Naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan” ditulis dalam bentuk tembang Macapat. Untuk mengetahui isinya harus dibaca dengan ditembangkan, dilagukan sesuai kaidah lagunya.
Babad adalah sebuah karya sastra sejarah. Sebagai karya sastra maka bahasa yang digunakanpun bahasa sastrawi. Ditulis dengan bentuk tembang Macapat, maka kata yang digunakan harus taat azas Macapat.
Karena itu, “Babad Banyumas Mertadiredjan” tidak banyak terbaca orang. Sebab selain ditulis dalam tembang Macapat, juga ditulis dengan huruf Jawa.
Orang sekarang jarang yang masih bisa membaca huruf Jawa. Apalagi tulisan tangan, bukan huruf cetakan. Juga tak banyak lagi yang masih bisa menembangkan Macapat.
Karena itulah, Nassirun Purwokartun, budayawan Banyumas berusaha agar naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan” bisa dibaca dengan mudah.
Cara pertama, Kang Nass, begitu biasa disapa, mengalihaksarakan dari huruf Jawa menjadi Latin Jawa. Langkah kedua, mengalihbahasakan dari bahasa Jawa menjadi bahasa Indonesia. Langkahketiga, disadur menjadi bentuk cerita yang mudah dibaca, dan gampang dipahami kisahnya.
Namun, ternyata minat baca masyarakat Banyumas masih sangat rendah. Buku terjemah “Babad Banyumas Mertadiredjan” kurang mendapat respon membahagiakan. Tetap tidak banyak dibaca orang. Padahal sudah dibagikan gratis di web babadbanyumas.com, website yang dibuat oleh Kang Nass agar terjemahannya bisa dibaca sebanyak mungkin orang.
Akhirnya, Kang Nass mencoba terobosan baru. Untuk mengetahui kisah “Babad Banyumas Mertadiredjan” tidak harus dengan membaca. Namun cukup dengan melihat pementasannya.
Kang Nass teringat masa kecilnya, tahun 1980-an, kisah-kisah Babad Banyumas dipentaskan dalam panggung-panggung ketoprak tobong. Kisah sejarah Banyumas dikenali masyarakat bukan karena membaca buku Babad Banyumas. Melainkan dengan menonton pementasan ketoprak Babad Banyumas.
Untuk membentuk kelompok kesenian ketoprak membutuhkan banyak biaya dan tenaga. Harus menyiapkan banyak peraga pemerannya, juga sekelompok pemain karawitan sebagai pengiringnya. Membutuhkan banyak biaya.
Akhirnya, Kang Nass merancang pementasan lain. Yaitu mementaskan kisah-kisah Banyumas dalam bentuk pagelaran Wayang Babad Banyumas.

Kang Nass kemudian mencatat 100 tokoh yang ada dalam naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan”. Tokoh-tokoh itu didata namanya, karakternya, dan jabatannya. Tokoh-tokoh yang menjadi jalinan cerita itu dibuatkan wayang peraganya, wayang kulitnya.
“Saya ingin pentas Wayang Babad Banyumas menggunakan wayang kulit sendiri. Maksudnya bukan wayang pinjaman dari wayang purwa. Makanya saya menyusun buku Wayang Babad Banyumas. Buku yang berisi rancangan tokoh dan kisah wayang hasil imajenasi saya,” ungkap Kang Nass sambil memperlihatkan buku “Wayang Babad Banyumas” karyanya.
Dari rancangan tokoh wayang karyanya itu, Kang Nass kemudian mewujudkan menjadi peraga wayang kulit. Dengan wayang kulit hasil imajenasinya itu, pagelaran Wayang Babad Banyumas pun bisa mulai dipentaskan.
“Akhir bulan September ini saya akan mementaskan Wayang Babad Banyumas. Mengambil kisah pindahnya Kabupaten Wirasaba ke Kejawar yang menjadi awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas,” tutur Kang Nass merasa bahagia bisa berhasil mewujudkan harapannya.
Wayang Babad Banyumas akan dipentaskan oleh Ki Dalang Ulum Kartodiwiryo, seorang dalang muda dari Sumpiuh, Banyumas, yang sedang naik daun sebagai kreator Wayang Sandekala.
Acara wayangan digelar sebagai rangkaian acara “Festival Babad Banyumas” yang diselenggarakan oleh Bale Babad Banyumas dan Yayasan Bale Pustaka Cahaya.
Pementasan pada hari Sabtu, tanggal 26 September 2026, pukul 19.30 malam. Selain pementasan Wayang Babad Banyumas, juga ada penampilan Gubrag Lesung, Begalan, dan dimeriahkan dengan kesenian Kentongan.
“Semoga dengan pementasan Wayang Babad Banyumas, kisah-kisah leluhur Banyumas semakin tersebar. Tidak ada lagi orang yang tidak tahu cerita rakyat Banyumas, hanya karena tidak bisa membaca naskah Babad Banyumas. Cukup dengan menonton pementasan saja. Karena dalam kisah leluhur terdapat ajaran keluhuran yang bisa menjadi teladan,” begitu Kang Nass menambahkan.