Honor Pertama yang Tak Pernah Kuterima

October 28, 2026 ·

“Aku Ingin Jadi Penulis.”

Itulah judul yang kubuat dalam ulangan catur wulan Tes Hasil Belajar kelas 4 SD. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada soal mengarang dengan pilihan tema: berlibur ke rumah nenek, belajar kelompok, dan cita-citaku. Aku memilih yang terakhir.

Ternyata, hampir separuh teman sekelasku memilih tema itu. Tapi di antara teman-temanku, ternyata hanya aku yang membuat karangan dengan cita-cita sebagai penulis. Karena tata-rata mereka memilih cita-cita yang tinggi, macam dokter, insinyur, polisi, guru, tentara, bahkan presiden.

Tapi entah kenapa, meskipun dengan cita-cita yang sederhana itu, justru aku mendapat perhatian lebih dari guruku. Setelah pembagian rapot, aku disuruh maju untuk membacakan karanganku itu. Bangga sekali rasanya. Dan bahagia.

Menginjak kelas 5, aku mulai mencoba mengirimkan tulisanku ke majalah anak SD. Kebetulan untuk karesidenan Banyumas, ada majalah MITRA yang terbit tiap bulan. Mungkin hasil kerjasama dengan Dinas P dan K Kabupaten. Ini majalah khusus untuk sekolahan, karena tidak dijual di toko buku.

Pertama kali, aku mencoba mengirimkan tulisanku yang berbentuk puisi. Kebetulan saat itu aku memang sedang senang-senangnya dengan puisi. Hingga aku selalu jadi wakil sekolah ke Porseni kecamatan untuk lomba baca puisi.

Untuk majalah MITRA, aku mengirim puisi hampir tiap minggu. Dengan uang jajan yang kukumpulkan selama seminggu untuk beli prangkonya. Puisi-puisi itu kutulis tangan di kertas buku tulis dengan rangkap dua. Satu untuk dikirimkan, satu untuk disimpan. Sampai lulus SD, aku punya kumpulan puisi sebanyak 2 buku tebal tulisan tangan.

Namun berbulan-bulan kemudian, bukan puisi yang dimuat di MITRA. Melainkan gambarku yang muncul dan dimuat di majalah itu.

Memang selain puisi, aku juga mengirimkan gambar, yang ruang rubriknya bareng dengan puisi. Aku masih ingat, gambarku waktu itu adalah gambar seekor burung beo putih dengan jambul kuning. Gambar yang kutiru dari kalender toko mas yang terpasang di dinding bambu rumahku. Kugambar dengan tinta boxi di selembar kertas buku gambar cap ‘Burung Gelatik’.

Dari pemuatan itulah, aku merasa menjadi mulai dikenal. Baik antar sekolahan, maupun di tingkat kecamatan. Teman-teman lain kelas yang sekomplek dengan sekolahku jadi mengenalku, anak kelas 5 yang gambarnya pernah dimuat di majalah kabupaten. Juga teman-teman siswa sekolah lain, yang ketemu waktu jadi perwakilan siswa teladan.

Aku bangga sekali dikenal oleh mereka. Karena waktu itu, untuk tingkat kecamatan baru aku yang karyanya bisa dimuat di MITRA. Padahal aku datang dari SD yang selama ini tak pernah diperhitungkan dalam perlombaan apa pun di tingkat kecamatan. Jadi meskipun tidak terpilih jadi siswa teladan, dada ini serasa sesak menerima pujian.

Bahkan meskipun dari pemuatan gambar tersebut aku tidak mendapatkan honor, aku tetap merasa bangga dan bahagia.

Mestinya, kata guru-guruku waktu itu, honor pemuatan di MITRA adalah 5.000 rupiah. Tapi mungkin karena letak sekolahku jauh dari kabupaten, jadinya honor tidak dikirimkan. Apalagi petugas pos pun, hanya datang seminggu tiga kali. Itu pun hanya diantar ke balai desa, tidak langsung ke alamat tujuan. Pak Kebayan lah yang bertugas mengantarkan.

Mungkin memang bukan honor yang menjadi alasanku untuk menulis dan mengirimkan tulisan. Tapi memang ada bara yang menyala-nyala di dada untuk dipijarkan dalam kata-kata.

Padahal tanpa sepengetahuanku, orang tuaku yang juga tahu dari tetanggaku yang guru, sudah menunggu-nunggu datangnya honor itu.

Lima ribu rupiah untuk ukuran keluarga kami adalah uang yang sangat besar. Kala itu, nilainya sama dengan 15 kilo beras.

Yang berarti bisa untuk makan kami sekeluarga selama setengah bulan.

Kategori:Profil
SEUWISE

Taman Paling Indah di Dunia

Karena tiap hari ke perpustakaan, aku malah yang jadi kebingungan. Karena begitu naik kelas dua, dalam satu tahun, hampir semua buku sastra di perpustakaan sekolah sudah kubaca. Buku-buku sastra di sekolah para tukang yang memang tidak seberapa banyak itu, telah…
WACA
SEDURUNGE

Buku Sastra Terbaru dan Honor Kartunku

Menginjak SMP aku makin rajin menulis dan mengirimkannya. Bukan lagi puisi yang kutulis, tapi mulai belajar membuat cerpen-cerpen remaja. Aku banyak belajar menulis cerpen dari novel-novel remaja yang kubaca. Novel-novel karya para pengarang-pengarang muda Gramedia yang sedang jadi idola. Dari…
WACA
LIYANE

Sang Pendekar

  Serial Bacaan Babad Banyumas untuk Siswa SD Kelas 1 - 3.      
WACA
LIYANE

Kartunis yang Tidak Ingin ‘Gagal Maning-Gagal Maning’!

Sms shubuh itu sungguh mengagetkan. “Mas Darta masuk rumah sakit. Dirawat di Panti Rapih. Mohon doa kesembuhan.” Begitulah sms yang kuterima dari Pak Pram sekitar setengah tahun silam. Sehari sebelumnya, dalam kesempatan persiapan pameran kartun kanvas nasional ‘JogjaKARTUN hadiningART’, sebenarnya…
WACA
LIYANE

Kupinang Kau dengan Puisi

“aku ingin kau tak jadi aku seperti aku pun tak ingin jadi kau kau dan aku tak perlu saling mengaku aku dan kau telah saling menyatu” Ya, sekali lagi kukatakan, “Aku ingin kau tak jadi aku.” Karena aku membutuhkan perbedaan…
WACA
LIYANE

Pembicara Alumnus TK Pertiwi, Iklan Kecap Nomor Tiga!

“Lulusan TK Pertiwi. Begitu selalu ditulisnya dalam kolom pendidikan pada curriculum vitae. Saya selalu nyengir saja. Sejak itu setiap kali saya satu forum dengannya, dengan lantang saya perkenalkan bahwa sang penyair adalah lulusan TK Pertiwi. Saya menyampaikan paradoks yang semestinya…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.