Ghesfira Lintang, Relawan Bale Babad Banyumas
Di tengah gencarnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca generasi muda terhadap naskah kuno, Nassirun Purwokartun tampil sebagai sosok yang menempuh jalan berbeda dalam melestarikan Babad Banyumas. Berbeda dari para akademisi dan kolektor naskah, Nassirun memilih jalur menerjemahkan dan menyederhanakan naskah kuno tersebut agar bisa dijangkau oleh masyarakat luas, khususnya anak-anak.
Hal ini terungkap dalam wawancara yang dilakukan oleh Ghesfira Lintang, Reyna Atikah, dan Bimo Maulana– mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman pada Selasa, 18 Agustus 2026, di kediaman Nassirun. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak tim untuk melihat-lihat koleksi pribadinya berupa majalah dan buku-buku lawas yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun di rumahnya yang beralamat di Kalibacin, Mandirancan.
Bukan Akademisi, Bukan Pengumpul, Melainkan Penerjemah untuk Masyarakat
Nassirun menjelaskan bahwa dalam ekosistem pelestarian Babad Banyumas, terdapat pembagian peran yang berbeda-beda. Prof. Dr. Sugeng Priyadi M.Hum, sebagai akademisi, mengangkat Babad Banyumas ke ranah skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal ilmiah. Dr. Soedarmadji berperan sebagai pengumpul naskah. Sementara Nassirun, yang mengaku hanya lulusan SMP dan bukan seorang akademisi, memilih peran sebagai penerjemah — mengalihbahasakan naskah beraksara Jawa dan bertembang macapat ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami.
Ia menegaskan bahwa selama ini banyak orang enggan membaca Babad Banyumas karena naskahnya sulit didapat — bahkan arsip daerah pun tidak menyimpannya. Nassirun sendiri kini menyimpan sekitar 170 naskah kuno, dan menyebut Babad Banyumas sebagai babad paling kaya yang membuktikan bahwa leluhur Banyumas adalah kaum intelektual, karena mampu menuliskan sejarah di masa ketika akses informasi sangat terbatas.
Menawarkan Role Model Baru bagi Manusia Banyumas
Salah satu gagasan utama yang disampaikan Nassirun adalah pentingnya membangun kebanggaan identitas Banyumas di kalangan generasi muda. Ia menilai citra masyarakat
Banyumas selama ini kerap direduksi menjadi sosok Bawor — tokoh fiksi yang identik dengan bercanda dan lawakan — sehingga dianggap tidak bisa serius.
Sebagai alternatif, Nassirun menawarkan tiga tokoh leluhur Banyumas sebagai role model karakter, yaitu Raden Baribin (simbol sikap optimis dan berpikir positif), Raden Katuhu (simbol memaksimalkan potensi diri), dan Raden Joko Kaiman (simbol keberanian mengambil keputusan dan tanggung jawab). Ia bahkan telah menyarankan Dinas Pendidikan agar ketiga sosok ini dikenalkan sejak dini kepada anak-anak Banyumas.
Dari Naskah Kuno Menjadi Buku Anak
Untuk menjangkau audiens muda, Nassirun mengalihwujudkan Babad Banyumas ke berbagai format sesuai jenjang usia: buku dongeng untuk anak yang belum bisa membaca, cerita bergambar untuk siswa kelas 1–3 SD, buku bacaan untuk kelas 4–6 SD, hingga buku untuk jenjang SMP dan SMA. Total ia telah menghasilkan sekitar 30 buku untuk jenjang sekolah, ditambah sekitar 70 karya lain berupa lagu dolanan, dongeng, permainan, wayang, geguritan, dan terjemahan 30 naskah Babad Banyumas — menjadikan total kurang lebih 100 karya.
Perjuangan Tanpa Penghasilan Selama Setahun
Nassirun tak menutupi tantangan besar yang dihadapi selama proses penerjemahan. Berbeda dengan Profesor Sugeng yang mendapat dukungan dana dari lembaga akademik, atau Dr. Soedarmadji yang didanai penelitiannya sejak era Profesor Sumitro, Nassirun mengerjakan
proyek ini tanpa donatur maupun penghasilan tetap selama satu tahun penuh. Ia mengaku tantangan terberatnya justru meyakinkan sang istri bahwa kerja keras tanpa penghasilan ini akan membuahkan hasil.
Ketika karyanya ditolak penerbit mayor dengan alasan pasar yang dianggap terlalu kecil, Nassirun memilih mendirikan yayasan dan penerbit sendiri untuk menerbitkan, memasarkan, dan mempromosikan seluruh karyanya secara mandiri.
Menyalakan Kembali Mata Rantai yang Terputus
Nassirun menjelaskan bahwa tradisi mendongengkan Babad Banyumas dari orang tua ke anak sempat terputus sejak era 1990-an, seiring meredupnya pertunjukan ketoprak akibat masuknya televisi. Akibatnya, generasi orang tua saat ini banyak yang tidak lagi mengenal maupun mampu menceritakan kisah tersebut kepada anak-anaknya.
Karena itulah ia memilih membidik anak-anak sebagai audiens utama — memulai kembali dari nol untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas Banyumas melalui kisah-kisah babad, dengan harapan mata rantai yang sempat terputus bisa tersambung kembali di generasi mendatang.