Aku Mencintai Buku, Seperti Aku Menghormati Ibuku

October 28, 2026 ·

bukuku, hartaku yang sangat berharga. yang mungkin bagi anakku kelak, tak lebih dari sampah!

Aku ingin menjadi seorang pembelajar sejati.

Manusia pembelajar, yang ingin mengamati dan meneliti dengan sepenuh hati.

Apa pun akan kuamati, kunikmati sebagai sebuah mata pelajaran kehidupan, yang bermakna untuk hidupku sendiri. Apa pun kuteliti dengan telaten dan hati-hati, sebagai sebentuk mutiara kehidupan yang sangat berharga. Tak ada yang tergelar di alam raya, yang terhampar sia-sia tanpa makna.

Aku ingin banyak belajar dari kehidupan orang-orang di sekitarku, orang-orang sebelumku, dan semua yang pernah bersinggungan denganku.

Tapi lebih dari itu, aku suka belajar pada buku. Karena aku tak punya seorang pun guru, maka buku itulah guru sejatiku. Guru yang mengajarkan banyak hal, yang petuahnya banyak mewarnai hidup dan jiwaku.

Aku mencintai buku, seperti kuhormati ibuku. Orang yang telah melahirkanku ke dunia. Maka demikian juga dengan buku. Yang telah melahirkanku kembali, setelah aku dilahirkan ibuku ke dunia. Buku yang melahirkanku, sebagai manusia baru. Yang menapaki dunia baru. Dunia kata-kata. Dunia jalinan kalimat dan rangkaian pemikiran.

Buku telah melahirkanku, menjadi orang yang melek kata. Yang tiap hari berkutat dengan kata-kata, yang penuh dengan beragam cetusan ide dan pikiran. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan, oleh teman-teman SDku, yang sampai sekarang tinggal di desa. Mengunyah kenyataan sebagai mana adanya, tanpa perlu memikirkan hal-hal yang ada di balik semua yang tak dipahaminya. Sesuatu yang tak terjangkau nalarnya.

Dengan menjadi pengunyah buku, aku merasa telah melewati semua itu.

Aku tak lagi menjadi anak desa yang lugu, yang hanya memikirkan urusan perut. Yang hanya mengisi kerja dengan kerja keras, dan bukan kerja cerdas. Yang otaknya hanya dipenuhi kebutuhan sendiri, sehari-hari, tanpa sekali pun terlintas bahwa ada masalah global yang membuatnya terpinggirkan dari putaran jaman.

Cara berpikir mereka, adalah khas orang desa, yang tak neko-neko dan aneh-aneh.

Lurus-lurus saja. Semacam hidup adalah untuk mencari kerja. Kerja sekeras-kerasnya, untuk memenuhi kebutuhan makan harian. Kerja keras hari ini, untuk memenuhi kelaparan esok hari. Begitu terus menerus, setiap hari, sepanjang tahun.

Tak pernah terpikirkan tentang dunia lain. Tentang dunia yang menawarkan beragam perang pemikiran, yang membuat otak setajam sabit dan cangkul mereka.

Tak pernah mereka mengangankan apalagi menginginkan makanan ruhani, yang bernama buku, yang mengandung beragam ilmu. Buku yang bagi mereka adalah barang asing, dan tak berguna. Karena membaca, bagi mereka, adalah pekerjaan sia-sia. Pekerjaan orang yang tak punya pekerjaan. Pekerjaan para pemalas yang tak mau bekerja keras.

Bagi mereka, membaca bukanlah pekerjaan mulia, yang mampu mengangkat harkat manusia. Melainkan bekerja sekeras-kerasnya, dan menjadi orang paling kaya, itulah yang mereka anggap menaikkan kehormatannya.

Sementara aku, sejak kecil justru telah terpikat dengan pesona buku. Dan menghabiskan sebagian besar waktu bermainku, dengan asyik masyuk bersama buku.

Dan itu berlanjut hingga remaja, buku menjadi teman berpikir dan merenung yang tak pernah menjemukan. Aku larut dalam bermacam pemikiran orang-orang besar. Mengunyah perasan perasaan dari bermacam kisah tragedi atau pun komedi kehidupan.

Kecintaanku pada buku membuatku selalu bekerja di dunia buku. Tanpa memperhitungkan apa ijazahku. Namun karena kecintaanku, dan akrabku pada buku, membuat orang yakin bahwa aku paham dunia buku.

Dan hari ini, setelah ribuan buku yang pernah kumamah dan kukunyah, sepertinya sudah saatnya untuk mulai menulis buku. Dari lima ribuan bukuku, kalau puluhan ribu lembarnya, dari jutaan pemikiran yang bersliweran, rasanya menjadi sebuah kesia-siaan kalau tak ada sedikitpun yang tertangkap maknanya. Tak ada yang diikat dalam tulisan.

Bukankah cara paling mudah sederhana untuk mengikat makna, adalah dengan menuliskannya. Bukan dengan membicarakannya dengan ucapan berbusa-busa. Verba volant, sricpta manen, begitu orang bijak bilang. Apa yang terucap akan hilang bersama angin, apa yang tertulis akan mengabadi dan tak lekang.

Maka sungguh, setelah aku mencintai buku seperti ibu yang telah melahirkanku, aku ingin menghormati buku. Menjadikan buku sebagai harta warisan untuk anak-anakku.

Akan kuwariskan buku untuk anakku. Namun bukan ribuan buku yang ada di kamarku. Bukan buku-buku yang pernah kubaca. Bukan renungan dan pemikiran yang pernah kukunyah. Karena mungkin itu semua, bagi anakku nanti, tak lebih dari sekadar sampah.

Aku ingin mewariskan buku pada anakku. Buku yang ditulis oleh tanganku. Buku yang terbit dari hati dan pikiranku. Maka tak ada yang kulakukan tiap hari, selain menulis buku!

Bismillah.

Kategori:Profil
SEUWISE

Kirab Boyong Kedhaton yang Ingin Kutonton

Berjalan sambil melamun, itulah yang kemudian kulakukan. Ketika kemarin aku berjalan meninggalkan alun-alun selatan. Dan tak terasa langkah kakiku telah sampai di gapura Gading, gapura terakhir dari keraton Solo. Gerbang yang berada di selatan yang menjadi penyeimbang dari gapura Gladhag…
WACA
SEDURUNGE

Setelah Tak Lagi Menikmati Perpustakaan dan Punya Uang Jajan

Waktu SMP, aku lebih sering nyepi di perpustakaan daripada nongkrong di kantin sekolahan. Tentu karena aku memang tidak seberuntung teman-teman yang bisa berbahagia dengan punya cukup uang jajan. Hinga sebelum jam masuk sekolah berdetang, mereka sudah berebutan kursi di kantin…
WACA
LIYANE

Asal Mula Penguasa Laut Selatan Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan Nabi Adam dan Prabu Jayabaya, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang para penguasa Tanah Jawa. Bermula dari Raja Jenggala yang kemudian menurunkan raja-raja Galuh di kerajaan Pajajaran. Bahwa dari sosok legendaris Raden Panji Asmarabangun, kemudian menurunkan Raden Laleyan.…
WACA
LIYANE

Bahas Banyumas

  Serial Dongeng Babad Banyumas untuk Mahasiswa      
WACA
LIYANE

Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak. Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga,…
WACA
LIYANE

Prabu Brawijaya Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan keturunan Raja Pajajaran, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang keturunan Raja Majapahit. Bermula dari Raja Pajajaran yang mempunyai anak bernama Jaka Suruh, yang kemudian menjadi Raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya. Dikisahkan, Prabu Brawijaya mempunyai anak bernama Raden Brakumara.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.