Begalan Jaka Kaiman, Pementasan Dua Warisan Budaya Tak Benda Banyumas

September 21, 2026 ·

Kesenian Begalan adalah warisan leluhur Banyumas yang masih lestari sampai hari ini.

Begalah merupakan sebuah tradisi dalam upacara pernikahan adat Banyumas. Ketika sepasang pengantin merupakan anak sulung menikah dengan anak sulung, anak bungsu menikah dengan anak bungsu, atau anak sulung menikah dengan anak bungsu.

Dalam pementasannya Begalan berisi untaian pitutur luhur dari para leluhur. Sebuah nasehat perkawinan kepada sepasang pengantin yang dilambangkan dengan bermacam perangkat peralatan rumah tangga.

Tak banyak orang Banyumas yang tahu sejarah awal mula ada tradisi Begalan. Juga, tidak banyak yang tahu bahwa Begalan Banyumas sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Banyumas oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2018.

Selain Begalan, ada lagi kesenian Banyumas yang juga menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WTB) Banyumas, yaitu Gubrag Lesung, yang ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2020.

Gubrag Lesung adalah peninggalan leluhur masyarakat agraris. Jaman dulu, sebelum ada mesin penggiling padi dan tepung, lesung adalah alat untuk yang mengubah padi menjadi beras, serta beras menjadi tepung.

Gubrag Lesung adalah musik pelepas lelah para petani pada musim panen. Setelah memanen tanaman padinya, kemudian dijemur, sebagian besar masuk dalam lumbung, sebagian kecil ditumbuk menjadi beras untuk hidup sehari-hari.

Sambil menumbuk padi menjadi beras itulah, para petani membuat hiburan sendiri dengan memukulkan kayu alu ke lesung. Bertemunya pukulan batang kayu dengan papan lesung mengakibatkan suara merdu yang dijadikan sebagai musiknya. Sambil menumbuk mereka saling berdendang gembira.

Sayang, berbeda dengan Begalan yang masih lestari sampai hari ini, kesenian Gubrag Lesung sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat Banyumas.


Setelah mesin penggiling padi datang kisaran ahun 1980-an, lesung-lesung dihancurkan para pemiliknya. Dikampak dan dijadikan kayu bakar, karena dianggap tidak lagi berguna. Hingga yang dulu hampir semua orang mempunyai lesung, sekarang sudah tak ada yang memilikinya lagi.

Karena itulah, Nassirun Purwokartun, seorang budayawan Banyumas mencoba menyelamatkannya.

Kang Nass, begitu biasa disapa, sejak tahun 2019 berusaha mencari lesung yang masih tersisa dari berkeliling di desa-desa di wilayah Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Setelah mendapat tiga buah lesung, kemudian mengajak para tetangga memainkan gubrag lesung kembali.

Kang Nass memberi nama kelompok gubrag lesungnya: Pangastawa. Sebuah kata dalam bahsa Jawa Kawi yang menurut sang budayawan berarti “berdoa, memohon, dan berharap”.

“Dengan nama Pangastawa sebenarnya saya sedang mengajak para pelakunya untuk terus berdoa, memohon, dan berharap datangnya kebaikan dan kebahagiaan. Kalau dulu gubrag lesung dimainkan untuk melepas lelah setelah bekerja di sawah, sekarang menjadi hiburan di tengah himpitan beban kehidupan. Kalau Begalan berisi pitutur luhur para leluhur untuk mereka yang baru menikah, gubrag lesung berisi nasehat-nasehat kehidupan setelah berrumah tangga,” demikian Kang Nass menjelaskan.

Untuk mengenalkan kembali dua kesenian Warisan Budaya Tak Benda Banyumas tersebut, Kang Nass yang juga menerjemahkan naskah-naskah Babad Banyumas, memadukannya menjadi sebuah pementasan bertajuk “Begalan Jaka Kaiman”.

“Sepertinya belum banyak yang tahu sejarah awal mula adanya tradisi Begalan di Banyumas. Setelah saya baca naskah-naskah Babad Banyumas, ternyata bermula dari pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman. Akhirnya, saya angkat menjadi sebuah pagelaran,” begitu ungkap Kang Nas tentang awal mula niatnya mementaskan “Begalan Jaka Kaiman”.

Menurutnya, dua warisan Budaya Tak Benda Banyumas itu harus terus dilestarikan. Tidak hanya semangat untuk mendapat pengakuan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan saja. Melainkan dalam penyelamatannya secara nyata dalam kehidupan.

“Saya ingin, gubgrag lesung kembali mengalun merdu. Agar tidak sia-sia pengakuan yang telah didapatkan dari pemerintah. Juga supaya tidak sekadar bangga mendapatkan pengakuan, namun tidak dilanjutkan dengan langkah nyata pelestariannya. Semoga Gubragan bisa sederajat dengan Begalan. Dua kesenian Banyumas tersebut sama-sama hidup kembali.”

Karena itulah, pada hari Sabtu besok, tanggal 26 September 2026, dalam rangkaian acara Festival Babad Banyumas, Kang Nass menggelar “Begalan Jaka Kaiman” di kampung halamannya, di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Dengan pementasan itu, Kang Nass ingin mengajak seluruh masyarakat Banyumas untuk bersama-sama melestarikan kesenian Banyumas.

SEUWISE

Mengenalkan Babad Banyumas Dengan Gubrag Lesung

Bale Babad Banyumas adalah sanggar seni milik budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun. Tempat Kang Nass, begitu biasa disapa, menyebarkan kisah-kisah Babad Banyumas. Sejak tahun 2015, Kang Nass mengumpulkan naskah-naskah Babad Banyumas. Ternyata, kebanyakan ditulis dalam tembang Macapat. Karena ingin mengetahui isinya,…
WACA
LIYANE

Macapat Babad Banyumas

Pada masa dulu, pembacaan macapat menjadi jalan memasyarakatkan Babad Banyumas. Karena itulah, setelah menerbitkan buku “Babad Banyumas Mertadiredjan”, kami tergerak menerbitkan “Macapat Babad Banyumas”. Buku ini adalah pelatinan dari “Serat Babad Banyumas Mertadiredjan”. Sebuah bacaan yang awalnya ditulis dalam aksara…
WACA
LIYANE

Bahas Babad

  Serial Dongeng Babad Banyumas untuk Mahasiswa      
WACA
LIYANE

Mengenang Rawa Tembelang dalam Plesiran Babad Banyumas

Ibu kota Banyumas baru yang dibangun Tumenggung Yudanegara II berada pada sebuah situs lama peninggalan Kabupaten Selarong. Konon tempat itu pada jaman dulunya adalah sebuah puncak dari gunung purba di bawah laut. Setelah tidak aktif lagi kemudian mengeluarkan mata air…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Mertadiredjan

“Babad Banyumas Mertadiredjan” adalah salah satu naskah Babad Banyumas yang selama ini dikenal masyarakat. Naskah milik Adipati Mertadiredja I, Wedana Bupati Kanoman Banyumas, yang ditulis kisaran tahun 1816-1824.Naskah itu kemudian menjadi milik cucunya, Adipati Mertadiredja III, yang menjadi Bupati Banumas…
WACA
LIYANE

Panggung Ketoprak Babad Banyumas

Saya menulis novel panjang Penangsang bermula dari kenangan masa kecil. Ketika kelas 4 SD setiap malam melihat pentas ketoprak tobong di desa saya. Dari panggung ketoprak itulah saya mengenal sosok Penangsang, berikut kisah yang membelitnya, terutama perseteruannya dengan Joko Tingkir.…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.