Setiap Profesi Berpeluang untuk Korupsi, Kecuali ….

October 22, 2026 ·

sekali-kali sok jadi selebritis!

Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niatan. Tapi karena adanya kesempatan.

“Waspadalah! Waspadalah!” Begitu bang Napi yang baik hati selalu setia mengingatkan.

Maka demikian pula dengan korupsi di negeri ini. Para koruptor mungkin awalnya juga tidak berniat korupsi. Hal itu terjadi karena adanya kesempatan untuk melakukan, baik secara sembunyi-sembunyi atau pun terstruktur rapi.

Maka aku tak pernah berbangga diri dengan selalu berteriak ‘Berantas Korupsi’, karena memang tak ada peluang untuk melakukan korupsi. Juga tak perlu iri dengan Gayus yang punya kesempatan sangat lebar hingga bisa jadi mafia. Bahkan berhak menjadi Warga Negara utama dari negeri Pancasialis yang sila pertamanya ‘Keuangan yang Maha Esa’ menjadi amalannya.

Sebagai kartunis, yang konon bertugas mulia layaknya cendekiawan yang selalu memberi tanda peringatan bahaya, aku pun pernah mencoba untuk berpikir ‘mulia’.

Pemikiran yang bermula ketika terkenang Rene Descartes yang pernah meneriakkan kata saktinya: “Cogito ergo sum!” Aku berpikir maka aku ada, katanya. Dan sebagai kartunis, aku pun menirukan dengan membisikkan kata yang sama, “Aku menggambar kartun maka aku ada!”

Maka kugambarlah kartun tentang wabah korupsi yang makin merajalela. Wabah yang menurut Bung Hatta sulit diberantas, karena sudah merupakan budaya.

Sedangkan menurutku, korupsi di Indonesia terus berjangkit, karena adanya mental yang salah dalam memimpin. Mental penguasa yang selalu berkata: ‘Aku berkuasa maka aku ada!”

Karena ketika mantra itu yang terpatri di hati, saat berkuasa yang terjadi adalah, ‘Aku korupsi maka aku ada.’ Keberadaan seorang pemimpin hanya dinilai dari seberapa dia berkuasa. Padahal keberadaan hal semacam itu hanya akan menyuburkan iklim korupsi. Karena hanya dengan melakukan korupsilah, dia mengangap dirinya ‘ada’.

Kalau mental ini terus tertanam dalam jiwa para penguasa negeri ini, maka wabah korupsi semakin sulit diobati. Dan tak ada lain yang akan terjadi hanyalah kebangkrutan Indonesia.

Sebab mestinya semangat para pemimpin bukanlah untuk berkuasa. Melainkan benar-benar  untuk memimpin. Dan para pemimpin yang ingin memimpin harus meniatkan dalam hati, ‘Aku memimpin maka aku ada.’ Ini semacam niat agar para pejabat hari ini tidak lagi bermental penguasa. Tapi para arif bijaksana yang bersemangat memimpin bangsa. Sebab dengan spirit itulah yang akan membawa kepada semangat anti korupsi.

Dengan semangat itu pula yang akan melahirkan kinerja birokrat dengan slogan, ‘Aku anti korupsi maka aku ada’. Dan itulah yang akan menuju pada kebangkitan Indonesia.

Pemikiran itu pun kemudian kutuangkan dalam sebuah karya kartun pada empat tahun silam. Kartun yang kemudian kukirimkan dalam Lomba Kartun Serial Tingkat Nasional yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Waktu itu KPK sedang giat-giatnya menggelar kampanye anti korupsi dengan jargon ‘Bangkit: Lawan Korupsi!’

Dan sampai sekarang aku masih terkenang peristiwa itu. Tentang lomba kartun nasional itu.

Yang pertama, karena yang mengadakan adalah lembaga bergengsi yang dikenal bersih, Komisi Pemberantasan Korupsi yang dipimpin oleh Taufikurrahman Ruki. Yang kedua, karena pesertanya dibatasi tidak boleh mengirimkan karya lebih dari satu kartun. Jadi ini benar-benar perang kualitas karya yang sesungguhnya. Yang ketiga, karena jurinya adalah sosok-sosok idolaku sejak kecil yakni Arswendo Atmowiloto, Pramono R. Pramoedjo, dan GM Sudarta. Sementara yang keempat karena hadiahnya sangat mengundang selera, juara pertama 15 juta!

Aku pun mengikutinya dengan niatan mulia untuk berpartisipasi dalam kepedulian anti korupsi. Juga pemikiran ‘mulia’, kalau menang nanti uangnya bisa untuk memberi makan anak istri.

Dan ternyata kartun itu mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari Dewan Juri. Karena ketika diumumkan, ternyata kartunku berhasil menyisihkan 731 karya peserta lainnya. Kartun yang kuberi judul ‘Aku Anti Korupsi Maka Aku Ada’ itu berhasil menjadi juara pertama!

Lututku bergetar ketika ditelpon orang yang mengaku dari KPK. Memberi tahu bahwa kartunku menjadi juara pertama. Dan aku diharapkan bisa datang ke Jakarta untuk menerima penghargaan. Aku langsung sujud syukur, dan segera kuberitahu Ummi. Bahkan sempat tak percaya, sebab takut ini sebuah penipuan. Karena yang terbayang dalam benakku adalah uang 15 juta.

Namun ternyata kabar itu benar adanya. Sebab tak berapa lama kemudian, temanku seorang kartunis sekaligus wartawan dari Indramayu menelpon mengucapkan selamat padaku. Dan aku pun segera berlari ke warnet untuk mengecek pengumuman resmi di web KPK.

Keesokan harinya, dengan kereta ekonomi akupun datang ke ke Jakarta, ke kantor KPK. Dan di sana bertemu dengan banyak kartunis Indonesia lainnya yang juga menjadi pemenang. Ada kebahagiaan luar biasa. Juga kebanggaan sejenak merasuk dada. Mendadak jadi seperti selebritis yang dikerubuti wartawan. Banyak sekali diwawancari berbagai wartawan Koran, radio, dan tivi. Dan seharian itu, sms dari teman-teman pun langsung memenuhi HPku.

Dan pagi ini, aku  sedikit terkenang pada saat menerima sertifikat dan piala.

Setelah kujabat tangan Taufiqurrahman Ruki sang ketua KPK, aku langsung membacakan sebuah sajakkartun. Puisi paling jelek sedunia yang sengaja kubuat sebagai bentuk dukungan bagi KPK. Sajak yang aslinya karya penyair Tasikmalaya, Acep Zamzam Nur yang telah kuacak-acak seenaknya.

“…

Korupsi

telah menjadi menu makanan sehari-hari

rakyat sudah muak dengan janji

pemberantasan korupsi

Para pejabat yang sudah bergelar haji

tak pernah menganggap korupsi

sebagai sesuatu yang harus dijauhi

apalagi dimusuhi

Meski gaji dinaikkan setinggi langit

wabah korupsi di Indonesia akan terus berjangkit

Setiap profesi berpeluang untuk korupsi

termasuk tim komisi pemberantasan korupsi

Setiap profesi berpeluang untuk korupsi

kecuali kartunis atau pembuat puisi

….”

Kategori:Profil
SEUWISE

Kartunis yang Tidak Ingin ‘Gagal Maning-Gagal Maning’!

Sms shubuh itu sungguh mengagetkan. “Mas Darta masuk rumah sakit. Dirawat di Panti Rapih. Mohon doa kesembuhan.” Begitulah sms yang kuterima dari Pak Pram sekitar setengah tahun silam. Sehari sebelumnya, dalam kesempatan persiapan pameran kartun kanvas nasional ‘JogjaKARTUN hadiningART’, sebenarnya…
WACA
SEDURUNGE

Habis Kartunis Terbitlah Penulis!

Tak ada kata terlambat untuk belajar, begitu bunyi petuah lama. Maka aku pun ingin mengulang belajar lagi, di usia yang sudah begini tua. Tepatnya, mengulang mewujudkan cita-cita yang telah tertunda 20 tahun lamanya. Cita-cita kecil dan sederhana, yang telah kuimpikan…
WACA
LIYANE

Clekidhur-clekidhur, Mundur dari Wilayah yang Penuh Clekidur!

Sambil menunggu shubuh, aku duduk di sriban kayu. Kutarik nafas dalam-dalam, menikmati segarnya pagi yang baru. Suasana masih gelap. Hanya langit membentang yang membuat pelataran terlihat remang-remang. Kudengarkan irama simphoni pagi dengan mata terpejam. Menikmati sisa-sisa suara suara malam. Desir…
WACA
LIYANE

Budayawan Banyumas NasSirun PurwOkartun Mengajak Anak-Anak SD Mengenal Babad Banyumas Melalu Dongeng dan Nyanyian

Nassirun Purwokartun bersama buku, "Dongeng Banyumas" yang disadur dari naskah, "Babad Banyumas Mertadirejan". Babad Banyumas adalah sebuah naskah kuno milik masyarakat Banyumas. Sebagai rujukan utama sejarah Banyumas, naskah-naskah Babad Banyumas mestinya dibaca oleh masyarakat Banyumas. Sayangnya, selama ratusan tahun, naskah-naskah…
WACA
LIYANE

Mengenang Rawa Tembelang dalam Plesiran Babad Banyumas

Ibu kota Banyumas baru yang dibangun Tumenggung Yudanegara II berada pada sebuah situs lama peninggalan Kabupaten Selarong. Konon tempat itu pada jaman dulunya adalah sebuah puncak dari gunung purba di bawah laut. Setelah tidak aktif lagi kemudian mengeluarkan mata air…
WACA
LIYANE

Kisah Raden Bagus Mangun dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang ketiga anak Raden Baribin, kisah Babad Banyumas berlanjut dengan cucunya. Yaitu Raden Jaka Kaiman, putra Raden Banyak Sasra. Dikisahkan setelah menetap di Pasir Luhur, Raden Banyak Sasra menikah dengan putri Adipati Pasir Luhur yang bernama Dewi Sriyati.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.