Ketika Ijazah-Ijazah Kebanggaanku Itu Disobeknya…

October 28, 2026 ·

Selepas STM, aku tak bisa kuliah, karena tak ada biaya.

Orang tua sudah tak lagi punya tanah yang bisa diagunkan sebagai jaminan pembayar hutang.

Maka daripada menganggur di kampung, aku memilih pergi ke Bandung. Dengan berbekal ijazah STM hasil ‘tukar guling’ dengan tanah orang tuaku, aku pun mantap untuk mencari pekerjaan. Paling tidak mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikanku.

Namun sampai sebulan di Bandung aku tetap menjadi pengangguran. Sudah berkeliling membawa lamaran, tetap tak ada pekerjaan yang kudapatkan. Padahal hampir semua pabrik tekstil telah kudatangi untuk kukirimkan lamaran. Namun tak satu pun yang sedang membuka lowongan.

Lima bulan menjadi pengangguran yang menumpang di tempat saudara, membuatku tak enak hati. Karena saudara yang kutumpangipun bukan keluarga berada. Hanya bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan, dengan tanggungan lima orang anak yang masih kecil-kecil. Yang masih membutuhkan banyak biaya. Maka aku ingin segera kerja, agar bisa lepas sebagai bebannya.

Suatu hari, tetangga saudaraku memberitahu, katanya ada lowongan di tempatnya bekerja. Ia bekerja di stasiun kota Bandung, sebagai pencuci gerbong kereta. Karena tak ada pilihan lain, aku pun mencoba melamar.

Dan hari itu juga kubuat surat lamaran lengkap, berikut segepok lampiran-lampirannya. Dan aku sangat percaya diri akan diterima, karena tetangga saudaraku yang tak tamat SMP pun diterima di sana. Dengan keyakinan itu, aku pun membawa lamaran ke kantor PJKA di stasiun Bandung.

“Kamu lulusan STM kok mau melamar kerja kasar semacam ini?” ucap si penerima lamaran, seorang bapak tua yang berseragam PJKA.

Aku hanya tersenyum, meski dalam hati berkata, “Terpaksa, daripada nganggur di kota.”

Bapak berseragam biru itu membuka berkas-berkas lamaranku. Termasuk lampiran fotokopi ijazah SD, SMP dan STMku yang kulampirkan lengkap.

“Nilainya baik-baik, ya?” katanya lagi sambil melihat daftar di balik kertas foto kopian itu.

Kembali aku tersenyum. Meski jarang belajar, karena waktunya habis untuk  menulis dan menggambar kartun, selama di STM aku selalu tiga besar. Yang kesimpulanku waktu itu, bukan karena aku yang cerdas. Melainkan karena teman-temankulah yang lebih bodoh dariku.

“Pekerjaan mencuci kereta adalah pekerjaan kasar. Sayang ijazah STM dengan nilai sebaik ini, kalau hanya untuk melamar menjadi pencuci gerbong kereta.”

Kami pun kemudian terlibat perbincangan yang lumayan panjang. Berikut alasan yang kusampaikan, bahwa aku bekerja tak memilih yang ‘halus’ atau pun yang kasar. Namun hanya ingin sekadar tidak membebani saudara yang memang telah banyak bebannya.

Akhirnya dengan sedikit kupaksa, bapak PJKA pun memberikan jalan tengah, “Tanpa bermaksud merendahkan, dan ini permintaan kamu sendiri. Kami bisa menerima kerja di sini. Namun saya terima dengan lamaran ijazah SD saja. Bagaimana?”

Entah kekuatan dari mana, aku mengangguk mengiyakan.

Dan bapak PJKA itu menyobek foto kopian ijazah SMP dan SMAku, “Ini saya kembalikan. Saya anggap, kamu sama dengan pekerja lainnya, yang hanya lulusan SD.”

Dan sejak hari itu, aku dapat pekerjaan sebagai pencuci kereta malam. Justru hanya dengan modal ijazah SD saja. Dan bukannya ijazah STM yang sebelumnya kubanggakan, yang telah membuat empat lahan tanah orang tuaku melayang sebagai agunan.

“Besok datang jam sembilan. Jangan pakai baju rapi begitu. Pakai kaos yang jelek saja!” Bapak dari PJKA itu berpesan padaku, setelah menerimaku sebagai pekerjanya.

Dan esok harinya, aku pun resmi menjadi tukang cuci kereta. Baju yang sebelumnya rapi dan kusterika licin, aku ganti dengan kaos paling jelek yang kupunya.

Dan sungguh, sampai sekarang aku masih mengenang peristiwa siang itu. Peristiwa yang telah berselang enam belas tahun silam. Ketika ijazah-ijazah kebanggaanku itu disobeknya….

Kategori:Profil
SEUWISE

Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (2)

“Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?” Membincangkan kartun dan karikatur, selalu terhubungkan dengan pro kontra boleh tidaknya membuat gambar makhluk bernyawa. Dan untuk memantapkan niatku, aku bersandar pada fatwa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Dalam buku ‘Islam Bicara Seni’,…
WACA
SEDURUNGE

Mengenang Bekerja di ‘Tempat Basah’

Sejak hari itu aku pun resmi bekerja sebagai tukang cuci gerbong kereta. Pekerjaan pertama yang kudapatkan setelah lulus sekolah, dengan nilai pelajaran yang sangat kubanggakan. Setelah mendapat selembar ijazah yang harus ditebus orang tuaku dengan tanah empat lahan.  Pekerjaan yang…
WACA
LIYANE

Mengenalkan Babad Banyumas Dengan Gubrag Lesung

Bale Babad Banyumas adalah sanggar seni milik budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun. Tempat Kang Nass, begitu biasa disapa, menyebarkan kisah-kisah Babad Banyumas. Sejak tahun 2015, Kang Nass mengumpulkan naskah-naskah Babad Banyumas. Ternyata, kebanyakan ditulis dalam tembang Macapat. Karena ingin mengetahui isinya,…
WACA
LIYANE

Wong Jawa Ilang Jawane

Setajam-tajamnya pisau, kalau lama tak diasah, akan tumpul juga. Begitu pun dengan pengetahuan. Akan hilang kalau tak pernah digunakan. Itulah yang kemarin sempat kurasakan. Ketika sedang giat-giatnya membaca bermacam Serat dan Babad. Untuk mendukung penulisan novelku, aku ingin mendalami khazanah…
WACA
LIYANE

Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak. Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga,…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Kedua

Setelah memiliki Babad Banyumas pertama saya kemudian menemukan yang kedua. Suatu hari saya melihat buku Babad Banyumas dijual di lapak online Facebook. Saya pun langsung berbinar ingin membelinya. Namun sial adalah kurang beruntung, atau keberuntungan yang tidak beruntung, karena ternyata…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.