Mengenang Rawa Tembelang dalam Plesiran Babad Banyumas

February 28, 2022 ·

Peta kota Banyumas yang dibuat pada jaman Belanda. Dalam peta tersebut, tergambar bekas rawa Tembelang sudah menjadi pemukiman bernama Dusun Tembelang yang berada di sebelah selatan alun-alun.

Ibu kota Banyumas baru yang dibangun Tumenggung Yudanegara II berada pada sebuah situs lama peninggalan Kabupaten Selarong. Konon tempat itu pada jaman dulunya adalah sebuah puncak dari gunung purba di bawah laut. Setelah tidak aktif lagi kemudian mengeluarkan mata air legendaris yang menjadi awal mula munculnya nama Banyumas. Peninggalan bersejarah tersebut sampai sekarang disebut sebagai Sumur Mas.

Babad Banyumas Wirjaatmadjan menyebut tempat tersebut dengan nama Geger Duren, sebuah ladang padi gunung. Wilayah perbukitan yang dilingkari oleh Sungai Serayu di sebelah timur dan utara. Sementara di sebelah selatan terdapat rawa Tembelang yang luas dan berlumpur. Kota Banyumas yang baru merupakan sebuah perbukitan yang terkurung air.

Agar pemandangan depan kabupaten tidak terhalang genangan air yang kumuh, Bupati Banyumas Yudanegara II membuat saluran pembuangan. Sang bupati merancang penggalian jalur untuk membuang air dari rawa Tembelang ke Sungai Serayu. Tujuannya agar rawa menjadi kering hingga bisa menjadi daratan.

Jalur air yang dibuat itu terletak tepat di tengah antara kota Banyumas lama dan Banyumas baru. Membujur dari utara ke selatan menjadi sebuah sungai buatan. Memotong aliran Sungai Banyumas hingga menyebabkan sungai bersejarah tersebut menjadi sungai mati. Karena setelah terpotong, Sungai Banyumas tidak bisa mengalir lagi ke barat, ke tempat pertemuan dengan Sungai Pasinggangan di kawasan Banyumas lama.

Kali Gawe menjadi sungai baru di sebelah barat kota Banyumas. Mengalir dari selatan menuju ke utara, bertemu dengan Sungai Serayu yang mengalir melingkari dari arah timur ke utara.

Pembangunan saluran air tersebut berhasil mengeringkan rawa berlumpur menjadi daratan baru. Genangan lumpur itu kemudian menjadi persawahan yang membentang luas di selatan alun-alun Banyumas. Sekarang sudah menjadi kawasan pemukiman, pendidikan, perdagangan, dan perkantoran di sepanjang desa Kedunguter sampai desa Pasinggangan.

Orang sekarang tak pernah membayangkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan rawa yang besar dan luas.

Dalam cerita tutur, pada waktu Adipati Mrapat hendak mencari letak pohon Tembaga ia pun harus menyusuri tepian rawa tersebut.

Konon, dari Wirasaba rombongan sang adipati yang menggunakan perahu mendarat di Kedunguter, pada sebuah lubuk yang terdapat pusaran airnya. Mereka kemudian menepi ke daratan, membangun pesanggrahan peristirahatan di tepian sungai Serayu. Tempat tersebut sampai sekarang dikenal sebagai dusun Pesanggrahan.

Dari Pesanggrahan, Adipati Mrapat menyisir tepian rawa ke arah barat, sampai bertemu dengan Sungai Banyumas. Kemudian mengikuti aliran Sungai Banyumas ke barat, hingga bertemulah dengan Sungai Pasingganan dari arah barat. Tepat di sebelah selatan sungai berdirilah pohon Tembaga yang menjadi petunjuk utamanya.

Rawa Tembelang merupakan rawa yang luas karena menjadi muara dari tiga sungai yang mengalir dari selatan. Dari arah pegunungan di Kejawar mengalir Sungai Gajahendra. Dari arah pegunungan Kedung Gede mengalir Sungai Abang dan Sungai Salak. Hingga rawa pun menjadi sebuah danau besar tempat penampungan air agar wilayah Geger Duren tidak banjir.

Namun dengan keberadaan ibukota yang menghadap ke arah rawa kumuh berlumpur bukanlah pemandangan yang indah. Maka keberhasilan Yudanegara II mengeringkan rawa Tembelang merupakan sebuah kerja besar yang layak dikenang. Hingga kota Banyumas sekarang tidak lagi terkurung oleh air.

Bekas pembangunan sungai tersebut masih ada jejaknya sampai sekarang. Orang menyebutnya dengan nama Kaligawe. Maksudnya adalah sebuah sungai yang dibuat, atau kali yang di-gawe.

Aliran sungai Kali Gawe sekarang dilihat dari jembatan Kali Gawe sebelah utara. Konon dulunya dari jembatan Kali Gawe sebelah selatan mengalir lurus ke utara. Namun karena gerakan air, sungai kemudian berkelok seperti dalam foto.

Pembangunan Kaligawe tersebut juga tercatat dalam Babad Banyumas Wirjaatmadjan.

Antawis sataun saking pindahing kita mangetan, Raden Tumenggung karsa nusuk rawa Tembelang kapernah sakidul kita, kasusuk mangilen lajeng mangaler wonten saantawisipun kita lami lan kita enggal. Sasampunipun susukan wau dados pasiten rawa sarta embel sakidul nagari sami dados pasabinan sadaya, mila sapriki susukan wau katelahing nama Kaligawe.”

“Setahun setelah menempati kadipaten yang baru, Tumenggung Yudanegara II berusaha membuat terusan untuk mengalirkan air dari Rawa Tembelang yang berada di sebelah selatan ibu kota. Air rawa dialirkan ke arah barat, kemudian dibelokkan ke arah utara, melewati jalur tengah antara kabupaten lama dan kabupaten baru, kemudian bermuara di Sungai Serayu. Bekas rawa yang sudah dikeringkan itu kemudian menjadi lahan persawahan yang subur. Sampai sekarang terusan itu dikenal dengan nama Kaligawe.”

Rawa Tembelang sekarang sudah tidak ada, bekas persawahan pun sudah tidak ada, sudah menjadi dusun bernama Tembelang, namun jalur Kaligawe masih ada. Bahkan menjadi sungai besar sebagai anak dari sungai Serayu.

Penanda nama Kali Gawe pada pilar jembatan Kali Gawe yang dibangun Dinas Bina Marga.

Kaligawe adalah sebuah pengingat sejarah tentang karya seorang pemimpin yang berpikir jauh ke depan. Menggali sungai baru untuk mengeringkan rawa-rawa berlumpur, hingga mampu mengubah Banyumas menjadi kota hunian yang menawan.

Kategori:Plesiran
SEUWISE

Pertemuan Dua Sungai dalam Plesiran Babad Banyumas

“Kacariyos Ki Dipati Mrapat boten kersa dedalem ing Wirasaba. Kersanipun bade dedalem ing pasiten telatah dusun Kejawar. Wonten ing pinggiripun kidul lepen Serayu, kaprenah saeler kilenipun dusun Kejawar. Kaleres wetanipun celak kaliyan tempuripun lepen Pasingganan lan lepen Serayu.” “Dikisahkan Adipati…
WACA
SEDURUNGE

Sungai Yang Hilang dalam Plesiran Babad Banyumas

Sudah lama Sungai Banyumas hilang. Hilang secara fisik, tidak ada lagi bekasnya. Hilang secara ingatan, sudah banyak yang melupakan. Padahal, keistimewaan kota Banyumas karena keberadaan sungai itu. Sejarah kota Banyumas berbeda dengan kota yang lain. Biasanya nama kota berasal dari…
WACA
LIYANE

22 Buku Untuk 22-2-22

Dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Banyumas yang ke 451, pada bulan Februari 2022 ini, budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun, akan meluncurkan 22 buku Serial Bacaan Babad Banyumas. Sebelumnya, pada tahun 2021, NasSirun juga sudah meluncurkan 9 buku Serial Rujukan Babad…
WACA
LIYANE

Kisah Sejarah Babad Banyumas

Membaca buku ini seperti melihat langsung peristiwa sejarah yang terjadi di wilayah Banyumas. Pembaca mendapatkan pengetahuan sejarah yang terjadi di wilayah Banyumas secara lengkap, sejak berdiri hingga menjelang Indonesia merdeka. Berikut pergolakan yang terjadi, mulai dari Perang Mangkubumi yang mengharumkan…
WACA
LIYANE

Kesaktian Raden Katuhu dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang siapa sosok Raden Baribin, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang anak-anaknya. Bahwa dari pernikahannya dengan adik raja Pajajaran Prabu Silih Wangi yang bernama Ratna Pamekas, Raden Baribin mempunyai empat orang anak. Anak yang pertama bernama Raden Katuhu.…
WACA
LIYANE

Yang Menarik dari Babad Banyumas Wirjaatmadjan

Seperti melanjutkan “Babad Banyumas Mertadiredjan”, buku “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” lebih banyak mengisahkan sejarah Banyumas pada jaman penjajahan Kolonial Belanda dan Inggris. Selain menceritakan Kabupaten Banyumas juga menuturkan peristiwa yang terjadi di seluruh Karesidenan Banyumas, yakni Kabupaten Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Banjarnegara,…
WACA

KOMENTAR

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.