seperti yang tertulis dalam tembang Asmaradana pada “Serat Babad Banyumas”.

“Kacariyos Ki Dipati Mrapat boten kersa dedalem ing Wirasaba. Kersanipun bade dedalem ing pasiten telatah dusun Kejawar. Wonten ing pinggiripun kidul lepen Serayu, kaprenah saeler kilenipun dusun Kejawar. Kaleres wetanipun celak kaliyan tempuripun lepen Pasingganan lan lepen Serayu.”

“Dikisahkan Adipati Mrapat tidak mau bertempat tinggal di Wirasaba. Berkeinginan membangun tempat yang baru di wilayah desa Kejawar. Berada di pinggir selatan Sungai Serayu, di sebelah barat laut desa Kejawar. Tepatnya di sebelah timurnya adalah pertemuan Sungai Pasinggangan dan Sungai Banyumas.”

Begitulah petunjuk yang ditulis dalam gancaran “Babad Banyumas Wirjaatmadjan”. Petunjuk yang seakan melengkapi keterangan dalam “Babad Banyumas Mertadiredjan”.

Dari semua petunjuk itu, penanda utamanya adalah Pohon Tembaga. Petunjuk pertama adalah wilayah di Desa Kejawar. Petunjuk kedua tentang letaknya pada arah barat laut. Petunjuk ketiga berada di selatan Sungai Serayu. Petunjuk keempat ada pertemuan dua sungai. Petunjuk kelima adalah pohon Tembaga.

Berbekal petunjuk yang sangat jelas itu Adipati Mrapat pun meninggalkan Wirsaba. Perjalanan dilakukan menggunakan perahu dengan mengikuti aliran Sungai Serayu. Berangkat menuju desa Kejawar untuk mencari tempat sesuai petunjuk yang didapat. Pindah ke tempat yang tepat sebagai pusat pemerintahan yang baru.

Maka, dengan petunjuk itu pula, saya melakukan penelusuran sejarahnya. Karena keberadaan ibu kota Banyumas pertama sudah dilupakan orang. Hari ini orang hanya tahu bekas ibu kota Banyumas yang kedua, yang sekarang menjadi kantor Kecamatan Banyumas.

Orang tidak tahu bahwa ternyata ibu kota Banyumas pertama bukanlah di tempat tersebut. Bangunan berupa pendapa besar dan rumah kabupaten tersebut adalah ibu kota Banyumas baru. Setelah dipindah oleh Bupati Banyumas Tumenggung Yudanegara II pada tahun 1727.

Lalu di mana pusat pemerintahan Banyumas pertama?

Kota Banyumas pertama yang dibangun oleh Adipati Mrapat pada tahun 1571 adalah pada situs Tembagan. Situs yang dinamakan sesuai keberadaan pohon Tembaga sebagai petunjuk utamanya.

Di mana letaknya?

Begitulah penasaran kami tentang keberadaan kota Banyumas pertama.

Maka, penelusuran pun mengikuti jejak yang dulu, jejak 450 tahun yang lalu yang dilakukan oleh Adipati Mrapat. Perjalanan pertama adalah dengan menyusuri bekas aliran Sungai Banyumas untuk kemudian menemukan pertemuan dengan Sungai Pasinggangan. Dari pertemuan itu lalu dilanjutkan dengan mencari keberadaan pohon Tembaga.

Ternyata, pohon Tembaga bersejarah tersebut sekarang masih ada. Tepat di sebelah selatan aliran Sungai Pasinggangan. Atau di sebelah barat pertemuan dengan Sungai Banyumas. Persis seperti yang tertulis dalam Babad Banyumas.

Pohon tua itu masih berdiri tegak, padahal bila kita hitung umurnya sudah ratusan tahun. Sekarang tahun 2021, sementara pohon Tembaga tersebut ditemukan Adipati Mrapat pada tahun 1571. Maka sudah berjarak 450 tahun.

Kita bayangkan, pohon yang bisa menjadi penanda berarti pohon yang sudah tinggi tumbuhnya, sudah besar batangnya. Maka bisa diperkirakan, usia pohon Tembaga tersebut sudah lebih dari 450 tahun. Mungkin 500 tahun.

Bayangkan! Sebuah pohon tua yang berumur hampir setengah abad, namun masih hidup. Tumbuh segar dengan daun-daun yang menghijau.

Bahkan, menurut juru kunci makam, konon pohon Tembaga merupakan pohon satu-satunya di dunia. Karena tidak ditemukan pohon lainnya di sekitar situs Tembagan.

Pohon tersebut tidak berbuah, hingga tidak ada biji yang bisa ditanam untuk memperbanyak. Pohon tersebut juga tidak bisa dikembangbiakkan dengan sistem cangkok daun dan kulit batangnya.

Anehnya lagi, walaupun sudah berumur ratusan tahun namun batangnya tetap sebesar badan orang dewasa. Tidak membesar seperti pohon beringin yang bisa berumur ratusan tahun dan makin membesar batangnya. Pohon Tembaga lingkar batangnya tidak berubah.

Menurut pengakuan warga sekitar, sejak mereka melihat pohon tersebut pada tahun 1960-an sampai sekarang, tahun 2022, tidak bertambah besar. Hanya saja ketika datang kemarau, daun-daunnya akan rontok, hanya meninggalkan batang yang meranggas. Namun, ketika turun hujan, batang yang seperti pohon mati itu akan kembali bersemi. Daunnya menghijau lagi.

Hal itu seolah mengajarkan pada kita untuk tetap kuat dalam menghadapi beragam cuaca dalam kehidupan. Merasakan segala perubahan iklim kekuasaan dengan tetap tegak pada keyakinan kebenaran.

Kategori:Plesiran
SEUWISE

Mencari Ibu Kota Banyumas Lama dalam Plesiran Babad Banyumas

Jalan itu bernama Jalan Adipati Mrapat. Tentu saja diambil dari nama pendiri Banyumas. Karena ibu kota Banyumas lama berada pada lintasan jalan itu. Adipati Mrapat sangat dikenal oleh warga Banyumas, terutama generasi tuanya. Namun tidak tahu apakah generasi milenial dan…
WACA
SEDURUNGE

Pertemuan Dua Sungai dalam Plesiran Babad Banyumas

“Katjarijos Ki Dipati Marapat boten kersa dedalem ing Wirasaba. Kersanipoen bade dedalem ing pasiten telatah doesoen Kedjawar. Wonten ing pinggiripoen kidul lepen Serajoe, kaprenah saeler kilenipoen doesoen Kejjawar. Kaleres wetanipoen celak kaliyan tempoeripun lepen Pasinggangan lan lepen Banjoemas.” “Dikisahkan Adipati…
WACA
LIYANE

Kematian Tragis Adipati Wirasaba dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang pernikahan Raden Bagus Mangun, Babad Banyumas kemudian menceritakan tentang mertuanya, Adipati Warga Utama.  Dikisahkan pada waktu itu, Sultan Pajang Joko Tingkir meminta pada adipati bawahannya untuk mengirimkan gadis-gadisnya. Dan, Adipati Wirasaba mengirimkan putri bungsunya. Namun, hal itu…
WACA
LIYANE

Lambaian Tangan Yang Menyebabkan Kematian

Kisah tragis Sabtu Pahing di Bale Malang menjadi cerita awal mula ketertarikan saya pada Babad Banyumas. Cerita berdarah itulah yang menjadi sebab berdirinya Banyumas. Dari panggung ketoprak saya pertama mengetahuinya. Dikisahkan Sultan Pajang, Joko Tingkir, meminta pada adipati bawahannya mengirimkan…
WACA
LIYANE

Pemburu Pertama Babad Banyumas

Wawancara Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum, 27 Tahun Berburu Babad Banyumas. Sepanjang berburu Babad Banyumas, saya tidak menemukan sosok lain yang menaruh perhatian penuh pada Babad Banyumas, selain Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum. Maka, sejak pertama mengenal namanya pada…
WACA
LIYANE

Adipati Mertadiredja I Pemilik Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan

Ada banyak naskah Babad Banyumas, namun saya hanya menerjemahkan dua naskah saja. Babad Banyumas Mertadiredjan dan Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Menurut saya, untuk masyarakat awam membaca dua babad itu sudah cukup mewakili. Kedua babad tersebut seolah saling melengkapi. Babad Banyumas Mertadiredjan…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.