Melacak Jejak Perang Diponegoro di Banyumas Bersama Budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun

September 1, 2026 ·

Semua orang Banyumas mengenal nama pahlawan Pangeran Diponegoro. Banyak orang juga yang mengetahui kisah perjuangannya dalam melawan penjajahan Belanda. 

Namun tak banyak orang Banyumas yang mengetahui, bahwa wilayah Banyumas pernah menjadi ajang Perang Diponegoro. Dan, belum banyak juga yang tahu, kisah Perang Diponegoro di Banyumas tersebut tertulis dalam Babad Banyumas.

Budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun memaparkan hal itu dalam acara “Bedah Kisah Perang Diponegoro Di Banyumas” pada hari Minggu, 30 Agustus 2026, pukul 15.30 WIB sampai pukul 17.15 WIB.

Dalam rangka menutup moment perayaan Agustusan, Bale Babad Banyumas bekerjasama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menggelar acara tersebut. Bertempat di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Purwokerto. Dalam rangkaian acara Out of The Boox 2026.

Peserta yang datang dari berbagai usia dan kalangan. Mereka mengikuti dengan penuh perhatian semua yang disampaikan oleh Kang Nass, begitu pembicara biasa disapa.

“Sumber yang mengisahkan Perang Diponegoro di Banyumas ada tiga naskah yang sudah saya baca. Naskah pertama adalah Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Naskah kedua Babad Banyumas Tjakrawedanan. Dan, naskah ketiga Babad Diponegoro Manado.”

Kang Nass mengambil satu sumber saja dalam bahasan hari itu, karena keterbatasan waktu. Sumber yang diambil dari naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan karya Patih Purwokerto, Raden Aria Wirjaatmadjan.

Sebagai bahan pemaparan, Kang Nass menayangkan naskah asli dalam bahasa Latin Jawa pada layar untuk dibaca bersama oleh seluruh peserta. Naskah yang menjadi bahan terjemahan Babad Banyumas WIrjaatmadjan.

“Katjarijos sadangoenipoen peperangan ing Banjoemas oegi sampoen nate kadhatengan mengsah ageng.Titindihipoen kraman poetranipoen Kangdjeng Pangeran Dipanagara pijambak adjedjoeloek Kangdjeng Pangeran Soerjaatmadja…”

Bahwa Perang Diponegoro pertama pecah di Banyumas dipimpin oleh anak Pangeran Diponegoro yang bernama Pangeran Suryaatmadja.

Pasukan Pangeran Diponegoro menyerang Banyumas. Pecah perang di Purwareja, Klampok, Banjarnegara. Pasukan Kabupaten Banyumas kalah. Mundur ke Sokawera. Membangun pertahanan di Lemahputih.

Pasukan Pangeran Diponegoro mengejar. Membangun markas di wilayah Somagede, Banyumas. Mereka tidak langsung menyerang, karena sengaja menunggu datangnya hari Pahing, yang menurut legenda merupakan hari sialnya orang Banyumas.

Namun, belum sampai hari Pahing, pasukan dari Keraton Surakarta datang menyerang mereka. Dengan dipimpin oleh paman Raja Surakarta yang bernama Pangeran Kusumoyudo.

Pasukan Pangeran Diponegoro di Somagede kalah jumlah. Mereka melarikan diri ke arah selatan, melewati daerah pegunungan.

Kang Nass sudah melacak jejak tempat-tempat tersebut. Di manakah dulunya Pasukan Pangeran Diponegoro membangun markasnya.

Ternyata berada di tempat yang sekarang bernama Tamanan. Nama Tamanan berarti tempat berada sebuah kolam. Kolam tersebut berada di sebuah palung sungai. Sungai yang dibendung alirannya hingga membentuk kolam air yang besar. 

Kolam air itu yang memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan minum bagi para prajurit Pangeran Diponegoro.

Di Somagede sekarang masih berdiam keturunan dari prajurit Pangeran Diponegoro yang waktu itu tidak ikut melarikan diri. Melainkan bersembunyi, dan menetap di Somagede, hingga akhirnya menikah.

Selain jejak di Somagede, Perang Diponegoro juga pernah terjadi di Widarapayung dan Adireja, yang sekarang masuk Kabupaten Cilacap. Dulu adalah wilayah Kabupaten Banyumas sebelum dijajah Belanda.

Perang di Widarayapayung dan Adireja berlangsung sangat sengit. Pasukan Pangeran Diponegoro dipimpin oleh Tumenggung Banyak Wide, tokoh yang kemudian menjadi leluhur Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Sementara pasukan Kabupaten Banyumas dipimpin oleh Bupati Ayah, Tumenggung Dipayuda. Tokoh yang setelah Perang Diponegoro diangkat menjadi Bupati Banjarnegara oleh Belanda.

Tumenggung Dipayuda mempunyai adik yang menjadi panglimanya, bernama Raden Dipadiwirya. Setelah Tumenggung Dipayuda menjadi Bupati Banjarnegara, Raden Dipadiwirya diangkat menjadi Patih Banjarnegara.

Raden Arya Wirjaatmadja adalah anak dari Raden Dipadiwirya.

Maka sangat mungkin, kisah Perang Diponegoro yang ditulis dalam Babad Banyumas bersumber dari penuturan ayahnya, sebagai pelaku sejarah tersebut.

“Maka, kalau ada yang mengatakan Babad Banyumas adalah dongeng, perlu membaca Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Karena isinya betul-betul catatan sejarah,” begitu Kang Nass menyampaikan pandangannya.

Kang Nass menayangkan tempat-tempat bersejarah jejak Perang Diponegoro dalam layar. Hingga peserta mudah mengikuti ceritanya dan mengetahui letak tempatnya.

“Saya baru tahu kalau ternyata Perang Diponegoro pernah terjadi di Banyumas. Karena selama ini saya mengiranya terjadi di wilayah Jogjakarta saja,” ungkap Irwan Saputro, salah seorang peserta.

Peserta merasa mendapat wawasan baru. Diajak membaca langsung naskahnya. Juga dijelaskan runtutan kejadiannya.

Mereka berharap acara bisa disambung lain waktu. Dengan mengangkat sumber lainnya. Yaitu Babad Banyumas Cakrawedanan dan Babad Diponegoro.

Kang Nass menyanggupinya, karena dua naskah itu juga sudah diterjemahkannya.

Kategori:Dopokan
SEUWISE

Budayawan Banyumas NasSirun PurwOkartun Mengajak Mahasiswa Baru Unsoed Untuk Mengenal Tiga Teladan Leluhur Banyumas

Babad Banyumas bukan hanya sehimpun kisah sejarah Banyumas masa silam yang hanya tinggal kenangan lapuk. Namun juga menyimpan kisah para leluhur Banyumas yang bisa menjadi teladan kehidupan sepanjang masa. Demikian yang disampaikan oleh budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun ketika menjadi pembicara…
WACA
LIYANE

Bahas Banyumas

  Serial Dongeng Babad Banyumas untuk Mahasiswa      
WACA
LIYANE

Mengajak Menjadi Pribadi Manusia Banyumas, NasSirun PurwOkartun Luncurkan 22 Buku “Serial Babad Banyumas”

Babad Banyumas bukan hanya kumpulan kisah. Bagi NasSirun PurwOkartun, budayawan Banyumas, Babad Banyumas juga sehimpun hikmah. Bila naskah Babad Banyumas dipahami sebagai kumpulan kisah, maka yang didapat pembaca hanya cerita-cerita saja. Namun apabila dimaknai sebagai himpunan hikmah, maka pembaca mendapatkan…
WACA
LIYANE

Sriban, Prasasti Yang Sulit Terganti!

Mata kupejamkan. Aku berbaring di beranda depan. Di teras rumah sebelah kanan. Aku ingin mengenali seisi halaman, yang sudah bertahun menjadi wajah rumahku. Namun bukan dengan melihat langsung. Melainkan dengan hanya membayangkan, seolah melihat sekeliling halaman dari kiri ke kanan,…
WACA
LIYANE

Pengusiran Raden Putra Dari Majapahit Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Kerajaan Majapahit dan Kadipaten Wirasaba, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang sosok Raden Putra. Raden Putra adalah adik Raja Majapahit, Prabu Ardiwijaya. Dalam naskah “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” Raden Putra disebut dengan nama Raden Baribin. Pengisahan Raden Putra…
WACA
LIYANE

Urutan Adipati Wirasaba Menurut Babad Banyumas Mertadiredjan

“Serat Babad Banyumas” menceritakan tentang keberadaan sebuah kadipaten bernama Wirasaba. Dengan pendirinya bernama Raden Paguwan yang kemudian bergelar Adipati Wira Hudaya. Karena usia tua, Adipati pertama Wirasaba itu kemudian mengundurkan diri. Kedudukannya digantikan oleh anaknya, Raden Urang. Raja Majapahit memberinya…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.