Kupinang Kau dengan Puisi

October 18, 2026 ·

Ummi! kelebihanmu adalah menerima lamaranku, walau tak membaca puisiku!

“aku ingin kau tak jadi aku

seperti aku pun tak ingin jadi kau

kau dan aku tak perlu saling mengaku

aku dan kau telah saling menyatu”

Ya, sekali lagi kukatakan, “Aku ingin kau tak jadi aku.” Karena aku membutuhkan perbedaan itu. Jadi berbanggalah kau dengan ke’engkau’anmu. Tetaplah dengan seluruh apa yang ada pada dirimu. Dengan keramahanmu, keluwesanmu, dan segala yang membuatmu berbeda total denganku.

Sungguh, aku sangat membutuhkan perbedaanmu. Karena aku telah terlanjur menjadi ‘aku’. Yang dingin dan beku. Yang tak bisa hangat dan ramah. Tidak sepertimu. Maka aku tak bisa untuk menjadi sepertimu. Biarlah aku berbahagia dengan segala kekuranganku, kau berbangga dengan kelebihanmu. Berikut seluruh kelebihanku, semua kekuranganmu. Aku tak akan pernah memaksamu menjadi sepertiku. Karena aku membutuhkan ke’engkau’anmu. Kau yang betul-betul berbeda denganku.

Kau tetaplah menjadi engkau, yang mempunyai kemampuan berpikir logis dan sistematis. Aku pun tetap menjadi aku, yang melebihkan perasaan sebagai bekal emosi liris melankolis. Kau tak perlu menjadi aku, introvert yang mencintai kesendirian dalam perenungan yang panjang. Dan aku pun tak harus menjadi kau, ekstrovert yang menikmati hubungan dalam pergaulan dengan banyak orang.

Biarlah semua perbedaan menjadi niatan untuk saling menghargai dan menghormati. Biarlah segala ketidaksamaan menjadi jalan untuk terus menerus saling mengerti dan memahami.

Mungkin seperti yin dan yang atau pun adanya gelap dan terang. Atau bahkan seperti siang dan malam yang sangat nyata segala bedanya. Namun perbedaan itu ada, bukan saling membedakan untuk kemudian mempertentangkan. Sejak dulu aku mencintai perbedaan, karena agar tak ada warna serupa dalam kanvas kehidupan. Justru tinggal disepakati, perbedaan adalah jalan untuk saling mengisi dan melengkapi. Saling sinergi. Karena aku yakin, kau dan aku telah saling menyatukan hati.

Seperti dzikir yang selalu kita baca tiap sore dan pagi, “Ya Allah, Engkau tahu, hati-hati kami telah berpadu, dalam cinta dan taat hanya kepadaMu. Ya Allah, Engkau tahu hati-hati kami telah bersatu, untuk dakwah dan menegakkan syariatMu. Ya Allah, teguhkan hati kami, abadikan cintanya. Tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahyaMu. Ya Allah, lapangkan dada ini, dengan iman dan tawakal. Hidupkan dengan ma’rifah, matikan kami sebagai syuhada. ”

“hanya waktu dan bukan menunggu

akulah panas dari airmu

engkaulah dingin dalam apiku

kau dan aku sering panas dingin

mencair dan membeku”

“Demi Masa,” demikian Allah bersaksi dengan jelasnya, bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian sepanjang waktunya. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Maka aku pun mengamininya, “Hanya waktu, dan bukan menunggu.” Waktu akan membunuh segala kesempatan, ketika kita tak bisa memanfaatkan. Muhammad Iqbal telah mengisyaratkan, “Berhenti tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang akan maju ke depan. Mereka yang menunggu, meski hanya sekilas, pasti tergilas.”

Dan aku tak ingin menunggu. Aku telah memilih untuk maju. Bahkan dengan segala kekuranganku. Dengan langkah pertama, mampu menundukkan waktu. Sekadar untuk melepaskan diri dari barisan orang-orang yang mengalami kerugian. Yang hari ini sama, atau bahkan lebih buruk dari kemarinku. Aku mau kini dan esokku, lebih baik dari kemarin. Maka sekali lagi, hanya waktu, dan bukan menunggu.

Untuk itulah, kita harus bersatu.

Akulah panas yang selalu ada dalam dingin batinmu. Dan engkaulah dingin yang selalu ada dalam panas jiwaku. Keluasan dan kedalaman samudera kesabaranmu, menjadi muara sungai ketergesaanku. Namun aku sadar, proses saling memertemukan pemahaman kadang membutuhkan gesekan. Mencoba menggembalakan ego yang seringkali harus membuat otak dan hati panas dingin, saling menahan emosi.

“aku di sini kau di situ

mari berpadu, mari berpacu

menata laku meniti liku

mencari sebenar Pintu

kau atau aku

kan sampai lebih dulu”

Aku di sini dengan jiwa kesenimananku yang acak abstrak tak terpeta. Dan kau di situ dengan logika berpikirmu yang lurus dan tertata. Aku berpijak di duniaku yang kadang maya dan tak teraba. Kau pun tegak di duniamu yang tegar di dada semesta. Dan marilah kita berpadu, dalam semangat yang sama menuju pintu yang senantiasa terbuka, pintu kebahagiaan untuk kita bersama. Pintu gerbang Surga.

Kita berpacu dengan segala potensiku dan juga potensimu. Maksimalkan apa yang telah menjadi kelebihanku, sekecil apa pun itu. Menyempurnakana kekuranganmu, apa juga itu. Kubur rasa mindermu, karena di mataku kekuranganmu tak ada, meski hanya seujung kuku. Dan aku tak pernah meributkan itu.

Tinggal bagaimana kita menata laku jalan kita, untuk meniti liku tanjak jalanNya. Telah kupahami, perbedaan pasti membuahkan ketidaksamaan pandangan. Tapi untuk saling menemukan sebenar kebahagiaan, cukuplah kita agungkan persamaan. Memahami perbedaan, menyepakati persamaan.

Niatan itulah yang membuat kita harus berlomba. Berlomba dalam kebaikan menjadi sebenar-benar diriku, dan sebenar-benar dirimu. Berlomba menjadi sebaik-baik diriku dan sebaik-baik dirimu.

Dan sepertinya kau yang akan sampai lebih dulu. Yakinku, kau lebih segalanya daripada aku.

(Inilah terjemahan bebas dari puisiku yang berjudul ‘Hanya Waktu dan Bukan Menunggu’.

Puisi yang sangat kuhafal di luar kepala, karena kutuliskan sepenuh jiwa. Waktu itu kucipta dengan satu tujuan, untuk melamar calon istriku. Mungkin inilah puisi cinta paling tidak romantis yang pernah ada.

Maka tak heran kalau kemudian lamaran keluargaku diterima olehnya. Tentu aku sangat bahagia, karena kita belum saling kenal sebelumnya. Namun pasti karena ia telah dulu membaca puisiku.

Maka beberapa bulan setelah menikah, aku pun penasaran dan mencoba meminta komentarnya.

Dan jawabannya sungguh membuat hatiku melayang berbahagia, “Ummi kan orangnya nggak suka puisi. Jadi ya sama sekali nggak bisa mengerti kata-kata dan makna dalam puisi Abi.”

Alhamdulillah!

Kategori:Profil
SEUWISE

Bersenang-senang Bersama ‘Senang’

Angka tujuh, konon angka paling laku. Seminggu terdiri dari 7 hari, dari Senin sampai Minggu. Not lagu ada 7 jenis nada, dari do sampai si. Warna pelangi ada 7 macam, mejikuhibiniu dari merah sampai ungu. Kita kenal cerita detektif cilik,…
WACA
SEDURUNGE

Gigi Tua Belajar Mengunyah

Mengunyah merupakan aktivitas yang utama. Sekaligus memuaskan. Kita jarang benar-benar merasakan manisnya makanan, karena tidak meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh menikmatinya. Dengan sepenuh perasaan Dan ini yang sekian lama kuabaikan. Tidak menikmati makanan yang sudah kumakan. Lidah hanya selintas saja merasakannya.…
WACA
LIYANE

Siapa Yang Harus Menerbitkan Babad Banyumas?

“Kalau ada buku yang ingin kamu baca, tapi kamu tidak menemukannya, maka kamulah yang harus menuliskannya.” Begitulah ungkapan yang pernah saya dengar. Begitu pula yang kemudian saya lakukan dengan Babad Banyumas. Karena hampir 5 tahun tidak menemukan buku Babad Banyumas,…
WACA
LIYANE

Merayakan 450 Tahun Banyumas

Untuk memperingati hari jadi KABUPATEN BANYUMAS yang ke-450 tahun pada 22 Pebruari 2021, sebagai putra Banyumas saya ingin turut serta merayakannya. Karena saya penulis, saya merayakannya dengan menulis buku-buku tentang sejarah Banyumas. Saya menerbitkan buku sejumlah 4 + 5 +…
WACA
LIYANE

Bagus Mangun Menjadi Abdi Dalem Wirasaba dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Kadipaten Wirasaba sebagai bawahan Kesultanan Demak, Babad Banyumas kemudian melanjutkan kisah tentang Bagus Mangun. Siapa Bagus Mangun? Ia adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh keluarga bibinya, Nyai Mranggi. Sang bibi menikah dengan pembuat warangka keris, Kyai…
WACA
LIYANE

Festival Babad Banyumas Menjadi Ajang Pelestarian Mata Air Kalimambu

Festival Babad Banyumas 2026, ternyata tak hanya berupa agenda yang bertujuan untuk pelestarian budaya serta sejarah, tapi juga bertujuan untuk pelestarian sumber daya alam. Jadi, pada agenda yang terselenggara selama tiga hari tersebut, sebenarnya semuanya bertemakan kebudayaan. Akan tetapi, esensi…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.