Nassirun Purwokartun: Merawat Babad Banyumas Lewat Cerita untuk Generasi Muda

August 22, 2026 ·

Ghesfira Lintang, Relawan Bale Babad Banyumas

Di tengah gencarnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca generasi muda terhadap naskah kuno, Nassirun Purwokartun tampil sebagai sosok yang menempuh jalan berbeda dalam melestarikan Babad Banyumas. Berbeda dari para akademisi dan kolektor naskah, Nassirun memilih jalur menerjemahkan dan menyederhanakan naskah kuno tersebut agar bisa dijangkau oleh masyarakat luas, khususnya anak-anak.

Hal ini terungkap dalam wawancara yang dilakukan oleh Ghesfira Lintang, Reyna Atikah, dan Bimo Maulana– mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman pada Selasa, 18 Agustus 2026, di kediaman Nassirun. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak tim untuk melihat-lihat koleksi pribadinya berupa majalah dan buku-buku lawas yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun di rumahnya yang beralamat di Kalibacin, Mandirancan.

Bukan Akademisi, Bukan Pengumpul, Melainkan Penerjemah untuk Masyarakat

Nassirun menjelaskan bahwa dalam ekosistem pelestarian Babad Banyumas, terdapat pembagian peran yang berbeda-beda. Prof. Dr. Sugeng Priyadi M.Hum, sebagai akademisi, mengangkat Babad Banyumas ke ranah skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal ilmiah. Dr. Soedarmadji berperan sebagai pengumpul naskah. Sementara Nassirun, yang mengaku hanya lulusan SMP dan bukan seorang akademisi, memilih peran sebagai penerjemah — mengalihbahasakan naskah beraksara Jawa dan bertembang macapat ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami.

Ia menegaskan bahwa selama ini banyak orang enggan membaca Babad Banyumas karena naskahnya sulit didapat — bahkan arsip daerah pun tidak menyimpannya. Nassirun sendiri kini menyimpan sekitar 170 naskah kuno, dan menyebut Babad Banyumas sebagai babad paling kaya yang membuktikan bahwa leluhur Banyumas adalah kaum intelektual, karena mampu menuliskan sejarah di masa ketika akses informasi sangat terbatas.

Menawarkan Role Model Baru bagi Manusia Banyumas

Salah satu gagasan utama yang disampaikan Nassirun adalah pentingnya membangun kebanggaan identitas Banyumas di kalangan generasi muda. Ia menilai citra masyarakat

Banyumas selama ini kerap direduksi menjadi sosok Bawor — tokoh fiksi yang identik dengan bercanda dan lawakan — sehingga dianggap tidak bisa serius.

Sebagai alternatif, Nassirun menawarkan tiga tokoh leluhur Banyumas sebagai role model karakter, yaitu Raden Baribin (simbol sikap optimis dan berpikir positif), Raden Katuhu (simbol memaksimalkan potensi diri), dan Raden Joko Kaiman (simbol keberanian mengambil keputusan dan tanggung jawab). Ia bahkan telah menyarankan Dinas Pendidikan agar ketiga sosok ini dikenalkan sejak dini kepada anak-anak Banyumas.

Dari Naskah Kuno Menjadi Buku Anak

Untuk menjangkau audiens muda, Nassirun mengalihwujudkan Babad Banyumas ke berbagai format sesuai jenjang usia: buku dongeng untuk anak yang belum bisa membaca, cerita bergambar untuk siswa kelas 1–3 SD, buku bacaan untuk kelas 4–6 SD, hingga buku untuk jenjang SMP dan SMA. Total ia telah menghasilkan sekitar 30 buku untuk jenjang sekolah, ditambah sekitar 70 karya lain berupa lagu dolanan, dongeng, permainan, wayang, geguritan, dan terjemahan 30 naskah Babad Banyumas — menjadikan total kurang lebih 100 karya.

Perjuangan Tanpa Penghasilan Selama Setahun

Nassirun tak menutupi tantangan besar yang dihadapi selama proses penerjemahan. Berbeda dengan Profesor Sugeng yang mendapat dukungan dana dari lembaga akademik, atau Dr. Soedarmadji yang didanai penelitiannya sejak era Profesor Sumitro, Nassirun mengerjakan

proyek ini tanpa donatur maupun penghasilan tetap selama satu tahun penuh. Ia mengaku tantangan terberatnya justru meyakinkan sang istri bahwa kerja keras tanpa penghasilan ini akan membuahkan hasil.

Ketika karyanya ditolak penerbit mayor dengan alasan pasar yang dianggap terlalu kecil, Nassirun memilih mendirikan yayasan dan penerbit sendiri untuk menerbitkan, memasarkan, dan mempromosikan seluruh karyanya secara mandiri.

Menyalakan Kembali Mata Rantai yang Terputus

Nassirun menjelaskan bahwa tradisi mendongengkan Babad Banyumas dari orang tua ke anak sempat terputus sejak era 1990-an, seiring meredupnya pertunjukan ketoprak akibat masuknya televisi. Akibatnya, generasi orang tua saat ini banyak yang tidak lagi mengenal maupun mampu menceritakan kisah tersebut kepada anak-anaknya.

Karena itulah ia memilih membidik anak-anak sebagai audiens utama — memulai kembali dari nol untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas Banyumas melalui kisah-kisah babad, dengan harapan mata rantai yang sempat terputus bisa tersambung kembali di generasi mendatang.

Kategori:Uncategorized
SEUWISE

Budayawan Banyumas NasSirun PurwOkartun Mengajak Anak-Anak SD Mengenal Babad Banyumas Melalu Dongeng dan Nyanyian

Nassirun Purwokartun bersama buku, "Dongeng Banyumas" yang disadur dari naskah, "Babad Banyumas Mertadirejan". Babad Banyumas adalah sebuah naskah kuno milik masyarakat Banyumas. Sebagai rujukan utama sejarah Banyumas, naskah-naskah Babad Banyumas mestinya dibaca oleh masyarakat Banyumas. Sayangnya, selama ratusan tahun, naskah-naskah…
WACA
LIYANE

Wirjaatmadjan Banyumas Chronicle

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Urutan Adipati Wirasaba Menurut Babad Banyumas Mertadiredjan

“Serat Babad Banyumas” menceritakan tentang keberadaan sebuah kadipaten bernama Wirasaba. Dengan pendirinya bernama Raden Paguwan yang kemudian bergelar Adipati Wira Hudaya. Karena usia tua, Adipati pertama Wirasaba itu kemudian mengundurkan diri. Kedudukannya digantikan oleh anaknya, Raden Urang. Raja Majapahit memberinya…
WACA
LIYANE

Pengusiran Raden Putra Dari Majapahit Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Kerajaan Majapahit dan Kadipaten Wirasaba, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang sosok Raden Putra. Raden Putra adalah adik Raja Majapahit, Prabu Ardiwijaya. Dalam naskah “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” Raden Putra disebut dengan nama Raden Baribin. Pengisahan Raden Putra…
WACA
LIYANE

Bahas Babad

  Serial Dongeng Babad Banyumas untuk Mahasiswa      
WACA
LIYANE

Dongeng Banyumas (2)

Serial Dongeng Babad Banyumas.Babad adalah kumpulan cerita-cerita dongeng. Dikisahkan secara turun temurun hingga menjadi legenda.Namun sekarang cerita-cerita babad telah hilang dari ingatan masyarakat, karena tidak ada lagi yang mengisahkannya. Padahal dengan mendongengkan babad, pewarisan sejarah leluhur terbukti terjaga selama beberapa…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.