Ketika Kartun Politik Dibungkam, Sajak Bloon Harus Bicara!

October 27, 2026 ·

ketika sajakkartun dipanggungkan di teater arena taman budaya jawa tengah. makasih, mas wijang!

Sajak ada hukum puisi

sehebat-hebat masalah hukum

yang terdakwanya tak bisa dihukum

sehebat-hebat terdakwa

yang tak bisa diperiksa

sehebat-hebat periksa

membaca puisi sambil tertawa

sehebat-hebat yang kubaca ini

jangan pernah dianggap puisi

Pada awal-awal dulu sebenarnya aku ragu, apakah tulisanku itu bisa disebut puisi?

Namun dengan berjalannya waktu, aku kemudian abai dengan keagungan kaidah puisi. Karena setelah kurenungkan, aku menulis puisi bukan bermaksud menjadi penyair. Namun lebih karena kebutuhanku untuk sekadarkan mengabarkan berita.

Aku ingin berkomunikasi. Hanya ingin berdiskusi. Ingin berdialog dengan sebanyak mungkin orang tentang permasalahan yang melanda. Berusaha untuk saling mengingatkan atau sekadar memberi isyarat dan pertanda.

Maka sejak itu aku tak peduli dengan penilaian apakah layak disebut puisi, atau sekadar celetukan yang tak berarti. Karena bagiku, yang penting apa yang tak boleh kugambar bisa kusampaikan dengan tulisan, untuk kemudian dibacakan.

Maka aku pun semakin banyak saja menuliskan sajak-sajak bodoh dan sederhana itu.

Namun meskipun dengan bahasa yang sederhana dan tak perlu membuat kening berkerut, aku tetap menjaganya agar tidak vulgar. Karena puisi-puisiku bukan sekadar sajak protes sosial murni. Jadi selalu kuusahakan tetap mampu memancing senyuman.

Kalimat-kalimatnya selalu kubuat segar dan jernih. Syukur-syukur cerdas. Dengan dibalut metafor yang penuh guyonan dan humor. Namun bukan sekadar lelucon. Karena diharapkan mampu menjadi senjata ampuh untuk melakukan perubahan.

Persis seperti guyonan para punakawan dalam mengkritik Pandawa, begitulah resep kartun yang kudapatkan dari GM Sudarta. Awalnya lebih membuat ger-geran saja. Membuat tertawa riuh dengan tepuk sorak para penonton penikmatnya.

Namun meski penuh canda tawa, aku yakin sajakkartunku tetap bisa sampai dan penuh makna.

Dan meskipun sajakkartun itu berbentuk teks literer, aku masih menganggap diriku tetaplah seorang kartunis. Bukan penyair.

Bagiku, sajak itu tak lebih dari sebuah media. Sementara materinya sendiri, sesungguhnya tetaplah kartun. Tempat di mana aku merasa bisa bebas berbisik dan berteriak dalam suasana canda tawa. Agar kenyataan-kenyataan menyakitkan yang membanjir di sekitar kita bisa diterima secara ringan dan renyah. Dan tidak cenderung menyalahkan siapa pun, kecuali diri sendiri.

Dengan sajakkartun, aku hanya ingin mengajak kita semua arif untuk berani menertawakan diri sendiri. Karena konon orang yang cerdas dan bijak adalah yang mampu menertawakan dirinya, dan rela menerima kelemahannya sendiri. Siapa pun dia!

Dalam kebimbangan apakah sajakkartunku masih layak disebut puisi atau tidak, aku menemukan buku ‘Dongeng dari Negeri Sembako’ karya Acep Zamzam Noor. Membaca larik-larik puisi penyair besar Tasikmalaya, yang konyol kocak dan sarat kritik itu, semakin memantapkanku untuk menekuni sajakkartun.

Bahwa ternyata, seorang maestro macam Acep pun menulis sajak macam itu. Maka makin semangatlah aku menulis sajak bloon. Bahkan ada beberapa sajaknya yang aku ambil sebagai awalan, untuk kemudian kuteruskan menjadi satu kesatuan.

Contohnya adalah yang ini.

Sajak ada banyak partai

membentuk partai baru

semudah mengganti baju

karena banyak rakyat yang suka berjoget

seorang vokalis mendirikan PUDI

Partai Uni Dangdut Indonesia

masyarakat yang menganggap protes dan unjukrasa

sebagai obat mujarab untuk menghilangkan pusing

ramairamai mencoblos PDIP

Partai Demonstrasi Itu Penting

para bujang yang berjenggot

ada baiknya mendirikan partai bughot

partai bujang berjenggot

para bujangan yang selalu raguragu

perlu membentuk partai lelaki tak lakulaku

para bujangan yang bosan ditolak melulu

sibuk membentuk partai kasihan deh lu

para gadis yang malumalu

segera mendirikan partai setia menunggu

dengan slogan jomblo pasti berlalu

para gadis yang bosan jenuh menunggu

sepakat berserikat dalam partai manajemen qalbu

bervisi mengobati kebatkebit hatiku

para gadis yang suka kartunis necis

silahkan mendukungku mendirikan PKS

partai kartunis sejahtera

dengan banyaknya bencana

terbuka peluang untuk membentuk partai tandingan

PKB, partai korban bencana

PDIP, partai derita Indonesia perjuangan

PBB, partai banjir banding

PAN, partai amat nelangsa

Partai GOLKAR, partai golongan tuna karya

PKS, partai korban sunami

Indonesia sebenarnya tidak memerlukan banyak partai

karena sudah terlalu banyak memiliki partai

ada partai sanur, partai kuta, partai pangandaran,

partai parangtritis, dan masih banyak yang lainnya

Dan karena keasyikan itu, membuatku semakin abai dengan penilaian apakah sajak bloon ini layak atau tidak disebut puisi.

Aku benar-benar tak lagi peduli, wong aku juga tak bermaksud ingin menjadi penyair. Aku tetap seorang kartunis, yang tidak sedang menggambar menggunakan goresan, tapi tengah beralih senjata menggunakan tulisan.

Maka seolah mengikut Seno Gumira Ajidarma yang berstrategi ‘ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara’, demikian pula denganku.

Aku mengamini jurus liukan bambu itu dengan ‘ketika kartun politik dibungkam, sajak bloon harus bicara’.

Kategori:Profil
SEUWISE

Ke Sitinggil Saja, Kalau Ingin Belajar Dewasa!

“Wong Jowo nggone semu.” “Orang Jawa ahlinya perlambang.” Begitu ungkapan yang konon pas untuk menggambarkan citra manusia Jawa. Yang tidak suka mengungkapkan sesuatu secara gamblang, melainkan membalutnya dengan menggunakan pasemon, atau sebuah perlambang. Terutama tentang ajaran kehidupan. Dan itu pula…
WACA
SEDURUNGE

Sajakkartun atawa Sajak Penjorangan!

Sajak ada yo ben! buah manggis buah kedondong seorang kartunis boleh necis dong kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi kalau ada umur yang panjang mandi yang sehat sehari dua kali bunga mawar bunga kamboja itu semua namanama…
WACA
LIYANE

Clekidhur-clekidhur, Mundur dari Wilayah yang Penuh Clekidur!

Sambil menunggu shubuh, aku duduk di sriban kayu. Kutarik nafas dalam-dalam, menikmati segarnya pagi yang baru. Suasana masih gelap. Hanya langit membentang yang membuat pelataran terlihat remang-remang. Kudengarkan irama simphoni pagi dengan mata terpejam. Menikmati sisa-sisa suara suara malam. Desir…
WACA
LIYANE

Adipati Mertadiredja I Pemilik Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan

Ada banyak naskah Babad Banyumas, namun saya hanya menerjemahkan dua naskah saja. Babad Banyumas Mertadiredjan dan Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Menurut saya, untuk masyarakat awam membaca dua babad itu sudah cukup mewakili. Kedua babad tersebut seolah saling melengkapi. Babad Banyumas Mertadiredjan…
WACA
LIYANE

Merayakan 450 Tahun Banyumas

Untuk memperingati hari jadi KABUPATEN BANYUMAS yang ke-450 tahun pada 22 Pebruari 2021, sebagai putra Banyumas saya ingin turut serta merayakannya. Karena saya penulis, saya merayakannya dengan menulis buku-buku tentang sejarah Banyumas. Saya menerbitkan buku sejumlah 4 + 5 +…
WACA
LIYANE

Babad Pasirluhur dan Lahirnya Kota Purwokerto

Awalnya saya sudah menjaga diri untuk tidak tertarik membaca Babad Pasir. Karena saya orangnya gampang penasaran. Repotnya, kalau sudah penasaran maka sulit untuk tidak menelisik lebih jauh demi mencari jawaban. Dulu, tahun 2000, ketika saya masih di Solo, saya tertarik…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.