Raja Terlama, Terbesar, dan ‘Terkuat’ di Tanah Jawa

October 28, 2026 ·

foto kiri, ketika mengangkat diri menjadi Susuhunan. masih kurus. foto kanan. setelah berkuasa. badannya dipenuhi medali, bahkan konon hingga ke punggungnya.

Di alun-alun kidul kudapati sebuah kereta jenazah.

Kereta tua itu berada di kanan dan kiri Sitinggil. Dengan kereta inilah jenazah raja Solo dikeluarkan dari gapura Gading, untuk kemudian dibawa ke pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri. Konon ini adalah kereta jenazah peninggalan Paku Buwono X.

Melihat keterangan yang ada di badan kereta, aku jadi terkenang pada sosok Paku Buwono X. Seorang raja yang paling lama berkuasa. Hingga bisa membangun dam mempercantik keratonnya. Dan bangunan yang sekarang, hampir semua adalah karyanya. Yang itu bisa dikenali, karena pada tiap bangunan yang didirikan selalu terdapat simbol ‘PB X’.

Paku Buwono X lahir pada 29 November 1866. Menjadi putera mahkota di usia 3 tahun, pada 4 Oktober 1869. Kemudian di usia 26 tahun naik takhta pada 30 Maret 1893, dan mengangkat diri dari Sunan menjadi Susuhunan pada 3 Januari 1901. Setelah berkuasa selama 46 tahun, raja Solo ini kemudian meninggal pada 20 Februari 1939.

Pada awal Paku Buwono X memerintah, pamor keraton Solo sudah sangat menyusut. Puncak kemerosotan ketika kekuasaan pengadilan benar-benar jatuh ke tangan Belanda di tahun 1903. Setelah sebelumnya kekuasaan politik dan pertahanan telah seratusan tahun berada dalam cengkeraman kolonial. Sejak pusat Mataram masih di Kotagede, Jogja.

Namun di balik seluruh kekuasaan yang telah dilemahkan penjajah, Paku Buwono X mampu memanfaatkan sedikit kekuatan yang masih dimilikinya. Yakni dengan mendukung berdirinya organisasi nasionalisme Boedi Oetomo dan Syarekat Islam di Solo.

Dukungan itu diberikan dengan banyak para pejabat keraton yang diperintahkan menjadi pengurus Boedi Oetomo. Dan untuk menggalang dukungan pada Sarekat Islam, Paku Buwono X sering mengadakan kunjungan ke daerah-daerah.

Sebuah kunjungan raja yang tiap lawatan selalu diiringi ratusan orang pengikutnya. Namun karena Belanda mengkhawatirkan tindakan itu, pada masa Gubernur Jenderal De Vogel (1903), jumlah pengiring dibatasi hanya sampai 200 orang. Dan ketika Van Wijk menjabat , dikurangi lagi menjadi 80 orang saja yang boleh mengiringi.

Pantas Belanda khawatir, karena kunjungan raja Jawa ini ternyata sangat efektif menggalang pendukung Sarekat Islam. Paku Buwono X berhasil menarik simpati rakyat dan para bupati sehingga Solo bisa menjadi kota yang turut mempelopori nasionalisme.

Dalam catatan sejarah, kita dapatkan Paku Buwono X telah mengunjungi Batavia, Buitenzorg (Bogor), Priyangan, Tasikmalaya, Pekalongan, Cirebon, Madiun, Surabaya, Bangkalan, Bali, Lombok, Kediri, Cepu, bahkan hingga ke Lampung.

Sepanjang jalan yang dilewati, selalu dibanjiri rakyat dari berbagai pelosok untuk ngalap berkah dalem. Mereka rela berebut sisa makanan dan air bekas mandi Paku Buwono X, yang dijual oleh abdi dalem keraton. Yang ini merupakan sebuah cermin betapa besar kharisma dan  wibawa yang berhasil dibangun sang raja melalui kunjungannya.

Bahkan di kota di mana ia mengadakan kunjungan, selalu disambut pasar malam dan pertunjukan upacara keraton. Di situ Paku Buwono X menyebar udik-udik (uang) agar rakyat gembira dan makin patuh pada perintahnya. Dan terbukti, kepercayaan para bupati dan rakyat untuk berjuang melawan penjajah semakin menguat.

Maka banyak sejarawan yang mengakuinya sebagai raja Jawa yang pertama kali menempatkan politik kunjungan kerja sebagai senjata melawan Belanda. Kunjungan yang bukan sekadar ritual menyapa rakyat dan rekreasi, tetapi juga menunjukkan eksistensi dirinya dalam meneguhkan kekuasaan Jawa yang harus dipertahankan.

Sebuah lawatan yang sangat membuat geram Belanda, karena berpotensial untuk melakukan pemberontakan. Akhirnya, pada waktu gubernur jenderal Belanda dijabat oleh Sehneider (1908), menyatakan pelarangannya atas kunjungan raja Solo ini.

Meski dalam penilaian Belanda, ia adalah seorang anak manja, peminum, suka pesta, rajin bersolek, namun dalam pandangan orang Jawa adalah seorang raja terbesar. Hingga gelar yang didapatkan dari rakyat Jawa adalah Sinuwun Ingkang Minulyo soho Ingkang Wicaksono, atau Paduka yang mulia dan juga bijaksana.

Maka atas seluruh dukungannya pada pergerakan nasional itulah, seorang cucunya (BRA Mooryati Soedibjo) sekarang sedang mengusulkannya menjadi Pahlawan Nasional.

Namun dari seluruh sejarah kehidupan Paku Buwono X, yang paling terkenang olehku adalah jajaran medali yang ada di badannya. Tubuhnya yang gemuk dan semakin tambun menggelembung, konon menunjukan bahwa masih tersedia tempat untuk menggantungkan medali, meskipun telah ada 28 medali yang menghiasi bajunya.

Selama memerintah, ia memang banyak mendapatkan medali penghargaan dari negara lain. Dan ia juga gemar sekali memakainya di setiap kesempatan. Hingga baju kebesaran yang dipakainya penuh medali. Bahkan konon bukan hanya di dada dan bagian depan tubuhnya, melainkan juga mencantolkan medali-medali itu sampai di punggungnya. Maka tak heran kalau ada yang mengatakan dengan bercanda, bahwa Paku Buwono adalah raja terbesar dan ‘terbesar’. Karena saking besarnya tubuh yang dimilikinya.

Dan satu lagi kenangan tentang raja terbesar dan terlama di Solo ini, adalah banyaknya perempuan yang menjadi istrinya. Sejarah mencatat, Paku Buwono X mempunyai istri sebanyak 45 orang dan putra putrinya berjumlah 68 orang.

Karena itulah, selain dikenal sebagai raja terlama dan ‘terbesar’, ia juga dikenang sebagai raja ‘terkuat’ di Tanah Jawa.

Kategori:Profil
SEUWISE

Sang Pecundang yang Terbang dengan Layang-Layang

Aku pernah merasakan sedihnya menjadi seorang pecundang. Dan itu kurasakan waktu kecil dulu, ketika dalam permainan aku hanya dijadikan pupuk bawang. Hanya anak bawang kothong yang sekadar sebagai pelengkap permainan. Yang sesungguhnya, keberadaanku tidak masuk dalam hitungan. Karena tanpa aku…
WACA
SEDURUNGE

Kirab Boyong Kedhaton yang Ingin Kutonton

Berjalan sambil melamun, itulah yang kemudian kulakukan. Ketika kemarin aku berjalan meninggalkan alun-alun selatan. Dan tak terasa langkah kakiku telah sampai di gapura Gading, gapura terakhir dari keraton Solo. Gerbang yang berada di selatan yang menjadi penyeimbang dari gapura Gladhag…
WACA
LIYANE

Bale Babad Banyumas (Video)

Bale Babad Banyumas merupakan rumah kediaman budayawan Banyumas yaitu Kang Nassirun Purwokartun yang terletak di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen. Beliau telah banyak menerbitkan buku, dan salah satu karya masterpiece-nya adalah 25 Naskah Terjemah Babad Banyumas. Perlu diketahui bahwa Babad Banyumas…
WACA
LIYANE

Mengenang ‘Sekadar Pengantar’ Seorang Izzatul Jannah!

Sense of Humour, Sebuah Kompleksitas NasSirun PurwOkartun (Pengantar Izzatul Jannah) “Saya membutuhkan karakter untuk majalah remaja dengan visi pengembangan pribadi ini…,” kata saya pelan. Matanya berbinar, “Saya akan coba bikin, mbak.” “Karakternya genderless, bukan perempuan bukan laki-laki…” desis saya sambil…
WACA
LIYANE

Menovelkan Kisah Babad Banyumas

Buku Babad Banyumas terjemahan saya, baik Mertadiredjan maupun Wirjaatmadjan, diterbitkan lengkap dengan latin Jawanya. Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan aslinya berupa tembang Macapat (puisi). Naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan aslinya berupa gancaran (prosa). Dalam tata letak bukunya, naskah asli di halaman kiri…
WACA
LIYANE

Cerita Rakyat Babad Banyumas

Membaca buku ini seperti didongengi cerita rakyat yang sudah melegenda di wilayah Banyumas. Mulai dari kisah leluhur Banyumas, Raden Putra, hingga cerita pendiri Banyumas, Raden Jaka Kaiman. Juga peristiwa naas Bale Malang yang menjadi sebab Raden Jaka Kaiman diangkat menjadi…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.