Rinai Rindu

October 28, 2026 ·

“Aku mau mati!”

Dan aku hanya tertawa menanggapi, “Mau apa ingin?”

Tapi kamu menjawab pasti,  “Mau mati.”

“Mau dan ingin itu beda, lho….”

“Mau mati,” sekali lagi ucapmu mantap. Sepenuh hati.

Sebagai orang yang sama sekali tak mengenalmu, aku pun mendukung rencana itu. Sepenuh hatiku, setulus jiwaku, kusampaikan dukunganku padamu.

“Tapi kayaknya lebih baik disegerakan saja. Karena makhluk paling menyebalkan di dunia tak pernah ada dua.”

Dan kamu pun akhirnya mati. Benar-benar mati. Namanya tiada lagi. Dan mungkin aku salah satu orang yang kau pamiti. Justru setelah kau benar-benar mati.

Maka malam ini, sekadar untuk menyebut namamu, aku kenangkan sebuah puisi. Larik kata yang paling lama yang pernah kau ucapkan. Dibandingkan sepuluh puisi yang kau cipta dalam sebulan silam.

“Kita berbicara tentang kebahagiaan!”

Aku pun sepakat, dan kudengarkan bisikmu yang selalu tanpa suara. Tapi bisa terbaca. Bisa tereja. Bisa termakna. Bahasa jiwa, selalu bisa didengarkan oleh jiwa. Bukan dengan telinga. Sekali lagi, bukan dengan telinga.

“Berbisik angin gelisah pada kelam malam

Ketika petir mendesir ceritakan kisah

Tentang gelegar rindu yang telah lalu”

“Katanya tentang kebahagiaan. Kok malah kerinduan?” aku mencoba bertanya. Meski ‘petir mendesir’ itu langsung kusuka.

“Sudah. Dengarkan dulu. Ini rindu serindu-rindunya. Dan bukan kisah cengeng remaja!”

Sebagai orang yang mengenalmu sebagai si kepala granit, aku pun terdiam. Dan mendengarkan.

“Tiada lagi rintik penantian pada gerimis pagi

bila rinai penentuan telah menderas di hati

bahagia jiwa membasah tanpa jeda”

Dan aku langsung tertawa mendengar ‘bahagia membasah tanpa jeda’. Namun sekali lagi aku suka. Bahkan aku pun sepakat. Tanpa sepatah pun menyela, aku mantap menganggukkan kepala. Penentuan dan penantian yang berakhir bahagia, adalah puncak kerinduan terindah.

Aku kembali bisa meraba. Pasti karena kau masih teringat pohon pisang di dekat jendela. Ketika daunnya koyak diterjang angin utara. Pada kembang sepatu di halaman depan, yang turut berduka dalam tiupan. Kau masih terkenang pada gumam lirih dari daun-daun sirih. Tentang penantian dan penentuan yang berakhir sedih.

Tapi demi menghormati rasamu, menghargai bisik jiwamu, tak kuucapkan semua kataku. Aku hanya membatin saja. Kita sudah sepakat tak perlu membuka luka lama. Membuka segala kisah yang pernah menggelisah. Tutup sudah!

Dan ternyata, seperti kau mendengar kata dalam hatiku, apa yang kau ucapkan sama dengan apa yang sedang kurasakan. Apa yang sedang ingin kukatakan, sama dengan apa yang kemudian kautuliskan.

“Biarlah segala yang pernah mengesah

lenyap bersama senyap hujan membasuh tanah

biarlah segala yang pernah mengisah

kering seiring rebak aroma tanah basah.”

Saat itu hujan yang kaurindukan datang memenuhi janjinya. Ada petir yang tak lagi menggelegar, tapi hanya mendesir. Ada senyap hujan membasuh tanah yang harumnya menusuk penciuman. Sesuatu yang paling kau suka.

Dan entah kenapa, lagi-lagi aku sepakat tanpa banyak bertanya. Kita biarkan segala yang pernah mengisah, kering seiring rebak aroma tanah basah. Menguaplah sudah.

Maka inilah akhir perbincangan itu. Ketika kita sama-sama yakin telah membasuh jiwa dengan rinai rindu yang paling purna. Ketika kita juga sepakat yakin tak ada gelisah pada sesuatu yang tak perlu ada.

Kita cukupkan semua cerita. Kita tutup semua berita. Dan bukan derita. Hanya kisah. Bukan kesah. Sedikit kasih.

“Cukuplah cahaya cinta itu adalah engkau

jawaban rindu yang mampu memupus ragu

bak mentari hangatkan gigil kalbuku.”

Dan aku tak lagi bertanya tentang apa pun itu.

Hanya aku kembali setuju. Inilah jawaban rindu tanpa ragu.

“Kebahagiaan, bukan?” tanyamu.

Kategori:Profil
SEUWISE

 In Memoriam si Dul

Namanya Dal. Tapi kami sudal deal memanggilnya Dul. Kepalanya dari batu granit. Keras bukan main. Kalau dijitak bunyi ‘thing’. Konon karena ada isinya. “Think!”, katanya. Kami sama-sama tak suka tertawa, tapi sangat keranjingan membaca. Membaca apa saja. Dan apa yang…
WACA
SEDURUNGE

Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak. Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga,…
WACA
LIYANE

Sebuah Kubur di Sebelah Ruang Tamu

“Yang benar mana, Solo apa Surakarta?” Begitu dulu aku selalu bertanya, tiap akan menuliskan alamat lengkap untuk kepentingan biodata. Apakah menggunakan nama kota Solo, ataukah Surakarta. Dan setiap ditanya alamat baruku itu, aku selalu bingung dibuatnya. Karena orang se Indonesia…
WACA
LIYANE

Nassirun Purwokartun: Merawat Babad Banyumas Lewat Cerita untuk Generasi Muda

Di tengah gencarnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca generasi muda terhadap naskah kuno, Nassirun Purwokartun tampil sebagai sosok yang menempuh jalan berbeda dalam melestarikan Babad Banyumas. Berbeda dari para akademisi dan kolektor naskah, Nassirun memilih jalur menerjemahkan dan menyederhanakan…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan

“Serat Babad Banyumas Wirjaatmadjan” adalah salah satu naskah Babad Banyumas. Disebut “Babad Banyumas Wirjaatmadjan” karena ditulis oleh Raden Wirjaatmadja, Patih Purwokerto. Penulisannya berdasar perintah Asisten Residen Purwokerto, Wolff van Westerode, pada tanggal 25 Oktober 1898. Namun, dalam perkembangannya, pada bulan…
WACA
LIYANE

Bahas Babad

  Serial Dongeng Babad Banyumas untuk Mahasiswa      
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.