Sajak ada yo ben!
buah manggis buah kedondong
seorang kartunis boleh necis dong
kalau ada sumur di ladang
boleh kita menumpang mandi
kalau ada umur yang panjang
mandi yang sehat sehari dua kali
bunga mawar bunga kamboja
itu semua namanama bunga
kalau ada yang bilang itu nama kuda
mungkin sedang sakit mata
atau baru lepas dari rumah sakit jiwa
buah duku buah duren
ora lucu yo ben
Sajakkartun adalah sajak yang sangat sederhana.
Dan justru dengan kesederhanaannya, aku berharap ia bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat pembaca.
Karena dengan sajakkartun, aku hanya sekadar ingin membuka pintu komunikasi antara seniman dan masyarakat. Dengan terus mencoba menemukan pengungkapan yang jujur, lugas, bernas, dan cerdas.
Aku tidak ingin menjadi penyair elit, yang mempunyai kecakapan berbahasa, namun hanya dapat dinikmati oleh para pecinta sastra saja. Sebab keberhasilan berkarya bagiku adalah ketika komunikasiku mampu mengajak berbagai lapisan masyarakat, dengan beragam tingkat kecerdasan, untuk kemudian bisa saling berinteraksi.
Hingga terjalin dialog, untuk saling tersenyum dan merenung. Kemampuan yang efektif untuk bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat luas, menjadi landasan setiap penciptaan sajakkartunku. Dan itulah tanggungjawab terindah sebagai seniman.
Sajak ada kencing cinta
guru kencing berdiri
murid kencing berlari
guru sibuk demonstrasi
murid asyik berkelahi
berakitrakit ke hulu
berenangrenang ke tepian
bersakitsakit dahulu
lolos hukuman kemudian
ada gula ada semut
ada udang di balik batu
ada apa dengan cinta
istriku bilang aku mirip rangga
Sajak ada tong reformasi
ada banyak negeri
yang agenda reformasinya
menjadi tonggak sejarah
tapi hanya satu negeri
yang agenda reformasinya
menjadi isi tong sampah
Sajak ada demokratisasi reformasi
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu melahirkan anarki
dalam setiap pemilihan bupati
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu melegakan demonstrasi
sebagai bukti tegaknya demokratisasi
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu menurukan diktator yang sakti
menjadi pesakitan yang tibatiba sakit
setiap mau diadili
Pergulatan proses kreatif sajakkartun, mungkin tak bisa dilupakan dari asal muasalku yang asli Banyumas.
Daerah Banyumas dengan kebudayaannnya yang mempunyai kekhasan tersendiri. Dengan sifat egaliter, sederhana, penuh kesahajaan, karena berbasis pada kehidupan masyarakat tradisional agraris. Hingga dialek Banyumasan pun, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari memiliki corak yang bersahaja, sederhana, egalitarian, dan tidak mengenal pelapisan strata. Dan secara tak sengaja, semangat itulah yang kemudian menjadi ruh dari seluruh sajakkartunku.
Karena secara tidak disadari juga, aku ternyata memunculkan salah satu pergaulan khas Banyumasan dalam sajak-sajakkau. Yakni gaya pergaulan dalam bermasyarakat Banyumas yang disebut dengan penjorangan.
Penjorangan adalah cara mengungkapkan sesuatu yang serius dengan gaya bercanda. Dalam balutan gaya dan kata yang penuh jenaka, untuk menyampaikan hal yang seberanya penting. Dengan sindiran, cemoohan, dan kelakar untuk menyampaikan maksud kritikan agar tidak menyakitkan bagi yang mendengar.
Dan melalui gaya penjorangan itulah, kritikan dilontarkan bukan untuk memukul dan menghantam. Melainkan justru untuk merangkul dan mengingatkan.
Dengan gaya penjorangan pula, kita mengingatkan lawan bukan sebagai musuh yang sekadar harus disalahkan. Melainkan sahabat dekat yang akrab untuk disadarkan.
Sajak goyang presiden
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu menaikkan seorang professor
menjadi presiden yang melepaskan wilayah timor
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu menaikkan seorang wali
sebagai presiden terlucu republik ini
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu menaikkan seorang ibu rumah tangga
sebagai presiden yang dianggap titisan bapaknya
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu menjadikan seorang yang gagah perkasa
sebagai presiden yang selalu bimbang langkahnya
sepuluh tahun reformasi
hanya mampu memilih presiden empat kali silih berganti
semudah memilih kontestan
dalam ajang AFI atau goyang KDI