Mengarang Itu Gampang, Tapi Mengerang Lebih Gampang!

October 22, 2026 ·

karena aku mengidolakan, aku pernah berlatih memiripkan seluruh karanganku dengan karangan arswendo. bahkan semuanya. termasuk nyengirnya. kecuali merokoknya!

Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto.

Dan pagi ini aku terkenang kembali ‘mantra’ sakti itu. Karena dari ucapannya aku meyakini, bahwa sesungguhnya dengan mengarang kita telah melakukan yang baik dan berarti. Bahwa mengarang adalah pekerjaan yang mulia. Jauh lebih mulia dari menganggur dan sekadar berangan-angan tanpa menuliskan.

Mengarang itu gampang. Apakah ini tidak salah judul?

Tidak, dan tentunya kamu tidak salah baca. Mengarang itu gampang. Tak ada yang sukar, kalau kita mempunyai minat dan ambisi terus-terusan.

Selain minat dan ambisi yang terus menerus, apa ada syarat lain?

Ada. Yaitu bisa membaca dan menulis. Gampang kan? Kalau kamu sudah mengangguk, berarti harus diperhatikan benar bahwa membaca dan menulis yang baik dan benar itu perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis.

Minat lagi. Apa sebenarnya minat dan ambisi yang tak kunjung habis?

Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta. Terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang kita cintai, dan kita percaya ada sesuatu yang baik yang bakal kita lakukan dengan itu.

Ambisi?

Kalau kamu tidak mengenal putus asa. Mengarang memang tidak sekali jadi. Rasanya tak ada pengarang yang sekali mengarang, dan langsung berhasil.

Minat dan ambisi, okelah. Baca dan menulis, bisalah. Tapi apa dengan itu saja lalu bisa menjadi pengarang?

Kalau sudah mengarang, menghasilkan satu tulisan, apa lagi namanya kalau bukan pengarang?

Memang ada persamaan antara menulis surat dengan mengarang?

Menulis surat dan mengarang sama artinya. Membagikan pengalaman pribadi kepada orang lain. Hanya saja, dalam menulis surat kita membayangkan satu orang yang bakal membaca. Sedang mengarang lebih lagi.

Persamaan dengan buku harian?

Saat mengarang, kita harus jujur dengan diri kita sendiri. Ini yang mau kita tulis. Ini keinginan kita. Dan sekali lagi, adanya kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang baik dan berarti.

Jujurnya bagaimana?

Jujur kok bagaimana. Jujur, ya terus terang, setia kepada yang ingin kita sampaikan. Yang ingin kita tulis.

Jujur, masih sangat segar dalam ingatanku. Baik pemikirannya, atau pun bahasanya. Sebuah pengantar yang luar biasa. Yang mampu menyihir kepercayaanku, bahwa mengarang itu gampang. Dan aku pun menjadi yakin, akan bisa jadi seorang pengarang.

Aku pertama kali tersihir ‘mantra’ itu pada 20 tahun lalu, waktu masih kelas 2 SMP. Ketika dengan bahagia luar biasa bisa menemukannya di kios loak langgananku. Buku ‘Mengarang Itu Gampang’ karya Arswendo Atwowiloto. Sebuah buku panduan kepenulisan yang didasarkan pada pengalaman panjangnya sebagai pengarang.

Dan buku terbitan tahun 1983 itu pun kubaca tuntas. Bahkan kuulang lagi, lebih dari sepuluh kali. Namun  anehnya, tak pernah merasa bosan. Selalu menemukan kesegaran baru pada tiap mengeja katanya. Menemukan pemahaman baru untuk mampu memberi makna tiap paparannya.

Bahasanya sangat membuatku terpikat. Segar. Seperti bercanda, tapi sebenarnya serius. Seperti main-main, tapi maknanya dalam. Panduannya praktis, sangat teknis, hingga mudah dilakukan. Cara penyampaiannya disusun dalam bentuk tanya jawab yang sangat mengasyikkan. Seperti obrolan seorang murid dengan gurunya yang telah akrab sehangat sahabat.

Buku itulah yang kemudian berjasa besar mengajariku menulis secara lebih menarik. Bahkan membuatku merasa yakin, bisa menjadi panduan pasti meraih cita-cita lamaku.

Sebuah cita-cita yang pernah kupancangkan di waktu aku berumur 10 tahun.  Waktu masih kelas 5 SD, dalam Tes Hasil Belajar pelajaran Bahasa Indonesia, pada soal karang mengarang. Ketika teman yang lain sibuk memilih-milih tema ‘Berlibur ke Rumah Nenek’ dan “Cita-citaku’, aku telah menuliskan ‘Menjadi Penulis’ sebagai judul karanganku. Karangan yang paling cepat dikumpulkan, mengalahkan teman sekelasku yang sibuk berangan-angan menjadi insinyur, dokter, polisi, tentara, presiden, pilot, bahkan astronot!

Dari buku kumal itu, aku terangsang betul menjadi penulis. Menjadi jelas pilihannya, setelah waktu SD sempat dibingungkan dengan cita-cita menjadi wartawan ataukah penulis. Menjadi wartawan yang kerjanya menulis berita, atau menjadi penulis yang kerjanya mengarang cerita. Dari buku itu aku mantap menjadi penulis atau pengarang saja. Apalagi katanya, mengarang itu gampang. Bisa dipelajari. Asal bisa baca tulis dan mempunyai bakat.

Bakat. Aha, mendadak aku menemukan definisi kata ‘bakat’ yang berbeda dari yang selama ini aku pahami. Bakat bukanlah kelebihan bawaan lahir, yang melekat dalam diri manusia. Namun minat dan ambisi yang terus menerus dan tak mudah patah.

Merawat bakat adalah dengan memperbanyak latihan. Perlu kedisiplinan agar minat yang sebelumnya menggelegak tidak kunjung habis. Maka setiap hari, kumulai di kelas 5 pula, aku mempunyai buku harian. Sebuah buku tebal bersampul batik dengan gambar burung gelatik. Buku sederhana yang kujadikan diary yang kutulis setiap pulang sekolah, setelah makan siang.

Buku yang sempat kubawa ke sekolah, dan tak sengaja diambil oleh teman sebangkuku. Hingga dibaca ramai-ramai, dan teman sekelas tertawa-tawa dan meledekku. Karena mereka telah membaca tulisan-tulisan yang  berisi perasaan cinta monyetku pada seorang adik kelas. Termasuk surat-surat yang hanya kusimpan karena tak berani kusampaikan padanya.

Sungguh aku sangat malu. Apalagi setelah kejadian itu, banyak teman yang menganggapku cengeng. Menurut mereka, anak laki-laki tak pantas punya diary. Kebiasaan itu hanyalah untuk anak perempuan saja. Namun aku tak peduli. Karena begitulah langkah yang kubaca dalam buku yang sedang kupelajari. Ilmu yang sedang kuyakini, bahwa mengarang itu gampang.

Mengarang itu gampang. Mendadak mantra itu seperti terngiang kembali di telinga. Ketika semalam aku tak sengaja membukanya kembali. Buku bersampul coklat dengan gambar seorang laki-laki dengan rambut gondrong berantakan. Bajunya kusut dengan wajah yang tersenyum lebar. Pada sela- sela giginya terjepit rokok dengan asap mengepul. Duduk di depan meja mesin ketik, yang di bawahnya berserakan buku-buku. Juga kertas kertas bekas ketikan dan beberapa puntung rokok. Wajah yang tak lain adalah karikatur dari Arswendo sendiri. Dan mungkin begitukah yang ingin dikesankannya dari sosok seorang pengarang. Serius, tapi santai!

Setelah sekilas kubaca kembali, buku bekasan yang kudapatkan di tahun 1993 itu masih saja menawarkan kesegaran. Sekaligus tawaran ulang, bahwa mengarang juga melatih kita untuk jujur. Terutama jujur dengan diri kita sendiri.

Maka jujur, setelah menutup buku itu aku pun malu. Karena setelah kucermati biodatanya, buku itu ditulis Arswendo ketika ia berumur tepat seusiaku.

Di saat itu, ia telah sangat terkenal sebagai penulis produktif. Sekaligus wartawan Kompas dan juga redaktur majalah Hai. Dengan naskah-naskahnya yang berkali-kali memenangkan sayembara. Bahkan diundang mengikuti International Writing Program di Iowa, USA. Novel-novelnya laris di pasaran. Juga kumpulan cerpen dan cerita serialnya, semacam Imung , Swara Merah Putih, dan Kiki dan Komplotannya. Bahkan serial ACI yang ditayangkan di TVRI menjadi sinetron yang paling ditunggu pemirsa.

Sedangkan aku sekarang? Pada umurku yang tepat seusia dia, masih saja terbata-bata menulis karangan. Padahal sudah 20 tahun belajar dan pernah meyakini bahwa mengarang itu gampang.

Sepertinya, mengerang memang lebih gampang!

Kategori:Profil
SEUWISE

Pada Suatu Sriban, Pada Suatu Sore di Bulan Ramadhan

Sore hari di bulan ramadhan. Aku bersama anak istri baru pulang jalan-jalan ke Manahan, naik motor berboncengan. Di ujung pertigaan ada seorang anak berusia belasan, dengan dua buah sriban dagangan. Dua buah kursi panjang dari kayu dengan bentuk sederhana yang…
WACA
SEDURUNGE

Clekidhur-clekidhur, Mundur dari Wilayah yang Penuh Clekidur!

Sambil menunggu shubuh, aku duduk di sriban kayu. Kutarik nafas dalam-dalam, menikmati segarnya pagi yang baru. Suasana masih gelap. Hanya langit membentang yang membuat pelataran terlihat remang-remang. Kudengarkan irama simphoni pagi dengan mata terpejam. Menikmati sisa-sisa suara suara malam. Desir…
WACA
LIYANE

Sang Pendekar

  Serial Bacaan Babad Banyumas untuk Siswa SD Kelas 1 - 3.      
WACA
LIYANE

Hartaku Hanya Buku dan Cinta!

Begitu pintu kamar dibuka, maka nampaklah sebuah ranjang kayu tua. Tapi jangan pernah berpikir, bahwa ranjang itu adalah tempat tidurku yang sesungguhnya. Karena sejak dibuatkan kamar pada waktu kelas 5, aku jarang sekali tidur di sana. Apalagi aku tak pernah…
WACA
LIYANE

Lambaian Tangan Yang Menyebabkan Kematian

Kisah tragis Sabtu Pahing di Bale Malang menjadi cerita awal mula ketertarikan saya pada Babad Banyumas. Cerita berdarah itulah yang menjadi sebab berdirinya Banyumas. Dari panggung ketoprak saya pertama mengetahuinya. Dikisahkan Sultan Pajang, Joko Tingkir, meminta pada adipati bawahannya mengirimkan…
WACA
LIYANE

Wirasaba, Awal Mula Banyumas

Serial Bacaan Babad Banyumas untuk anak. Awal mula Kabupaten Banyumas berasal dari sebuah kadipaten bernama Wirasaba. Pendiri Wirasaba adalah Raden Paguwan yang kemudian bergelar Adipati Wira Hudaya. Anak cucunya bergantian menjadi Adipati Wirasaba. Buku cerita ini mengisahkan semua hal itu.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.