Pertemuan dan Lipatan Waktu Bersama NasSirun PurwOkartun

April 10, 2026 ·

Oleh: Isna Maylani

Pada mulanya Nassirun Purw0kartun hanyalah sebuah nama, sampai saya mengikuti sebuah pelatihan kepenulisan di kampus waktu itu. Saya tidak ingat jelas judul puisi yang dibacakan di sesi terakhir yang ia bawakan. Namun, yang pasti ingatan tentang haru dan jengkel masih saja terkenang. Ia yang dengan detail mengisahkan pergolakan seorang adik yang gagal meraih impian menjadi dokter, pada kenyataannya adalah seorang anak tunggal.

Bagi sebagian orang, Kang Nass—begitu kami akrab memanggilnya adalah seorang guru dan pegiat literasi di sebuah komunitas terbesar di Indonesia waktu itu. Tapi, bagi saya mungkin tidak.

Kang Nass bukan seorang guru yang mengajarkan bagaimana cara menulis yang baik. Setidaknya sekurang-kurangnya sejak tahun 2011, tidak pernah ia menyampaikan tips dan trik menjadi penulis hebat. Ia juga tak pernah mendekte setiap pekerjaan rumah yang harus kami lakukan. Apapun bidang ketertarikan, selama memiliki keseriusan untuk menulis, ia akan terbuka menerima.

Karena tidak pernah mengajarkan bagaimana menjadi penulis yang baik mungkin itulah sebab ia enggan disebut sebagai “guru”. Kami yang selama proses berinteraksi intens lebih diharapkan menganggapnya sebagai saudara. Maka, saya pun jarang sekali menggunakan krama alus ketika berkomunikasi. Tak seperti saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua lainnya. Kang Nass tak suka dihormati dengan cara “membungkuk” selayaknya orang Jawa pada umumnya. Baginya rasa hormat tidak harus ditunjukkan dengan cara seperti itu.

Berbicara tentang sosok ini tak akan lepas dari proses pemaknaan hidup. Barangkali dari sekian banyak buku yang ia miliki, tak semua sempat ia baca. Begitulah juga kiranya tentang setiap pertemuan dengan orang. Ada banyak orang yang mungkin saja ia temui dalam perjalanan hidupnya selama ini. Mungkin ada pula yang sekiranya lebih paham tentangnya dalam menulis sosoknya. Namun, tentu bukan masalah siapa yang kemudian pantas, tapi ini hanyalah soal siapa yang kemungkinan cocok. Jadi, jika kemudian saya menuliskannya dalam keterbatasan, sebatas inilah ke-luas-an saya dalam mengenalnya.

Bersama-berbagi-bahagia
Ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita tertawa. Barangkali itulah saat-saat paling melekat yang kami lalui bersama Kang Nass. Kami bukan hanya tertawa ketika menemui hal yang lucu dan pantas untuk ditertawakan. Lebih jauh dari itu, baik bahagia, kesialan, kesedihan, atau pun penderitaan selalu menjadi bahan untuk kita tertawakan bersama.

Barangkali orang akan bertanya-tanya tentang aktivitas apa yang dilakukan oleh sekumpulan penulis mula dan seorang penulis senior ketika bertemu. Jika itu ditujukan pada kami, jawabannya adalah makan-makan. Tradisi mentraktir yang sejak awal kami bertemu masih dipeliharanya hingga kini. Tak seperti Umar Kayam yang mencetuskan ide mangan ra mangan sing penting kumpul, bagi kami yang paling penting adalah kumpul-kumpul karo mangan-mangan.

Ada banyak hal yang kami bicarakan saat acara makan bersama. Ada banyak pelajaran hidup dan kajian tentang literasi yang muncul di saat-saat seperti itu. Biasanya Kang Nass akan makan lebih cepat daripada kami semua. Setelah itu, di saat kami masih lahap, ia akan berbicara apa saja yang menurutnya perlu untuk diketahui. Mungkin memang tak pernah selama ketika datang dalam sebuah forum diskusi, tapi dari yang singkat itulah yang kemudian masuk dan tinggal dalam ingatan.

Tak hanya ketika bersama, seringkali diskusi justru berlanjut lebih intens secara pribadi. Tak mungkin memang keutuhan sebuah ikatan kekeluargaan hanya mengandalkan komunikasi secara komunal. Setiap kepala pasti memiliki ketertarikan bahasan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Dan, Kang Nass mengakomodir hal itu. Setidaknya inilah yang membuat saya kemudian merasa percaya diri dan berani berbicara dalam konteks yang “seharusnya”.

Pengalaman belajar tentang “bersama”, “berbagi”, “bahagia” bagi saya sendiri masih terus berlanjut. Kebersamaan semacam apa yang kemudian harus kami bangun. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah yang terus saya gali secara pribadi. Secara teori, dua orang atau lebih akan sulit untuk bersama ketika mereka tak punya alasan yang mendasari kebersamaan itu. Keretakan akan mungkin terjadi saat sekumpulan ini tak sanggup merumuskan arti bersama yang mereka sepakati.

Alasan mendasar bagi kami untuk terus bersama adalah semangat untuk belajar. Lebih jauh dari itu, kesadaran akan ketidaktahuan dan ketertinggalan harus menjadi pemicu untuk lebih giat. Tak penting berapa banyak dan bermutu tulisan yang dihasilkan, yang penting proses itu harus dikawal dengan ketat. Maka, membaca menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Bagi saya pribadi itu sangat beralasan. Tak mungkin semua pengalaman hidup pribadi akan cukup untuk merumuskan suatu gagasan besar. Kita butuh sumber kedua berupa arsip dalam teks untuk melipat waktu dan mengambil pengalaman hidup serta proses berpikir orang lain.

Kemudian, kata berbagi menjadi kunci yang kedua. Pernah suatu ketika saya berkata, “Sampai kapan pun saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Kang Nass.” Saya selalu ingat masa-masa di mana pilihan mandiri itu bukanlah soal yang sederhana. Kang Nass sedikit tahu saya sedang belajar akan hal itu dan kadang tak cukup sukses dalam prosesnya. Kiriman buku seringkali tiba-tiba saja datang setelah ia bertanya tempo hari buku apa yang sedang saya baca, atau apakah saya sudah pernah membaca buku sejenis ini atau belum. Bukan hanya itu saja, seringkali ia bertanya apakah honor perlu diberikan di muka untuk menutup kebutuhan. Ia memang sering bercerita bagaimana kerasnya bekerja untuk menghidupi kebutuhan membeli buku dan keluarga. Dan, ketika saya mengakatan kalimat di atas kepadanya, ia hanya menjawab, “Balaslah dengan amal.”

Terakhir adalah kata bahagia. Kebahagiaan apakah yang diharapkan Kang Nass dengan kebersamaan dan kemurahan untuk berbagi kepada kami? Saya tidak tahu pasti. Namun, jika bisa saya menebak adalah ketika kami, orang-orang yang dekat dengannya tumbuh menjadi versi terbaik dari masing-masing. Kang Nass tak pernah melarang kami menjadi seorang PNS meskipun ia tidak memilih jalan itu. Pilihan apapun, saat kesadaran akan pentingnya sebuah kebermanfaatan itu tertanam, ia akan dukung.

Berkunjunglah selagi pintu itu terbuka
Sejak tahun 2011 hingga 2016, saya dan semua anak di komunitas tak pernah tahu di mana rumahnya. Waktu itu ia masih tinggal di Solo, atau lebih tepatnya daerah Kartasura. Saya hanya mendengar sedikit tentang bukti bahwa ribuan buku disimpan di rumahnya waktu itu. Tapi, jelas tak memiliki pengalaman nyata apa saja buku dan bagaimana mereka ditata.

Pertemuan kami selalu terjadi di luar rumah. Kami biasa membuat janji di suatu tempat di luar jadwalnya bekerja. Tak tahu pasti alasan tak diperbolehkannya seorang yang dianggap saudara datang ke rumah. Baginya rumah adalah ruang privat yang tak semua orang boleh masuk ke dalamnya. Dan, kami sama-sama menghargai hal tersebut sampai saat itu tiba.


Kepulangannya ke Purwokerto barangkali memberikan perubahan yang cukup besar. Setidaknya itulah yang saya rasakan selama berinteraksi dengannya. Kang Nass adalah orang yang sangat detail dalam berbagai hal. Saya sendiri kadang heran dengan caranya dalam mengarsip sebuah kenangan. Berjilid-jilid buku dan banyak sekali foto yang diabadikan sebagai catatan pribadi. Setidaknya jika bersama kami, ia selalu berkata, “Ini adalah bukti bahwa saya pernah bersama kalian. Suatu saat kalian sukses, saya akan ingat itu.”

Tak berhenti di sana, kenangan dan refleksi tentang perjalanan hidupnya juga diabadikan dalam karya nyata berupa rumah “impian”. Di lahan seluar 700 meter itu, ada sejarah yang ingin ia abadikan. Bangunan dan segala macam ornamennya sudah diatur sedemikian rupa sebagai cermin idealisme yang ia miliki. Rumahnya adalah sebuah “buku” sejarah tentang bagaimana kemiskinan dan kesejahteraan itu disandingkan.

Rumah itu akan memperlihatkan hartanya ketika dibuka. Ada banyak sekali buku dan keramahan di sana. Buku-buku inilah yang menjadi semangat pada zamannya mengarungi kehidupan. Ia tak mungkin menghilangkan fakta bahwa ayahnya adalah seorang yang buta aksara. Tapi, semangat balas dendam itu tak kemudian ia simpan dan lupakan begitu saja. Kang Nass membawa spirit baru kepada orang yang berada di sekitarnya. Kesinisan dan juga keoptimisan akan literasi ia jaga dan pelihara di rumah di mana anak, istri, dan orang tuanya juga tinggal.

Tapi, tentu ia tak kemudian menggabungkan ruang privat dan publik. Bagi seorang yang sangat memperhatikan eksistensi, Kang Nass perlu membuat rumah di mana tamunya secara leluasa mengakses buku-buku induk tanpa harus menaruh sungkan terhadap anggota keluarga yang lain. Inilah yang membuat rumah itu begitu unik dan istimewa. Ia bukan hanya alamat tempat surat dikirimkan, tapi juga tempat di mana orang bebas menelaah. Rumah dengan sumber belajar yang melimpah.

Maka, tentu saat-saat yang ditunggu tiba, ketika tak harus lagi mencari tempat hanya sekadar untuk berdiskusi, rumah ini akan cukup memuaskan. Rumah di tengah sawah itu bagi saya bukan hanya sebuah tempat tinggal untuk menaungi penghuninya dari panas dan hujan. Rumah itu juga difungsikan bagi mereka yang siap untuk memberi pemaknaan hidup yang sedang mereka perjuangkan. Selagi tak ada masalah dengan konsep bersama-berbagi-bahagia, orang pasti akan senang dan betah berlama-lama di sana. Apalagi jika yang dicari adalah buku-buku dan ketenangan. Maka, selagi pintu itu terbuka, datanglah!

Isna Maylani
Lahir di kota Pati. Menyelesaikan S1 di Pendidikan Bahasa Inggris UNS. Melanjutkan S2 di jurusan Ilmu Sastra UGM. Pendiri Komunitas Soto Babat bersama NasSirun PurwOkartun. Aktiv sebagai redaksi Majalah Keluarga Embun. Karya yang pernah dibukukan adalah “Mengeja Cahaya Surga” (2015) dan 5 buku “Serial Cahaya” (2016).

Kategori:Dopokan
SEUWISE

Launching 101 Buku Serial Babad Banyumas

Banyumas punya sejarah yang panjang. Sejak jaman Majapahit, ketika masih bernama Selarong, hingga kemudian berganti nama menjadi Banyumas. Banyumas punya sejarah yang panjang. Sejak bernama Banyumas sampai menjadi sebuah ibukota Kabupaten Wirasaba.Banyumas punya sejarah yang panjang. Sejak jaman Majapahit, lanjut…
WACA
LIYANE

Kisah Sejarah Babad Banyumas

Membaca buku ini seperti melihat langsung peristiwa sejarah yang terjadi di wilayah Banyumas. Pembaca mendapatkan pengetahuan sejarah yang terjadi di wilayah Banyumas secara lengkap sejak berdiri hingga menjelang Indonesia merdeka. Berikut pergolakan yang terjadi mulai dari Perang Mangkubumi yang mengharumkan…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Kedua

Setelah memiliki Babad Banyumas pertama saya kemudian menemukan yang kedua. Suatu hari saya melihat buku Babad Banyumas dijual di lapak online Facebook. Saya pun langsung berbinar ingin membelinya. Namun sial adalah kurang beruntung, atau keberuntungan yang tidak beruntung, karena ternyata…
WACA
LIYANE

Kematian Tragis Adipati Wirasaba dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang pernikahan Raden Bagus Mangun, Babad Banyumas kemudian menceritakan tentang mertuanya, Adipati Warga Utama.  Dikisahkan pada waktu itu, Sultan Pajang Joko Tingkir meminta pada adipati bawahannya untuk mengirimkan gadis-gadisnya. Dan, Adipati Wirasaba mengirimkan putri bungsunya. Namun, hal itu…
WACA
LIYANE

Yang Menarik dari Babad Banyumas Mertadiredjan

“Babad Banyumas Mertadiredjan” adalah satu-satunya naskah Babad Banyumas yang memuat sejarah kiri. Yakni silsilah sejak Nabi Adam sampai leluhur dinasti Wirasaba dan Banyumas. Menceritakan secara lebih utuh tentang leluhur Banyumas, sejak jaman Kerajaan Majapahit hingga Pajajaran, meliputi kisah Raden Baribin,…
WACA
LIYANE

Pohon Tembaga dalam Plesiran Babad Banyumas

Petunjuk utama adalah pohon Tembaga. Petunjuk tentang tempat di mana Adipati Mrapat harus mendirikan ibu kota Kabupaten Banyumas. “Yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba, sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.
kaiman Avatar

Mas Kaiman

Asisten Babad Banyumas
Halo sedulur! Saya Mas Kaiman. Mau tanya seputar Babad Banyumas?
Mas Kaiman sedang mengetik...
Saya Mas Kaiman! 👋
[mwai_chatbot id="chatbot-4clk8o"]