Sebuah Kubur di Sebelah Ruang Tamu

October 28, 2026 ·

“Yang benar mana, Solo apa Surakarta?”

Begitu dulu aku selalu bertanya, tiap akan menuliskan alamat lengkap untuk kepentingan biodata. Apakah menggunakan nama kota Solo, ataukah Surakarta.

Dan setiap ditanya alamat baruku itu, aku selalu bingung dibuatnya. Karena orang se Indonesia lebih mengenal kota yang baru kutempati itu dengan nama Solo. Namun ketika aku datang ke kantor pemerintahan kota ini, tidak bisa ketemu nama Solo di sana. Yang terpasang pada semua papan nama kota Solo ini, justru nama Surakarta.

“Jadi yang benar Solo apa Surakarta?”

Lama juga pertanyaan sederhana itu mengganggu, pada awal-awal kedatanganku. Sebuah kota, yang sepanjang perjalanan sebagai kaum kabur kangingan yang hobby berkelana, merupakan kota terlama yang kutempati. Yang karena saking betahnya, tak terasa sudah sepuluh tahun kutinggalkan kampung halamanku sendiri.

Namun sampai dua tahun berada di Solo, penasaran atas pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban. Dan beberapa teman yang kutanya juga tak memberikan jawaban yang memuaskan. Padahal mereka adalah warga asli, yang sejak lahir hingga tua tak pernah berpindah kota. Demikian juga dengan orang tua dan leluhurnya.

Dan aku yang penasaran, terus mencari jawaban. Sebagai sebuah tanda cinta pada kota tempat tinggalku yang baru. Karena konon, ada peribahasa ‘tak kenal maka tak sayang’. Aku pun ingin mengenali kotaku, yang telah membuatku jatuh cinta. Sampai karena sayangnya, menjadikan seperti kampung halamanku yang kedua.

Dan bukti cinta dan sayang itu  adalah dengan ingin mengenali asal-usul namanya. Seperti ketika berkenalan dengan kawan yang baru kita kenal. Setelah saling menyebutkan nama, dalam hati kita mencoba mencari arti dari namanya.

Begitu pun denganku, yang ingin mencari tahu kenapa harus ada Solo dan Surakarta. Mengapa orang lebih mengenal Solo, namun dalam pemerintahan justru nama Surakarta yang digunakan. Lalu apa bedanya Solo dan Surakarta.

Jawaban pertama datang dari sebuah buku yang kemudian aku baca, Babad Solo. Bahwa dikisahkan di sana, kalau kota Solo bermula dari sebutan yang salah dari nama jabatan Bau Soroh. Karena sebutan abdidalem keraton yang mengurusi panambangan di Bengawan Semanggi, yakni Bau Soroh sulit diucapkan para pendatang. Maka untuk memudahkan pengucapan menjadi Bau Solo. Dari salah ucap itulah, sebutan Solo menjadi nama tempat penambangan tersebut berada.

Bengawan Solo dulu bernama Bengawan Semanggi. Yang artinya, sungainya orang Semanggi. Baru setelah daerah itu bernama Solo, sungai besar itu pun disebut sesuai nama daerahnya. Yakni Bengawan Solo, atau sungainya orang Solo. Dan nama itu dipakai sampai sekarang. Sementara nama Semanggi sendiri masih kita temukan menjadi nama sebuah kampung di timur kota Solo, tepat di tepian barat Bengawan Solo.

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa yang berhulu di sekitar Solo. Tepatnya di daerah yang sekarang dikenal sebagai Wonogiri. Mata airnya berasal dari pertemuan dua sungai kecil, yakni Kali Muning dan Kali Tenggar di Desa Jeblogan, Kecamatan Karang Tengah. Alirannya yang melingkar melintasi kota Solo hingga ke arah timur laut, untuk kemudian bermuara di pantai Gresik.

Riwayat Bengawan Solo sebagai jalan air yang merupakan nadi perekonomian pada masa silam, telah tertulis dalam sebuah prasasti peninggalan masa Majapahit. Yakni sebuah fakta sejarah yang dikenal dengan Prasasti Changgu, yang ditemukan di Trowulan.

Prasasti tembaga bertarikh 1280 Saka (7 Juli 1358) yang ditulis atas perintah Hayam Wuruk itu menjelaskan tentang daerah-daerah penambangan di sepanjang sungai Ci Wulayu. Dan panambangan yang berada di Ci Wulayu, adalah panambangan nomor 44 yang berada pada posisi paling hulu. Dan pada jaman Majapahit, Bengawan Solo belum bernama Bengawan Semanggi, melainkan dikenal dengan nama Ci Wulayu.

Terbaca dalam Prasasti Canggu, bahwa pada masa itu seluruh desa yang berada di sepanjang aliran Ci Wulayu dibebaskan menjadi desa yang merdeka. Yang tak harus membayar upeti, karena di desa tersebut menjadi tempat panambangan. Yakni tempat untuk menyeberangkan para penduduk dan pedagang secara cuma-cuma. Penyebarangan yang konon menggunakan perahu, dengan bantuan tambang (tali besar) yang melintang di tengah aliran sungai. Dari kata tambang itulah dikenal menjadi panambangan.

Panambangan yang awalnya hanya menjadi tempat menyeberang, kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai. Bahkan menjadi sumber pemasukan bagi keraton. Maka untuk mengurusi semua itu, diangkat seorang pejabat. Dan di jaman keraton Kartasura, jabatan untuk orang yang mengatur panambangan disebut Bau Soroh.

Pada masa itu, Bau Soroh yang berkuasa atas desa Solo disebut juga dengan panggilan Ki Gede Solo. Dialah juga orang yang kemudian diminta oleh Paku Buwono II untuk membujuk warganya, agar mau pindah dari desa Solo. Karena desa itu akan dibangun keraton baru, sebagai pemindahan keraton Kartasura.

Berkat bantuan Ki Gede Sololah, penduduk dari desa yang telah dipilih oleh Gubernur Jenderal Belanda rela pergi meninggalkan kampungnya. Dengan usaha Ki Gede Solo juga, tanah yang hendak menjadi keraton mendapatkan ganti rugi yang sepadan.

Dengan dibangunnya desa Solo menjadi keraton, maka nama Solo pun berganti menjadi Surakarta. Karena keraton yang dibangun itu bernama keraton Surakarta  Hadiningrat.

Sejak itulah, untuk menuliskan surat perjanjian yang selalu dibuat oleh Raja dan Gubernur Jenderal Belanda selalu menggunakan nama Surakarta. Yang itu terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Untuk formal pemerintahan yang dipakai adalah nama Surakarta. Namun bagi masyarakat, penyebutan Solo masih terus melekat.

Beberapa minggu lalu, setelah ziarah ke makam Pabelan, aku sempatkan mampir ke makam Ki Gede Solo. Pemimpin desa Solo inilah, yang dulu menguburkan jasad Pabelan. Mayat yang ditemukan di tepian sungai Bengawan Solo, pada sebuah kampung yang sekarang bernama Sangkrah. Yang kemudian dimakamkan di barat bengawan Solo, pada kampung yang sekarang dikenal sebagai Bathangan.

Sementara Ki Gede Solo sendiri, jasadnya dimakamkan di wilayah keraton Solo. Berada tak jauh dari keraton, dalam lingkungan tembok baluwarti sebelah timur.

Dengan berbekal keterangan dari seorang tukang parkir, aku pun mencarinya. Menurut penjelasannya, makam keramat yang sering diziarahi orang tiap malam Jum’at itu berada di kampung yang sekarang bernama Mloyokusuman. Kampung yang dulunya dihuni oleh putra raja yang bernama Pangeran Mloyokusumo.

Berbekal keterangan yang lumayan membingungkan, akupun menyusuri jalan setapak yang lamat-lamat kuingat. Jalan masuknya, ternyata lewat perkampungan yang padat penduduk. Menyisir gang-gang sempit yang berkelok-kelok membentuk seperti labirin.

Bahkan karena padatnya, ketika melaluinya harus berjalan pelan menunduk karena atap teritis rumah yang rendah. Dan berkali-kali mengucapkan permisi pada ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumah mereka yang sangat sederhana. Rumah-rumah kecil yang dibangun saling berhadapan berjejalan, seperti yang selama ini kudapatkan di pemukiman pinggiran kota besar. Lingkungan yang kotor dan kepadatan penduduk membuat kampung terlihat sangat semrawut dan kotor, bahkan berkesan kumuh.

Apalagi hari baru saja hujan, hingga jalan setapak pun menjadi becek, dan menebarkan bau anyir. Sebuah tempat yang sangat tidak kubayangkan sebelumnya, sebagai tempat peristirahatan terakhir dari seorang yang sangat terhormat di masanya. Yang dari namanya, kemudian dusun Solo terkenal menjadi kota seperti sekarang ini.

Namun yang lebih mengagetkan lagi, ketika kemudian kudapatkan, ternyata makamnya bukan berada di areal pekuburan yang luas, atau pada sebuah cungkup seperti makam Pabelan. Melainkan nylempit di tengah himpitan kesumpekan pemukiman yang sangat padat penduduk.

Bahkan menjadi satu dengan bangunan rumah yang ditempati warga di situ. Berada dalam sebuah kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu.

Kategori:Profil
SEUWISE

Tour de Bolwerk atau Muteri Baluwarti

“Naik becak saja, Mas. Keliling Baluwarti cuma lima ribu!” Seorang tukang becak kembali berbaik hati mencoba menawariku. Yang sedang berjalan kaki sendirian mengeliling benteng keraton pada siang yang terik itu. Dan itu adalah tawaran becak kelima yang sudah kuterima. Saat…
WACA
SEDURUNGE

Ketika Penjara adalah Sebuah ‘Tempat yang Mulia’

Sepanjang perjalanan mengelilingi Baluwarti, banyak hal yang kudapatkan. Selain pengalaman, pengetahuan, pelajaran, renungan, juga rasa penasaran. Salah satu yang sempat membuatku penasaran, adalah keberadaan pintu kecil pada tiap pemukiman. Pintu yang seolah menjadi semacam ‘jendela’ bagi para penghuninya untuk berhubungan…
WACA
LIYANE

Prabu Jayabaya dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan keturunan Nabi Adam, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang awal mula manusia di bumi. Bermula dari Raden Manongsa yang turun ke bumi, kemudian turun temurun, sampai lahirlah Raden Parikesit. Dari Parikesit lahirlah Prabu Gendrayana. Nah, dari Prabu Gendrayana…
WACA
LIYANE

Shalat Ashar Berjamaah di Tengah Hutan Sebelum Panggih Warih

Acara berbau kebudayaan, seringkali seperti air dan minyak, tidak bisa bersatu. Ketika acara kebudayaan sedang berlangsung, biasanya ritual keagamaan pun turut ditinggalkan. Maka, banyak orang yang suka seni budaya, tapi tidak suka agama. Begitupun orang yang suka agama, tapi tidak…
WACA
LIYANE

Babad Pasirluhur dan Lahirnya Kota Purwokerto

Awalnya saya sudah menjaga diri untuk tidak tertarik membaca Babad Pasir. Karena saya orangnya gampang penasaran. Repotnya, kalau sudah penasaran maka sulit untuk tidak menelisik lebih jauh demi mencari jawaban. Dulu, tahun 2000, ketika saya masih di Solo, saya tertarik…
WACA
LIYANE

Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (2)

“Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?” Membincangkan kartun dan karikatur, selalu terhubungkan dengan pro kontra boleh tidaknya membuat gambar makhluk bernyawa. Dan untuk memantapkan niatku, aku bersandar pada fatwa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Dalam buku ‘Islam Bicara Seni’,…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.