Acara berbau kebudayaan, seringkali seperti air dan minyak, tidak bisa bersatu. Ketika acara kebudayaan sedang berlangsung, biasanya ritual keagamaan pun turut ditinggalkan. Maka, banyak orang yang suka seni budaya, tapi tidak suka agama. Begitupun orang yang suka agama, tapi tidak suka keni budaya.
Tapi dalam pamungkas Festival Babad Banyumas 2026, Kang Nassirun Purwokartun sebagai inisiator acara, mengubah pandangan itu semua. Kang Nass menunjukkan bagaimana indahnya jika budaya dan agama disatukan.
Jadi, pada hari ketiga Festival Babad Banyumas, atau bertepatan dengan Hari Minggu (28/9), digelar Wayangan Panggih Warih oleh Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo dan bertempat di Taman Hutan Kalimambu di Desa Mandirancan.
Acara pamungkas ini dihadiri oleh banyak orang dari berbagai daerah dan dari berbagai kalangan. Bahkan, beberapa mahasiswa dari Benua Afrika dan Amerika Selatan pun turut meramaikan jalannya acara.
Para hadirin awalnya berkumpul terlebih dahulu di Bale Babad Banyumas. Kemudian sekitar pukul 14.30 WIB, secara serentak menuju Hutan Kalimambu dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 600 meter.
Ketika sudah sampai di lokasi, alunan musik Gubrak Lesung Rebana Pangastuti menyambut para pengunjung yang hadir. Setelah itu, diambil ‘sample’ air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon untuk kemudian disatukan. Penyatuan dua mata air ini sebagai simbolis pelestarian air yang dicanangkan oleh Kang Nass.

Dan sekitar pukul 15.15 WIB, atau bertepatan dengan waktu Shalat Ashar, dilaksanakanlah Shalat Ashar berjamaah yang dipimpin langsung oleh Kang Nassirun Purwokartun sebagai imam shalatmya.
Walaupun memang sudah menjadi kewajiban bagi Umat Islam, tapi sisi ini tergolong unik dan tidak biasa. Pasalnya seperti yang sudah disinggung di atas tadi, biasanya antara budaya dan agama itu seperti minyak dan air, yang sulit untuk bersatu. Di mana ketika acara budaya berlangsung, ritual keagamaan seringkali diabaikan.
Tapi kenyataannya, di tengah hutan di depan tempat penayagan, Shalat Ashar berjamaah berlangsung dengan khusyuk. Bahkan, Ki Ulum Karto Diwiryo sendiri menjadi pengumandang iqomahnya, sebagai tanda dimulai Shalat berjamaah.
“Di saat banyak acara budaya yang mengabaikan agama, mengabaikan waktu shalat, saya tidak. Acara budaya tetap jalan, shalat tidak ditinggalkan”, ujar Kang Nass.
Barulah setelah shalat selesai, dilangsungkanlah wayangan methuk sandekala, menceritakan Babad Panggih Warih sebagai kampanye penyelamatan mata air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon.

Dan sebagai penutup, Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo melakukan aksi yang menjadi ciri khasnya, yakni melompat ke kedung, sehingga dijuluki “Dhalang Nyemplung Kedung”. Dalam hal ini, kedung yang dijadikan objeknya adalah Kedung Bunder yang tidak jauh dari Taman Kalimambu.