Wong Jawa Ilang Jawane

October 17, 2026 ·

majalah PS edisi mei 1987, yang di dalamnya ada cerita misteri ‘siluman buaya’ itu, kutemukan di gladhag. melengkapi prasasti-prasasti kecilku!

Setajam-tajamnya pisau, kalau lama tak diasah, akan tumpul juga.

Begitu pun dengan pengetahuan. Akan hilang kalau tak pernah digunakan.

Itulah yang kemarin sempat kurasakan. Ketika sedang giat-giatnya membaca bermacam Serat dan Babad. Untuk mendukung penulisan novelku, aku ingin mendalami khazanah sastra Jawa dari sumber aslinya. Bukan yang sudah disalin ke huruf Latin, atau bahkan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Namun ternyata, kitab-kitab kuno dengan aksara Jawa itu bungkam. Karena aku tak bisa membacanya. Huruf ‘ha na ca ra ka’ itu bisu dalam ‘taling tarung wulu suku pepet’ yang tak lagi bisa kueja. Aku benar-benar mati kata. Sudah kucoba mengingat semua hurufnya, namun tetap tak bisa.

Aku betul-betul seperti ungkapan kekhawatiran para pecinta budaya Jawa. Sebagai orang Jawa yang telah kehilangan ke’jawa’annya. Buktinya, aku benar-benar tak lagi bisa membaca aksara Jawa.

Padahal waktu SD dulu, huruf Jawa merupakan hafalan di luar kepala. Sangat lancar membaca, bahkan menuliskannya. Karena sejak kelas 1 sudah diajarkan. Berbarengan dengan pengenalan huruf Latin. Dan kebetulan aku menyukainya, bersamaan dengan kesukaanku pada wayang dan tembang-tembang Jawa.

Kesukaan yang berlanjut hingga kelas 3 SD, ketika aku mulai mengenal majalah berbahasa Jawa. Ketika adik ibu yang menjadi guru di SMP Banyumas, sering membawa pulang Panjebar Semangat dari tempatnya mengajar. Aku sering main ke rumahnya, untuk ikut membaca.

Dari majalah itulah, kemampuan berbahasa Jawaku semakin terasah. Mulai mendalami bahasa Jawa gaya Solo-Jogja, yang oleh orang Banyumas disebut dengan ‘Bahasa Bandhek’. Bahasa yang bermula dari ungkapan para ‘Gandhek’, yang berbeda dengan yang kugunakan sehari-hari, yakni bahasa Banyumasan. Bahasa yang oleh orang Solo-Jogja sering dicemooh dengan sebutan ‘Bahasa Ngapak’.

Majalah Panjebar Semangat pun mulai mewarnai pengetahuanku. Sebagai anak kecil 10 tahun yang menggemari wayang, seperti menemukan wawasan baru. Karena dalam majalah tersebut, terdapat rubrik ‘Pedhalangan’, yang banyak menceritakan kisah-kisah pewayangan. Aku pun menjadi semakin matang memahami lakonnya, sejak Ramayana, Mahabharata, Baratayudha, bahkan hingga Pandhawa Seda.

Dalam majalah itu pula kudapatkan pengetahuan baru yang mengenalkanku pada ‘dunia lain’. Yaitu rubrik yang banyak menceritakan kejadian yang berhubungan dunia para hantu, yang konon merupakan kisah nyata dari penulisnya. Keingintahuanku membuatku tak pernah melewatkannya. Meski setelah membaca, ada ketakutan yang mulai membayang. Nama rubriknya adalah ‘Alaming Lelembut’.

Ada satu kisah yang sangat berkesan. Cerita yang sempat membuatku meninggalkan permainan yang sangat mengasyikkan, yaitu berenang menyeberang sungai Serayu.

Dalam edisi itu diceritakan, bahwa penulis yang tinggal di Brebes  pernah menemukan kejadian tentang buaya siluman. Buaya yang berdiam di kali Pamali, tak jauh dari rumahnya.

Konon, suatu hari ada perempuan cantik yang bertamu ke rumahnya. Perempuan itu meminta minum padanya. Setelah diberi minum air putih, ia pamit pulang. Namun ketika keluar dari rumahnya, berpapasan dengan 3 anak kecil. Ia menyapa 2 diantara 3 anak kecil yang akan bermain di kali Pamali.

Sore harinya terjadi kegemparan, karena 2 anak kecil itu diberitakan tenggelam di kali Pamali. Satu temannya mengatakan, bahwa ketika sedang berenang mereka berebut batang pisang yang hanyut. Dua temannya mengejar menangkap batang pisang di tengah sungai. Ia sendiri menunggu di pinggir.

Dua anak itu kemudian ditemukan telah mati. Dengan tubuh yang tidak utuh lagi. Menurut kepercayaan orang-orang, anak itu dimakan oleh buaya. Buaya siluman yang sebelumnya naik ke darat, dengan menyamar menjadi seorang perempuan. Perempuan yang meminta minum padanya.

Cerita itu sungguh terkenang-kenang dalam bayanganku. Hingga membuatku tak berani lagi berenang di sungai Serayu. Kebetulan saat itu sedang beredar kabar, banyak ternak peliharaan orang di pinggiran sungai Serayu yang hilang. Dicurigai dimakan oleh buaya besar yang mendiami palung dalam, tepat di atas tempat kami biasa bermain di pinggirannya. Beberapa orang, konon pernah melihatnya.

Bahkan karena takut, ketika teman-teman lain pindah ke pinggiran sungai yang lain, aku memilih tidak ikut. Aku benar-benar terpengaruh dengan cerita yang kubaca tersebut. Aku selalu membayangkan sedang melihat jelmaan siluman buaya, setiap kali melihat batang pisang yang terhanyut.

Dan cerita itu terbayang lagi, ketika tak sengaja majalah Panjebar Semangat itu kembali kutemukan. Majalah yang telah kubaca 20an tahun lalu, yang telah kudapatkan lagi di kios loakan. Ketika kulihat kembali judulnya, aku perhatikan gambarnya. Entah mengapa, getar itu masih tersisa.

Selain rubrik ‘Dunia Hantu’ itu, aku pun menyukai rubrik ‘Cangkriman’. Yaitu semacam teka teki yang disampaikan dengan bentuk tembang macapat. Yang masih kuingat adalah sebuah tebakan lucu, yang dinyanyikan dalam tembang Gambuh. Teka-teki sulit, namun ternyata jawabannya sangat mudah.

Beginilah cangkrimannya: “Wonten prabata agung, ajajar kekalih guwanipun, ing jro rungkud midid lesus angebeki , mawi tuk ilining ladhu, yen gora rimbagan miyos.”

Dan tahukah jawabannya? Ya, hidung!

Dan majalah itu sekarang kukoleksi. Semacam prasasti kecil, bahwa bacaan itu telah turut mewarnai masa kecilku. Majalah yang didirikan oleh Dokter Sutomo, sang pendiri Boedi Oetomo yang menjadi tonggak kelahiran Kebangkitan Nasional, diniatkan sebagai media pergerakan. Memasang jargon suci, ‘sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti’. Kalimat sakti serupa mantra, ‘segala keangkaramurkaan kekuasaan di atas dunia, akan hancur oleh sikap tunduk dan kepasrahan pada kekuatan Tuhan.’

Satu lagi kenanganku dalam membaca Panjebar Semangat. Yaitu rubrik ‘Geguritan’. Aku yang sangat menyukai pengucapan Ki Dalang ketika membawakan suluk, membuatku mulai mencintai puisi Jawa.

Ada 2 puisi yang sampai sekarang hafal di luar kepala. Suatu puisi pendek saja, namun dalam maknanya.

Judulnya ‘Epigram Urip’. Begini bunyinya, ‘nandhur pari, durung karuwan ngundhuh pari, apa maneh nandur rawe.’ Artinya, ‘menanam padi saja belum tentu memanen padi, apalagi menanam belukar’. Maknanya, menebar kebaikan saja belum tentu berbuah kebaikan, apalagi menabur kejahatan.

Sementara geguritan satunya justru sangat mengena di hatiku hari-hari ini. Judulnya ‘Epigram Tentrem’. Syairnya singkat, namun padat. ‘Yen katentreman ing panuju, sauren sakabehing utangmu.”

‘Kalau ketentraman hidup yang hendak kau tuju, lunasilah dulu seluruh hutang-hutangmu.’

Adakah kamu, yang mau membantuku?

Kategori:Profil
SEUWISE

Sobekan ‘Koran Doyok’ Pembungkus Nasi

“Kang Nass ini sebenarnya kartunis apa penulis?” Seorang teman pernah bertanya begitu padaku. Dan hanya kujawab dengan senyuman saja, waktu itu. Karena bagiku, yang disebut petani adalah mereka yang pekerjaannya memang bertani. Atau mereka yang mempunyai sawah untuk menanam padi.…
WACA
SEDURUNGE

Ilmu Bekasan dari Kampus Loakan

“Endingnya monoton! Ujung-ujungnya pasar loak!” Tadi malam, seorang teman istimewa mengirimkan komentar ‘istimewa’nya. Dari pertemanan di facebook, dia adalah salah satu teman dari jenis ‘spesies langka’. Selalu membaca statusku, namun tak pernah berkomentar. Kalau pun koment, tidak ditulis di status,…
WACA
LIYANE

Dari Kepangeranan ke Kepatihan

  Serial Plesiran Babad Banyumas, Dari Kepangeranan ke Kepatihan.      
WACA
LIYANE

Mengenang Rawa Tembelang dalam Plesiran Babad Banyumas

Ibu kota Banyumas baru yang dibangun Tumenggung Yudanegara II berada pada sebuah situs lama peninggalan Kabupaten Selarong. Konon tempat itu pada jaman dulunya adalah sebuah puncak dari gunung purba di bawah laut. Setelah tidak aktif lagi kemudian mengeluarkan mata air…
WACA
LIYANE

Prabu Jayabaya dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan keturunan Nabi Adam, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang awal mula manusia di bumi. Bermula dari Raden Manongsa yang turun ke bumi, kemudian turun temurun, sampai lahirlah Raden Parikesit. Dari Parikesit lahirlah Prabu Gendrayana. Nah, dari Prabu Gendrayana…
WACA
LIYANE

Bale Pustaka, Tempat Tepat Bahas Babad Banyumas

Setelah mendapatkan buku Babad Banyumas, baik yang versi tembang (puisi) maupun versi gancaran (prosa), saya kemudian terpikir menerjemahkannya. Babad Banyumas ditulis dalam huruf Jawa, sementara generasi muda sekarang sudah tidak bisa baca aksara Jawa. Bahkan mereka pun sudah kurang akrab…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.