Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (2)

October 28, 2026 ·

“Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?”

Membincangkan kartun dan karikatur, selalu terhubungkan dengan pro kontra boleh tidaknya membuat gambar makhluk bernyawa.

Dan untuk memantapkan niatku, aku bersandar pada fatwa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Dalam buku ‘Islam Bicara Seni’, disebutkan tentang kesimpulan hokum menggambar, sebagai berikut:

Satu, jenis gambar yang paling berat keharamannya dan dosanya adalah gambar sesuatu yang disembah selain Allah. Karena ia menyebabkan pembuatnya kafir, apabila ia mengetahui hal itu dan sengaja berbuat.

Dua, menggambar suatu objek yang tidak disembah, namun dengan tujuan meniru ciptaan Allah. Dan menganggap diri bisa mencipta sebagaimana Allah mencipta.

Tiga, menggambar tokoh-tokoh yang tidak disembah, tapi dipajang dan ditempelkan untuk diagung-agungkan. Seperti gambar raja-raja, panglima, pemimpin, dan tokoh idola lainnya.

Empat, menggambar yang tidak diagungkan, tapi menjadi gaya hidup mewah dan berlebih-lebihan. Seperti untuk menghias dinding dan semacamnya. Hal ini hukumnya makruh.

Lima, menggambar yang tidak bernyawa, seperti pohon, gunung, laut, sawah, yang merupakan pemandangan alam, maka yang menggambar dan merawatnya tidak berdosa. Asalkan hal itu tidak melalaikannya dari ketaatan atau mengarah pada kemewahan hidup. Jika itu terjadi, makruh hukumnya.

Enam, karya fotografi, hukumnya mubah, asalkan objeknya tidak mengandung unsur haram.

Tujuh, gambar yang diharamkan atau dimakruhkan, apabila sudah dialihfungsikan, maka bergeser hukumnya dari haram dan makruh kepada mubah.

Dengan bersandar itulah, aku meniatkan, agar gambarkut terhindar dari keharaman dan kemakruhan. Melainkan sesuatu yang telah difungsikan sebagai penyampai pesan pendidikan dan kebenaran, hingga bisa bermanfaat. Dan mubahlah hukumnya.

Sebab aku mantap berkartun pun sesungguhnya berawal dari sebuah keprihatinan.

Ketika kartun pun bisa menjelma menjadi senjata untuk memojokan Islam, sementara kita tak punya senjata untuk melawannya.

Di waktu kecil, tetanggaku yang aktivis agama lain sering membagi-bagikan buku-buku komik yang ceritanya diambil dari kitab mereka. Ternyata banyak yang suka, dan ajarannya pun mudah dicerna oleh teman-teman sebayaku.

Hingga timbul pertanyaan, apakah kita tidak bisa membuat hal yang serupa. Mengemas ajaran-ajaran Islam dengan bentuk komik dan cergam. Hingga mudah diterima dan disukai oleh anak kecil?

Kemudian beranjak ketika remaja, aku berkenalan dengan banyak kartun dari banyak media. Yang masing-masing mereka membawa misinya sendiri-sendiri. Aku pun mulai berkenalan dengan media Islam. Tapi tak kutemukan kartun di sana.

Kalaupun ada, adalah saduran dari majalah-majalah Timur Tengah, yang kurang dimengerti pesan-pesannya. Karena beberapa ilustrasinya ditambah dengan huruf-huruf Arab gundul, yang tak semua orang bisa mudah membacanya.

Hingga timbul pertanyaan serupa, apakaah tidak ada kartunis muslim yang tergerak ke sana?

Maka sepertinya aku setuju pada Iqbal, bahwa ‘seni adalah juga merupakan sebagian dari bentuk manuver musuh-musuh Islam’.

Maka aku mantapkan aku akan berseni kartun, untuk menghadapi manuver tersebut. Aku mantap terjun ke dalamnya.

Kalau orang lain berdakwah dengan khotbah-khotbahnya, dengan tulisan-tulisannya, dengan pedangnya, dengan uangnya, dengan segala potensinya, maka biarlah aku mencoba dengan gambar-gambarku saja.

Akan kuasah mata pena gambarku sejatam pedang, sebagai senjata untuk mengajak kebenaran dan menghunus kemungkaran.

Itulah niatanku berdakwah lewat kartun, yang telah hamper 17 tahun aku pancangkan.

Dan niatan itu belum padam, meski belum banyak yang memahami niatan ini.

Namun aku terus mencoba. Terus berusaha. Semampu kekuatanku saja, tentunya.

Bismillah.

Kategori:Profil
SEUWISE

Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (1)

Kartun dan karikatur itu ibarat binatang dan gajah. Begitu yang dulu kudapatkan dari Pramono R. Pramoedjo, kartunis senior Indonesia, pendiri Persatuan Kartunis Indonesia. Kalimat yang diucapkannya dalam pembukaan Pameran Kartun Nasional, di Gedung Purna Budaya Jogja, pada tahun 1994 silam.…
WACA
SEDURUNGE

Ketika Ijazah-Ijazah Kebanggaanku Itu Disobeknya…

Selepas STM, aku tak bisa kuliah, karena tak ada biaya. Orang tua sudah tak lagi punya tanah yang bisa diagunkan sebagai jaminan pembayar hutang. Maka daripada menganggur di kampung, aku memilih pergi ke Bandung. Dengan berbekal ijazah STM hasil ‘tukar…
WACA
LIYANE

BTC atau Bathangan Trade Centre Atau Pusat Perbelanjaan Yang Terletak Di Tempat Bangkai

BTC atau Bathangan Trade Centre artinya adalah pusat perbelanjaan yang terletak di tempat bangkai. Dan aku kemarin baru saja berziarah dari tempat itu. Sebuah nama yang mengusikku sekian lama, sejak aku SD di kelas lima. Ketika SD dulu, aku banyak…
WACA
LIYANE

Menafsir Ulang Joko Tingkir Sang Pemenang

Aku menulis novel Penangsang, bermula dari rasa penasaran. Kok bisa, keraton Solo yang konon kelanjutan dari Kesultanan Demak, kekhalifahan Islam di Tanah Jawa, hanya menyisakan sinkretisme-nya saja. Demikian pula dengan keraton lainnya, yakni Kesultanan Jogja, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran.…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Daftar Pustaka

Sewaktu masih di Solo saya asyik membaca Babad Tanah Jawi. Karena penulisan novel pentalogi Penangsang pijakannya adalah Babad Tanah Jawi. Hanya saja saya balikkan penceritaannya dengan data yang saya dapatkan dari keluarga Penangsang, ditambah penafsiran saya atas bacaan naskah-naskah lama.…
WACA
LIYANE

Wayang Babad Banyumas

Segera Terbit
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.