Sense of Humour, Sebuah Kompleksitas NasSirun PurwOkartun
(Pengantar Izzatul Jannah)
“Saya membutuhkan karakter untuk majalah remaja dengan visi pengembangan pribadi ini…,” kata saya pelan.
Matanya berbinar, “Saya akan coba bikin, mbak.”
“Karakternya genderless, bukan perempuan bukan laki-laki…” desis saya sambil menatapnya dengan sudut mata.
Ia tersenyum lebar, sampai giginya kelihatan.
Itulah awal pertemuan saya dengan Nasspur, pada tahun 2001.
Ia kemudian menjadi tukang gambar di majalah KARIMA, di mana saya ‘dipaksa’ menjadi pemrednya. Terus terang saja, saya selalu ngakak dengan celetukan, selorohan, dan kegemarannya memelesetkan kata-kata. Kalau ada gelar master atau doktor untuk keahlian memelesetkan kata, saya rasa ia akan mengantongi predikat cumlaude untuk itu!
Nasspur adalah otodidak murni. Ia seperti Hay Ibnu Yaqzhan dalam roman Ibnu Tufail yang belajar dari apa yang dilihat, didengar, disentuh, dan diciumnya. Ia tidak pernah belajar menggambar seperti saya belajar pada almarhum Tino Sidin di Seni-Sono sekian puluh tahun yang lalu. Jari jemari Nasspur tidak pernah makan sekolahan.
Ya. NasSirun PurwOkartun bukan orang kuliahan. Tapi dia seorang pembelajar sejati melalui kehidupan yang dijalaninya.
Nasspur bahkan sudah bergelut dengan segala macam hidup. Ia pernah menjadi tukang parkir, tukang cuci kereta api, tukang sablon, bahkan menjadi penunggu kotak WC terminal. Ia menjalaninya sambil mengeja kata-kata dalam pikirannya, dalam hatinya. Melalui buku-bukunya yang bertumpuk-tumpuk dan tebal seperti bantal.
Ia adalah manusia pembelajar yang terus menjalani hidupnya dengan membaca kata-kata, membaca kehidupan, sambil berpuisi dan berkartun.
Lulusan TK Pertiwi. Begitu selalu ditulisnya dalam kolom pendidikan pada curriculum vitae. Saya selalu nyengir saja. Sejak itu, setiap kali satu forum dengannya, dengan lantang saya perkenalkan bahwa sang penyair adalah lulusan TK Pertiwi. Saya menyampaikan paradoks yang mestinya menyentil jiwa malu para mahasiswa yang hanya bias menjadi penonton. Tapi di manakah letak rasa malu?
Saya melihat mereka mengangguk-angguk mendengar teori tentang bagaimana mengarang dan menulis darinya. Lihatlah betapa ironis. Para mahasiswa yang setiap hari selalu bergelut dengan kata, kalimat, paragraph pemikiran, belajar tentang teori bagaimana membaca dan menulis dari dia.
Dan percaya atau tidak, selama bergabung di majalah Karima, hasil tulisan dan gambarnya pun selalu bikin ketawa banyak orang. Nasspur juga sering tertawa lepas, membahana memenuhi ruang kantor kami waktu itu.
Kadang saya sampai berurai air mata gara-gara ia menjadikan kalkulator kantor sebagai telepon genggam, sambil tertawa terbahak-bahak. Waktu itu seluruh karyawan di kantor kami punya hape, cuma dia saja yang tidak punya.
Entah apa yang ia tertawai. Mungkin ia menertawai dirinya sendiri. Dan perlu Anda ketahui, menertawai diri sendiri adalah sebuah kemewahan luar biasa. Kok bisa? Sebab orang yang berjiwa kerdil biasanya sangat suka menertawakan orang lain. Gampang to, tinggal di balik aja, gitu.
Dan hari ini, ketika saya mendapatkan sajakkartun dari Nasspur, seperti biasa saya terkikik-kikik. Sampai suami saya menimpuk kepala saya dengan buku yang sedang dibacanya. Nasspur berhasil membuat saya tidur dalam keadaan tertawa terbahak-bahak, saudara-saudara sekalian… (hihihi kayak lagi pidato aja!)
Humor sebenarnya adalah sebuah konsep yang selama ini sering diperdebatkan para filosof, sastrawan, dan budayawan. Dan akhir-akhir ini para psikolog. Sebelumnya, humor dipandang miring disebabkan ia dianggap sebagai bagian dari permusuhan. Setidaknya oleh Plato (dalam Philebus), Aristoteles (dalam Poetic), Thomas Hobbes (dalam Laviathan), dan Rosseau (dalam Letter a M.d’Alembert), humor dikarakterisasi sebagai bentuk lain dari permusuhan.
Bagi para filosof ini, muatan mengejek (derisive qualities) yang ada di dalam humor seringkali ditujukan pada keburukan dan mempermalukan orang lain. Sehingga humor menjadi sebuah perilaku yang kejam (Snyder & Lopez, 2006). Kata Aristoteles, “comedy aims at representing a man as worse, tragedy as better than in actual life.” (Piddington, 1963)
Jadi saya tidak tahu, apakah Nasspur seorang yang agresif atau lebih buruk lagi, kejam. (Is better if you ask his wife. Hehehehe)
Tetapi yang jelas, perdebatan ini menjadi panjang hingga saat ini. Sebab positive psychology memiliki pandangan yang berseberangan dengan para filosof yang pesimis terhadap humor tersebut.
Menurut para psikolog positif itu, kata Bonannodan Kelmer (1997) seseorang yang bisa tersenyum dan tertawa saat berbicara tentang kematian pasangannya, dinilai lebih atraktif dan menarik, daripada mereka yang membicarakannya dengan serius dan sungguh-sungguh.
Mungkin ini agak ekstrem, karena terus terang saya akan lebih bahagia di surga, jika mengetahui suami saya merasa kehilangan dan menangis, karena saya tinggalkan. Hehehehe.
Tapi mungkin saja suami saya tersenyum karena mengingat kebaikan, keshalihahan, kecerdasan, dan kecantikan saya bukan? Dan ia tertawa geli karena seperti merasakan digelitik pinggangnya oleh saya, seperti ketika saya masih hidup, bukan?
Lho ini kok malah ngomongin saya sendiri? Hehehe. Oke, kembali ke laptop, eh, ke NasSirun PurwOkartun.
Jadi menurut saya, sense of humour menunjukkan kompleksitas pemikiran seseorang. Dan NasSirun PurwOkartun adalah seorang yang kompleks. Ia seorang penyair sekaligus kartunis, ia juga seorang cerpenis sekaligus tukang desain grafis. Mungkin sebentar lagi ia akan menjadi seorang novelis sekaligus tukang bikin teralis.
Nah, kalau saya mah, kompleks kalingga puri. Hihihi
Dada!
Kalingga Puri B-7, Nopember 2007
Izzatul Jannah, Majelis Forum Lingkar Pena, Mahasiswa S2 Psikologi UGM
(Disampaikan sebagai Pengantar buku antologi puisi ‘Sajak dari Republik Kartun’ karya NasSirun PurwOkartun, diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah, Nopember 2007)
Lima menit saja
(sajak Izzatul Jannah)
lima menit saja biar kuceritakan sesuatu
ia dahulu menjual ayam ibunya demi sebuah buku
ditampar guru dengan buku karena menggambar di kelas satu
ia belajar membaca dari buku kejar paket A milik bapaknya
lalu mengendap-endap membaca femina milik tetangga
bapaknya tetap saja buta membaca seperti kebanyakan orang Indonesia
(maaf kalau salah kutip, itu bukan kesalahan telinga Anda)
ia berpesta pora dengan bukubukunya
merayakan cintanya yang tak pernah reda
lima menit saja biar kuceritakan sesuatu
yang membaca sambil menunggu WC di terminal kota
mengunyah batu ‘Catatan Pinggir’ di sela menggosek gerbong kereta
lalu ‘hahaha’ katanya ia lulusan TK Pertiwi saja
tetapi berbicara berbusabusa di depan mahasiswa
yang ketika kutanya koleksi bukunya
tak lebih dari dua puluh lima
lima menit saja biar kuceritakan padamu
ia mengoleksi buku hingga berpetipeti tak hanya sekadar sambil lalu
sebab kukira ia memang memamah dan mengunyah buku
bau kamar kerjanya adalah ruapan tinta
dari almari bukunya yang mendesak langitlangit di rumahnya
yang sempit dan terhimpit
siapa bilang bergelut dengan ilmu perlu makan sekolahan
ia menjumput ilmu dari buku loakan dan kehidupan
sayang ia tak hidup di jaman sultan Al Makmun
yang menghadiahkan emas seberat buku yang dikarangnya
ia hidup di jaman ilmu mahal harganya,
karena diproduksi missal di bangkubangku sekolahan
ia hidup di jaman anak pejabat membeli sepatu sneakers harga 36 juta
sementara yang lain melarat, sekarat, dan menderita
tetapi ia,
sekarang ada di sana
mencoret dengan humor dan sindirannya
yang satir dan mengejek, katanya
buat mereka yang tidak tebal muka, katanya
buat mereka yang tidak pekak telinga, katanya
buat mereka yang masih bisa merasa, katanya
buat mereka yang tidak bermuka badak
dan purapura buta
tapi, kacian deh lu, Nass
mereka semua masih hidup
dan ada
(Puisi ini dibacakan dalam peluncuran antologi ‘Sajak dari Republik Kartun’, karya NasSirun PurwOkartun, pada 12 Nopember 2007 di Taman Budaya Jawa Tengah, pukul 20.30 WIB)