Prabu Jayabaya dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

March 3, 2022 ·

Kopian naskah “Serat Babad Banyumas” dalam tulisan huruf Jawa yang aslinya milik keluarga Adipati Mertadiredja.

Setelah mengisahkan keturunan Nabi Adam, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang awal mula manusia di bumi.

Bermula dari Raden Manongsa yang turun ke bumi, kemudian turun temurun, sampai lahirlah Raden Parikesit. Dari Parikesit lahirlah Prabu Gendrayana.

Nah, dari Prabu Gendrayana inilah kemudian lahir Prabu Jayabaya. Sosok legendaris dan sangat terkenal di Jawa sampai hari ini. Raja Kerajaan Daha yang melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

Dari keturunannya yang bernama Kalawisesa, lahir Prabu Dewata Cengkar yang menjadi Raja Medang Kamulan. Kemudian dari keturunannya yang bernama Sri Mapunggung lahir Prabu Kandihawa yang menjadi Raja Koripan.

Berikutnya, dari Prabu Kandihawa lahirlah Resi Getayu, yang menjadi raja di Medang Andongkawit. Selanjutnya, anak-anaknya pun menjadi raja-raja Tanah Jawa.

Lembuluhur, yang dikenal dengan nama Dewakusuma menjadi Raja Jenggala. Dua adiknya yang laki-laki menjadi raja di Kediri dan Urawan. Sedangkan adik perempuannya menjadi istri Raja Singasekar.

Untuk selanjutnya, saya tulis terjemahan saya atas naskah “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan”.

Sengaja tidak saya sertakan naskah asli dalam bahasa Jawanya. Agar pembaca lebih bisa menikmati Babad Banyumas sebagai buku bacaan.

Selamat membaca.

Dari Prabu Gendrayana Daha Sampai Prabu Dewakusuma Jenggala

Ilustrasi sosok Prabu Jayabaya diunduh dari internet.

Prabu Gendrayana kemudian mempunyai anak bernama Prabu Jayabaya. Di Daha kerajaannya.

Jayabaya sang raja, kala itu sudah berputra. Namanya Jayamijaya. Jayamijaya berputra Jayamisena. Jayamisena berputra pemuda tampan dan bersahaja. Sudah bertahta menggantikan sang ayah, bergelar Kusuma Wicitra.

Kusuma Wicitra sang raja kala itu sudah berputra. Pancandriya dikenalnya. Pancandriya mempunyai putra yang kemudian naik tahta di negara Sindula, bergelar Sang Raja Kalawisesa.

Kalawisesa juga sudah berputra Prabu Selacala. Selacala kemudian berputra Dewatacengkar, yang kemudian menjadi raja di Medang Kamulan.

Dewata Cengkar adalah seorang raja besar. Juga sudah berputra, Raja Sri Mapunggung gelarnya. Patihnya bernama Jugulmuda. Sebagai raja yang adil sangat makmur sejahtera kerajaannya. Aman, tidak ada pencurian di sana.

Sri Mapunggung berputra Kandihawa yang menjadi raja di kerajaan Koripan. Menjadi seorang raja yang kemudian berputra lima orang.

Anak yang pertama bernama Panuwun, kesukaannya bertani. Sandanggarba adiknya, kesukaannya berdagang. Kanungkala putra tengahnya, sukanya berkelana ke hutan-hutan. Adiknya yang bernama Petunglaras pekerjaannya menyadap aren. Sedangkan putra bungsunya bernama Resi Getayu, kesukaannya pergi ke istana.

Kelima putra Kandihawa itu semuanya menjadi raja. Anak pertama, Panuwun rajanya kaum petani. Setiap tahunnya mereka memberikan upeti padi. Anak kedua, Sendanggarba menjadi rajanya kaum pedagang di Jawa, bertakhta di Pajajaran.

Anak ketiga, Karungkala menjadi raja kaum pemburu. Negara Sunda kerajaannya. Dan anak keempat, Petunglaras menjadi rajanya para pekerja, memerintah para penjagal.

Resi Getayu, anak yang bungsu, menggantikan sang ayah naik takhta menjadi raja derkuasa di Medang Andongkawit.

Putra Resi Getayu berjumlah lima. Anak sulung perempuan, namanya Suntiwanusaba. Anak kedua, Lembuluhur namanya, dikenal juga dengan nama Dewakusuma, bertakhta di Jenggala dengan gelar Sang Prabu Dewakusuma.

Adiknya menjadi raja di Kediri. Adiknya lagi menjadi raja di Urawan. Adiknya yang bungsu, perempuan, menjadi istri Raja Singasekar.

Kategori:Mertadiredjan
SEUWISE

Asal Mula Penguasa Laut Selatan Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan Nabi Adam dan Prabu Jayabaya, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang para penguasa Tanah Jawa. Bermula dari Raja Jenggala yang kemudian menurunkan raja-raja Galuh di kerajaan Pajajaran. Bahwa dari sosok legendaris Raden Panji Asmarabangun, kemudian menurunkan Raden Laleyan.…
WACA
SEDURUNGE

Nabi Adam dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

“Babad Banyumas Mertadiredjan” mengawali penuturannya dengan mencatat silsilah dinasti Banyumas yang berujung pada Nabi Adam. Bahwa dari Nabi Adam menurunkan banyak nabi dan dewa, salah satunya adalah Nabi Sis dan Sang Hyang Sis. Keturunan Sang Hyang Sis lah yang kemudian…
WACA
LIYANE

Sejarah Banyumas

Setelah terbit dua buku Babad Banyumas, yakni “Babad Banyumas Mertadiredjan” dan “Babad Banyumas Wirjaatmadjan”, kemudian Penerbit terpikir untuk menggabungkannya. Namun, bukan digabung dalam satu buku lengkap dengan Bahasa Jawanya. Melainkan hanya terjemah dalam Bahasa Indonesianya saja. Mengapa demikian? Karena tidak…
WACA
LIYANE

Pentingnya Membaca Babad Banyumas Dari Sumber Naskah Aslinya

Setahu saya, pengarang sangat menghindari pengulangan kata dalam setiap kalimat yang ditulisnya. Juga sangat menghindari pengulangan kalimat dalam paragraf yang dituliskan dalam satu alineanya. Apalagi para pujangga, penulis tembang Jawa, para pengarang jaman dulu yang harus tunduk pada aturan lagu…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Mertadiredjan

“Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” adalah salah satu versi naskah Babad Banyumas. Disebut “Babad Banyumas Mertadiredjan” karena naskah aslinya milik Adipati Mertadiredja I, Wedana Bupati Kanoman Banyumas, yang kemungkinan ditulis pada masa pemerintahannya, kisaran tahun 1916 sampai 1824. Naskah itu kemudian…
WACA
LIYANE

Bale Pustaka, Tempat Tepat Bahas Babad Banyumas

Setelah mendapatkan buku Babad Banyumas, baik yang versi tembang (puisi) maupun versi gancaran (prosa), saya kemudian terpikir menerjemahkannya. Babad Banyumas ditulis dalam huruf Jawa, sementara generasi muda sekarang sudah tidak bisa baca aksara Jawa. Bahkan mereka pun sudah kurang akrab…
WACA

KOMENTAR

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.