Shalat Ashar Berjamaah di Tengah Hutan Sebelum Panggih Warih

October 7, 2026 ·

Acara berbau kebudayaan, seringkali seperti air dan minyak, tidak bisa bersatu. Ketika acara kebudayaan sedang berlangsung, biasanya ritual keagamaan pun turut ditinggalkan. Maka, banyak orang yang suka seni budaya, tapi tidak suka agama. Begitupun orang yang suka agama, tapi tidak suka keni budaya.

Tapi dalam pamungkas Festival Babad Banyumas 2026, Kang Nassirun Purwokartun sebagai inisiator acara, mengubah pandangan itu semua. Kang Nass menunjukkan bagaimana indahnya jika budaya dan agama disatukan.

Jadi, pada hari ketiga Festival Babad Banyumas, atau bertepatan dengan Hari Minggu (28/9), digelar Wayangan Panggih Warih oleh Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo dan bertempat di Taman Hutan Kalimambu di Desa Mandirancan.

Acara pamungkas ini dihadiri oleh banyak orang dari berbagai daerah dan dari berbagai kalangan. Bahkan, beberapa mahasiswa dari Benua Afrika dan Amerika Selatan pun turut meramaikan jalannya acara.

Para hadirin awalnya berkumpul terlebih dahulu di Bale Babad Banyumas. Kemudian sekitar pukul 14.30 WIB, secara serentak menuju Hutan Kalimambu dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 600 meter.

Ketika sudah sampai di lokasi, alunan musik Gubrak Lesung Rebana Pangastuti menyambut para pengunjung yang hadir. Setelah itu, diambil ‘sample’ air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon untuk kemudian disatukan. Penyatuan dua mata air ini sebagai simbolis pelestarian air yang dicanangkan oleh Kang Nass.

Dan sekitar pukul 15.15 WIB, atau bertepatan dengan waktu Shalat Ashar, dilaksanakanlah Shalat Ashar berjamaah yang dipimpin langsung oleh Kang Nassirun Purwokartun sebagai imam shalatmya.

Walaupun memang sudah menjadi kewajiban bagi Umat Islam, tapi sisi ini tergolong unik dan tidak biasa. Pasalnya seperti yang sudah disinggung di atas tadi, biasanya antara budaya dan agama itu seperti minyak dan air, yang sulit untuk bersatu. Di mana ketika acara budaya berlangsung, ritual keagamaan seringkali diabaikan.

Tapi kenyataannya, di tengah hutan di depan tempat penayagan, Shalat Ashar berjamaah berlangsung dengan khusyuk. Bahkan, Ki Ulum Karto Diwiryo sendiri menjadi pengumandang iqomahnya, sebagai tanda dimulai Shalat berjamaah.

“Di saat banyak acara budaya yang mengabaikan agama, mengabaikan waktu shalat, saya tidak. Acara budaya tetap jalan, shalat tidak ditinggalkan”, ujar Kang Nass.

Barulah setelah shalat selesai, dilangsungkanlah wayangan methuk sandekala, menceritakan Babad Panggih Warih sebagai kampanye penyelamatan mata air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon.

Dan sebagai penutup, Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo melakukan aksi yang menjadi ciri khasnya, yakni melompat ke kedung, sehingga dijuluki “Dhalang Nyemplung Kedung”. Dalam hal ini, kedung yang dijadikan objeknya adalah Kedung Bunder yang tidak jauh dari Taman Kalimambu.

SEUWISE

Festival Babad Banyumas Menjadi Ajang Pelestarian Mata Air Kalimambu

Festival Babad Banyumas 2026, ternyata tak hanya berupa agenda yang bertujuan untuk pelestarian budaya serta sejarah, tapi juga bertujuan untuk pelestarian sumber daya alam. Jadi, pada agenda yang terselenggara selama tiga hari tersebut, sebenarnya semuanya bertemakan kebudayaan. Akan tetapi, esensi…
WACA
LIYANE

Tembagan, Berdirinya Kabupaten Banyumas

Serial Bacaan Babad Banyumas untuk anak. Tembagan adalah sebuah nama tempat tumbuhnya pohon Tembaga yang sangat bersejarah. Karena di tempat itulah, dulu kala Raden Jaka Kaiman pertama kali mendirikan kota Kabupaten Banyumas. Raden Jaka Kaiman mendapat perintah untuk memindah Kabupaten…
WACA
LIYANE

Adipati Marga Utama Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang ketampanan Raden Katuhu, Serat Babad Banyumas kemudian menceritakan tentang pertemuan Raden Katuhu dengan raja Majapahit. Raden Katuhu adalah anak pertama Raden Baribin. Raden Baribin adalah adik raja Majapahit. Maka, pertemuan Katuhu dengan raja Majapahit adalah pertemuan antara…
WACA
LIYANE

Membidik Baribin Membedah Wirasaba

Awalnya, buku ini ditulis dan dirancang sebagai paket lanjutan bagi para pembaca Babad Banyumas. Agar yang sudah membaca babadnya mendapat wawasan baru dari kisah yang sudah dibacanya. Namun, setelah jadi, ternyata bisa juga dibaca oleh mereka yang belum membaca Babad…
WACA
LIYANE

Berdirinya Kabupaten Banyumas dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang kematian tragis Adipati Wirasaba Warga Utama, Babad Banyumas Mertadiredjan kemudian mengisahkan tentang berdirinya Kabupaten Banyumas.  Bahwa setelah Adipati Warga Utama meninggal, Sultan Pajang merasa menyesal. Hingga akhirnya meminta maaf dengan cara mengundang anak-anak sang adipati datang ke…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan Banyumasan

Segera Terbit
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.