Buku Sastra Terbaru dan Honor Kartunku

October 28, 2026 ·

Menginjak SMP aku makin rajin menulis dan mengirimkannya.

Bukan lagi puisi yang kutulis, tapi mulai belajar membuat cerpen-cerpen remaja.

Aku banyak belajar menulis cerpen dari novel-novel remaja yang kubaca. Novel-novel karya para pengarang-pengarang muda Gramedia yang sedang jadi idola. Dari mulai Hilman Hariwijaya, Gola Gong, Zarra Zettira ZR, Bubin Lantang, dan banyak yang lainnya.

Tapi sampai dengan lulus SMP, tak satu pun cerpenku yang dimuat di majalah. Padahal waktu tiu aku rutin tiap minggu mengirimkan ke berbagai media. Aku tak tahu kenapa ratusan cerpenku tak satu pun yang bisa muncul di media. Namu aku tak putus asa, malah semakin tertantang untuk makin rutin menulis dan terus mengirimkannya.

Saat itu pikiranku hanya menduga, mungkin karena ide ceritaku yang kurang menarik bagi redakturnya. Atau bahkan karena tulisan tanganku yang memang sulit terbaca. Sebab selama aku mengirimkan, selalu dengan tulisan tangan. Karena aku memang tak punya mesin ketik untuk mengetik puisi dan cerpen-cerpenku.

Pernah sempat meminta tolong diketikkan pegawai kelurahan, tapi setelah dipikir-pikir mahal ongkosnya. Karena aku harus membayar perlembar lima ratus rupiah, sementara satu cerpen minimal lima halaman. Yang berarti harus mengeluarkan uang dua ribu lima ratus hanya untuk mengetikkan saja. Belum untuk beli amplop dan prangkonya.

Maka jalan satu-satunya adalah dengan memperbagus tulisan tanganku. Dengan penulisan yang jelas huruf dan tanda bacanya. Dengan harapan, meski hanya tulisan tangan, namun bisa terbaca redakturnya, hingga punya kesempatan untuk dimuat.

Namun meski tulisan tanganku telah jelas dan terbaca, ternyata tak juga membuat cerpenku dimuat juga. Jadi kesimpulanku, mungkin memang ceritanya yang tidak menarik.

Karena jenuh mengirim puisi dan cerpen dan tak pernah dimuat itulah, aku mulai mencoba mengirimkan lainnya. Yakni aku mulai mencoba mengirim gambar kartun. Kebetulan, sejak SD aku memang sudah tertarik dengan gambar-gambar kartun yang kulihat di Koran Pos Kota.

Pertama aku mengirimkan kartun, waktu naik kelas dua SMP. Ke media pelajar Jawa Tengah waktu itu, sebuah majalah bernama MOP. Namun sampai lulus SMP, tak pernah dimuat juga.

Namun anehnya, meski puisi, cerpen, dan kartunku tak pernah dimuat, aku tetap tidak pernah merasa putus asa. Sesuatu yang sampai sekarang aku masih sering heran sendiri ketika mengenangnya. Betapa gigih dan besarnya semangatku saat itu. Padahal kalau dihitung, berapa uang jajan yang telah kuhabiskan untuk beli prangko dan amplop selama tiga tahun pengiriman.

Karena merasa bahwa tidak dimuatnya cerpenku karena tidak menarik ceritanya, semangat bacaku kutingkatkan. Aku harus banyak membaca cerpen-cerpen yang telah dimuat di media. Dan juga yang telah dikumpulkan jadi buku.

Dalam proses belajar itulah, aku makin banyak berkenalan dengan buku sastra. Yang awalnya hanya cerpen remaja, kini meningkat dengan buku-buku sastra yang lumayan berat, untuk ukuranku saat itu, sebagai anak kelas tiga SMP.

Dan ketika lulus SMP, kemudian masuk STM, kecanduan sastra mulai menjangkitiku. Hingga kalau jalan-jalan ke toko buku, aku selalu ‘ngiler’ melihat banyaknya buku-buku sastra terbitan baru. Buku-buku yang tak ada di perpustakaan sekolah atau pun perpustakaan langgananku.

Aku ingin sekali menikmati buku-buku sastra terbaru. Macam terbitan dari Gramedia atau Pustaka Utama Grafiti. Tapi harganya mahal sekali untuk ukuranku. Rata-rata senilai dua tiga kali SPP sekolahku. Sementara kalau pinjam buku-buku macam itu, pinjam ke siapa? Dan juga pinjam ke mana?

Jalan satu-satunya adalah harus membeli sendiri.

Akhirnya aku memutar otak. Yakni dengan cara memperbanyak mengirimkan ke berbagai media dan Koran. Yang sebelumnya hanya seminggu sekali, sekarang dalam seminggu mengirim tiga kali. Dengan harapan, honor dapat kuperoleh dan aku bisa beli buku.

Maka aku semakin gencar mengirimkan ke berbagai media yang ada di Jawa Tengah. Seminggu mengirimi satu amplop cerpen, satu amplop puisi, dan tiga amplop kartun.

Selang beberapa bulan, ternyata dari ketiga yang kukirimkan itu, kartunlah yang paling cepat dimuat. Hampir tiap minggu, dengan tiga amplop untuk majalah yang berbeda, selalu saja ada yang dimuat. Baik di media lokal ataupun nasional.

Mungkin kompetisi dalam kartun lebih mudah daripada tulisan yang banyak pengirimnya. Dan karena kartun lebih cepat menghasilkan uang, aku jadi lebih banyak menggambar daripada menulis.

Aku juga jadi sering mangkal di kios majalah, untuk ikut numpang melihat-lihat. Siapa tahu ada kartunku dimuat. Kalau dimuat, baru kubeli majalahnya. Kalau tidak, ya tak jadi beli. Beberapa kios hafal dengan aksiku ini, hingga sering tidak enak hati.

Untuk mengasah ketajamanku berkartun, ketika naik kelas 2 STM aku bergabung dengan Pakarti, Persatuan Kartunis Indonesia. Aku juga bergabung dengan wadah kartunis lokal yaitu Kelakar, Keluarga Kartunis Purwokerto.

Dalam perkumpulan itu, kami sering mengadakan pameran kartun atau pun karikatur. Juga mengikuti bermacam perlombaan kartun di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa temanku sering mendapatkan nominasi di Jepang dan Prancis.

Dengan seringnya dimuat, membuatku makin gencar mengirim kartun. Dengan perhitungan, semakin banyak kartun terkirim, semakin banyak yang dimuat. Semakin banyak yang dimuat, semakin banyak honor yang didapat. Semakin punya banyak uang, semakin banyak buku sastra yang bisa kubeli.

Dan ternyata itu benar adanya. Kartunlah yang menolongku mendapatkan buku-buku sastra terbaru.  Dan seribuan buku yang memenuhi kamarku waktu itu, semuanya berasal dari honor kartunku.

Kategori:Profil
SEUWISE

Honor Pertama yang Tak Pernah Kuterima

“Aku Ingin Jadi Penulis.” Itulah judul yang kubuat dalam ulangan catur wulan Tes Hasil Belajar kelas 4 SD. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada soal mengarang dengan pilihan tema: berlibur ke rumah nenek, belajar kelompok, dan cita-citaku. Aku memilih yang terakhir.…
WACA
SEDURUNGE

Dari Majalah ‘Mainan’, ke Majalah Dinding, Hingga Majalah ‘Beneran’

Sejak SD aku adalah penggemar berat serial Lupus. Otomatis, aku juga jadi pengagum Hilman Hariwijaya, sang pengarang Lupus. Katanya, Hilman itu sejak SD suka bikin majalah sendiri, yang ditulis sendiri, didesain sendiri, dan dijual sendiri. Entah kenapa, aku pun tertarik…
WACA
LIYANE

Mandirancan Jadi Saksi Kemeriahan Festival Babad Banyumas 2026

Mandirancan adalah nama desa di Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Letaknya berada di paling utara, dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Patikraja serta Kecamatan Banyumas. Di desa ini, tinggal sosok budayawan Banyumas bernama Nassirun Purwokartun atau yang kerap kali disebut Kang Nass.…
WACA
LIYANE

Ketika Seorang Raja Dikenang Bukan Karena Kekuasannya, Tapi Justru Karena Tulisannya!

Setelah ditolak guide, aku pun memasuki keraton sendirian. Dan begitu melangkah memasuki gerbang, kedatanganku langsung disambut oleh raja Solo. Yakni sosok Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI yang tengah berdiri tegak di beranda. Meski, hanya dalam bentuk patungnya…
WACA
LIYANE

Siapa Yang Harus Menerbitkan Babad Banyumas?

“Kalau ada buku yang ingin kamu baca, tapi kamu tidak menemukannya, maka kamulah yang harus menuliskannya.” Begitulah ungkapan yang pernah saya dengar. Begitu pula yang kemudian saya lakukan dengan Babad Banyumas. Karena hampir 5 tahun tidak menemukan buku Babad Banyumas,…
WACA
LIYANE

Dimana Wirasaba?

Nama Wirasaba sudah saya dengar sejak belia. Sejak pertama menyaksikan ketoprak tobong dengan lakon “Geger Wirasaba” yang dilanjut “Jaka Kaiman Winisuda”. Dulu, dua lakon itu digelar bergantian di balai desa kampungku. Hari pertama “Geger Wirasaba” yang mengisahkan kematian Adipati Wirasaba,…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.