Aku Pernah Mengobati Hati, Dengan Cara Mencaci Maki

October 13, 2026 ·

SAKIT HATI KARENA LIDAH, SEMBUHKANLAH JUGA DENGAN LIDAH!

Pengalaman ini kutuliskan, tanpa dimaksudkan untuk ditirukan. Tapi sekadar ingin jujur mengakui, bahwa aku bukanlah orang baik yang selalu bisa bersabar.

Seorang ahli  berkata, kita menambah dan mengurangi begitu banyak kata-kata yang perlu kita katakan, karena ingin berperilaku baik. Atau paling tidak, ingin dianggap baik oleh orang lain. Tapi mencoba untuk baik setiap saat justru bisa menyakiti diri.

Begitu yang pernah kubaca. Dan mendadak menjadi sebuah kebenaran yang menggoda. Karena tiba-tiba aku merasakan hal yang sama. Yakni, ketika mencoba baik setiap saat, aku justru merasa sakit luar biasa. Sakit hati, tentunya. Yakni ketika mencoba mengalah. Hingga terus kalah. Bahkan terus menerus dikalahkan. Kemudian disalahkan!

Mungkin karena aku yang belum khatam mengeja ilmu ‘ikhlash’. Hingga sakitlah yang lebih kurasakan. Tak ada lain, selain luka dan juga kecewa. Maka hati pun seperti selalu dipanggang bara api amarah yang berasal dari arang berang dan taburan sekam geram.

Aku marah. Tapi kemarahan itu hanya bisa kutahan. Disimpan dalam hati, hingga menumpuk dan terus menimbun batin. Terus menerus ditahan, agar tidak meledak. Namun lama kelamaan, tak tahan juga. Akhirnya memuncak. Bukan kemarahannya yang meledak dan terlampiaskan. Tapi hatiku yang kemudian hangus hancur berantakan.

Aku pun berang. Meradang. Mencoba senantiasa berlagak jawara, menerima ketidakadilan dengan dada terbuka. Mencoba semua bentuk penghinaan dengan keluasan dada. Namun lama-lama tak tahan juga. Aku berontak. Berteriak.. Tapi hanya umpatan yang keluar dalam hati, dan tak berani terlontar ucapan. Mengendap dan menggumpal di jiwa. Mencipta karang yang runcing tajam menoreh luka. Bukan luka pada hati orang lain. Tapi pada hatiku sendiri. Membuatnya berdarah-darah, luka parah.

Aku juga geram. Kegeraman yang mengendap berbulan-bulan. Setelah api kemarahan menggosongkan jiwa, dan karang meradang yang terus melukai perasaan. Aku tak sanggup memeram geram yang tertahan. Menahan berang yang meradang. Menahan amarah yang terus membara. Hatiku pun hangus menghitam. Gosong dan menggerosong.

Hatiku sakit. Harus kuobati. Dan yang mampu mengobati, sepertinya hanya diriku sendiri. Tak ada orang lain, yang bisa menyembuhkan. Karena akulah yang merasakan.

Aku mulai mengobatinya, dengan bertanya, “Apa yang merangsang kemarahan?”

Hatiku menjawab sedih, “Cacian! Makian! Dicampakkan! Dibohongi! Dicurangi!”

Aku mengendapkan pertanyaan. Lalu pernyataanlah yang kemudian muncul perlahan, “Semua rasa itu, harus bisa kulepaskan dari dalam hati. Dari dasar luka batin. Dari sudut jiwa yang terdalam.”

Tiba-tiba keinginan pelampiasan pun masuk ke pusaran pertimbangan, “Harus ku ucapkan semua kata yang ingin kukatakan pada mereka yang telah membuatku kalah. Harus mengeluarkannya. Meneriakkannya dengan keras. Dengan kasar!”

Hatiku menyepakati. Harus kulakukan apa yang kuingini. Berteriak. Dan memaki!

Tapi aku bingung. Harus kulakukan di mana? Dan kapan waktunya?

Tak mungkin kulakukan di rumah. Apa jadinya, kalau aku berteriak mencaci lalu didengar tetangga? Mungkin mereka akan berbondong, menganggapku telah mendadak gila. Karena telah hampir 2 bulan, aku malas keluar rumah bertemu mereka. Atau bahkan belum sempat mengumpat, baru pertama teriak, Ummi akan langsung datang menyetrap.

Maka caranya mungkin ketika Ummi sedang tak ada di rumah. Tapi itu juga sama sekali tak mungkin. Karena Ummi selalu berada di rumah. Bukan orang kantoran.

Maka kupilih jalan teraman,  yakni pulang kampung. Ummi pulang ke rumah mertua, aku pulang ke orang tua. Dan sepertinya, beginilah keuntungan punya istri satu kampung.

Alasannya tentu bukan untuk ‘berteriak’, tapi karena ingin menengok orang tua masing-masing. Sekaligus mencoba berkaca pada keiklhasan dan kesahajaan mereka.

Pagi harinya aku berjalan sendiri. Berangkat ke ladangku, yang nun jauh di tengah hutan. Tempat yang aman untuk mengumpat dan memaki tanpa takut diteriaki. Atau sekadar diketahui tetangga dan anak istri. Maka pada lereng bukit itulah kukeluarkan semua yang telah lama terpendam. Geram yang menggeram. Marah yang membuat batinku kalah.

Dan ketika pagi dingin masih penuh embun, aku mulai membakarnya dengan panas amarah sendirian.  Memaki dengan umpatan paling kasar yang pernah kupunya. Umpatan yang sudah sangat lama tertahan, karena tak mungkin dikeluarkan di depan siapa saja.

Namun mendadak di tengah teriakan, hatiku berbisik mengingatkan. Ada ketakutan dalam hati, bahwa apa yang kurasakan selama ini hanyalah subyektivitasku saja.

Namun pertimbangan itu kuabaikan. Hari itu, aku makin mencaci sepuas hati. Dengan makian yang telah tersimpan dan tak pernah bisa disalurkan. Bahkan dengan kata-kata yang seumur hidupku belum pernah kuucapkan. Entah dapat kosa kata dari mana, tiba-tiba kata-kata kasar menghambur dari mulut dan lidahku yang terus bergetar.

Dan sungguh, setelah itu, batinku lega. Aku pun pulang ke rumah. Dan langsung kuambil wudhu untuk shalat dhuha. Saat itu juga kumaafkan mereka, yang telah membuatku luka.

Kemudian baru kusadari, ungkapan kata lama tentang lidah tak bertulang. Karena kemarahanku bermula dari kata-kata yang terlontar dari lidah seseorang. Lidah yang ketika menusuk hati, ternyata bisa lebih tajam dari pedang. Dan itulah yang terjadi pada diriku. Hingga aku tak bisa menahan kesabaran untuk selalu kalah dan disalahkan.

Dan sesungguhnya sakit yang bermula dari lidah, bisa disembuhkan dengan lidah. Karena dengan menggunakan otot lidah secara merata, bisa mengobati kesedihan dan kemarahan.

Kita tahu, lidah adalah otot yang paling kuat dalam tubuh manusia. Tapi tidak seperti 700 otot yang lain, lidah tidak memproduksi asam laktat ketika bekerja terlalu keras. Itu artinya, lidah tidak akan kejang atau luka, ketika digunakan berlebihan. Bahkan ketika aku harus berteriak hampir satu jam lamanya. Sampai suara serak. Hingga badan lemas.

Namun sekarang, aku tak perlu lagi berteriak-teriak di tengah hutan. Tak perlu lagi mengobati hati yang mengeruhkan hati, dengan cara memaki dan mencaci. Tak perlu mengumpat dengan kata-kata kasar, yang hanya akan menambah timbunan dosa ku saja.

Sekarang cukup dengan mengandalkan lidah, tapi caranya berbeda. Menggerakkan lidah dengan banyak-banyak tilawah, atau bahkan dengan menyanyi gembira.

Tinggal pilih mana, yang ingin kunikmati sebagai penyembuh lara.

Bismillah.

Kategori:Profil
SEUWISE

Anakku, Kau Boleh Bangga, Atau Bahkan Kecewa Padaku!

KUKATAKAN YANG SEBENARNYA Sejak kecil, kita dilatih untuk berbohong. Tidak secara langsung, tentunya. Akhirnya kita belajar untuk mengatakan apa yang orang lain ingin dengar, dan kita bersikap sesuai dengan hal itu. Padahal konon, justru dengan mengatakan yang sebenarnya, akan menciptakan…
WACA
SEDURUNGE

Pembicara Alumnus TK Pertiwi, Iklan Kecap Nomor Tiga!

“Lulusan TK Pertiwi. Begitu selalu ditulisnya dalam kolom pendidikan pada curriculum vitae. Saya selalu nyengir saja. Sejak itu setiap kali saya satu forum dengannya, dengan lantang saya perkenalkan bahwa sang penyair adalah lulusan TK Pertiwi. Saya menyampaikan paradoks yang semestinya…
WACA
LIYANE

Buku Serial Anak Babad Banyumas

Saya ingin Babad Banyumas menjadi bacaan masyarakat. Namun, yang lebih penting lagi, saya ingin Babad Banyumas menjadi bacaan generasi muda. Terutama anak-anak sekolah, usia SD sampai dengan SMP. Saya membayangkan, kisah dalam Babad Banyumas menjadi buku bacaan yang ada di…
WACA
LIYANE

Iri Dengki Ki Buwang Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang gelar Marga Utama pada Raden Katuhu, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang halangan yang dihadapinya. Ternyata, jabatan menjadi Adipati Wirasaba membuat iri hati Ki Buwang, adik dari Adipati Paguwan, Adipati Wirasaba. Hingga dengan tipu muslihatnya, Ki Buwang…
WACA
LIYANE

Moto Banyumas

  Serial Dongeng Babad Banyumas untuk Mahasiswa.      
WACA
LIYANE

Bagus Mangun dan Keris Gajahendra dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Raden Bagus Mangun yang mengadi di Kadipaten Wirasaba, Serat Babad Banyumas melanjutkan dengan cerita pernikahannya. Ternyata, Adipati Wirasaba meminta kedua orang tua angkat Bagus Mangun menghadap ke Wirasaba, adalah untuk melamar putrinya. Bagus Mangun akan diambil sebagai…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.