Dalam Kamar Gelap yang Pengap

October 18, 2026 ·

Kesadaran itu seperti sebuah sorotan cahaya. Begitu petuah bijak berkata.

Sebelum mampu memancarkan cahaya batin pada apa yang terjadi dalam diri, kemungkinan akan terus merasa tersesat, bingung berada dalam kegelapan.

Dan itulah sungguh yang sedang kurasakan. Paling tidak seharian ini. Sejak pagi hingga sore tadi, aku bingung akan mengerjakan apa. Mau membaca, malas. Mau menulis, berat. Menggambar, enggan. Hingga suntuk sungguh rasa di jiwa.

Seolah hidup tak ada gairah. Tak ada semangat untuk melakukan apa pun, mengerjakan apa pun. Bahkan sekadar berpikir pun, otak terasa tumpul. Hati turut beku. Kaku. Dingin.

Aku seakan berada dalam gelap yang pengap. Tanpa ada cercah sinar, pertanda ada harapan memancar. Seolah berada dalam ruang hampa udara, yang menyesakkan.

Aku terjebak dalam gelap kamar kebosanan yang menjemukan.

Untuk sekadar membuang penat, aku pun masuk dalam kamar buku. Telentang di tengah ruangan, dengan beralaskan tikar pandan yang kubentangkan. Kutatap rak-rak buku yang menyesak di kamarku. Keempat sisi dindingnya penuh dengan jajaran lemari, dari lantai hingga menyentuh atap. Hanya meluangkan ruang pintu dan jendela saja. Aku lihat satu per satu dari lemari kiri ke kanan. Seolah mengabsen buku yang pernah kubaca, dan kuingat isinya. Dari lemari buku agama, sejarah, budaya, sastra, hingga humaniora.

Ingin sekali menuangkan pengetahuan yang ada dari ribuan buku itu, untuk kemudian kutuliskan menjadi buku. Menjadi warisan pemikiran untuk kedua anakku, sekadar kebanggaan yang ingin kusematkan di namaku. Tapi kebosanan itu mendadak menyergap. Hari ini aku sangat malas membaca, sekaligus berat menulis.

Benarlah kata-kata Ali Thantawi, “Kemalasan yang ada pada diri kita, seringkali terasa lebih manis dibandingkan madu.”

Kaca mata kubuka. Kuletakkan di rak buku terdekat, agar tak lupa. Sudah berulangkali aku kebingungan mencarinya setiap bangun tidur. Bahkan beberapa kali pecah, karena tak sengaja mendudukinya.

Kemudian lampu kamar kumatikan. Tiduran lagi dalam suasana gelap. Mata sengaja tidak dipejamkan. Berdiam diri dalam gelapnya kamar buku, yang hanya menyisakan cahaya dari kisi-kisi di atas jendela.

Aku terdiam. Tidak melakukan kegiatan apa pun. Membisu.

Dalam gelap, membuat kita tenang, tapi sekaligus membawa kesadaran.

Perenungan datang ketika dalam kegelapan. Kesadaran pun datang, ketika ruang tak ada lampu yang menyala. Gelap yang membuat hati lebih lembut untuk menangkap segala lintasan pikiran dan perasaan.

Bahkan dalam kamar gelap, membuatku banyak menemukan ide-ide brilian.

Gelap. Ah, ini bisa diasosiasikan sebagai kegelapan batin juga. Ketika hati kita sedang mengalami kegelapan, mengalami kegelisahan, kecemasan, keresahan. Itulah di saat asa serasa hampir putus, tak ada bayangan harapan yang membuat hidup lebih bergairah.

Itulah yang kurasa saat ini. Berdiam dalam kamar buku yang gelap. Membayangkan ribuan buku yang telah menyesak dalam otakku. Namun tetap tak membuatku bijak dalam meniti liku kehidupan. Pengetahuan hanya menjadi wawasan tanpa pengamalan.

Dan itu pulalah yang mungkin membuatku sesak. Seolah merasakan kepengapan hidup, dalam suasana yang semakin gelap. Aku hidup dengan nafas yang selalu terburu, bergegas seolah dikejar waktu. Hingga waktu habis untuk kerja, kerja, dan kerja.

Sesekali mungkin memang harus merasakan bosan. Agar bisa masuk dalam gelap perenungan. Untuk kemudian menemukan cahaya, yang bermakna kesadaran.

Maka mestinya aku pun tak perlu mengutuk kegelapan itu. Kegelapan batin dan jiwa. Karena kegelapan itu pun sesungguhnya aku sendiri yang membuatnya. Seperti ruangan kamar bukuku yang menjadi gelap, karena aku pula yang mematikan lampunya.

Aku harus mulai menyalakan lampu, agar suasana kamar menjadi benderang.

Aku pun harus menyalakan pelita hatiku, agar suasana jiwa menjadi terang. Lapang.

Bismillah.

Kategori:Profil
SEUWISE

Siapa Mau Membeli Rongsokan Batinku?

Kebanyakan kita menjaga sisi gelap kita, untuk tetap tersembunyi. Karena kita tidak pernah ingin kejelekan kita diketahui orang lain. Hingga kita sembunyikan rapat-rapat, seperti kebiasaan menyimpan sampah kecil di dalam laci. Padahal konon, bersembunyi dari bagian diri yang terlihat cacat…
WACA
SEDURUNGE

Ternyata Aku dan Einstein Pernah Sama-sama ‘Sontoloyo’

Karena ingat Einstein yang ‘bodoh’, terkenanglah aku pada ‘sontoloyo’. Sebuah umpatan sangat menyakitkan, yang pernah kuterima dari Pak Jono. Kata-kata yang sempat membuat semangat belajarku di kelas 4 benar-benar loyo. Kata itu pula yang semalam menjadikan buku ‘Di Bawah Bendera…
WACA
LIYANE

Sebatang Paku pada Amben Kayu Ruang Tamu

Aku akan bercerita tentang paku. Paku yang masih menancap di amben kayu ruang tamu rumahku. Ruang tamu yang kutinggalkan 10 tahun lalu, isinya masih sama dan penempatannya pun tetap begitu. Bahkan mungkin sejak 30an tahun lalu, sewaktu aku baru dilahirkan…
WACA
LIYANE

Sang Pendekar

  Serial Bacaan Babad Banyumas untuk Siswa SD Kelas 1 - 3.      
WACA
LIYANE

Kang Nass Sukses 'Mengketoprakkan' Babad Banyumas dengan Bumbu Istimewa

Banyak orang yang belum tau, bagaimana proses berdirinya Kabupaten Banyumas. Karena banyak yang belum tau, maka banyak yang ingin tau. Dan salah satu bacaan untuk mengetahuinya adalah Babad Banyumas. Tapi, orang-orang dulu kebanyakan tau isi Babad Banyumas bukanlah dari membacanya…
WACA
LIYANE

Mencari Ibu Kota Banyumas Lama dalam Plesiran Babad Banyumas

Jalan itu bernama Jalan Adipati Mrapat. Tentu saja diambil dari nama pendiri Banyumas. Karena ibu kota Banyumas lama berada pada lintasan jalan itu. Adipati Mrapat sangat dikenal oleh warga Banyumas, terutama generasi tuanya. Namun tidak tahu apakah generasi milenial dan…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.