Ruang Kepala Sekolah yang ‘Angker’

October 17, 2026 ·

ketika jalan-jalan ke malang, mampir loakan dekat stasiun, dapat buku-buku ini. yang dulu kubaca di ruang kepala sekolah itu. subhanallah!

Sejak mengenal buku bacaan, aku seperti keranjingan.

Seperti anak yang kecanduan, itu pula yang kurasakan. Setiap hari harus selalu tersedia bahan bacaan untuk dimakan. Ada keasyikan yang seakan tak mungkin tergantikan oleh semua permainan yang kukenal bersama teman-teman.

Saking kecanduannya membaca, pada waktu kelas 5, membuatku berani minta ijin Kepala Sekolah untuk masuk ke ruangannya. Meminta ijin pada seseorang yang paling menakutkan di mata kami, para murid. Dengan takut-takut, meminta ijin memanfaatkan buku-buku yang selama ini tersimpan di almari kantornya. Padahal saat itu tak satupun anak berani dan mau memasukinya, kecuali disuruh gurunya. Karena kepala sekolah kami termasuk orang yang sangat pendiam, hingga terkesan ‘angker’.

Waktu itu sekolahku tidak mempunyai perpustakaan sekolah. Yang ada hanya sebuah almari pakaian yang dijadikan tempat menyimpan buku paket pelajaran dan buku-buku bacaan inpres terbitan pemerintah. Almari tersebut berada di pojok ruangan Kepala Sekolah.

Aku melihat pertama kali, ketika disuruh guruku mengambil buku paket pelajaran PMP di ruangan itu. Buku paket inpres yang masih berada dalam kardus. Dalam rak terbawah dari lemari kayu tua itu.

Di rak-rak atas, terdapat jajaran buku bacaan yang masih baru dan seperti tak pernah tersentuh tangan. Maka melihat banyaknya buku yang tak termanfaatkan, membuatku kemudian berani minta ijin ikut membaca. Dengan janji, setiap pagi kupinjam, dan kukembalikan esok paginya.

Kemudian dengan seorang teman, aku pun membuat kesepakatan. Aku tahu dia juga suka sekali membaca. Maka ketika kutawari untuk membaca buku di perpustakaan, ia langsung mengiyakan.

Sejak itu, aku selalu berangkat sekolah sebelum jarum jam menunjukkan angka 6. Berangkat berdua dengannya, saling menunggu siapa duluan yang sampai di jalan. Setelah bertemu, lalu kami berdua berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu.

Waktu itu bersekolah dengan telanjang kaki masih biasa. Sesuatu yang wajar. Karena kami bersepatu hanya kalau hari Senin saja, untuk upacara bendera. Itu pun bagi yang punya. Karena aku sendiri punya sepatu hanya waktu kelas 1. Setelah kelas 2 sampai kelas 4 tak pernah memakainya, karena memang tidak punya. Baru kelas 5 bisa beli sepatu, karena waktu jambore pramuka terpilih menjadi pemimpin regu.

Sekolah kami adalah sekolah desa, yang hampir semua muridnya adalah anak-anak petani, peladang, atau penyadap pinus. Banyak yang rumahnya berada di pinggirah hutan. Hingga kalau bersepatu malah sulit, karena jalan tanah yang menurun dan licin. Apalagi kalau semalaman turun hujan. Berarti paginya harus membawa pakaian ganti, karena harus menyeberangi sungai kecil terlebih dahulu. Tak ada jembatan untuk menyeberang. Hanya sebatang bambu yang dilintangkan di atasnya. Maka kalau banjir, jembatan itupun hilang terbawa arus air dari hutan. Jadi menyeberangnya harus dengan tubuh masuk ke kali. Buku dan pakaian seragam disunggi di atas kepala. Baru setelah sampai di seberang, berganti seragam sekolah.

Aku cukup beruntung, karena rumahku tidak dekat hutan yang harus menyeberangi sungai kecil itu.

Karena jam setengah 6 sekolah belum dibuka, kami harus ambil kunci dulu di rumah penjaga sekolah. Sebelumnya kami sudah ijin Kepala Sekolah untuk masuk ruangannya sampai jam masuk sekolah. Kepala sekolah membolehkan rencana kami, bahkan mendukung. Kebetulan aku dan temanku adalah ranking 1 dan 2 di sekolahan, jadi seperti mendapat kepercayaan.

Ditambah lagi, aku pernah menjadi juara menulis ketika ada porseni di tingkat kecamatan. Dan sudah ada karyaku yang dimuat di majalah anak-anak kabupaten.

Meskipun begitu, kami tetap bikin kesepakatan dengan penjaga sekolah. Bahwa kami akan membantu membersihkan ruangan itu setiap pagi, sebelum kami membaca buku-buku di ruang Kepala Sekolah.

Maka tiap jam 6 kurang seperempat, aku sudah menyapu lantai ruangan, membersihkan kaca, dan menata buku-buku yang ada di ruang guru serta ruang kepala sekolah.  Temanku kuberi tugas membersihkan gelas dan piring kotor yang ada di dapur kantor. Sekaligus mengisi bak kamar mandi.

Perlu waktu seperempat jam untuk melakukan semua itu. Tapi paling tidak, kami masih punya waktu empat puluh lima menit untuk asyik membaca di ruangan Kepala Sekolah yang kami anggap sebagai perpustakaan itu. Begitu guru-guru datang, sekitar jam tujuh kurang, kami berangkat ke kelas kami. Dengan tak lupa, sebuah buku bacaan di dalam tas untuk dibaca di rumah.

Membaca bagiku kemudian benar-benar menjadi kegiatan yang sangat mengasyikkan. Setiap buku yang habis aku baca, selalu kuceritakan pada teman-teman. Agar mereka tertarik membaca juga. Karena selama ini almari itu hanya diisi, tanpa ada yang mau datang dan membaca. Kalaupun datang, hanya untuk baca majalah anak-anak. Sementara buku-buku cerita itu sama sekali tak tersentuh.

Aku sempat berpikir, mengapa teman-temanku waktu itu tak ada yang mau datang?

Mungkin karena minat membaca anak-anak yang memang kurang. Sangat sulit menemukan adanya minat membaca pada anak-anak di kampung kami. Dunia mereka adalah dunia kerja dan bermain. Bagi yang menyukai kerja, sepulang sekolah membantu orang tua dengan mencari rumput atau mencari kayu bakar ke hutan. Bagi yang menyukai bermain, sepulang sekolah habis waktu hingga sore untuk bermain di sawah dan di sungai. Hingga kegiatan membaca, adalah dunia asing bagi mereka.

Atau mungkin pihak sekolah, yaitu guru-gurunya yang kurang mendorong minat baca anak-anak itu. Kusaksikan sendiri, banyak sekali buku-buku bacaan paket dari pemerintah, masih utuh dalam dus tanpa pernah dibuka. Kamilah yang kemudian membukanya, dan menatanya dalam rak setelah kami baca.

Atau mungkin guru-guru kami waktu itu juga masih belum menganggap begitu penting artinya membaca? Tak jarang, ada beberapa guru yang juga kurang suka dengan anak-anak yang suka membaca buku bacaan. Dan aku pernah ditegurnya. Konon beliau takut kami akan ketinggalan pelajaran, karena keasyikan dengan buku bacaan. Takut lebih mementingkan buku bacaan daripada buku pelajaran. Bagiku sungguh aneh, ketika seorang guru pun tak tertanam sebelumnya dengan kebiasaan membaca.

Tapi bisa juga karena letak almari tersebut yang ada di dalam ruangan Kepala Sekolah. Jadi kalau masuk harus melewati jejeran meja-meja guru, kemudian masuk ke ruangan paling dalam. Itu juga mungkin menjadikan anak-anak enggan dan segan untuk masuk. Padahal banyak sekali cerita-cerita menarik di sana, yang ketika kita baca mampu memperkaya wawasan kita.

Hingga di antara sekian banyak teman-teman sekolahku tak ada seorang pun yang tertarik ikut dengan kami. Sampai dengan lulus SD, mungkin hanya kami berdua yang mau memasuki ‘tempat angker’ tersebut.

Dan karena rutinnya membaca tiap hari, hampir semua buku-buku cerita anak terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang ada di lemari tersebut, sudah kubaca sebelum naik kelas 6.

Sejak saat itu, aku merasa makin kecanduan saja.

Namun bukan lagi pada bacaan anak-anak. Aku mulai menyukai bacaan remaja. Mulai menikmati cerita bertema cinta. Karena aku pun sedang jatuh cinta. Pada adik kelasku, anak kelas 5.

Astaghfirullah!

Kategori:Profil
SEUWISE

Modul Kejar Paket A, Awal Mula Jatuh Cinta

Modul Kejar Paket A, sungguh besar jasanya. Bukan hanya bagi mereka, orang-orang tua yang waktu itu sedang ikut program Pemberantasan Buta Huruf saja. Tapi terutama bagiku, anak TK yang sedang giat-giatnya belajar membaca. Sejak bisa membaca, apa saja yang berbentuk…
WACA
SEDURUNGE

Majalah Wanita di Rak Piring Tetangga

Aku mengenal majalah sejak ayahku tak lagi ikut Kejar Paket A. Sejak ayah mogok sekolah lagi seperti waktu kecil dulu, maka tak ada buku bacaan yang bisa kudapatkan di rumah. Modul Kejar Paket A yang itu-itu saja, telah berulang kubaca.…
WACA
LIYANE

Melacak Jejak Perang Diponegoro di Banyumas Bersama Budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun

Semua orang Banyumas mengenal nama pahlawan Pangeran Diponegoro. Banyak orang juga yang mengetahui kisah perjuangannya dalam melawan penjajahan Belanda.  Namun tak banyak orang Banyumas yang mengetahui, bahwa wilayah Banyumas pernah menjadi ajang Perang Diponegoro. Dan, belum banyak juga yang tahu,…
WACA
LIYANE

Aku Pernah Mengobati Hati, Dengan Cara Mencaci Maki

SAKIT HATI KARENA LIDAH, SEMBUHKANLAH JUGA DENGAN LIDAH! Pengalaman ini kutuliskan, tanpa dimaksudkan untuk ditirukan. Tapi sekadar ingin jujur mengakui, bahwa aku bukanlah orang baik yang selalu bisa bersabar. Seorang ahli  berkata, kita menambah dan mengurangi begitu banyak kata-kata yang…
WACA
LIYANE

Wong Jawa Ilang Jawane

Setajam-tajamnya pisau, kalau lama tak diasah, akan tumpul juga. Begitu pun dengan pengetahuan. Akan hilang kalau tak pernah digunakan. Itulah yang kemarin sempat kurasakan. Ketika sedang giat-giatnya membaca bermacam Serat dan Babad. Untuk mendukung penulisan novelku, aku ingin mendalami khazanah…
WACA
LIYANE

Ilmu Bekasan dari Kampus Loakan

“Endingnya monoton! Ujung-ujungnya pasar loak!” Tadi malam, seorang teman istimewa mengirimkan komentar ‘istimewa’nya. Dari pertemanan di facebook, dia adalah salah satu teman dari jenis ‘spesies langka’. Selalu membaca statusku, namun tak pernah berkomentar. Kalau pun koment, tidak ditulis di status,…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.