Jelajah Sejarah Babad Banyumas

July 9, 2022 ·

NasSirun PurwOkartun berziarah sejarah ke makam Syekh Baribin, tokoh yang dalam Babad Banyumas disebut Raden Putra atau Raden Baribin. Raden Baribin adalah kakek Raden Jaka Kaiman, sang pendiri Banyumas. Makamnya berada di bukit Sentana, Grenggeng, Karanganyar, Kebumen.

Pada waktu menulis pentalogi Serial Penangsang pijakan saya adalah naskah Babad Tanah Jawi. Maka, apa dan siapa yang dikisahkan dalam naskah Babad Tanah Jawi itu saya lacak jejaknya.

Hingga datanglah saya ke Pajang, ke bekas kerajaan Joko Tingkir. Datang ke Demak, bekas Kesultanan Islam yang pertama didirikan para ulama. Datang ke Kalinyamat, Mantingan, dan Danaraja, bekas keraton, makam, dan pertapaan Ratu Kalinyamat.

Lanjut ke bukit Prawoto, istana yang digunakan Sultan Demak kala musim hujan. Juga tempat Sunan Mukmi kemudian berdiam dan dimakamkan, hingga dikenal sebagai Sunan Prawoto. Ke Jipang, kadipaten tempat Penangsang berkuasa. Ke Kadilangu, makam Sunan Kalijaga. Juga Ke Colo, makam Sunan Muria yang berada di puncak bukit.

Berikutnya ke Kudus, makam Sunan Kudus. Ke Sunggingan, makam Telingsing. Ke Pengging, bekas istana Keraton Pengging, tempat kelahiran Joko Tingkir, bekas kerajaan Pengging. Ke Butuh, makam Joko Tingkir bersama kedua orang tuanya.

Kemudian juga ke Kotagede, istana Mataram Panembahan Senopati. Ke Plered dan Kerta, istana Mataram Sultan Agung dan Amangkurat. Lalu ke Mbayat, makam Ki Ageng Pandanaran.

Berziarah ke petilasan pertapaan Ratu Kalinyamat di bukit Danarasa. Tempat pertapaan sang ratu sebelum bertapa di bukit Danaraja. Letaknya berada di dekat benteng Belanda, tempat dimakamkan Kapten Tack yang terbunuh oleh Untung Suropati.

Semua petilasan yang tercatat namanya dalam Babad Tanah Jawi, yang berkaitan dengan Penangsang dan Joko Tingkir, saya datangi satu per satu. Semua saya ziarahi.

Entah mengapa, ada keasyikan tersendiri setelah membaca pustaka kemudian melanjutkan ‘bacaan’ dengan melakukan ziarah sejarah. Melacak semua tempat yang tercatat dalam babad. Menelusur jejak masa lampau sambil membayangkan apa yang terjadi pada lima abad silam.

Ada kepuasan lain daripada hanya sekadar membaca naskah saja.

Dengan datang langsung ke tempat tersebut membuat gambaran dan bayangan dari bacaan sebelumnya. Kekuatan yang bisa untuk mengembalikan kisah dalam tulisan saya semakin berdaya dan punya kekuatan.

Tanpa mendatangi tempatnya, saya tak bisa membayangkan yang terjadi pada masa silam, seperti yang tertulis dalam babad.

Begitupun setelah membaca Babad Banyumas. Saya melanjutkannya dengan ziarah sejarah.

Bahwa kita semua tahu, sejarah Banyumas bermula dari Kadipaten Wirasaba. Maka saya pun datang ke Wirasaba, pusat kekuasaan masa lalu itu.

Jejak kebesaran Wirasaba, yang wilayahnya membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat, hilang karena tidak ada peninggalan apapun yang menandakan bekas sebuah pusat kekuasaan. Hanya menyisakan makam para adipatinya saja. Namun, jejak ceritanya abadi karena tertulis dalam “Babad Banyumas”.

Wirasaba, dulunya sebuah kadipaten yang sangat luas wilayahnya, namun sekarang hanya sebuah desa kecil saja. Di Wirasaba hanya bisa ditemukan makam para adipati Wirasaba di dusun Kecepit. Bekas bangunan kadipatennya lenyap tanpa jejak, tak ada orang yang tahu lagi di mana pastinya. Persis seperti istana Kesultanan Demak yang juga lenyap jejaknya setelah kekuasaan dipindah Joko Tingkir ke Pajang.

Pendiri Banyumas adalah Raden Jaka Kaiman. Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di Kejawar, dalam asuhan Kyai Mranggi Semu dan istrinya, Nyai Mranggi. Saya pun datang ke Kejawar, melacak jejak Kyai Mranggi dan Nyai Mranggi. Dan saya menemukan makamnya di puncak bukit. Makam Kyai Mranggi di puncak bukit Kejawar. Makam Nyai Mranggi di puncak bukit Wanasepi. Sesuatu yang aneh, dan menimbulkan pertanyaan, karena suami istri itu terpisah jauh makamnya.

Saat mencari makam Kyai Mranggi Semu, saya melewati sebuah sungai kecil. Sungai yang menurut penuturan juru kunci bernama Kali Gajahendra. Dalam Babad Banyumas, Gajahendra adalah keris pusaka Raden Jaka Kaiman, hasil pemberian dari Kyai Tolih.

Saya pun kemudian berziarah ke makam Kyai Tolih, di Cikakak, Wangon. Kyai Tolih adalah bekas patih Kerajaan Bonokeling yang mempunyai keris pusaka Raja Bonokeling. Keris yang kemudian diberi nama Gajahendra oleh Raja Majapahit, setelah Kyai Tolih gagal membunuhnya.

Konon, sungai Gajahendra dulunya menjadi tempat mencuci keris pusaka Kyai Mranggi Semu. Pekerjaan Kyai Mranggi Semu adalah membuat warangka keris.

Sayang, batu tempat meletakkan keris setelah dicuci di sungai itu sekarang sudah hilang. Kemungkinan dicuri orang.

Dalam babad, keris Gajahendra tidak punya warangka, akhirnya Kyai Tolih minta dibuatkan pada Kyai Mranggi Semu. Namun, keris itu membuat sang anak, Raden Jaka Kaiman, tertarik. Maka oleh Kyai Tolih justru memeberikan keris itu padanya. Bahkan sejak itu, Raden Jaka Kaiman kemudian diangkat anak.

Nyai Mranggi adalah bibi Raden Jaka Kaiman. Nama aslinya Rara Ngaisah. Dia adalah adik bungsu Raden Banyaksasra, ayah Jaka Kaiman. Karena ayahnya mati muda, sang anak diasuh oleh bibinya di Kejawar. Hingga remaja, hingga mengabdi ke Wirasaba. Sampai akhirnya diangkat menjadi menantu sang adipati.

Karena sang mertua, Adipati Warga Utama terbunuh, Jaka Kaiman diangkat oleh Sultan Pajang menggantikan menjadi Adipati Wirasaba. Saya pun datang ke makam Adipati Warga Utama, di Pakiringan, yang sekarang masuk wilayah Klampok, Banjarnegara.

Berziarah ke makam Adipati Wirasaba Warga Utama I, di Pekiringan, Klampok, Banjarnegara. Mendapatkan lukisan wajah sang adipati pada cungkub makamnya, terpasang di atas nisan (lukisan kiri). Lukisan wajah yang berbeda terpasang di dinding rumah juru kunci makam Adipati Warga Utama (lukisan kanan).

Saya merasa perlu datang ke makam Adipati Warga Utama, karena bermula dari kematiannya lah kemudian Wirasaba berakhir. Muncul kekuasaan baru oleh adipati Wirasaba yang baru, yang tidak mau menempati Wirasaba, melainkan memindahnya ke Kejawar. Wilayah baru yang sekarang dikenal dengan nama Banyumas.

Terbunuhnya Adipati Warga Utama adalah hasil dari laporan palsu anak laki-laki adiknya, Demang Toyareka, ke Pajang. Hingga Joko Tingkir menjatuhkan hukuman mati pada Adipati Wirasaba. Maka, saya pun melacak jejak Toyareka. Namun, di desa Toyareka saya tidak menemukan makam Demang Toyareka, ataupun anaknya, Bagus Sukra. Seolah kademangan itu hilang sejarahnya sejak tragedi pembunuhan Adipati Wirasaba terjadi. Persis yang terjadi dengan Kadipaten Wirasaba setelah pusat pemerintahan pindah ke Kejawar. Hilang tanpa bekas.

Serial “Berburu Babad Banyumas” karya NasSirun PurwOkartun yang merupakan hasil dari jalan-jalan menelusuri jejak sejarah Banyumas.

Karena keasyikan plesiran itu, saya jadi tertarik menuliskannya. Saya ingin berbagi pada para pembaca Babad Banyumas tentang tempat-tempat yang tercatat di dalamnya. Saya tulis perjalanan yang menarik itu. Kisah-kisah yang tidak ada dalam babad. Kisah yang saya dapatkan ketika menelusuri jejak babad.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan plesiran ke patilasan Babad Banyumas, saya kumpulkan tulisan itu. Tak terasa, ternyata sebanyak 80 tulisan!

Naskah 80 judul itu sekarang sudah terbit dalam 5 buku serial Berburu Babad Banyumas. Silahkan bagi para pembaca yang ingin mengikuti plesiran saya, bisa baca buku itu.

Kalau sudah, kita bisa Plesiran Babad Banyumas bareng. Yuk diagendakan!

Kategori:Wacanan
SEUWISE

Menovelkan Kisah Babad Banyumas

Buku Babad Banyumas terjemahan saya, baik Mertadiredjan maupun Wirjaatmadjan, diterbitkan lengkap dengan latin Jawanya. Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan aslinya berupa tembang Macapat (puisi). Naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan aslinya berupa gancaran (prosa). Dalam tata letak bukunya, naskah asli di halaman kiri…
WACA
SEDURUNGE

Siapa Yang Harus Menerbitkan Babad Banyumas?

“Kalau ada buku yang ingin kamu baca, tapi kamu tidak menemukannya, maka kamulah yang harus menuliskannya.” Begitulah ungkapan yang pernah saya dengar. Begitu pula yang kemudian saya lakukan dengan Babad Banyumas. Karena hampir 5 tahun tidak menemukan buku Babad Banyumas,…
WACA
LIYANE

Panggung Ketoprak Babad Banyumas

Saya menulis novel panjang Penangsang bermula dari kenangan masa kecil. Ketika kelas 4 SD setiap malam melihat pentas ketoprak tobong di desa saya. Dari panggung ketoprak itulah saya mengenal sosok Penangsang, berikut kisah yang membelitnya, terutama perseteruannya dengan Joko Tingkir.…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan Banyumasan

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Pertemuan Dua Sungai dalam Plesiran Babad Banyumas

“Katjarijos Ki Dipati Marapat boten kersa dedalem ing Wirasaba. Kersanipoen bade dedalem ing pasiten telatah doesoen Kedjawar. Wonten ing pinggiripoen kidul lepen Serajoe, kaprenah saeler kilenipoen doesoen Kejjawar. Kaleres wetanipoen celak kaliyan tempoeripun lepen Pasinggangan lan lepen Banjoemas.” “Dikisahkan Adipati…
WACA
LIYANE

Bagus Mangun dan Keris Gajahendra dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Raden Bagus Mangun yang mengadi di Kadipaten Wirasaba, Serat Babad Banyumas melanjutkan dengan cerita pernikahannya. Ternyata, Adipati Wirasaba meminta kedua orang tua angkat Bagus Mangun menghadap ke Wirasaba, adalah untuk melamar putrinya. Bagus Mangun akan diambil sebagai…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.