Buku adalah Ibuku yang Kedua, dan Ibuku adalah Buku yang Selalu Terbuka

October 28, 2026 ·

Hari ini, aku benar-benar menganggap buku seperti ibuku sendiri.

Ibuku, adalah perempuan yang telah melahirkanku. Yang telah mengeluarkan dari kegelapgulitaan rahim menuju keterang benderangan dunia. Yang mengajari mengenal bermacam nama benda dengan kasih sayangnya yang tulus. Yang tanpa lelah mendidik mata pelajaran kehidupan dengan telaten dan penuh kesabaran tak terukur.

Demikian pula buku bagiku.

Dari bukulah aku melihat kehidupan yang lebih cerah ceria, dibandingkan teman-teman sebayaku yang hanya asyik dalam bermacam permainan. Aku merasa lebih mengenal luasnya bentangan dunia dibanding teman-temanku yang hanya bermain gobak sodor di pelataran rumah. Aku merasa lebih melihat luasnya hamparan wawasan dibandingkan teman-temanku yang hanya suka bermain petak umpet di malam bulan purnama.

Buku adalah teman bermain. Sekaligus taman bermain yang tak ada bandingan bagiku.

Dengan buku aku menikmati kehidupan yang lebih bermakna dan sangat tidak biasa. Dengan buku aku menemukan beragam kebahagiaan di tengah himpitan keterbatasan. Kemepetan kemampuan perekonomian keluarga dan kehidupan sekelilingku yang membuat buku bacaan menjadi barang terlarang dan kemewahan.

Maka sungguh, aku berbahagia sekali karena sejak kecil telah akrab dan bersahabat dengan buku.

Aku bersyukur punya ibu, yang telah mengajariku mengenal bermacam aksara hingga mahir membaca kata-kata. Hingga sejak kecil aku merasa hidupku memang telah dibuai kata-kata dan kalimat-kalimat yang memikat

Aku bangga pada ibu, yang meskipun hanya lulusan SD, namun mampu mengajariku membaca buku-buku Modul Kejar Paket A. Dengan telaten dan sabar mengajari membaca tiap malam, di bawah lampu minyak tanah yang samar-samar cahayanya. Dengan bimbingannyalah aku bisa lancar membaca di kelas 1, melebihi kemampuan teman-teman sekelasku.

Aku takzim pada ibu, yang tak melarangku gemar membaca, meskipun dilingkupi pandangan masyarakat yang kaku. Tanpa dukungan ibu yang membiarkanku membaca di tiap kesempatan yang kusuka, mungkin aku tak mampu menjadi orang yang mengenal dunia. Mengenal wawasan dengan lebih luas daripada dunia yang dipahami ayahku.

Aku hormat pada ibu, yang kemudian mendukungku dengan memberikan bahan-bahan bacaan dari koran-koran bekas yang dibelinya di pasar. Dari koran-koran bekas yang mestinya menjadi pembungkus nasi itu, aku jadi mengetahui perkembangan dunia, yang tak bisa kudapatkan dari radio ataupun televisi yang tidak kami miliki.

Aku berterima kasih pada ibu, yang mengijinkan sampah bungkus-bungkus tempe dan sayurannya aku kumpulkan. Kucari sobekan-sobekan koran dan kubaca dengan sepenuh kenikmatan. Sobekan-sobekan bungkus tempe aku gabung-gabungkan menjadi selembar koran yang utuh kembali. Dan kudapatkan bermacam ilmu di sana.

Aku berbahagia pada ibu, yang mengijinkan aku bekerja di dunia buku, dunia yang aku sukai. Ibuku merelakan ketika ijazah STMku yang telah menghilangkan empat tempat tanah miliknya itu, tak pernah kugunakan untuk mencari kerja yang sesuai dengan pendidikanku.

Ibuku adalah buku yang selalu terbuka. Tempat aku belajar segala keikhlasan.

Kategori:Profil
SEUWISE

Mengenang Ketika Disidang dengan Kasus ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’

Buku bacaan di kampungku waktu itu, seperti musuh bagi orang tua. Bagi mereka, seperti obat terlarang yang melenakan dan membahayakan anak-anaknya. Sesuatu yang mereka anggap akan membuat anak-anak menjadi malas bekerja membantu orang tua. Apalagi buku bacaan berbentuk komik. Betul-betul…
WACA
SEDURUNGE

Dengan Buku, Aku ingin Menjadi ‘Ibu’ bagi Anakku

Ibuku yang pertama kali mengenalkanku pada buku. Ibuku yang mengenalkanku pada Modul Kejar Paket A yang sangat berjasa itu. Yang sampai hari ini kusimpan sebagai benda yang bersejarah bagi proses pembelajaranku. Yang akan kuceritakan pada anak-anakku, meski mereka mungkin hanya…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Pertama

Waktu itu saya mau menggelar acara pelatihan guru ngaji. Sebuah acara rutin dari Bale Cahaya, lembaga pembelajaran quran yang saya dirikan bersama Bale Pustaka. Biar tidak repot mikir menyiapkan makan, kami cari rumah makan sebagai tempat pelatihan. Akhirnya ditentukanlah tempatnya.…
WACA
LIYANE

Ada Apa Di Dalam Babad Banyumas?

Sebagaimana layaknya babad, dalam Babad Banyumas tentu ada kisah, ada cerita, ada peristiwa. Babad adalah buku sejarah tradisional. Namun, dari cerita di dalam babad-lah kisah sejarah menjadi menyebar di tengah masyarakat. Tersebar luas menjadi cerita tutur rakyat. Membumi menjadi kisah…
WACA
LIYANE

Pagi Ini adalah Pagi yang Baru, dan Aku Ingin Menjadi Aku yang Baru, pada Pagi Ini

“Tataplah diri di depan cermin. Berdirilah dengan tenang dan benar-benar melihat. Pertama menggunakan mata kiri, kemudian ganti dengan mata yang kanan. Bisikanlah pertanyaan, ‘Siapa aku ini?’ Lagi. Dan lagi. Kemudian buka kedua mata sekaligus, yang kiri dan yang kanan. Maka…
WACA
LIYANE

Bukan Cerita dari Negeri Dongeng!

Pada waktu kelas 3 SD, kami kedatangan murid baru. Anak baru itu pindahan dari Ambon. Ayahnya yang tentara pindah dinas di Purwokerto. Atau tepatnya pulang kampung, setelah bertahun-tahun bertugas di Ambon. Karena orang tuanya sebenarnya kelahiran Purwokerto. Ayahnya asli kampung…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.