Guru Terbaik Sepanjang Waktu

October 28, 2026 ·

Orang yang ingin pintar bikin roti, harus banyak makan roti.

Resep itu kudapat dari Izzatul Jannah, penulis idolaku . Konon Izzatul Jannah pun bisa menulis cerpen karena waktu kecil banyak membaca cerpen.

Itu pula yang kurasakan. Selama aku kecanduan buku, aku merasa bisa belajar apa saja. Bukan saja belajar menulis seperti yang kucita-citakan sejak kecil.

Ketika aku membaca suatu buku, selain menyelami isi dan mengikat maknanya, aku juga memperhatikan betul ‘fisik buku’ itu. Semacam pemilihan huruf, lay out, ilustrasi, komposisi, dan tak lupa desain covernya. Aku tertarik ingin bisa mendesain sebuah buku yang menarik. Aku pelajari dengan seksama setiap huruf dan garis yang ada. Bahkan setelah sekian banyak melahap buku, aku berani mengatakan pada diri sendiri ‘kalau cuma begini, aku pun bisa’. Bukankah aku juga bisa menggambar kartun dan pernah melay out majalah?

Maka aku pun belajar membuat desain buku. Dari mulai setting isinya, sampai desain covernya. Bahkan kemudian sampai pracetak dan cetaknya.

Sampai sekarang, dari mendesain buku inilah kugantungkan hidupku. Kudirikan sebuah biro desain, untuk melayani permintaan membuat buku. Dari naskah mentah sampai buku jadi adalah kerjaanku sehari-hari.

Semua hanya kupelajari dari buku yang aku baca.

Bidang pekerjaanku sekarang adalah bidang produksi, mengurusi masalah desain dan cetak. Maka bisa dikatakan, aku kerja di bidang yang dari kecil kugeluti. Dari SD yang mulai belajar bikin majalah-majalahan itu. Kemudian dari mengurusi majalah dinding di bangku SMP dan STM dulu.

Semua prosesnya adalah sama. Menata agar menjadi menarik. Bedanya adalah dulu manual, sekarang dengan komputer. Dulu semua kutulis tangan, sekarang dicetak.

Otomatis, karena sudah punya pekerjaan tetap, kebutuhanku beli buku sudah tidak ada kendala lagi. Lumayan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ‘gila bacaku’. Bahkan aku justru lebih mengutamakan beli buku daripada beli baju.

Aku tidak perlu mencuri-curi menjual ayam lagi untuk sekadar beli buku.

Aku bersyukur dengan ketidakmampuanku kuliah, hingga memaksaku demikian cinta dengan buku. Karena aku merasa, aku bisa kerja di penerbitan seperti sekarang ini, adalah karena sejak kecil aku akrab dengan buku. Mungkin kalau tak cinta pada buku, aku masih menjadi tukang cuci kereta, tukang penjaga WC, atau tukang parkir di pasar.

Bersyukur masih ada buku, yang mampu menjadi guru terbaik sepanjang waktu.

Kategori:Profil
SEUWISE

Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak. Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga,…
WACA
SEDURUNGE

Mengenang Ketika Disidang dengan Kasus ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’

Buku bacaan di kampungku waktu itu, seperti musuh bagi orang tua. Bagi mereka, seperti obat terlarang yang melenakan dan membahayakan anak-anaknya. Sesuatu yang mereka anggap akan membuat anak-anak menjadi malas bekerja membantu orang tua. Apalagi buku bacaan berbentuk komik. Betul-betul…
WACA
LIYANE

22 Buku Untuk 22-2-22

Dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Banyumas yang ke 451, pada bulan Februari 2022 ini, budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun, akan meluncurkan 22 buku Serial Bacaan Babad Banyumas. Sebelumnya, pada tahun 2021, NasSirun juga sudah meluncurkan 9 buku Serial Rujukan Babad…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Mertadiredjan Banyumasan

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Ruang Kepala Sekolah yang ‘Angker’

Sejak mengenal buku bacaan, aku seperti keranjingan. Seperti anak yang kecanduan, itu pula yang kurasakan. Setiap hari harus selalu tersedia bahan bacaan untuk dimakan. Ada keasyikan yang seakan tak mungkin tergantikan oleh semua permainan yang kukenal bersama teman-teman. Saking kecanduannya…
WACA
LIYANE

Burung-Burung Benteng Vastenburg

Aku keluar dari kerubutan tukang becak,  ketika kudengar sebuah suara meraung keras. Segera berlari perlahan ke depan gapura Gladhag, mengikuti kerumunan orang-orang yang tiba-tiba berlarian. Kemudian dari arah barat kulihat sebuah kereta api berjalan lambat. Namun lengkingannya sangat keras memekakan…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.