Kolaborasi Yaser dan Nassirun, Ungkap Hipotesis Baru terkait Syekh Baribin

November 2, 2026 ·

Sebuah sarasehan budaya dengan judul besar “Syekh Baribin dan Adipati Djana, digelar di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, pada hari Sabtu malam, (31/10/2026).

Acara itu diselenggarakan oleh pemerintah desa setempat, dalam rangka mengulik kisah sebenarnya dari dua tokoh ‘keramat’ yang dimakamkan di Grenggeng, yang dikenal sebagai Syekh Baribin dan Adipati Jana.

Maka, sebagai bentuk menanggapi tanda tanya tersebut, didatangkanlah dua narasumber ahli untuk saling berkolaborasi mencari jawaban, yakni Dr. M. Yaser Arafat, seorang ahli epigrafi yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Nassirun Purwokartun, budayawan penerjemah Babad Banyumas.

Sekitar pukul 20.30 WIB, para hadirin mulai berkumpul di Bale Pertemuan Bodeh. Sebagai pembuka, tembang Selawat Jawa dengan iringan alat musik tradisional, dilantunkan oleh grup Jam Janeng Ngudi Laras.

Setengah jam kemudian, dua narasumber hadir, pertanda acara inti segera dimulai. Mata hadirin mulai terfokuskan ke depan, memandang dua orang ahli beserta moderator yang siap menyuguhkan pemaparan menarik.

Pemaparan pertama dilakukan oleh Yaser. Sosok yang juga seringkali disebut ‘Syekh Yaser’ itu, menjelaskan terkait masuknya Islam di Desa Grenggeng dari sudut pandang epigrafi atau penelitian nisan makam.

Menurutnya, berdasar penelitian yang pernah ia lakukan di makam Grenggeng, sosok yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Syekh Baribin itu diperkirakan hidup di Grenggeng sejak sebelum tahun 1600. Alasannya, karena dilihat dari bentuk nisan makam, memang terindikasi bergaya era tahun 1600-an.

“Jika dilihat dari bentuk nisannya, makam Syekh Baribin serta Adipati Jana itu bergaya tahun 1600-an. Karena wafat di abad ke-17, maka artinya mereka berdua adalah orang yang sudah hidup sejak abad ke-16 atau di era 1500-an”, ujar Kang Yaser.

Kedatangan tokoh yang diduga sebagai Syekh Baribin ke Grenggeng pada masa-masa itu, juga menandakan bahwa Agama Islam sudah masuk dan berkembang di Grenggeng sejak lebih dari 400 tahun yang lalu.

Kemudian, terkait siapakah sosok Syekh Baribin serta Adipati Jana, tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Kang Yaser. Sebab, topik tersebut dibabar oleh narasumber kedua, Nassirun Purwokartun.

Akan tetapi, Yaser sempat menceritakan jika makam Syekh Baribin itu dibangun oleh patih Yogyakarta yang bergelar Danureja V. Dan secara kebetulan, patih tersebut juga lah yang menulis Babad Banyumas Danuredjan, yang jadi bahan rujukan Kang Nassirun dalam pembabaran kali ini.

Di awal pembicaraan, Kang Nass menjelaskan bahwa di semua naskah babad, tidak ada nama Baribin yang berjuluk “syekh”. Baribin dalam naskah Babad Banyumas biasanya ditulis sebagai Pandita Putra, seorang adik Brawijaya V yang diusir dan menempuh perjalanan ke barat, hingga menikah dengan keturunan Pajajaran.

“Setelah saya teliti, tidak ada satupun naskah Babad Banyumas yang menyebut nama Syekh Baribin, yang ada hanyalah Raden Baribin atau Pandita Putra, adik Brawijaya V yang kemudian menjadi kakek Raden Jaka Kahiman, bupati pertama Banyumas”, ujar Kang Nass.

Akan tetapi, kembali menanggapi nama Syekh Baribin, Kang Nass menjelaskan jika di dalam babad Banyumas Danuredjan ada tokoh bernama Raden Krenda atau Haryo Panulahar, yang disebut sebagai anak Raden Brawijaya V.

Putra Raja Majapahit itu menempuh perjalanan ke barat hingga akhirnya bertapa di daerah yang sekarang jadi Grenggeng. Sosok itulah yang menurutnya diduga sama dengan Syekh Baribin dalam anggapan masyarakat Grenggeng.

Adanya penyamaan tokoh Syekh Baribin dengan Raden Baribin itu diperkirakan karena asalnya yang sama-sama dari Majapahit. Bedanya, Raden Baribin atau Pandita Putra adalah anak dari Brawijaya IV, sedangkan Haryo Panulahar adalah anak dari Brawijaya V.

Kedekatan cerita itulah yang menyebabkan masyarakat menyamakan antara Haryo Panulahar dengan Raden Baribin, hingga akhirnya digelari sebagai Syekh Baribin.

Selain membahas sosok Syekh Baribin, Kang Nass juga menjelaskan terkait Adipati Jana, tokoh yang makamnya berada di dekat makam Syekh Baribin. Menurutnya, Adipati Jana atau Bagus Janah adalah orang yang kemudian menjadi pemimpin Kadipaten Kapucang.

“Bagus Janah atau Adipati Jana adalah pemimpin pertama Kadipaten Kapucang. Wilayah ini kelak digabungkan dengan Kadipaten Kaleng, membentuk kadipaten baru bernama Roma”, ujar Kang Nass.

Dalam Babad Banyumas Danurejan tercatat jika silsilah Bagus Janah sampai kepada Ki Ageng Selo, yakni Bagus Janah anak Kyai Kuwu Ngrawa, cucu Kyai Kuwu Benco, buyut Nyai Ageng Sihab, canggah Kyai Ageng Abdurrahman (Selo).

Berdasarkan pemaparan Kang Nassirun, keterkaitan antara kedua tokoh yang dibahas kali ini, berawal saat Bagus Janah menemukan tempat pertapaan Haryo Panulahar di Grenggeng. Lokasi tepatnya berada di sebuah pohon besar berlubang, sehingga ketika ia berbicara, suaranya akan terdengar gumrenggeng. Dan dari kata itulah, konon nama desa ini akhirnya juga dinamakan Grenggeng.

Bagus Janah pun akhirnya menjadi murid sang pertapa tersebut. Kemudian singkat cerita, Haryo Panulahar melanjutkan perjalanan dan menetap di daerah Ayah, tepatnya di Sikanco, hingga wafat di sana.

Kabar wafatnya Panulahar terdengar oleh Adipati Jana dan santri-santrinya yang di Grenggeng. Alhasil, jasad sang guru diperebutkan oleh santri yang di Sikanco dengan santri yang di Grenggeng. Singkatnya, Santri Grenggeng lah yang berhasil membawa jasad sang guru, dan dimakamkan di Gunung Grenggeng sampai dengan sekarang.

Berdasarkan penjelasan kedua narasumber tersebut, artinya anggapan ketokohan di Gunung Grenggeng dengan nama Syekh Baribin, perlu dikaji ulang secara lebih mendalam.

Pasalnya, baik Yaser maupun Nassirun sepakat ada hipotesis baru terkait Syekh Baribin. Yaser fokus meneliti berdasarkan bentuk fisik makam, sedangkan Nassirun berdasarkan literasi Babad Banyumas. Dari kolaborasi itu, Haryo Panulahar diduga kuat menjadi nama asli dari Syekh Baribin.

Meskipun begitu, keduanya sepakat bahwa hasil pembacaan nisan makam serta keterangan dalam Babad Banyumas juga tidak bisa langsung dijadikan sebagai kesimpulan final.

“Jika ada penemuan sumber-sumber lain yang lebih akurat, maka hipotesis ini pun bisa berubah lagi. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa sejarah itu sifatnya dinamis, bisa berubah seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan”, ujar Yaser.

Kategori:Dopokan
SEUWISE

Melacak Jejak Perang Diponegoro di Banyumas Bersama Budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun

Semua orang Banyumas mengenal nama pahlawan Pangeran Diponegoro. Banyak orang juga yang mengetahui kisah perjuangannya dalam melawan penjajahan Belanda.  Namun tak banyak orang Banyumas yang mengetahui, bahwa wilayah Banyumas pernah menjadi ajang Perang Diponegoro. Dan, belum banyak juga yang tahu,…
WACA
LIYANE

Hartaku Hanya Buku dan Cinta!

Begitu pintu kamar dibuka, maka nampaklah sebuah ranjang kayu tua. Tapi jangan pernah berpikir, bahwa ranjang itu adalah tempat tidurku yang sesungguhnya. Karena sejak dibuatkan kamar pada waktu kelas 5, aku jarang sekali tidur di sana. Apalagi aku tak pernah…
WACA
LIYANE

Dari Majalah ‘Mainan’, ke Majalah Dinding, Hingga Majalah ‘Beneran’

Sejak SD aku adalah penggemar berat serial Lupus. Otomatis, aku juga jadi pengagum Hilman Hariwijaya, sang pengarang Lupus. Katanya, Hilman itu sejak SD suka bikin majalah sendiri, yang ditulis sendiri, didesain sendiri, dan dijual sendiri. Entah kenapa, aku pun tertarik…
WACA
LIYANE

Pagelaran Canda Pancawura Perkasa

“Kirain pagelaran musik! Taunya pagelaran mistik!” Seorang remaja berseragam SMA tiba-tiba berbisik. Temannya yang disikut dan mendengar celetukan usil itu pun langsung terkikik. Mereka berdua adalah rombongan study tour dari Jakarta, terbaca dari badge sekolah yang sempat kulihat pada lengan…
WACA
LIYANE

Kamu Selalu Tak Percaya Kalau Aku Sangatlah Pemalu

Orang selalu tak percaya kalau sifat asliku adalah pemalu. Hingga ketika kutulis di biodata saat menjadi pembicara, bahwa aku adalah seorang yang penakut dan pemalu (terutama pada perempuan) tak seorang pun memercayai itu. Bahkan semua menertawakanku. Seolah aku sedang menyampaikan…
WACA
LIYANE

Bale Babad Banyumas (Video)

Bale Babad Banyumas merupakan rumah kediaman budayawan Banyumas yaitu Kang Nassirun Purwokartun yang terletak di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen. Beliau telah banyak menerbitkan buku, dan salah satu karya masterpiece-nya adalah 25 Naskah Terjemah Babad Banyumas. Perlu diketahui bahwa Babad Banyumas…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.