Senyum Renung Ringin Kurung

October 27, 2026 ·

Selepas berjalan mengitari Gladag, aku pun memasuki alun-alun.

Lapangan luas di depan keraton Solo ini, konon dulunya merupakan tempat prajurit berlatih perang. Juga sebagai tempat mengadu macan, dan menggelar upacara kebesaran kerajaan.

Latihan perang yang diadakan tiap hari Sabtu, hingga sering disebut dengan Gladen Setonan. Dengan masing-masing prajurit hanya bersenjatakan tombak berupa tongkat panjang yang dinamakan watang, hingga disebut juga dengan latihan Watangan.

Dan pada hari-hari tertentu, ketika Raja kedatangan tamu Gubernur Jenderal Belanda, digelar pertandingan adu macan melawan kerbau, yang dinamakan Rampogan Macan.

Dalam upacara Rampogan, macan dimasukkan dalam sebuah kandang yang diletakkan di tengah alun-alun. Di pinggirannya, ratusan prajurit rapat mengepung dengan bersenjatakan tombak tajam. Kemudian macan dipaksa keluar dengan membuka pintu kandang. Dan para prajurit menakut-nakutinya dengan membakar jerami kering hingga menjadi api yang berkobar.

Macan buruan yang tiap hari diberi makan daging anjing itu pun keluar. Bersamaan dengan dilepasnya seekor kerbau gemuk sebagai lawan tandingnya. Rampogan pun menjadi tontonan rakyat yang sangat menggembirakan. Bahkan konon mengalahkan kemeriahan upacara kebesaran lainnya. Seperti grebeg, tingalan jumenengan dalem, tedhak loji, dan jendralan.

Pada acara tersebut, Raja datang dengan pakaian kebesaran yang sangat mewah dan penuh lencana penghargaan. Kemudian duduk sejajar di samping sang Gubernur Jenderal, seolah hendak menunjukkan pada rakyatnya bahwa kedudukan mereka seimbang.

Sedangkan dalam pertandingan di tengah alun-alun, macan yang sedang melawan kerbau pun menjadi sebuah perlambang. Sudah menjadi pengetahuan rakyat, bahwa macan adalah binatang paling buas, sedangkan kerbau dikenal sebagai lambang binatang paling bodoh. Maka secara simbolisasi, Rampogan juga mengandung ajaran bagi rakyat Jawa, tentang perlunya menguasai yang buas demi kelangsungan peradaban manusia.

Upacara itu pun kemudian mempunyai makna tambahan, yakni dengan mengibaratkan macan sebagai penjajah Belanda yang bersifat buas. Dan kerbau yang diibaratkan sebagai rakyat Jawa yang selalu dianggap sebagai kaum bodoh yang terus harus terjajah. Seakan hendak menunjukkan bahwa Rampogan merupakan simbol perlawanan terhadap penjajah.

Aku pun terus berjalan dalam siang panas yang sangat menyengat.

Untungnya sekarang alun-alun yang terhampar luas itu telah ditanami rumput tebal. Padahal pada awalnya, pada jaman dahulu merupakan sebuah hamparan pasir tebal. Hingga pada siang hari yang terik, lautan pasir panas itu akan menyengat dengan sangat garangnya. Sementara ketika malam datang, angin dingin pun terasa menggigit sampai ke tulang. Ketika berdiri di tengahnya, seakan menghadang gelombang yang datang menerjang.

Konon sebuah perlambang juga bagi manusia, yang tak pernah dapat lepas dari gelombang kehidupan. Karena bermacam pengaruh dari luar, ibarat angin yang akan merasuki jiwa, menjadikan kita panas dingin ketika mencoba tegak menghadapinya.

Maka lapangan luas itu dinamakan alun-alun, karena alun dalam bahasa Jawa berarti gelombang.

Dari arah gapura Gladag menuju ke Pagelaran, ada jalan yang membelah alun-alun. Jaman dulu jalan yang melintang dari utara ke selatan itu hanya raja yang boleh melintasinya. Namun sekarang siapa saja boleh melaluinya.

Sambil berjalan pelan, aku melihat dua batang beringin lebat, yang tumbuh tepat di tengah alun-alun. Berada di kanan kiri jalan yang membelah lapangan luas itu. Dua pohon beringin yang konon ditanam bersamaan dengan pembangunan Keraton Solo pada tahun 1745. Beringin yang menurut sejarah, benihnya dibawa langsung dari bekas Keraton Kartasura.

Dan itu akan terlihat pada prosesi Boyong Kedaton yang tiap tahun diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Solo. Kirab perpindahan dari Keraton Kartasura menuju Keraton Surakarta, yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi kota Solo pada 17 Februari.

Penanaman dua pohon beringin pun kemudian dianggap sebagai semacam peletakan batu pertama bagi pembangunan keraton yang baru. Orang-orang sering menyebutnya dengan nama Ringin Kembar atau beringin kembar. Namun ada juga yang menyebutnya dengan Ringin Kurung yang berarti pohon beringin yang dikurung atau dirahasiakan. Maka sekarang kita dapati, keduanya pun diberi pagar kokoh yang mengelilingi lingkar batangnya.

Konon itu merupakan perlambang, bahwa pengaruh yang menghadang dapat kita hadapi dengan tenang, ketika bisa membuka tabir rahasia kehidupan.

Di Tanah Jawa pohon beringin juga disebut pohon hayat. Menjadi simbol pohon kehidupan. Seperti gunungan dalam kelir pewayangan. Pohon yang mampu memberikan kehidupan kepada segi-segi kemanusiaan. Dapat memberikan pengayoman dan perlindungan kepada semua. Juga mempertebal semangat dan keyakinan dalam hati sanubari rakyatnya.

Pohon beringin disebut juga dengan pohon wringin yang berasal dari kata wri dan ngin. Menurut para bijak, wri artinya mengerti dan ngin berarti waspada. Sebuah kebijakan yang diajarkan oleh pohon wringin untuk selalu mengerti dan waspada. Mengerti apa saja kejadian yang telah terjadi. Semua yang telah berlalu harus kita ketahui, sebagai pelajaran untuk melangkah ke depan. Kemudian memahami semua peristiwa yang sedang terlaksana, untuk kemudian dipelajari dan diambil hikmahnya.

Dalam kebijakan Jawa, pohon beringin juga dianggap sebagai perlambang pengayoman dan perlindungan. Ketika panas menyengat, kita bisa berlindung di bawah pohonnya yang lebat.

Hingga pada jaman dulu, di antara dua beringin kurung ini menjadi tempat ‘sowan pepe’. Yaitu tempat untuk melakukan unjuk rasa meminta keadilan pada Raja. Caranya adalah dengan berbaju putih, dan duduk bersila berjemur di tengah alun-alun. Menunggu sampai dengan Raja datang di Pagelaran, dan memanggilnya untuk dimintai keterangan.

Dan ditengah terik yang ganas menyengat, setelah berjalan lumayan lama mengitari Gladhag, aku merasa kehausan. Maka aku pun memesan segelas es buah pada penjual yang berdagang tepat di bawah Ringin Kembar yang lebat. Minum es di bawah rindangnya beringin sungguh pelepas dahaga yang sangat menyegarkan dan nikmat.

Sambil menikmati es buah aku mengedarkan pandangan.

Dan benarlah kiranya, bahwa beringin adalah lambang pengayoman dan perlindungan. Buktinya hari ini aku saksikan, banyak gelandangan yang tidur dengan sangat nyenyaknya. Terlelap aman damai sentausa di seputar pagar beringin kurung dengan tenangnya. Bahkan kulihat ada yang tertidur dengan rokok masih menyala di tangannya, bahkan mendengkur dengan kerasnya.

Masih sambil menghabiskan es buah yang lumayan segar, aku memerhatikan batang beringin yang sangat lebat.

Pada batang itu sempat kubaca sebuah papan nama. Suatu penanda yang sepertinya dibuat oleh sekelompok mahasiswa pecinta lingkungan. Karena pada papan itu tertulis: nama latin pohon beringin adalah Ficus Benjamina, yang termasuk tumbuhan famili Moraceae.

Sementara di dekat papan itu juga terpampang papan penanda yang lain. Dan aku tersenyum ketika membacanya. Papan sederhana yang di tulis dengah huruf acak-acakan, sebuah kalimat yang berbunyi  “Selamat datang, yang melayani pohon ini, Pak Sukardi.”

Aku baru tahu, kalau beringin kembar itu pun dianggap keramat. Hingga sampai ada juru kuncinya, dan banyak yang mempercayainya. Karena sekitarnya banyak terdapat bunga-bunga dan unggunan kemenyan. Bahkan kulihat seorang laki-laki tengah membakar pedupaan.

Setelah menghabiskan segelas es, seorang laki-laki tua datang dan duduk di depanku. Lelaki yang sebelumnya tengah membakar dupa di bawah batang Ringin Kembar itu.

Tanpa ditanya ia langsung bercerita, “Beringin yang tumbuh di sebelah kiri jalan itu dinamakan Jayandaru, sedangkan yang kanan bernama Dewandaru. Keduanya melambangkan kemenangan dan kejayaan. Bahwa kita bisa meraih kemenangan sejati, ketika bisa memegang dua senjata kehidupan. Itulah loro-loroning atunggal , kitab Qur’an dan Hadits Kanjeng Nabi.”

Mendengar kebijakan yang diucapkan, mendadak hatiku terbersit senyuman, “Berarti bukan dengan memegang kembang dan kemenyan, ya Ki?”

Kategori:Profil
SEUWISE

BTC atau Bathangan Trade Centre Atau Pusat Perbelanjaan Yang Terletak Di Tempat Bangkai

BTC atau Bathangan Trade Centre artinya adalah pusat perbelanjaan yang terletak di tempat bangkai. Dan aku kemarin baru saja berziarah dari tempat itu. Sebuah nama yang mengusikku sekian lama, sejak aku SD di kelas lima. Ketika SD dulu, aku banyak…
WACA
SEDURUNGE

Pagelaran Canda Pancawura Perkasa

“Kirain pagelaran musik! Taunya pagelaran mistik!” Seorang remaja berseragam SMA tiba-tiba berbisik. Temannya yang disikut dan mendengar celetukan usil itu pun langsung terkikik. Mereka berdua adalah rombongan study tour dari Jakarta, terbaca dari badge sekolah yang sempat kulihat pada lengan…
WACA
LIYANE

Lambaian Tangan Yang Menyebabkan Kematian

Kisah tragis Sabtu Pahing di Bale Malang menjadi cerita awal mula ketertarikan saya pada Babad Banyumas. Cerita berdarah itulah yang menjadi sebab berdirinya Banyumas. Dari panggung ketoprak saya pertama mengetahuinya. Dikisahkan Sultan Pajang, Joko Tingkir, meminta pada adipati bawahannya mengirimkan…
WACA
LIYANE

Di Kamar Mandi, Buku-Buku itu Kuhabisi!

Tak pernah kusangka, ternyata buku sudah menjadi bagian hidupku. Menjadi makanan sehari-hari sejak kecil dulu. Hingga membuatku seperti pecandu, yang lebih mementingkan membeli buku, dibandingkan baju, celana, apalagi sepatu. Maka membaca pun seolah telah menjadi bagian penting dari kehidupanku. Merupakan…
WACA
LIYANE

Budayawan Banyumas NasSirun PurwOkartun Mengajak Anak-Anak SD Mengenal Babad Banyumas Melalu Dongeng dan Nyanyian

Nassirun Purwokartun bersama buku, "Dongeng Banyumas" yang disadur dari naskah, "Babad Banyumas Mertadirejan". Babad Banyumas adalah sebuah naskah kuno milik masyarakat Banyumas. Sebagai rujukan utama sejarah Banyumas, naskah-naskah Babad Banyumas mestinya dibaca oleh masyarakat Banyumas. Sayangnya, selama ratusan tahun, naskah-naskah…
WACA
LIYANE

Kasepuhan Kanoman

Awalnya, buku ini ditulis dan dirancang sebagai paket lanjutan bagi para pembaca Babad Banyumas. Agar yang sudah membaca babadnya mendapat wawasan baru dari kisah yang sudah dibacanya. Namun, setelah jadi, ternyata bisa juga dibaca oleh mereka yang belum membaca Babad…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.