Pentas Wayang Babad Banyumas Berkisah Berdirinya Kabupaten Banyumas

September 23, 2026 ·

Kabupaten Banyumas adalah kelanjutan dari Kadipaten Wirasaba yang telah berdiri sejak jaman Kerajaan Majapahit sampai Kesultanan Demak. Kabupaten Banyumas baru berdiri pada masa Kesultanan Pajang.

Berdirinya Kabupaten Banyumas bermula ketika Raden Jaka Kaiman diangkat oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, menjadi Adipati Wirasaba dengan gelar Adipati Warga Hutama II.

Setelah menjadi Adipati Wirasaba, Adipati Warga Hutama II kemudian membagi wilayah Wirasaba kepada para adik iparnya. Karena membagi empat wilayah Wirasaba itulah, Adipati Warga Hutama II dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat. Sebutan “Mrapat” bermula dari kata “mara papat” yang artinya “membagi empat”.

Setelah membagi empat wilayah Wirasaba, sang adipati kemudian memindah ibukota Wirasaba ke Banyumas. Pemindahan ibukota itulah yang menjadi awal berdirinya Kabupaten Banyumas.

Banyak orang Banyumas yang tidak mengetahui proses pemindahan ibukota dari Wirasaba ke Banyumas. Karena dalam perayaan Hari Jadi Banyumas setiap tanggal 22 Pebruari juga tidak pernah dijelaskan.

Prosesi perayaan Hari Jadi Banyumas tidak tahun hanya kirab membawa pusaka Banyumas dan foto para Bupati Banyumas saja. Sementara sejarah kepindahan dari Wirasaba ke Banyumas dan berdirinya Kabupaten Banyumas belum pernah dijadikan salah satu acaranya.

Jadi, mengapa ibukota Wirasaba harus dipindah ke Banyumas?

Pertanyaan itu banyak ditanyakan orang kepada Nassirun Purwokartun, budayawan Banyumas, dalam berkali acara “Bahas Babad Banyumas”.

Kang Nass, begitu biasa disapa, menjawab berdasar naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan” yang telah diterjemahkannya.

“Babad Banyumas Mertadiredjan” adalah naskah yang ditulis atas perintah Bupati Banyumas ke-13, Adipati Mertadiredja I. Adipati Mertadiredja I adalah keturunan Bupati Banyumas pertama, Adipati Warga Hutama II atau Raden Jaka Kaiman.

Naskah tua itu kemungkinan ditulis pada tahun 1816, pada waktu Adipati Mertadiredja I diangkat menjadi Bupati Banyumas oleh Raja Surakarta, Susuhunan Paku Buwana IV.

“Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan ditulis dengan jelas dua alasan kepindahan dari Wirasaba ke Banyumas. Bermula ketika Adipati Mrapat mendapat petunjuk dari kakeknya, Raden Baribin tentang kejayaan Wirasaba yang telah berakhir. Dan, cara agar kejayaan berlanjut adalah dengan memindah ibukota,” ungkap Kang Nass sambil melantunkan Macapat Asmarandana dari naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan”.

“… Kya Dipadi duk ing dalu, marengi purnama sada.

“Sesaren merem melik, wonten swara kapiyarsa, atetela pratelane, rengen ta heh sang dipatya, yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba.

“Sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah lor kulonira, sira tetruka ing ngriku, unggyaning wreksa Tembaga.

“Kono karyanen nagari, adawa derajatira,… Ing Wirasaba wus akir, ….”

Setelah menembangkan Macapat-nya, Kang Nass menjelaskan artinya, “Pada suatu malam bulan purnama, antara tidur dan terjaga, Adipati Mrapat mendengar suara yang jelas sekali perintahnya. Perintah yang menyatakan kalau Adipati Mrapat ingin membawa kejayaan pada Wirasaba, maka harus memindah ibukota ke arab barat. Teparnya ke barat laut desa Kejawar tempat tumbuhnya pohon Tembaga. Ibukota harus dipindah, karena kalau tetap berada di Wirasaba tidak ada kemajuan, sebab kejayaan Wirasaba sudah berakhir….”

Selain menerjemahkan naskah-naskah “Babad Banyumas”, Kang Nass juga membuat kreasi Wayang Babad Banyumas. Wayang-wayang yang dibuat berdasar kisah “Babad Banyumas”.

Petikan kisah Babad Banyumas itu akan diangkat oleh Kang Nass dalam sebuah pementasasan Wayang Babad Banyumas.

Pagelaran akan ditampilkan pada Festival Babad Banyumas, hari Sabtu, 27 September 2026. Bertempat di Lapangan Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, pukul 19.30 WIB. Dengan dalang Ki Ulum Karto Diwiryo, seorang dalang muda lulusan ISI Surakarta dari Sumpiuh.

“Dengan pementasan Wayang Babad Banyumas saya berharap kisah-kisah Babad Banyumas bisa dikenali lagi. Walau tidak membaca naskahnya, namun mengetahui sejarahnya. Salah satunya tentang pindahnya ibukota Wirasaba dan berdirinya Kabupaten Banyumas, ” tutup Kang Nass mengakhiri pertemuan.

Kategori:Festival
SEUWISE

BABAD PANGGIH WARIH: Perayaan Pernikahan Air

Alkisah, ada ancaman besar yang datang melanda penduduk Padukuhan Kalibacin dan Mbogem. Ancaman datang dari Kerajaan Nguras Segara yang terkenal akan menyerang wilayah mana saja yang mempunyai sumber mata air. Kerajaan Nguras Segara adalah kerajaan yang rakyatnya terkenal sangat haus…
WACA
SEDURUNGE

Begalan Jaka Kaiman, Pementasan Dua Warisan Budaya Tak Benda Banyumas

Kesenian Begalan adalah warisan leluhur Banyumas yang masih lestari sampai hari ini. Begalah merupakan sebuah tradisi dalam upacara pernikahan adat Banyumas. Ketika sepasang pengantin merupakan anak sulung menikah dengan anak sulung, anak bungsu menikah dengan anak bungsu, atau anak sulung…
WACA
LIYANE

Prabu Jayabaya dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan keturunan Nabi Adam, “Serat Babad Banyumas” kemudian menceritakan tentang awal mula manusia di bumi. Bermula dari Raden Manongsa yang turun ke bumi, kemudian turun temurun, sampai lahirlah Raden Parikesit. Dari Parikesit lahirlah Prabu Gendrayana. Nah, dari Prabu Gendrayana…
WACA
LIYANE

Perutku Lembut. Perutmu?

Konon, perut yang lembut bisa menghaluskan perasaan dan pikiran. Bisa mengurangi stress dan segala macam kecemasan, kegelisahan, juga kekhawatiran. Menurut buku yang pernah kubaca, kita menghabiskan banyak waktu untuk menyimpan segala sesuatu di dalam perut. Ketegangan tubuh dan pikiran juga…
WACA
LIYANE

Adam, Turun Dari Surga Langsung Ke Minang?

MENGENANG MINANG Kalau nanti ada waktu luang, ingin sekali ‘menggelandang’ di Minang. Meski dulu sudah pernah ke sana, tapi hati masih selalu merindu untuk mengulang. Rasanya perjalanan 8 hari itu, belum memuaskan hausku akan pesona Minang yang indah ‘takambang’. Perjalanan…
WACA
LIYANE

Membayangkan Bayang-Bayang

Mata kupejamkan. Aku berbaring di beranda depan. Di teras rumah sebelah kanan. Aku ingin mengenali seisi halaman, yang sudah bertahun menjadi wajah rumahku. Namun bukan dengan melihat langsung. Melainkan dengan hanya membayangkan, seolah melihat sekeliling halaman dari kiri ke kanan,…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.