Adipati Pertama Wirasaba dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

April 7, 2022 ·

Makam para adipati Wirasaba. Berada di dusun Kecepit, desa Wirasaba, kecamatan Bukateja, kabupaten Purbalingga. Babad Banyumas menyebut tempat ini dengan nama Pakembangan dan Kecepit. Sekarang, Pakembangan menjadi nama desa di sebelah Wirasaba. Sementara Kecepit menjadi nama dusun di desa Wirasaba. Ini adalah kondisi nisan sebelum makam adipati Wirasaba dipugar.

Awal mula Kabupaten Banyumas berasal dari kadipaten bernama Wirasaba. Karena dari Wirasaba lah kemudian beralih menjadi kadipaten baru bernama Banyumas.

Setelah mengisahkan tentang Prabu Brawijaya sebagai raja Majapahit, Serat Babad Banyumas melanjutkan penuturannya dengan keberadaan Kadipaten Wirasaba.

Dicatat dalam babad, Wirasaba adalah sebuah kadipaten bawahan kerajaan Majapahit. Dan, sebagai tanda ketundukan serta ketaatan, setiap tahun Wirasaba harus mengirimkan upetinya ke Majapahit. Bulan untuk mengirimkan upeti adalah bulan Sapar.

Maka, pada suatu ketika ketika bulan Sapar tiba, Adipati Wirasaba pertama, yaitu Raden Paguwan bersiap mengirimkan upetinya. Tidak lupa diajak serta anaknya, Raden Urang, untuk ke Majapahit.

Ada kepentingan apakah Raden Urang diajak menemui raja Majapahit?

Silahkan baca tulis terjemahan saya atas naskah “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan” di bawah ini.

Sengaja tidak saya sertakan naskah asli dalam bahasa Jawanya. Agar pembaca lebih bisa menikmati Babad Banyumas sebagai buku bacaan.

Selamat membaca.

Kadipaten Wirasaba

Makam para adipati Wirasaba setelah dipugar oleh pihak AURI. Bersamaan dengan dibangunnya bandar udara Jenderal Soedirman yang terletak di desa Wirasaba. Makam yang sebelumnya sederhana kemudian dibangun megah dengan pendapa besar serta nisan dari marmer. Letak makam berada tepat di sebelah timur bandara.

Adalah Kadipaten Wirasaba yang merupakan bawahan kerajaan Majapahit. Adipatinya bernama Raden Paguwan

Dikisahkan kala itu, bulan Sapar waktunya, Adipati Paguwan bermaksud hendak menghadap ke Majapahit mengirimkan upeti.

Semua pengawal dan pengiring sudah siap siaga. Ki Paguwan sudah berangkat. Tidak diceritakan lama perjalanannya, sampailah mereka di Majapahit, kemudian lapor pada sang patih. Lalu diundang masuk istana, duduk menghadap raja.

Ki Paguwan berkata sopan, “Ki Patih, tolong sampaikan penghormatan hamba pada sang raja. Juga upeti saya tolong berikan, seluruh hasil bumi Wirasaba. Karena saya sudah tua, kalau sang raja mengijinkan saya mengajukan anak saya, Raden Urang untuk menggantikan bertakhta di Wirasaba. Saya ingin turun takhta.”

Ki Patih kemudian berkata,”Silahkan Ki Adipati menghadap sang baginda, dan Raden Urang diajak serta.”

Setelah masuk istana, menghadap di balairung, Sang raja menerima salamnya.

Patih menyampaikan sembahnya, “Paduka hamba menyampaikan kabar, abdi Paduka Adipati Paguwan dari Wirasaba memberikan upetinya, hasil bumi dari Wirasaba.”

Sang raja dengan penuh wibawa menjawab, “Baiklah, sudah saya terima tanda kesetiaan Paguwan.”

Sang Patih kembali berkata, ”Adipati Paguwan mengajak putranya, bernama Raden Urang, untuk menggatikan kedudukannya karena sang adipati sudah tua.”

Raja kemudian berkata, “Baiklah, saya terima keinginannya. Saya kabulkan permohonannya. Nanti kamu saya angkat menjadi adipati bergelar Adipati Kaurang bertakhta di Wirasaba.”

Raden Urang mengucap terima kasih, menyembah pada sang raja.

Setelah diusap ubun-ubun kepalanya sebagai tanda pengangkatan, Raden Urang mundur menyembah.

Setelah menghadap sang raja, Ki Paguwan pamit pulang ke Wirasaba bersama Adipati Kaurang.

Mereka keluar bersama-sama, berpamitan pada sang patih dan singgah sebentar ke kediamannya.

Tidak diceritakan lamanya perjalanan, Ki Paguwan sudah sampai di Wirasaba. Seluruh keluarga senang semuanya. Bahagia menyambut kedatangannya.

Tidak lama setelah itu, seluruh saudara-saudara keluarga besar dikumpulkan, laki dan perempuan tak terhitung jumlahnya.

Ki Paguwan kemudian berkata, “Wahai seluruh saudara saya, seluruh keluarga besar saya. Saksikanlah oleh kalian semua, bahwa anak saya yang bernama Raden Urang, atas perintah dari Sang Prabu Brawijaya telah diangkat menjadi adipati di Wirasaba. Gelarnya adalah Adipati Kaurang.”

Semua serempak menjawab setuju. Semua senang mendengarnya. Kemudian digelarkan perayaan semalam suntuk lamanya.

Rakyat Wirasaba menyambutnya, menaati penuh penghormatan.

Kategori:Mertadiredjan
SEUWISE

Urutan Adipati Wirasaba Menurut Babad Banyumas Mertadiredjan

“Serat Babad Banyumas” menceritakan tentang keberadaan sebuah kadipaten bernama Wirasaba. Dengan pendirinya bernama Raden Paguwan yang kemudian bergelar Adipati Wira Hudaya. Karena usia tua, Adipati pertama Wirasaba itu kemudian mengundurkan diri. Kedudukannya digantikan oleh anaknya, Raden Urang. Raja Majapahit memberinya…
WACA
SEDURUNGE

Prabu Brawijaya Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan keturunan Raja Pajajaran, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang keturunan Raja Majapahit. Bermula dari Raja Pajajaran yang mempunyai anak bernama Jaka Suruh, yang kemudian menjadi Raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya. Dikisahkan, Prabu Brawijaya mempunyai anak bernama Raden Brakumara.…
WACA
LIYANE

Adipati Mrapat

Sebagai Adipati Wirasaba, Raden Jaka Kaiman bergelar Adipati Warga Utama II. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat. Karena dengan berbesar hati telah membagi empat (mara papat) wilayah Wirasaba. Keberaniannya dalam mengambil keputusan di saat yang sulit serta niat…
WACA
LIYANE

Pohon Tembaga dalam Plesiran Babad Banyumas

Petunjuk utama adalah pohon Tembaga. Petunjuk tentang tempat di mana Adipati Mrapat harus mendirikan ibu kota Kabupaten Banyumas. “Yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba, sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan

“Serat Babad Banyumas Wirjaatmadjan” adalah salah satu naskah Babad Banyumas. Disebut “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” karena ditulis oleh Raden Wirjaatmadja, Patih Purwokerto. Penulisannya berdasar perintah Asisten Residen Purwokerto, Wolff van Westerode, pada tanggal 25 Oktober 1898. Namun, dalam perkembangannya, pada bulan…
WACA
LIYANE

Bale Pustaka, Tempat Tepat Bahas Babad Banyumas

Setelah mendapatkan buku Babad Banyumas, baik yang versi tembang (puisi) maupun versi gancaran (prosa), saya kemudian terpikir menerjemahkannya. Babad Banyumas ditulis dalam huruf Jawa, sementara generasi muda sekarang sudah tidak bisa baca aksara Jawa. Bahkan mereka pun sudah kurang akrab…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.