Jembatani Masa Lalu dan Kini, NasSirun Terjemahkan Babad untuk Generasi Muda

May 21, 2026 ·

BANYUMAS, banyumas.suaramerdeka.com – Sebagian besar naskah babad ditulis dalam bahasa Jawa. Tidak banyak masyarakat modern yang mampu membaca karya klasik yang berisi catatan sejarah, riwayat dan silsilah leluhur ini.

Hal itu menggerakkan Nasirun, penulis buku, penerjemah, sekaligus pegiat literasi untuk menerjemahkan babad agar lebih mudah dibaca dan dipahami.

Ia melakukannya di sebuah sudut Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, lembar demi lembar naskah kuno beraksara Jawa masih setia dibaca di tengah zaman yang bergerak cepat. Di antara tumpukan manuskrip tua itu, Nasirun kerap terlihat duduk tekun menelusuri baris demi baris tulisan tangan para leluhur Banyumas.

Tangannya sesekali berhenti pada bait tembang macapat, lalu matanya menyipit membaca aksara carakan yang mulai jarang dikenali generasi sekarang. Baginya, menerjemahkan babad bukan sekadar memindahkan bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Ada dunia yang harus dipahami, ada konteks yang perlu dijaga, dan ada warisan intelektual leluhur yang ingin ia selamatkan.

“Kalau dalam filologi istilahnya alih bahasa. Tapi menerjemahkan babad itu bukan sekadar mengganti kata. Ketika membaca pupuh tembang, alih bahasanya bisa benar, tetapi maknanya bisa berbeda kalau konteksnya tidak dipahami,” kata pendiri Yayasan Bale Babad Banyumas ini.

Selama beberapa tahun terakhir, pria berkacamata tebal itu menekuni penerjemahan berbagai naskah babad, mulai dari Babad Banyumas, Demak, Pajang, hingga kisah Diponegoro. Namun perhatiannya paling besar tetap tertuju pada naskah-naskah Banyumas yang menurutnya menyimpan kekayaan pengetahuan luar biasa tentang masyarakat masa lalu.

Ia menjelaskan, babad selama ini sering dipahami hanya sebagai cerita sejarah. Padahal, isi babad jauh lebih kompleks. Dalam satu naskah bisa ditemukan silsilah keluarga, dongeng, pengetahuan tradisional, hingga kronik berbagai peristiwa.

“Babad itu lebih dekat dengan kronik peristiwa. Di dalamnya ada sejarah, ada dongeng, ada silsilah. Kita juga bisa menemukan jejak bahasa masyarakat masa lalu,” ujarnya.

Menariknya, dari puluhan naskah yang ia pelajari, Nasirun justru tidak menemukan penggunaan bahasa Banyumasan seperti kata “inyong” yang kini identik dengan masyarakat Banyumas. Hampir semua naskah menggunakan bahasa Jawa gaya Mataram Islam.

“Tidak ditemukan kata inyong dalam naskah babad. Yang ada itu “ingsun”. Bahkan Babad Banyumas, Demak, Pajang, Kedung Kebo sampai Diponegoro bahasanya mirip semua. Jadi memang pengaruh pusat kekuasaan Mataram sangat kuat,” katanya.

Temuan itu membuat Nasirun melihat adanya stratifikasi bahasa pada masa lalu. Bahasa Banyumasan kemungkinan hanya digunakan dalam percakapan rakyat biasa, sementara bahasa resmi para bangsawan dan adipati menggunakan bahasa keraton.

“Kalau di pentas ketoprak misalnya, adipati selalu berbicara bahasa keraton. Bahasa Banyumasan justru dipakai punakawan atau pembantu. Kemungkinan memang ada strata bahasa waktu itu,” jelasnya.

Namun di balik bahasa yang terasa rumit bagi generasi muda sekarang, Nasirun menemukan kecerdasan luar biasa para penulis babad. Banyak penulis menyisipkan wangsalan atau teka-teki sastra dalam tulisannya.

Ia mencontohkan dalam Babad Pasir Luhur terdapat kalimat “Wedus Bang Sabawana”. Jika diterjemahkan mentah, artinya menjadi kambing merah yang berkeliaran di hutan. Padahal maksud sebenarnya adalah kijang atau kidang.

“Penulisnya sangat cerdas. Jadi kita tidak bisa menerjemahkan kata per kata saja. Harus dipahami maksud dan konteksnya,” ujarnya.

Karena itu, proses penerjemahan sering memakan waktu panjang. Nasirun harus membandingkan berbagai naskah, memahami budaya Jawa lama, hingga menelusuri makna simbolik dalam kalimat-kalimat tertentu.

Menurutnya, naskah-naskah babad membuktikan leluhur Banyumas merupakan masyarakat intelektual. Di tengah keterbatasan informasi pada masa lampau, mereka mampu menyusun karya tulis dengan pengetahuan luas.

“(Banyumas) punya sekitar 150 naskah. Itu bukti leluhur Banyumas orang-orang intelek. Mereka menulis saat akses informasi masih sulit dan belum banyak orang bisa membaca,” katanya.

Dorongan itulah yang membuat dirinya merasa terpanggil untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno tersebut. Ia tidak ingin kisah leluhur Banyumas terkunci hanya karena generasi sekarang kesulitan membaca aksara carakan atau memahami tembang macapat.

Menurutnya, naskah-naskah babad membuktikan leluhur Banyumas merupakan masyarakat intelektual. Di tengah keterbatasan informasi pada masa lampau, mereka mampu menyusun karya tulis dengan pengetahuan luas.

“(Banyumas) punya sekitar 150 naskah. Itu bukti leluhur Banyumas orang-orang intelek. Mereka menulis saat akses informasi masih sulit dan belum banyak orang bisa membaca,” katanya.

Dorongan itulah yang membuat dirinya merasa terpanggil untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno tersebut. Ia tidak ingin kisah leluhur Banyumas terkunci hanya karena generasi sekarang kesulitan membaca aksara carakan atau memahami tembang macapat.

Ada pula kisah tentang pantangan memakam timun putih. Diceritakan saat hampir terbunuh, Raden Baribin diselamatkan setelah memakan timun putih. Karena itu keturunannya memiliki pantangan memakan dan menanam timun putih.

Sementara dalam kisah Bupati Wirasaba, terdapat larangan melakukan upacara tingkeban karena anaknya hilang dari kandungan. Ada juga pantangan menggunakan upacara tedhak siten setelah anaknya jatuh dari tangga batang tebu dan meninggal dunia.

Pantangan lain muncul dalam tradisi keturunan Wargo Utomo. Mereka dilarang menikah dengan orang Toyareka, bepergian pada Sabtu Paing, membangun rumah bale malang, hingga duduk di atas kain poleng.

Bagi Nasirun, berbagai pamali itu bukan sekadar mitos. Di dalamnya tersimpan cara berpikir masyarakat lama dalam menjaga identitas keluarga dan hubungan sosial.

“Pengetahuan tradisional itu bagian dari cara leluhur memandang hidup,” katanya.

Meski telah menerjemahkan puluhan naskah, Nasirun mengaku belum menemukan manuskrip yang benar-benar murni berasal dari komunitas Banyumas. Banyak naskah diduga berasal dari pusat kekuasaan Jawa lalu dibawa dan dibacakan di daerah Banyumas.

Salah satunya adalah Serat Semangun yang ditemukan di komunitas adat Kejawen Banokeling. Setelah ditelusuri, ternyata naskah serupa juga ditemukan hingga Aceh dan Riau.

“Jadi kemungkinan naskah itu dibawa dari pusat kekuasaan lalu dibacakan di sini,” ujarnya.

Hingga saat ini, Nasirun telah menerjemahkan 30 naskah Babad. Naskah tertua Babad Banyumas yang ia temukan berasal dari tahun 1816. Sedangkan naskah Babad Pasir Luhur diperkirakan baru dituliskan sekitar tahun 1901 dan 1904, meski kisahnya kemungkinan sudah hidup secara lisan jauh sebelumnya.

Selain menerjemahkan, Nasirun juga menulis ulang kisah-kisah babad menjadi cerita anak agar lebih mudah dipahami generasi muda. Hingga kini ia telah menulis serial 101 Babad Banyumas.

Ia berharap anak-anak Banyumas tidak tumbuh asing terhadap sejarah daerahnya sendiri.

“Kalau orang Banyumas membaca 30 naskah saja, mereka bisa memahami Banyumas masa lalu sekaligus bermimpi tentang Banyumas masa depan,” katanya.

Perjalanan Nasirun sendiri berawal bukan dari dunia filologi. Pria kelahiran Banyumas, 19 Juni 1978 itu awalnya dikenal sebagai penyair dan kartunis. Puisinya mulai dimuat saat duduk di bangku SMA, lalu pada 2003 ia mulai aktif menulis buku.

Kini, lebih dari 200 buku anak telah ia hasilkan, selain novel dan berbagai adaptasi babad Jawa. Salah satu karya yang cukup dikenal adalah kisah Arya Penangsang dengan latar Demak dan Pajang.

Di tengah kesibukannya, Nasirun tetap bermimpi membangun gerakan bersama untuk menyelamatkan naskah kuno Banyumas. Ia tidak ingin pekerjaan itu berhenti sebagai upaya individual.

“Saya membuka siapa saja yang ingin belajar filologi dan ikut mencari naskah. Ini pekerjaan bersama,” katanya.***

 

Oleh: Nugroho Pandhu Sukmono

Kategori:Dopokan
SEUWISE

Pertemuan dan Lipatan Waktu Bersama NasSirun PurwOkartun

Oleh: Isna Maylani Pada mulanya Nassirun Purw0kartun hanyalah sebuah nama, sampai saya mengikuti sebuah pelatihan kepenulisan di kampus waktu itu. Saya tidak ingat jelas judul puisi yang dibacakan di sesi terakhir yang ia bawakan. Namun, yang pasti ingatan tentang haru…
WACA
LIYANE

Pelarian Raden Baribin ke Pajajaran Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang siapa sosok Raden Putra atau Raden Baribin, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang pelariannya. Bahwa setelah diusir dari Majapahit oleh kakaknya, Raja Majapahit Prabu Ardiwijaya, Raden Baribin pun keluar dari kerajaan, meninggalkan keluarganya. Perjalanan itu melewati tempat-tempat…
WACA
LIYANE

Sayembara Raja

Patih Kerajaan Bonokeling diperintahkan rajanya, Raja Keling, untuk membunuh Raja Majapahit. Akan tetapi, berkat besarnya kewibawaan sang raja, Patih Tolih justru berhasil ditangkap dan dipenjara.Suatu ketika Raja Majapahit menggelar sayembara. Karena memenangkan sayembara tersebut, Patih Tolih bisa lepas hukuman dan…
WACA
LIYANE

Dari Kepangeranan ke Kepatihan

  Serial Plesiran Babad Banyumas, Dari Kepangeranan ke Kepatihan.      
WACA
LIYANE

Buku Serial Anak Babad Banyumas

Saya ingin Babad Banyumas menjadi bacaan masyarakat. Namun, yang lebih penting lagi, saya ingin Babad Banyumas menjadi bacaan generasi muda. Terutama anak-anak sekolah, usia SD sampai dengan SMP. Saya membayangkan, kisah dalam Babad Banyumas menjadi buku bacaan yang ada di…
WACA
LIYANE

Berdirinya Kabupaten Banyumas dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang kematian tragis Adipati Wirasaba Warga Utama, Babad Banyumas Mertadiredjan kemudian mengisahkan tentang berdirinya Kabupaten Banyumas.  Bahwa setelah Adipati Warga Utama meninggal, Sultan Pajang merasa menyesal. Hingga akhirnya meminta maaf dengan cara mengundang anak-anak sang adipati datang ke…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.