Di Kamar Mandi, Buku-Buku itu Kuhabisi!

October 27, 2026 ·

Tak pernah kusangka, ternyata buku sudah menjadi bagian hidupku.

Menjadi makanan sehari-hari sejak kecil dulu. Hingga membuatku seperti pecandu, yang lebih mementingkan membeli buku, dibandingkan baju, celana, apalagi sepatu.

Maka membaca pun seolah telah menjadi bagian penting dari kehidupanku. Merupakan kebutuhan utama, seperti bernafas, makan, minum, dan tidur. Hingga di mana pun berada, aku tak pernah bisa lepas dari memegang buku.

Termasuk ke mana pun pergi, tak bisa tanpa membawa satu-dua buku di dalam tas punggungku. Untuk dibaca di dalam bus atau kereta, ketika perjalanan ke luar kota.

Pokoknya ke mana pun pergi, bekal buku harus selalu kubawa. Termasuk ketika mengantar anakku terapi. Aku merasa tak bisa bengong tanpa mengerjakan apa-apa, ketika menunggui anak yang sedang difisioterapi. Maka untuk membunuh waktu yang membosankan, aku habiskan dengan membaca di ruang tunggu Rumah Sakit.

Kebiasaan menjadi pecandu buku, ternyata berdampak pada berantakannya rumahku.

Karena di mana pun ruangan, akan ditemui serakan buku. Dari mulai ruang tamu, ruang keluarga, kamar Ummi, kamar tidur, kamar kerja, sampai ke gudang, bahkan juga di kamar mandi. Selain tentu saja perpustakaan pribadiku, yang memang khusus untuk menyimpan beberapa ribu buku koleksiku. Kamar sumpek ukuran empat meter pesegi yang keempat dindingnya telah rapat oleh lemari dan jajaran rak buku.

Kalau kurenungkan, berserakannya buku itu, sebenarnya hanya buah kemalasanku saja. Yang selalu malas untuk merapikannya kembali. Atau tepatnya enggan mengembalikan ke perpustakaan, untuk buku-buku yang belum selesai kubaca. Dengan alasan, biar gampang ketika mencarinya, maka kutaruh begitu saja, di mana tadi kubaca.

Dan ini sebenarnya kebiasaan buruk yang terbawa sejak kecil dulu. Kebiasaan jelek yang terbawa sampai tua. Hal yang pada awal-awal pernikahan sering membuat Ummi ‘bernyanyi’, karena ruangan yang sudah tertata rapi selalu berantakan tiap hari.

Berantakan yang sebenarnya juga disebabkan oleh kebiasaan jelekku lainnya. Yang tak bisa membaca sambil duduk, dan tak suka menghabiskan buku dalam sekali baca.

Aku tak pernah bisa bertahan duduk untuk membaca. Bisa bertahan 15 menit, itu sudah luar biasa. Karena sejak kecil telah terbiasa membaca sambil tiduran. Dengan begitu aku bisa membaca berjam-jam. Kebiasaan jelek yang telah berjalan puluhan tahun, hingga membuat mataku makin rusak saja. Dan kaca mataku bertambah tebal minusnya.

Dan itu diperparah dengan kebiasaanku yang tak suka menghabiskan satu buku dalam sekali baca. Aku lebih menikmati membaca bermacam buku, dalam waktu bersamaan. Misalnya ketika di ruang tamu, aku membaca buku sastra. Sementara di ruang keluarga, kulanjutkan dengan buku agama. Dan di kamar tidur, kunikmati buku filsafat dan humaniora. Sementara di kamar kerja kuteruskan mengeja buku budaya Jawa.

Jadi dalam sehari, aku bisa membaca bermacam ragam buku. Tergantung di mana membacanya, menemukan buku apa, dan sedang ingin membaca buku yang mana.

Karena itulah, perpustakaan hanya untuk menyimpan buku saja. Bukan kamar untuk membaca. Apalagi entah kenapa pula, aku tak pernah bisa membaca di sana. Aku lebih menikmati membaca buku di mana saja.

Termasuk ketika menemani anakku menonton tivi. Sambil menungguinya menonton CD lagu-lagu Islami, aku tiduran di karpet dengan tivi. Dan sebuah buku kubuka untuk kubaca. Setelah selesai, buku itu tak kukembalikan ke perpustakaan. Tapi hanya ditaruh di atas tivi. Atau kulempar begitu saja ke pojokan lemari.

Begitu pun ketika kemudian pindah ke ruang tamu. Dengan tiduran di sofa sudut, melihat anakku membuat mainan, aku membuka buku. Sambil membantu anakku, aku membaca buku yang ada di bawah meja. Dan begitu selesai, aku geletakkan kembali di sana.

Demikian juga ketika pindah ke kamar Ummi. Setelah menemani menidurkan anak dan Ummi pun turut tertidur, aku sempatkan membaca. Sebelum kemudian pindah ke kamar tidurku sendiri. Yang dilanjutkan membaca buku lagi. Buku yang biasanya sedang kutargetkan untuk segera kuhabiskan, karena sedang menjadi referensi tulisanku.

Aku dan Ummi memang beda kamar tidur. Kami tidur sendiri-sendiri. Semua karena aku tak bisa tidur di kamar Ummi, dan Ummi pun tak suka tidur di kamarku. Ummi tidur dengan anakku yang kedua, sementara aku tidur di kamar depan yang jendelanya lebar. Aku tak bisa tidur bersama Ummi yang jendela kamarnya sempit. Sebab aku suka sesak nafas, yang membutuhkan kamar yang luas serta sirkulasi udara yang lebih bebas.

Karena kamar kami berlainan, maka kamar tidurku lebih berantakan dibanding kamar Ummi. Itu pula alasannya kenapa tak mau tidur di kamarku. Karena ranjang kamarku penuh sesak oleh serakan buku. Sementara Ummi pun tak berani merapikan. Karena seringkali malah mangacaukan susunan yang sudah kuhafalkan.

Banyaknya buku di kamarku, karena di ranjang itulah aku bisa berjam-jam membaca. Terutama ketika sedang malas menulis atau menggambar. Apalagi aku memang sulit sekali tidur awal. Penderita insomnia berat, yang bisanya tidur di atas jam 1 malam. Dan sambil menunggu kantuk datang, aku banyak menghabiskan buku dengan tiduran.

Namun itu dulu. Kenikmatan yang bisa kudapatkan sebelum aku bekerja. Ketika masih punya waktu 24 jam sehari, yang tak terkurangi dengan jam kerja seperti sekarang ini.

Sekarang aku tidak bisa lagi membaca di beranda seperti dulu lagi. Sambil melihat anakku bermain di halaman, atau ketika menikmatinya hujan-hujanan. Sambil tiduran di sriban depan, sesekali bercanda dengannya yang sangat menikmati main air hujan.

Aku pun tak bisa lagi menikmati membaca di kamar tidurku sambil menunggu kantuk. Karena setelah pulang kerja pada dini hari, penat dan kantuk sudah menyerang. Apalagi sering kali sampai rumah, anak dan istri sudah lelap dan tertidur nyenyak.

Begitu pun dengan kenikmatan membaca di ruang tamu dan di ruang keluarga. Waktu yang 4 jam tak memungkinkan lagi untuk itu. Hanya bisa kugunakan untuk menulis dan menulis saja setiap harinya. Untuk merampungkan novel yang sudah berulang kali dikejar penerbit, dan juga ditanyakan pembaca kapan terbitnya.

Maka sungguh, kenikmatan membaca telah hilang dari waktuku. Aku tak punya waktu seluang dulu. Karena kalau aku gunakan untuk membaca, maka jatah waktu 4 jam itu untuk menulis menjadi terkurangi. Dan aku tak ingin melakukan itu.

Maka aku harus mencari waktu lagi. Tepatnya ‘mencuri’ dari seluruh waktu yang sudah sangat sempit itu. Untuk bisa menikmati membaca, seperti dulu lagi.

Dan waktu ‘curian’ itu, kemudian kutemukan di kamar mandi.

Inilah kebiasaan jelekku yang berikutnya, yang merasa sangat nyaman berada di sana sambil membaca buku. Sejak kecil dulu, ketika ke ‘belakang’ aku pasti membawa buku. Kebiasaan yang terus terbawa sampai tua. Hingga ketika sudah berkeluarga, aku pun memasang rak buku di kamar mandi. Hal yang membuat saudara dan beberapa teman yang sempat melihatnya dibuat keheranan, bahkan menertawakan.

Tapi memang di kamar mandi itulah aku menemukan sisa waktuku.

Sisa-sisa dari seluruh kesempitan kesempatanku. Dan dalam kenyamanan kamar mandi, banyak sudah buku-buku yang kuhabiskan di sana. Terutama buku-buku yang mendukung tulisanku. Buku-buku tebal yang menjadi rujukan utama penulisan novelku. Terutama serat-serat dalam bahasa Jawa, yang membutuhkan perhatian penuh ketika membaca dan menelaahnya.

Dan kesenyapan kamar mandi, telah menolongku untuk mampu berkonsentrasi tinggi.

Maka ternyata, di antara sempitnya kesempitan masih tersisa kesempatan. Meski aku menemukannya di kamar mandi. Kamar yang bagi orang lain bukan tempat yang nyaman untuk membaca dengan sepenuh kenikmatan.

Sebuah kebiasaan jelek yang tak perlu ditiru, oleh orang yang punya banyak waktu luang dan kesempatan.

Kategori:Profil
SEUWISE

NasSirun PurwOkartun dan Nasruddin Hoja Masih Saudara!

“Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor saja!” Begitu nasehat Nasruddin Hoja ketika ada yang curhat padanya. Seorang tetangganya yang terkenal bodoh, yang sedang berkeluh kesah tentang rumahnya yang sesak. Kesumpekan yang makin terasa dengan keributan 7 anaknya yang masih…
WACA
SEDURUNGE

Slow in Solo, Alon-Alon Waton Keraton!

Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan ulang yang telah banyak diketahui orang. Aku justru ingin, sesekali bercerita tentang Solo dari sudut pandang yang lainnya. Solo yang tidak selalu identik dengan keraton atau pun budaya Jawa. Karena sesungguhnya, masih banyak sisi menarik…
WACA
LIYANE

Babad Pasirluhur dan Lahirnya Kota Purwokerto

Awalnya saya sudah menjaga diri untuk tidak tertarik membaca Babad Pasir. Karena saya orangnya gampang penasaran. Repotnya, kalau sudah penasaran maka sulit untuk tidak menelisik lebih jauh demi mencari jawaban. Dulu, tahun 2000, ketika saya masih di Solo, saya tertarik…
WACA
LIYANE

Ternyata Aku dan Einstein Pernah Sama-sama ‘Sontoloyo’

Karena ingat Einstein yang ‘bodoh’, terkenanglah aku pada ‘sontoloyo’. Sebuah umpatan sangat menyakitkan, yang pernah kuterima dari Pak Jono. Kata-kata yang sempat membuat semangat belajarku di kelas 4 benar-benar loyo. Kata itu pula yang semalam menjadikan buku ‘Di Bawah Bendera…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan

Selain “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” dalam bentuk tembang (puisi), ada juga naskah “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Keduanya seolah saling melengkapi. Bila babad yang pertama berkisah tentang awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas, yang kedua lebih banyak…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Daftar Pustaka

Sewaktu masih di Solo saya asyik membaca Babad Tanah Jawi. Karena penulisan novel pentalogi Penangsang pijakannya adalah Babad Tanah Jawi. Hanya saja saya balikkan penceritaannya dengan data yang saya dapatkan dari keluarga Penangsang, ditambah penafsiran saya atas bacaan naskah-naskah lama.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.