Menovelkan Kisah Babad Banyumas

July 11, 2022 ·

Buku “Terjemah Naskah Babad Banyumas” diterbitkan bagi pembaca yang tidak membutuhkan naskah aslinya yang dalam bahasa Jawa. Terbit hanya terjemah bahasa Indonesianya saja.

Buku Babad Banyumas terjemahan saya, baik Mertadiredjan maupun Wirjaatmadjan, diterbitkan lengkap dengan latin Jawanya. Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan aslinya berupa tembang Macapat (puisi). Naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan aslinya berupa gancaran (prosa).

Dalam tata letak bukunya, naskah asli di halaman kiri dengan huruf miring, naskah terjemahan di halaman kanan dengan huruf tegak. Dengan pembagian halaman demikian semoga memudahkan pembacaan.

Bahkan untuk lebih memudahkan, yang tertulis dalam halaman sebelah kiri, begitulah yang tertulis dalam terjemahan di sebelah kanan. Jadi, pembaca akan tahu penggalannya, sesuai naskah asli, sesuai naskah terjemahnya.

Untuk buku Babad Banyumas, saya merasa harus menerbitkan lengkap naskah aslinya. Karena dalam bayangan saya, mereka yang suka mengkaji babad pasti membutuhkannya. Naskah yang masih dalam bahasa Jawa.

Bahkan akan lebih baik lagi kalau naskah asli dalam huruf Jawa. Bagi yang ingin mempelajari lebih lanjut, setelah membaca naskah terjemahan saya, mereka bisa membaca naskah sebelum diterjemahkan.

Namun, bagi yang tidak perlu membaca naskah asli, hanya ingin tahu isinya saja, saya terbitkan buku kedua. Buku Terjemah Naskah Babad Banyumas. Buku ini adalah terjemahan dari Babad Banyumas. Baik Babad Banyumas Mertadiredjan maupun Babad Banyumas Wirjaatmadjan.

Apa bedanya buku Babad Banyumas dan Terjemah Naskah Babad Banyumas?

Buku “Babad Banyumas Mertadiredjan” (foto kiri) terbit lengkap dengan naskah asli bahasa Jawanya yang berbentuk tembang macapat. Buku “Terjemah Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan” (foto kanan) terbit hanya terjemah bahasa Indonesianya saja.

Buku Babad Banyumas dilengkapi naskah asli, buku Terjemah Babad Banyumas hanya terjemahannya saja.

Dengan hanya membaca terjemahannya saja, orang akan mudah memahami isi babad. Karena membaca babad menjadi seperti membaca buku biasa.

Bayangan saya, bagi mereka yang tidak perlu mengetahui naskah aslinya, dengan membaca buku itu sudah sama dengan membaca Babad Banyumas. Bahkan menjadi lebih mudah karena tidak dipusingkan dengan kisah yang terpenggal-penggal dalam bentuk puisi seperti dalam Babad Banyumas Mertadiredjan.

Namun, selain itu, saya melihat ada juga orang yang tidak masuk dalam kategori keduanya. Ada orang yang tidak tertarik membaca babad, juga tidak minat membaca sejarah. Maka, saya sedang berpikir untuk mengalihbahasakan dari bahasa babad dan sejarah menjadi bahasa cerita.

Bagi mereka yang suka membaca cerita, tidak akan tertarik membaca buku sejarah. Apalagi membaca babad. Dalam bayangan mereka, membaca sejarah bikin pusing dan tidak mengasyikkan. Apalagi membaca babad, pasti lebih mumet lagi dan terkesan jadul.

Untuk kelompok itu saya berniat akan menulis sebuah novel sejarah. Novel yang diangkat dari kisah dalam Babad Banyumas. Paling tidak ada 5 kisah yang bisa dijadikan bahan novel.

Pertama adalah kisah perjalanan Raden Baribin. Sejak dianggap akan memberontak oleh kakaknya, sampai perjalanan menyelamatkan diri ke barat. Melewati Ayamalas, Ayah, Kaleng, Pasirluhur, Kejawar, sampai Pajajaran. Dari seorang pelarian menjadi menantu Raja Pajajaran.

Kedua adalah kisah Raden Katuhu. Perjalanan ke arah timur, hingga akhirnya menjadi anak angkat Ki Buwaran. Karena kesaktiannya kemudian menjadi anak angkat Adipati Wirasaba. Karena ketampanannya menjadi banyak dambaan perempuan. Karena kesetiaannya kemudian diangkat menjadi menantu, menikahi anak tunggal sang adipati. Kemudian berkat restu dari Raja Mahapahit, kakak ayahnya, kemudian menjadi Adipati Wirasaba, menggantikan sang mertua.

Ketiga adalah Raden Jaka Kaiman. Seorang anak yatim Raden Banyaksasra, adik Raden Katuhu, yang kemudian diasuh oleh bibinya, Rara Ngaisah. Pindah dari Pasir Luhur ke Kejawar ketika masih bocah, menjadi anak angkat Kyai Mranggi Semu hingga remaja. Sejak anak-anak hingga dewasa, lalu mengabdi ke Wirasaba. Sampai kemudian diambil menantu oleh Adipati Wirasaba, Warga Utama. Kemudian diangkat menjadi adipati penggantinya.

Keempat adalah kisah berdirinya Kadipaten Banyumas. Karena Adipati Wirasaba Warga Utama terbunuh, maka Jaka Kaiman diangkat menjadi pengganti sang mertua. Kisah konflik tentu saja adalah hasil laporan palsu anak laki-laki Demang Toyareka yang membuat Joko Tingkir marah, hingga menjatuhkan hukuman mati pada Adipati Warga Utama. Setelah Jaka Kaiman menjadi Adipati Wirasaba, lalu membagi wilayahnya menjadi empat, hingga dikenal sebagai Adipati Mrapat.

Kelima adalah kisah Yudanegaran. Bahwa para Adipati Banyumas yang menggunakan nama Yudanegara kisah hidupnya begitu menarik. Ada yang tragis, ada yang heroik. Yudanegara I dikenal dengan nama Yudanegara Kokum, matinya dihukum penggal lehernya. Yudanegara II dikenal dengan nama Yudanegara Seda Pendapa, mati mendadak di pendapa. Yudanegara III dikenal dengan nama Danurejo, menjadi patih pertama Kesultanan Jogjakarta. Yudanegara IV dipecat dari kedudukannya karena dianggap akan memberontak. Begitu juga dengan Yudanegara V, dipecat karena meminta pada Rafles agar Banyumas dijadikan kesultanan.

Buku “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” (foto kiri) terbit lengkap dengan naskah asli bahasa Jawanya yang berbentuk gancaran. Buku “Terjemah Naskah Babad Banyumas WIrjaatmadjan” (foto kanan)terbit hanya terjemah bahasa Indonesianya saja

Menurut saya, langkah menovelkan Babad Banyumas akan lebih mendekatkan masyarakat Banyumas pada sejarah leluhurnya.

Karena tidak harus membaca babad dan sejarahnya, cukup dengan membaca novelnya pun mereka sama saja mendapatkan hikmahnya.

Kategori:Wacanan
SEUWISE

Buku Serial Anak Babad Banyumas

Saya ingin Babad Banyumas menjadi bacaan masyarakat. Namun, yang lebih penting lagi, saya ingin Babad Banyumas menjadi bacaan generasi muda. Terutama anak-anak sekolah, usia SD sampai dengan SMP. Saya membayangkan, kisah dalam Babad Banyumas menjadi buku bacaan yang ada di…
WACA
SEDURUNGE

Jelajah Sejarah Babad Banyumas

Pada waktu menulis pentalogi Serial Penangsang pijakan saya adalah naskah Babad Tanah Jawi. Maka, apa dan siapa yang dikisahkan dalam naskah Babad Tanah Jawi itu saya lacak jejaknya. Hingga datanglah saya ke Pajang, ke bekas kerajaan Joko Tingkir. Datang ke…
WACA
LIYANE

Panggung Ketoprak Babad Banyumas

Saya menulis novel panjang Penangsang bermula dari kenangan masa kecil. Ketika kelas 4 SD setiap malam melihat pentas ketoprak tobong di desa saya. Dari panggung ketoprak itulah saya mengenal sosok Penangsang, berikut kisah yang membelitnya, terutama perseteruannya dengan Joko Tingkir.…
WACA
LIYANE

Wayang Babad Banyumas

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Sayembara Raja

Patih Kerajaan Bonokeling diperintahkan rajanya, Raja Keling, untuk membunuh Raja Majapahit. Akan tetapi, berkat besarnya kewibawaan sang raja, Patih Tolih justru berhasil ditangkap dan dipenjara.Suatu ketika Raja Majapahit menggelar sayembara. Karena memenangkan sayembara tersebut, Patih Tolih bisa lepas hukuman dan…
WACA
LIYANE

Kisah Raden Bagus Mangun dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang ketiga anak Raden Baribin, kisah Babad Banyumas berlanjut dengan cucunya. Yaitu Raden Jaka Kaiman, putra Raden Banyak Sasra. Dikisahkan setelah menetap di Pasir Luhur, Raden Banyak Sasra menikah dengan putri Adipati Pasir Luhur yang bernama Dewi Sriyati.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.