Kang Nass Sukses ‘Mengketoprakkan’ Babad Banyumas dengan Bumbu Istimewa

October 4, 2026 ·

Banyak orang yang belum tau, bagaimana proses berdirinya Kabupaten Banyumas. Karena banyak yang belum tau, maka banyak yang ingin tau. Dan salah satu bacaan untuk mengetahuinya adalah Babad Banyumas.

Tapi, orang-orang dulu kebanyakan tau isi Babad Banyumas bukanlah dari membacanya langsung, melainkan dari dongeng para orang tua dan dari cerita yang dipentaskan dalam lakon ketoprak.

Dan seiring berjalannya waktu, ketoprak sebenarnya masih banyak bertahan, namun hanya sebagai nama olahan makanan. Adapun ketoprak sebagai nama kesenian yang menceritakan berbagai cerita rakyat maupun sejarah, lambat laun tergeser oleh berbagai teknologi yang fungsinya sama dengan ketoprak, seperti layar lebar, televisi, hingga gadget yang kian merajalela.

Oleh karena itu, budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun membuat terobosan baru dengan bagaimana caranya untuk membumikan Babad Banyumas, tapi dengan tetap memberi nuansa budaya Jawa yang kental.

Dan akhirnya, dipilihlah media wayang sebagai pengganti kesenian ketoprak. “Saya terpikir mengalihkan wahana, dari ketoprak ke wayang. Dengan pementasan wayang, masih memungkinkan. Karena tidak butuh banyak pemain, hanya butuh peraga wayang dan seorang dalang,” ujar Kang Nass.

Dan ide ini, oleh Kang Nass direalisasikan dalam acara yang bertajuk “Festival Babad Banyumas”, yang diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut mulai dari 25-27 September 2026 di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Hari pertama atau Hari Jum’at (25/9/2026) diisi dengan Dongeng Babad Banyumas, Pameran Wayang Babad, dan Menggambar Wayang Dongeng. Pada intinya, esensi dari acara hari pertama ini bertujuan untuk pelestarian dongeng, khususnya bagi kalangan anak-anak SD hingga mahasiswa.

Kemudian pada hari kedua, atau Hari Sabtu (26/9/2026) terbagi atas dua esensi acara. Pagi sampai siang, difokuskan untuk pelestarian wayang babad. Dalam rangkaiannya, ada pameran Wayang Babad, menggambar Wayang Babad, dan pameran Cover Babad.

Adapun Hari Sabtu malamnya atau Malam Minggu, merupakan puncak dari acara Festival Babad Banyumas. Isinya adalah rangkaian kegiatan inti, mulai dari penampilan Gubrakan Lesung Rebana, Wayangan Babad Banyumas, Begalan Jaka Kahiman, dan Kenthongan Banyumasan.

Gubrak Lesung Rebana dimainkan oleh grup Pangastuti yang dikelola langsung oleh Ibu Yuli Astuti, istri Kang Nassirun Purwokartun. Kolaborasi antara alunan lesung dengan rebana memang sengaja dipilih, karena bertujuan untuk memadukan serta menyelaraskan antara hiburan kaum petani dengan hiburan kaum santri.

“Dua kesenian itu saya gabungkan dengan maksud tidak membedakan antara dua kutub itu. Semuanya mengajak untuk memperbaiki diri. Lesung adalah musik yang tidak bernada, serta tidak mengenal solmisasi. Begitupun dengan rebana, yang tidak bernada, tidak mengenal solmisasi juga. Maka saya berharap bisa memadukannya, bisa selaras bersama, bisa bekerja sama”, ujar Kang Nass.

Selain Gubrak Lesung Rebana, untuk kesenian musik juga diisi dengan Kenthongan Banyumasan, dari grup Kenthongan Bambu Nada, juara Festival Kenthongan banyumas 2026.

Kemudian ada Begalan Jaka Kahiman, yang dilakonkan oleh tim Begalan Cipto Kawedar. Selain sebagai bentuk pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, penampilan ini juga bernuansa sejarah. Karena ternyata, begalan ini memperagakan begalan yang terjadi saat pernikahan putra Ngabehi Janah dengan putri Ki Ageng Gumelem.

Jadi, dalam Babad Gumelem diceritakan bahwa Jaka Kahiman memiliki anak bernama Ngabehi Janah. Dan Ki Ageng Gumelem memiliki anak bernama Rara Warsiki. Pada prosesi pernikahan antara Ngabehi Janah dengan Rara Warsiki itu, terjadi peristiwa yang melatarbelakangi begalan, hingga akhirnya bertahan sampai saat ini sebagai sebuah kesenian sarat makna.

Lalu untuk Wayangan Babad Banyumas, didalangi oleh Ki Ulum Karto Diwiryo. Adapun ceritanya adalah seperti yang sudah disinggung di atas, yakni terkait perpindahan ibukota Wirasaba ke Banyumas dan proses berdirinya Kabupaten Banyumas. Serta dipamungkasi dengan cerita Ngabehi Janah yang kemudian menikah dengan Rara Warsiki.

Walaupun malam puncak perayaan sudah dilangsungkan, bukan berarti acara sudah berakhir, karena Minggunya masih berlanjut lagi acara yang tak kalah menarik. Sore hari sekitar jam 15.30, dilangsungkanlah Gubrak Lesung Rebana, Melukis Panggih Warih, serta Wayangan Methuk Sandekala oleh dalang yang sama yakni Ki Ulum Karto Diwiryo, yang menceritakan Babad Panggih Warih atau tradisi pelestarian melalui pernikahan mata air.

Panggih Warih secara harfiah berarti pertemuan air. Latar belakang upacara panggih warih ini terjadi pada tahun 2021. Jadi saat itu terjadi kekeringan, dan sumber mata air kalimambu juga tidak terurus.

Maka ditulislah Babad Panggih Warih oleh Kang Nass sebagai upaya kampanye penyelamatan mata air. Dan pementasan Wayang Babad Panggih Warih ini, kedepannya akan menjadi kegiatan rutin.

“Saya tulis Babad Panggih Warih sebagai sarana kampanye penyelamatan mata air. Saya pentaskan dalam Hari Air Sedunia. Dan pementasan Wayangan Panggih Warih, akan menjadi acara rutin ke depannya”, ujar Kang Nass.

Kesimpulan dari acara Festival Babad Banyumas 2026 ini adalah Kang Nassirun Purwokartun berhasil membuat terobosan baru seiring dengan semakin menghilangnya cerita Babad Banyumas dalam kesenian ketoprak.

Dan uniknya, terobosan tersebut sukses dilakukan dengan mengketoprakkan Babad Banyumas menggunakan analogi ketoprak versi olahan makanan. Babad Banyumas ibaratnya adalah tahu dan ketupat, lalu Kang Nass membumbuinya dengan kolaborasi aneka pelengkap yang membuatnya menjadi ketoprak yang tetap nikmat untuk disantap banyak orang.

Kategori:Festival
SEUWISE

Festival Babad Banyumas Menjadi Ajang Pelestarian Mata Air Kalimambu

Festival Babad Banyumas 2026, ternyata tak hanya berupa agenda yang bertujuan untuk pelestarian budaya serta sejarah, tapi juga bertujuan untuk pelestarian sumber daya alam. Jadi, pada agenda yang terselenggara selama tiga hari tersebut, sebenarnya semuanya bertemakan kebudayaan. Akan tetapi, esensi…
WACA
SEDURUNGE

Kang Nass Sukses Menggelar Aksi Begal di Lapangan Mandirancan

Biasanya, begal memang ditakuti, karena identik dengan aksi pencurian disertai kekerasan yang membahayakan nyawa. Tapi di sisi lain, justru ada begal yang jadi tontonan menarik, khususnya bagi masyarakat Suku Jawa, namanya kesenian begalan. Kesenian Begalan biasanya ditampilkan dalam perayaan pernikahan…
WACA
LIYANE

Sang Kesatria

  Serial Bacaan Babad Banyumas untuk Siswa Kelas 1 - 3.      
WACA
LIYANE

Budayawan Banyumas NasSirun PurwOkartun Mengajak Mengenali Anak Keturunan Pendiri Banyumas

Semua orang Banyumas tahu siapa pendiri Kabupaten Banyumas. Yaitu Adipati Warga Utama II atau yang dikenal dengan nama Adipati Mrapat. Tokoh penting yang pada masa mudanya bernama Raden Jaka Kaiman. Semua orang Banyumas juga tahu di mana makam Raden Jaka…
WACA
LIYANE

Menjemput Purnama Sembari Melihat Prosesi 'Jaka Kahiman Mantu'

Malam itu, bulan bersinar terang. Orang-orang sering menyebutnya dengan istilah Bulan Purnama. Bentuknya yang terlihat seperti lingkaran sempurna, menjadikannya nampak indah dipandang mata, menerangi berbagai aktivitas makhluk hidup di bumi pada malam hari. Dan bersamaan dengan sinar terang rembulan, di…
WACA
LIYANE

Babad Pasirluhur dan Lahirnya Kota Purwokerto

Awalnya saya sudah menjaga diri untuk tidak tertarik membaca Babad Pasir. Karena saya orangnya gampang penasaran. Repotnya, kalau sudah penasaran maka sulit untuk tidak menelisik lebih jauh demi mencari jawaban. Dulu, tahun 2000, ketika saya masih di Solo, saya tertarik…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.