Dari Majalah ‘Mainan’, ke Majalah Dinding, Hingga Majalah ‘Beneran’

October 28, 2026 ·

Sejak SD aku adalah penggemar berat serial Lupus.

Otomatis, aku juga jadi pengagum Hilman Hariwijaya, sang pengarang Lupus.

Katanya, Hilman itu sejak SD suka bikin majalah sendiri, yang ditulis sendiri, didesain sendiri, dan dijual sendiri.

Entah kenapa, aku pun tertarik dengan hal itu. Hingga kemudian aku banyak mempelajari majalah-majalah anak yang ada di perpustakaan sekolahku. Kuperhatikan bentuknya, modelnya, gambarnya, tulisannya, covernya, desainnya, dan segala macamnya. Akupun ingin bisa membuat yang seperti itu. Meski dengan cara yang sangat sederhana, sebisanya aku saja.

Akhirnya aku pun benar-benar membuat majalah ‘mainan’. Majalah yang kubuat sendiri dari empat lembar kertas HVS yang dilipat jadi dua. Maka jadilah majalah anak dengan ketebalan 16 halaman.

Majalah itu kuutulis tangan dan kugambari sendiri. Kutulisi puisi yang sudah pernah kukirimkan ke majalah MITRA. Kutulis ulang cerita-cerita dan dongeng yang pernah kudengar dari nenekku. Kutulis juga pengalaman-pengalaman lucu orang-orang terdekatku. Semua kuberi gambar dari coretan kartunku. Bahkan ada pula komik strip yang kucontek dari koran Poskota. Sungguh, aku bangga sekali waktu itu, bisa membuat majalah sendiri.

Majalah mainan itu hanya kubikin satu eksemplar saja. Maka kalau ada yang mau membaca majalahku, mereka harus bergantian. Di desaku waktu itu belum ada kios foto kopi, jadi tidak bisa memperbanyak lagi. Kalau mau memfoto kopi, harus ke kota kecamatan. Yang jaraknya sepuluh kilometer dari desaku.

Dari modal suka bikin majalah mainan itulah, bakatku makin tersalurkan ketika di SMP.

Di sekolahku ada majalah dinding yang terbit dua minggu sekali. Namun melihat karya yang dipampang, menurutku biasa-biasa saja, aku langsung menyerbu dengan karya-karyaku. Karya-karya yang dulu kubuat untuk majalah mainan buatanku. Ada puisi, cerpen, cerita lucu, dan kartun-kartun strip. Aku gencar sekali mengirim, bahkan untuk semua rubrik yang ada.

Karena seringnya mengirim, akhirnya aku berkenalan dengan guru pembimbingnya. Dan setelah kelas dua, aku dimasukkan jadi pengurus mading, sekalian menjadi pengurus OSIS bidang Kesenian. Dan di mading itulah, ketertarikanku pada majalah makin kumatangkan.

Dan kesukaan mengurus mading berlanjut ketika masuk STM. Saat itu, aku aktiv di OSIS. Sebagai ketua bidang Seni, aku mengusulkan adanya mading di sekolahanku. Dan usulku itu disetujui oleh Pembina OSIS, dengan langsung membentuk tim pengurus.

Namun tim pengurus itu tidak kompak, karena mereka memang kurang suka dengan dunia seni. Mereka  lebih asyik bergiat di Pramuka dan PMR. Dan karena aku yang mengusulkan, akhirnya akulah yang harus mengerjakannya sendirian.

Aku yang sejak SMP sudah mulai berkenalan dengan majalah remaja (HAI, MODE, ANEKA, GADIS), kupraktekkan di sini. Selama membaca majalah-majalah remaja tersebut, selain isinya, juga sangat kuperhatikan desainnya. Maka mading STM ku, kubuat desain seperti majalah. Lengkap dengan berbagai rubriknya, yang kubuat khas majalah remaja yang gaul.

Aku betul-betul menggarap itu sendirian. Karena sebelum angkatanku, memang belum ada mading. Aku mengawali semuanya. Dua edisi berturut-turut, hanya karya-karyaku yang kutempel untuk sekadar percobaan penerbitan. Ternyata banyak juga yang suka berkerumun di depan mading kalau jam istirahat.

Diam-diam aku suka bangga, kalau melihat teman-temanku begitu asyik membaca tulisan-tulisanku di mading.

Setelah itu aku membuka kiriman karya, namun tak banyak yang masuk. Terpaksa harus menulis sendiri, memberi ilustrasi, melay-out, dan menempelnya. Kukerjakan setiap Sabtu sore di minggu ke dua dan ke empat.

Karena aku Pemimpin Redaksi, merangkap segala macam Redaktur, maka otomatis aku menggawangi semua rubrik yang ada. Dari mulai OPINI, TOPIK KAMU, SASTRA REMAJA, sampai ruangan CURHAT. Maka kalau tak ada yang mengirim naskah satupun, berarti aku harus menulis sedemikian banyak rubrik yang ada.

Untuk menutupi itu semua, maka aku harus punya nama samaran sebanyak tulisanku. Termasuk rubrik CURHAT yang berisi konsultasi remaja. Terpaksa aku harus menulis pertanyaan yang itu harus kujawab sendiri.

Tapi berawal dari membuat majalah mainan waktu SD dan mengurusi mading di SMP dan STM itulah, kemudian hari aku pede untuk mendesain majalah betulan.

Ketika setelah lulus STM, setelah mencari kerja ke mana-mana, akhirnya aku diterima di sebuah penerbit buku. Yang kebetulan penerbit itu juga menerbitkan sebuah majalah remaja. Dimulai dari mendesain majalah ‘beneran’ itulah, aku berkenalan dengan dunia grafis yang sesungguhnya.

Dan sekarang, ketika aku bekerja menjadi ‘tukang desain’ di koran terbesar di Solo, aku jadi terkenang masa kecilku. Terkenang pada majalah mainan yang pernah kubuat sendiri. Yang kutulis sendiri, kugambari sendiri, dan kudesain sendiri.

Kategori:Profil
SEUWISE

Buku Sastra Terbaru dan Honor Kartunku

Menginjak SMP aku makin rajin menulis dan mengirimkannya. Bukan lagi puisi yang kutulis, tapi mulai belajar membuat cerpen-cerpen remaja. Aku banyak belajar menulis cerpen dari novel-novel remaja yang kubaca. Novel-novel karya para pengarang-pengarang muda Gramedia yang sedang jadi idola. Dari…
WACA
SEDURUNGE

Ketika Meriam Hanya Menjadi Souvenir Pajangan

Sitinggil merupakan titik pusat kewibawaan kerajaan. Karena di tengah Sitinggil terdapat Bangsal Manguntur Tangkil, yang merupakan singgasana raja ketika bertahkta. Oleh karenanya, Sitinggil diyakini orang Jawa sebagai pancering prabawa yang mempunyai daya magis penuh aura. Maka dulu hanya para sentana…
WACA
LIYANE

Hartaku Hanya Buku dan Cinta!

Begitu pintu kamar dibuka, maka nampaklah sebuah ranjang kayu tua. Tapi jangan pernah berpikir, bahwa ranjang itu adalah tempat tidurku yang sesungguhnya. Karena sejak dibuatkan kamar pada waktu kelas 5, aku jarang sekali tidur di sana. Apalagi aku tak pernah…
WACA
LIYANE

Di Kamar Mandi, Buku-Buku itu Kuhabisi!

Tak pernah kusangka, ternyata buku sudah menjadi bagian hidupku. Menjadi makanan sehari-hari sejak kecil dulu. Hingga membuatku seperti pecandu, yang lebih mementingkan membeli buku, dibandingkan baju, celana, apalagi sepatu. Maka membaca pun seolah telah menjadi bagian penting dari kehidupanku. Merupakan…
WACA
LIYANE

22 Buku Untuk 22-2-22

Dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Banyumas yang ke 451, pada bulan Februari 2022 ini, budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun, akan meluncurkan 22 buku Serial Bacaan Babad Banyumas. Sebelumnya, pada tahun 2021, NasSirun juga sudah meluncurkan 9 buku Serial Rujukan Babad…
WACA
LIYANE

NasSirun PurwOkartun dan Nasruddin Hoja Masih Saudara!

“Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor saja!” Begitu nasehat Nasruddin Hoja ketika ada yang curhat padanya. Seorang tetangganya yang terkenal bodoh, yang sedang berkeluh kesah tentang rumahnya yang sesak. Kesumpekan yang makin terasa dengan keributan 7 anaknya yang masih…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.