Selama ini, masyarakat Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, meyakini makam tua di puncak Gunung Grenggeng adalah makam Syekh Baribin.
Begitu juga yang tertulis pada papan nama di makamnya. Papan yang dipasang oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen. Karena makam tua itu sudah menjadi cagar budaya.
Masyarakat umum banyak berziarah ke makam itu. Karena makam Syekh Baribin sudah menjadi tujuan wisata religi. Ribuan peziarah datang setiap tahunnya.
Syekh Baribin selama ini diyakini sebagai sosok yang sama dengan Raden Baribin. Raden Baribin adalah leluhur Dinasti Banyumas yang melahirkan Bupati Wirasaba, cikal bakal Kabupaten Banyumas. Karena itulah, makam tersebut diyakini makam leluhur Banyumas.
“Dalam naskah Babad Banyumas, Raden Baribin mempunyai anak bernama Raden Katuhu. Raden Katuhu menjadi Bupati Wirasaba. Raden Baribin mempunyai cucu bernama Raden Jaka Kaiman. Raden Jaka Kaiman menjadi Bupati Banyumas. Namun, dalam naskah-naskah Babad Banyumas tidak ditemukan keterangan bahwa Raden Baribin dimakamkan di Gunung Grenggeng.”

Demikian yang disampaikan oleh Nassirun Purwokartun, Budayawan Banyumas, dalam acara yang digelar oleh Pemerintah Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, pada hari Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB.
Acara bertempat di Balai Pertamuan Bodeh. Dihadiri oleh warga masyarakat Desa Grenggeng, tokoh masyarakat, juga pecinta sejarah di Kabupaten Kebumen.
Selain Nassirun Purwokartun, pembicara lainnya adalah Dr. Muhammad Yaser Arafat, M.Hum, dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, tokoh yang selama ini dikenal sebagai ahli pembaca nisan tua.
Dalam acara yang berjudul “Saresehan Budaya, Syekh Baribin dan Adipati Jana”, Kang Nass mendasarkan uraiannya pada naskah “Babad Banyumas Danuredjan”.
“Babad Banyumas Danuredjan” adalah Babad Banyumas yang ditulis oleh Patih Jogjakarta, Adipati Danureja V pada tahun 1883, setahun sebelum sang patih meninggal dunia pada tahun 1884.
Patih Danureja V adalah pejabat Keraton Jogjakarta yang membangun makam yang berada di Gunung Grenggeng. Prasasti itu sampai sekarang masih dipasang pada cungkub makam yang sekian lama diyakini sebagai makam Syekh Baribin.
Papan ditulis dalam huru Jawa, yang terbaca,“Ingkang yasani Pasareyan Garenggeng: Kangjeng Raden Adipati Danureja: Ridder Ordhe Nederlan Sleyo: Pepatih Dalem ingkang kaping 5 Negari Ngayogya.”
Terjemahnya adalah, “Yang Membangun Makam Grenggeng, Kanjeng Raden Adipati Danureja, bergelar Ridder Orde Nederland Leuw, Patih yang ke-5 Kesultanan Jogjakarta.”
Namun anehnya, dalam naskah yang ditulis oleh Patih Danureja V, makam yang dibangunnya itu tidak disebut sebagai makam Syekh Baribin.

Nassirun Purwokartun kemudian membacakan naskah aslinya, seperti yang tertulis dalam “Babad Banyumas Danuredjan”. Naskah Jawa yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
“Jadi, dalam naskah ditulis bahwa pertapa yang bertapa di Gunung Grenggeng, dan kemudian dimakamkan di Gunung Grenggeng, adalah Raden Jaka Krenda, atau Raden Haryo Panulahar, anak Prabu Brawijaya V yang nomor 78. Bukan Raden Baribin atau Syekh Baribin,” demikian Nassirun Purwokartun menutup pembacaannya.
Dalam naskah itu juga dikisahkan tentang pertemuannya dengan Adipati Janah yang kemudian menjadi muridnya. Juga perjalanan dakwah Raden Haryo Panulahar, setelah meninggalkan Gunung Grenggeng, lalu menetap di wilayah Ayah. Tepatnya di daerah Gunung Sikanco, sampai meninggal dan dimakamkan di Sikanco.
Kabar kematian gurunya disampaikan oleh murid Raden Haryo Panulahar di Ayah ke Adipati Janah di Gunung Grenggeng. Adipati Janah kemudian meminta agar jenazah gurunya dikuburkan di Gunung Grenggeng.
Permintaan itu ditolak oleh murid-murid gurunya di Ayah. Terjadilah perebutan. Hingga banyak menelan korban di tepian sungai. Sungai pun berbau bangkai, hingga dikenal dengan nama Kali Bacin, sampai sekarang.
Akhirnya, jenazah Raden Haryo Panulahar berhasil dicuri dengan cara melewati gorong-gorong dalam tanah. Jejak gorong-gorong itu masih ada bekasnya di makam Gunung Sikanco, di Desa Sikanco, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap.
Jadi, makam siapakah di Gunung Grenggeng? Benarkah makam Syekh Baribin, seperti yang selama ini diyakini banyak orang?
Sayang, Juru Kunci dan Kepala Desa Grenggeng juga belum menemukan sumber yang menguatkan bahwa makam itu adalah makam Syekh Baribin.
Pembicara lainnya, Dr. Muhammad Yaser Arafat, M.Hum, turut menyampaikan hasil peneliatannya. Bahwa nisan yang selama ini diyakini sebagai makam Syekh Baribin adalah gaya nisan tahun 1600-an.
Kalau bersandar dari kajian itu, maka nisan tersebut adalah makam dari orang yang hidup di kisaran tahun 1500-an.
Padahal Raden Baribin hidup pada akhir Kerajaan Majapahit, sebelum tahun 1500-an. Sementara Raden Haryo Panulahar, kemungkinan hidup pada tahun 1500-an. Karena Raden Haryo Panulahar adalah keponakan Raden Baribin.
“Namun, saya juga tidak bisa mengklaim bahwa apa yang tertulis dalam Babad Banyumas Danurejan adalah sumber utama yang valid. Hal ini sangat terbuka untuk didiskusikan. Silahkan bagi para peneliti untuk bisa mengkajinya dengan penuh ketelitian. Saya hanya menyampaikan apa yang tertulis dalam naskah dari orang yang membangun makam tersebut, yaitu Patih Danureja V.”
Kang Nass mengakiri paparannya dengan permintaan maaf kepada masyarakat Desa Grenggeng. Dan mendukung langkah Pemerintah Desa Grenggeng untuk merawat makam-makam tua yang berada di Gunung Grenggeng, berikut kajian sejarahnya. []