Sajakkartun atawa Sajak Penjorangan!

October 27, 2026 ·

Sajak ada yo ben!

buah manggis buah kedondong

seorang kartunis boleh necis dong

kalau ada sumur di ladang

boleh kita menumpang mandi

kalau ada umur yang panjang

mandi yang sehat sehari dua kali

bunga mawar bunga kamboja

itu semua namanama bunga

kalau ada yang bilang itu nama kuda

mungkin sedang sakit mata

atau baru lepas dari rumah sakit jiwa

buah duku buah duren

ora lucu yo ben

Sajakkartun adalah sajak yang sangat sederhana.

Dan justru dengan kesederhanaannya, aku berharap ia bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat pembaca.

Karena dengan sajakkartun, aku hanya sekadar ingin membuka pintu komunikasi antara seniman dan masyarakat. Dengan terus mencoba menemukan pengungkapan yang jujur, lugas, bernas, dan cerdas.

Aku tidak ingin menjadi penyair elit, yang mempunyai kecakapan berbahasa, namun hanya dapat dinikmati oleh para pecinta sastra saja. Sebab keberhasilan berkarya bagiku adalah ketika komunikasiku mampu mengajak berbagai lapisan masyarakat, dengan beragam tingkat kecerdasan, untuk kemudian bisa saling berinteraksi.

Hingga terjalin dialog, untuk saling tersenyum dan merenung. Kemampuan yang efektif untuk bisa  berkomunikasi langsung dengan masyarakat luas, menjadi landasan setiap penciptaan sajakkartunku. Dan itulah tanggungjawab terindah sebagai seniman.

Sajak ada kencing cinta

guru kencing berdiri

murid kencing berlari

guru sibuk demonstrasi

murid asyik berkelahi

berakitrakit ke hulu

berenangrenang ke tepian

bersakitsakit dahulu

lolos hukuman kemudian

ada gula ada semut

ada udang di balik batu

ada apa dengan cinta

istriku bilang aku mirip rangga

Sajak ada tong reformasi

ada banyak negeri

yang agenda reformasinya

menjadi tonggak sejarah

tapi hanya satu negeri

yang agenda reformasinya

menjadi isi tong sampah

Sajak ada demokratisasi reformasi

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melahirkan anarki

dalam setiap pemilihan bupati

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melegakan demonstrasi

sebagai bukti tegaknya demokratisasi

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menurukan diktator yang sakti

menjadi pesakitan yang tibatiba sakit

setiap mau diadili

Pergulatan proses kreatif  sajakkartun, mungkin tak bisa dilupakan dari asal muasalku yang asli Banyumas.

Daerah Banyumas dengan kebudayaannnya yang mempunyai kekhasan tersendiri. Dengan sifat egaliter, sederhana, penuh kesahajaan, karena berbasis pada kehidupan masyarakat tradisional agraris. Hingga dialek Banyumasan pun, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari memiliki corak yang bersahaja, sederhana, egalitarian, dan tidak mengenal pelapisan strata. Dan secara tak sengaja, semangat itulah yang kemudian menjadi ruh dari seluruh sajakkartunku.

Karena secara tidak disadari juga, aku ternyata memunculkan salah satu pergaulan khas Banyumasan dalam sajak-sajakkau. Yakni gaya pergaulan dalam bermasyarakat Banyumas yang disebut dengan penjorangan.

Penjorangan adalah cara mengungkapkan sesuatu yang serius dengan gaya bercanda. Dalam balutan gaya dan kata yang penuh jenaka, untuk menyampaikan hal yang seberanya penting. Dengan sindiran, cemoohan, dan kelakar untuk menyampaikan maksud kritikan agar tidak menyakitkan bagi yang mendengar.

Dan melalui gaya penjorangan itulah, kritikan dilontarkan bukan untuk memukul dan menghantam. Melainkan justru untuk merangkul dan mengingatkan.

Dengan gaya penjorangan pula, kita mengingatkan lawan bukan sebagai musuh yang sekadar harus disalahkan. Melainkan sahabat dekat yang akrab untuk disadarkan.

Sajak goyang presiden

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang professor

menjadi presiden yang melepaskan wilayah timor

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang wali

sebagai presiden terlucu republik ini

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang ibu rumah tangga

sebagai presiden yang dianggap titisan bapaknya

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menjadikan seorang yang gagah perkasa

sebagai presiden yang selalu bimbang langkahnya

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu memilih presiden empat kali silih berganti

semudah memilih kontestan

dalam ajang AFI atau goyang KDI

Kategori:Profil
SEUWISE

Ketika Kartun Politik Dibungkam, Sajak Bloon Harus Bicara!

Sajak ada hukum puisi sehebat-hebat masalah hukum yang terdakwanya tak bisa dihukum sehebat-hebat terdakwa yang tak bisa diperiksa sehebat-hebat periksa membaca puisi sambil tertawa sehebat-hebat yang kubaca ini jangan pernah dianggap puisi Pada awal-awal dulu sebenarnya aku ragu, apakah tulisanku…
WACA
SEDURUNGE

Sajakkartun, Habis Thukul Terbitlah Thukul!

Sajak ada porno bercerai patah tumbuh hilang berganti begitulah peribahasanya patah tubuh goyang berganti anisa baharlah ahlinya katanya salak dari bali kok rasanya seperti terasi katanya menolak pornografi kok demonya penuh pornoaksi kalah jadi abu menang jadi arang bersatu kita…
WACA
LIYANE

Bale Babad Banyumas (Video)

Bale Babad Banyumas merupakan rumah kediaman budayawan Banyumas yaitu Kang Nassirun Purwokartun yang terletak di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen. Beliau telah banyak menerbitkan buku, dan salah satu karya masterpiece-nya adalah 25 Naskah Terjemah Babad Banyumas. Perlu diketahui bahwa Babad Banyumas…
WACA
LIYANE

Wirasaba, Awal Mula Banyumas

Serial Bacaan Babad Banyumas untuk anak. Awal mula Kabupaten Banyumas berasal dari sebuah kadipaten bernama Wirasaba. Pendiri Wirasaba adalah Raden Paguwan yang kemudian bergelar Adipati Wira Hudaya. Anak cucunya bergantian menjadi Adipati Wirasaba. Buku cerita ini mengisahkan semua hal itu.…
WACA
LIYANE

Nassirun Purwokartun: Merawat Babad Banyumas Lewat Cerita untuk Generasi Muda

Di tengah gencarnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca generasi muda terhadap naskah kuno, Nassirun Purwokartun tampil sebagai sosok yang menempuh jalan berbeda dalam melestarikan Babad Banyumas. Berbeda dari para akademisi dan kolektor naskah, Nassirun memilih jalur menerjemahkan dan menyederhanakan…
WACA
LIYANE

Pohon Tembaga dalam Plesiran Babad Banyumas

Petunjuk utama adalah pohon Tembaga. Petunjuk tentang tempat di mana Adipati Mrapat harus mendirikan ibu kota Kabupaten Banyumas. “Yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba, sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.