Perutku Lembut. Perutmu?

October 13, 2026 ·

Konon, perut yang lembut bisa menghaluskan perasaan dan pikiran.

Bisa mengurangi stress dan segala macam kecemasan, kegelisahan, juga kekhawatiran.

Menurut buku yang pernah kubaca, kita menghabiskan banyak waktu untuk menyimpan segala sesuatu di dalam perut. Ketegangan tubuh dan pikiran juga menghabiskan banyak energi yang sebenarnya menghambat lancarnya aliran darah.

Napas lah yang sebenarnya bisa menjadi pengenyang. Dengan menjadikannya rileks, hingga bisa merasa lebih tenang dan nyaman.

Maka kucoba praktekkan ilmu yang baru kudapatkan.

Aku pun duduk bersila di lantai kamar. Kedua telapak tangan kuletakan di atas perut. Kubayangkan perutku adalah balon yang akan kutiup. Kutarik nafas dalam-dalam, dan kusimpan dalam perut yang kubayangkan sebagai balon udara. Kutahan sebentar. Kuhembuskan pelan-pelan dan kubayangkan balon sedang kukempeskan perlahan.

Pikiran yang semrawut kukosongkan. Kufokuskan pada perut yang maju ketika kutarik nafas, dan mundur waktu kuhembuskan. Perutku yang menggelembung (kata istri, mirip orang hamil lima bulan), terlihat maju mundur dalam tiap tiupan.

Dalam setiap hembusan, akan kukeluarkan pula segala macam masalah yang berdiam di pikiranku. Aku ingin mengendurkan ketegangan yang bermula dari otak dan berdiam di hatiku. Aku tengah merindukan kesegaran dan kenyamanan. Kedamaian.

Berulang kali kucoba, dan ternyata tak bisa sesuai dengan yang disarankan.

Kutarik nafas dalam-dalam, kusimpan dalam perut, dan terus kutahan.

Menurut teori, harus menahannya selama 3 menit. Tidak boleh kurang. Dan menghembuskannya pun pelan-pelan. Tepat 5 detik. Namun aku gagal. Aku hanya mampu menahannya paling lama 2 menit. Itu pun sudah dengan perut kaku, dan sudah benar-benar tak tertahan.

Kemudian aku pun menghembuskannya tak bisa pelan. Begitu terasa sudah tak tahan, langsung nafas itu berhembus sangat cepat. Seperti berebutan. Mungkin tak sampai 5 detik, sudah habis semua nafas yang tertahan. Jadi cepat sekali udara yang kutahan itu dikeluarkan.

“Astaghfirullahal’adziem…..”

Istighfarku berulang, untuk sedikit mencari tenang.

Mungkin benar inilah kunci dari semua kekacauan batinku.

Karena aku tak kuat menahan nafas, membuatku cenderung emosional. Dan dengan terlalu cepat menghembuskannya, membuatku terlalu cepat naik darah.

Mungkin. Karena itulah yang sepekan ini kurasakan. Seminggu ini aku menjadi mudah emosi. Mudah kecewa, mudah jengkel, mudah sedih, juga mudah marah.

Suatu yang kalau ditelusuri (dan dijadikan pembenaran), semua bermula dari perasaan tertekan, yang tak bisa tersampaikan. Suatu perasaan yang hanya disimpan dan dipendam dalam hati. Suatu perasaan yang tak terungkapkan, ternyata memang lebih mudah membuat sakit hati.

Dari sakit hati macam itulah, katanya bisa menyebabkan timbulnya Hepatitis C. Penyakit yang membuat gosong hati, dan satu-satunya jalan adalah dengan mengganti hati. Persis seperti yang beberapa tahun lalu dilakukan Dahlan Iskan, bos Jawa Pos. Operasi mencangkok hati, yang biayanya (waktu itu) senilai sedan mercy. Hingga dengan berseloroh, Dahlan mengatakan ‘ada symbol mercy’ di perutnya. Karena luka bekas operasi benar-benar membentuk segi tiga mercy.

Dan aku sadar diri, aku tak mungkin ada cadangan biaya untuk mencangkok hati. Maka petuah lama terasa kembali membelai diri. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Oleh karena itu, aku pun terus akan mencoba kembali teraphy ini. Nafas akan kutahan selama 3 menit, dan kuhembuskan dalam 5 detik. Aku akan terus mencoba melembutkan perut, untuk bisa menstabilkan emosi.

Karena konon, ketika kita bisa  mengendurkan semua ketegangan dalam perut, kita akan menemukan kesegaran dan kekuatan dalam hidup.

Bismillah.

Kategori:Profil
SEUWISE

Membayangkan Bayang-Bayang

Mata kupejamkan. Aku berbaring di beranda depan. Di teras rumah sebelah kanan. Aku ingin mengenali seisi halaman, yang sudah bertahun menjadi wajah rumahku. Namun bukan dengan melihat langsung. Melainkan dengan hanya membayangkan, seolah melihat sekeliling halaman dari kiri ke kanan,…
WACA
SEDURUNGE

Adam, Turun Dari Surga Langsung Ke Minang?

MENGENANG MINANG Kalau nanti ada waktu luang, ingin sekali ‘menggelandang’ di Minang. Meski dulu sudah pernah ke sana, tapi hati masih selalu merindu untuk mengulang. Rasanya perjalanan 8 hari itu, belum memuaskan hausku akan pesona Minang yang indah ‘takambang’. Perjalanan…
WACA
LIYANE

Asal Mula Penguasa Laut Selatan Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan Nabi Adam dan Prabu Jayabaya, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang para penguasa Tanah Jawa. Bermula dari Raja Jenggala yang kemudian menurunkan raja-raja Galuh di kerajaan Pajajaran. Bahwa dari sosok legendaris Raden Panji Asmarabangun, kemudian menurunkan Raden Laleyan.…
WACA
LIYANE

Begalan Jaka Kaiman, Pementasan Dua Warisan Budaya Tak Benda Banyumas

Kesenian Begalan adalah warisan leluhur Banyumas yang masih lestari sampai hari ini. Begalah merupakan sebuah tradisi dalam upacara pernikahan adat Banyumas. Ketika sepasang pengantin merupakan anak sulung menikah dengan anak sulung, anak bungsu menikah dengan anak bungsu, atau anak sulung…
WACA
LIYANE

Kisah Raden Bagus Mangun dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang ketiga anak Raden Baribin, kisah Babad Banyumas berlanjut dengan cucunya. Yaitu Raden Jaka Kaiman, putra Raden Banyak Sasra. Dikisahkan setelah menetap di Pasir Luhur, Raden Banyak Sasra menikah dengan putri Adipati Pasir Luhur yang bernama Dewi Sriyati.…
WACA
LIYANE

Kesalahan Salinan Babad Banyumas

Bahagia saya tidak terkira. Babad Banyumas sudah punya dua naskahnya. Walau hanya kopiannya saja. Meski hanya edisi latin Jawanya saja, bukan yang edisi asli yang huruf Jawa. Saya merasa bangga mendapat buku Babad Banyumas salinan, ‘Tedakan Serat Babad Banyumas Natahamijaya’.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.